
Setelah mengalami batuk batuk kecil, perlahan-lahan nafas Zi Zi mulai terlihat kembali.
Zi Zi terlihat berulang kali menarik nafas panjang, untuk memenuhi rongga dadanya. Sebelum kemudian dia melepaskan nya secara pelan pelan.
Setelah mengulanginya beberapa kali, hingga nafasnya terasa longgar dan lega kembali.
Zi Zi baru perlahan lahan membuka matanya, begitu sepasang matanya yang indah terbuka.
Melihat Nan Thian hadir di sana, duduk memangku nya.
Zi Zi pun berkata pelan,
"Nan Thian ke ke, benarkah ini kamu..?"
"Aku tidak sedang bermimpi kan..?"
Nan Thian tersenyum lega, melihat Zi Zi sudah kembali sadar.
Dia mengangguk kan kepalanya dan berkata,
"Benar bibi kecil,.. ini aku.."
"Kamu tidak sedang bermimpi.."
Zi Zi menatap bingung kearah Nan Thian dan berkata,
"Nan Thian ke ke,..Kita ada di mana sekarang..?"
"Apa kita sudah mati..?"
Nan Thian menggeleng pelan dan berkata,
"Tidak bibi kecil,.. kita masih hidup.."
"Tapi tadi hampir saja.. sedikit saja aku terlambat bangun.."
"Aku pasti akan kehilangan kamu selama lamanya.."
Ucap Nan Thian sambil menatap bibi kecil nya, yang merupakan gadis satu satunya, yang selama ini sangat dia rindukan.
Zi Zi menatap Nan Thian dengan tatapan mata kurang percaya dan berkata.
"Benarkah..? Nan Thian ke ke kamu tidak sedang menipu untuk menghibur ku kan..?"
Ucap Zi Zi masih belum bisa percaya begitu saja.
Nan Thian dengan lembut membantu Zi Zi untuk duduk di sampingnya dan berkata,
"Lihatlah itu matahari baru mulai terbit dari sebelah timur sana.."
"Lautan biru luas, udara sejuk, langit biru, awan putih..apa semua ini bisa di palsukan.."
"Tidak bibi kecil, semua ini nyata.."
__ADS_1
"Kamu aku kita berdua memang masih hidup..."
Ucap Nan Thian menjelaskan dengan sabar.
Sambil berusaha menjelaskan, Nan Thian menunjuk kearah matahari yang sedang terbit, lautan luas, langit biru dan awan putih yang berarak diatas sana.
Zi Zi pandangan matanya mengikuti arah yang Nan Thian tunjukkan padanya.
Sesaat kemudian senyuman nya mulai mengembang, senyum yang membuat dia terlihat semakin cantik.
Hingga Nan Thian terdiam di sana, mematung seperti terhipnotis oleh kecantikan bibi kecilnya yang sangat menakjubkan.
Nan Thian baru tersadar dari keterpesonaan nya, saat Zi Zi tanpa malu malu. Langsung melingkarkan sepasang lengannya yang putih halus melingkar di belakang leher nya.
Lalu Zi Zi menarik lehernya kebawah, kemudian dia menautkan bibir nya dengan lembut menyatu dengan bibir Nan Thian .
Keadaan ini membuat Nan Thian sedikit tersentak, dia menatap kearah bibi kecilnya dengan tegang, seperti tidak tahu harus berbuat apa.
Ingin menolak, tapi hati kecilnya memberontak, tidak menolak hati kecilnya merasa berdosa dengan gurunya Li Fei Yang dan Li Sun suaminya Zi Zi, yang sampai kini belum ada kabar beritanya.
Apa dia masih hidup, atau telah mati.
Tapi perlahan-lahan Nan Thian akhirnya ikut terseret hanyut dalam buaian kemesraan, yang di tujukan oleh Zi Zi untuk nya.
Nan Thian akhirnya tidak lagi kuasa menahan ledakan perasaan rindu dan cintanya yang dia tahan dan pendam pendam.
Nan Thian akhirnya memejamkan sepasang matanya, mengikuti buaian hasrat hati dan perasaannya yang kini menemukan tempat untuk berlabuh.
Dari ciuman lembut, perlahan lahan berubah menjadi ciuman penuh nafsu yang saling memangut.
