PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Melawan kakek tua


__ADS_3

Kata katanya belum selesai orangnya sudah menghilang kedalam portal cahaya.


Hanya suaranya saja yang masih tertinggal di sana.


"Siao Lung tunggu..!"


Teriak Nan Thian ingin bergerak menyusul.


Tapi langkahnya terhenti oleh Kakek Siao Nu yang menghadang di depan nya.


Sehingga dia hanya bisa melihat portal cahaya itu lenyap tak berbekas, membawa pergi putranya yang salah paham dengan nya.


Putranya yang hilang, membawa dendam sedalam lautan terhadap dirinya, terhadap ayah kandungnya sendiri.


Ini adalah suatu siksaan dan pukulan batin yang sangat berat buat Nan Thian .


Kini semua itu, tertumpah kan ke Kakek Siao Nu yang menjadi penyebab semua ini.


Kakek yang menjadi penyebab utama terjadinya tragedi ini.


Dengan seluruh tubuh gemetaran menahan amarah, Nan Thian dengan pedang Panca Warna terhunus dia berkata,


"Bangsat kamu kirim kemana putra ku..!"


"Kembalikan dia pada ku..!"


"Atau hari ini tempat ini akan menjadi kubur mu..!"


Bentak Nan Thian sambil menahan amarah nya, yang sudah sampai ke ubun ubun.


Kakek itu masih dengan wajah tanpa ekspresi dia berkata,


"Tak perlu mengancam buktikan saja bila mampu.."


"Ibunya tewas di tangan mu,.. jangan mimpi aku menyerahkan putra yang masih kecil, untuk kamu bunuh juga.."


"Biar kelak dia sudah dewasa sudah kuat kalian baru boleh bertemu.."


"Itu baru adil.."


Ucap kakek itu dingin.


Nan Thian dengan wajah merah menunjuk kearah kakek itu dan memotong ucapan nya,


"Keparat kau pelayan busuk..!"


"Kamu bicara apa,!? dia itu putra ku,..! bagaimana mungkin aku bisa ..!"


Kakek itu tetap dengan wajah datar memotong ucapan Nan Thian .


"Tak perlu banyak bicara, coba jawab aku, apa dia bukan istri mu..? apa kamu ada jalankan kewajiban mu sebagai suami..?"


"Apa bukan kamu yang menewaskannya..?"


"Dia terhadap mu ada cinta, ada kasih, tapi kamu terhadap dia ada apa..?'


Ucapan kakek itu bagaikan palu Godam yang menghajar lubuk hati Nan Thian yang terdalam.


Nan Thian sampai mundur dua langkah kebelakang dan memuntahkan darah dari mulutnya tanpa di serang sedikitpun.


Kakek itu tidak menyerang Nan Thian dengan kesaktian nya, melainkan menyerang lewat kata kata yang menusuk hati dan memukul batin Nan Thian .


Nan Thian berusaha menenangkan diri, menenangkan darah didalam tubuhnya yang bergolak hebat.

__ADS_1


Di saat keadaan Nan Thian sedang kacau balau, fokus dan konsentrasinya sedang pecah.


Di saat itulah, kakek itu menggunakan kedua telapak tangannya membentuk sebatang Toya.


Toya cahaya emas yang terbentuk dari energi kakek itu.


Dengan Toya energi emas, Kakek itu sambil memutar-mutar toya nya diatas kepala seperti baling baling helikopter.


Dia melakukan hantaman Toya dari atas kebawah mengincar kepala Nan Thian .


"Wunggggg...!"


Toya berkelebat cepat meluncur dari atas kebawah, mengincar kepala Nan Thian .


Nan Thian yang merasakan ada bahaya datang menyerangnya.


Dia segera memutar pedang Panca Warna di tangannya untuk menangkis serangan Toya ganas kakek itu.


"Trangggg...!"


"Blaaarrrr...!"


Serangan Toya berhasil Nan Thian tangkis melenceng kesamping.


Sehingga menghantam kearah lain menimbulkan suara ledakan dahsyat.


Membuat sekitar tempat itu di penuhi oleh asap dan debu yang beterbangan diudara.


Tapi di dalam kepulan asap sendiri, pertarungan tidak berhenti sampai di sana.


Toya kakek itu yang tidak mengenai sasaran, kembali berkelebat secara horisontal.


Menimbulkan sebuah garis cahay kuning menyambar kearah Nan Thian .


Sambil tubuhnya melesat maju kedepan menusukkan pedang nya yang mengandung energi gabungan.


Mengincar tenggorokan kakek itu dengan kecepatan tinggi .


Kakek itu menjejakkan kakinya keatas tanah tubuhnya mengayun mundur menjauh.


Saat Nan Thian terus melakukan pengejaran dengan pedangnya.


Kakek itu, segera menggunakan Toya energi emasnya untuk menangkis pedang Nan Thian .


"Wuttttttt..!'


Tangkisan kuat berkelebat lewat di depan wajah nya, tapi tidak berhasil mengenai pedang Nan Thian .


Di mana pedang Nan Thian mengikuti putaran pergelangan tangannya.


Pedang telah berubah arah, kini berpindah memberikan tusukan kearah dada kiri kakek itu.


Kakek itu segera menggunakan ujung tombak sisi lainnya untuk menangkis serangan perubahan arah cepat itu.


"Trangggg...!"


Pedang Nan Thian tidak terpental melainkan menempel di Toya kakek itu.


Pedang melakukan gerakan menebas cepat, kearah jari tangan kakek itu, yang di gunakan untuk menggenggam toya di tangan nya.


"Cringggg...!"


Tebasan pedang yang menyusuri batang Toya, dari ujung ke ujung, menimbulkan cahaya api berpijar.

__ADS_1


Kakek Siao Nu yang tidak ingin telapak tanga dan jarinya terpotong oleh pedang di tangan Nan Thian .


Dia melepaskan pegangan tangannya dari Toya.


Membiarkan Toya terjatuh kebawah, di sambut dengan cungkilan kakinya.


Sehingga Toya terpental menghantam dada Nan Thian .


Nan Thian terpaksa menarik kembali pedangnya untuk menahan pergerakan Toya.


Begitu pedang dan Toya beradu, hingga pedang Nan Thian melengkung kedalam.


Kakek tua itu datang dengan tendangan terbangnya , sambil melakukan gerakan berputar setengah lingkaran di udara.


"Desss...!"


Tendangan kuat yang kembali tertahan oleh badan pedang.


Membuat Nan Thian terpental mundur, dengan kaki menyeret tanah.


Meninggalkan goresan bekas ujung kaki Nan Thian, diatas lantai.


Nan Thian terus bergerak mundur hingga saat daya dorong sudah tidak begitu kuat lagi.


Dia baru menghentakkan sebelah kakinya kebelakang, untuk menahan daya tolak mundur tubuhnya.


Cara tersebut segera menghentikan daya tolak mundur tubuh Nan Thian .


Baru saja Nan Thian berhasil mematahkan daya tolak mundur, dia kembali harus terbang menghindari ledakan energi bayangan Toya emas raksasa yang di hantamkan dari atas kebawah.


"Blaaarrrr...!"


Terdengar suara ledakan dahsyat Toya energi emas menghantam tanah kosong, yang di tinggalkan Nan Thian.


Sambil melompat menghindar ke udara, Nan Thian juga membalas menebaskan serangan energi pedang tanpa wujud, untuk mengejar kearah kakek itu.


Kakek itu yang bisa merasakan bahaya yang datang mengancam, di segera membuat tubuhnya rebah kebelakang.


Sehingga energi pedang hanya mengenai ujung rambutnya saja,


membuat ujung rambut kakek itu yang terpapas pada melayang berhamburan di udara.


Dalam posisi hampir setengah rebahan, kakek itu masih sempat memutar Toya di tangan nya yang mendatangkan angin menderu deru menyerang Nan Thian .


Mencegah Nan Thian, agar tidak memanfaatkan situasi itu maju untuk menyerang nya.


Nan Thian memanggil serangan tersebut dengan melompat ke atas.


Dari posisi atas Nan Thian melepaskan tebasan pedang tanpa perasaan kebawah.


Seberkas cahaya pedang tujuh warna terlihat melesat cepat dari atas membelah kebawah.


Kakek itu menyambut serangan Nan Thian dengan menyilangkan Toya nya diatas kepala.


Trangggg...!"


"Blaaarrrr...! Blaaarrrr..! Blaaarrrr..!"


Benturan tersebut menimbulkan ledakan di sekeliling pusat pertarungan.


Tebasan pedang Nan Thian berhasil tertahan di udara, sebelum di pentalkan keatas.


Sehingga Nan Thian berjumplitan di udara.

__ADS_1


__ADS_2