Saat Nan Thian dan Zi Zi sama sama lepas kontrol dan hampir melakukan hal yang lebih jauh.
Di mana Nan Thian sudah memondong Zi Zi masuk kembali kedalam Goa.
Zi Zi pun sudah terlihat tergolek lemas dengan nafas memburu, dan pakaian berantakan.
Sedangkan Nan Thian yang sedang menindih Zi Zi pakaian juga sudah terlepas semua nya .
Di saat Nan Thian sedang bernafsu menciumi leher Zi Zi yang jenjang putih dan halus.
Di mana dalam satu langkah lagi, mereka akan sepenuhnya menyatu, menikmati kebahagiaan sebagai suami istri dalam arti yang sebenarnya.
Tiba-tiba wajah Siao Hung yang sedang tersenyum sedih muncul dalam pikiran Nan Thian .
Begitu melihat wajah itu, senyum itu.
Semua perbuatan biadab Nan Thian seolah olah muncul berkilas balik dalam pikirannya.
Nan Thian seketika terdiam di tempat, aktivitasnya terhenti seketika.
Zi Zi di bawah sana, yang merasakan aktivitas kekasihnya yang tadi nya mengebu gebu, kini tiba tiba terhenti.
Kekasihnya tiba tiba diam membeku di sana, dia sambil berusaha menahan gejolak dalam dirinya yang mulai mengebu gebu.
__ADS_1
Zi Zi mencoba membuka kembali sepasang matanya yang terpejam, untuk melihat apa yang terjadi pada kekasihnya.
Tepat saat sepasang mata mereka bentrok, Nan Thian pun berkata sambil tersenyum penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku bibi kecil.."
"Aku...aku..."
"Ahhh maaf.."
Ucap Nan Thian, lalu dia pun bangkit untuk duduk di sebelah Zi Zi.
Nan Thian duduk memunggungi Zi Zi dia bahkan tidak berani beradu tatap dengan Zi Zi.
Karena setiap kali bertatapan mata dengan Zi Zi, nanti akan di hantui perasaan bersalah dan menyesal.
Untuk menutupi rasa canggung nya, Nan Thian mencoba mengenakan pakaian nya yang berserakan di sekitar sana.
Zi Zi yang melihat sikap yang Nan Thian tunjukkan, dia mencoba menahan gelora nafsunya.
Mencoba memadamkannya, berusaha berpikir logis dan mencoba mengerti, meski dia banyak hal yang tidak paham dan mengerti.
Zi Zi bangkit untuk duduk, merapikan pakaiannya, lalu dia maju memeluk Nan Thian dari belakang dan berkata,
"Nan Thian ke ke, kamu kenapa ?"
"Apa ada sesuatu yang tidak benar, atau ada yang salah..?"
"Bila itu karena Zi Zi, biarlah Zi Zi minta maaf ya..?"
Nan Thian menghela nafas panjang, dia kemudian memegang lembut kedua telapak tangan Zi Zi yang melingkar di depan dadanya.
Nan Thian menggeleng pelan dan berkata,
"Tidak bibi kecil, aku lah yang bersalah pada mu.."
"Aku.."
Nan Thian terlihat ragu dan agak sulit bercerita, dia akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.
Zi Zi berusaha untuk sabar dan mencoba memahami perasaan kekasihnya.
Dengan lembut Zi Zi berkata,
"Apa ini karena masalah ayah ku dan Li Sun,? Nan Thian ke ke belum bisa melupakan permasalahan itu..?"
"Sehingga dari awal sampai sekarang pun, Nan Thian ke ke terus memanggil ku bibi kecil, untuk mengingatkan aku, juga mengingatkan diri Nan Thian ke ke sendiri..akan status kita.."
"Kita tidak lazim bersama ? apa karena masalah itu..?"
Nan Thian terdiam dan menghela nafas panjang, hal itu tentu termasuk.
Tapi sebenarnya dia jauh jauh hari sudah memutuskan akan mengabaikan hal itu.
__ADS_1
Dia tidak akan bersikap bodoh, yang akan menjerumuskan dirinya dan orang yang sepenuh hati mencintainya, kedalam jurang penderitaan dan kesedihan yang tiada akhir.