PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
KEMATIAN EMPU RANUBHAYA


__ADS_3

Empu Ranubhaya sedikit bisa agak tenang, karena kitab itu kini tidak ada bersamanya.


Kitab itu kini ada di simpan oleh YeSe Bu Hua.


Empu Ranubhaya sambil tersenyum kecut berkata,


"Kakak seperguruan bagaimana kabar mu..?"


"Terimalah salam dari adik mu ini.."


Empu Jayabaya menanggapi nya dengan suara tawa mengejek,


"Ha...ha...ha...ha...!"


"Mana berani,.. mana berani.."


"Kamu ini ahli waris guru ku, si bedebah pilih kasih itu.."


"Aku mana berani menerima penghormatan mu.."


Empu Ranubhaya kembali tersenyum kecut menanggapi ucapan penuh sindiran dari kakak seperguruannya itu.


Kubilai Khan yang melihat keadaan seperti nya tidak beres, setiap saat kedua orang andalannya itu bisa bentrok sendiri.


Dia segera ingin maju melerainya, tapi pergerakannya di tahan oleh Hulagu Khan adiknya.


Hulagu Khan menahan lengan nya dan memberinya kode gelengan kepala agar dia tidak turut campur.


Tidak hanya itu, adik nya Hulagu Khan, juga membisikkan informasi yang membuat sepasang mata Kubilai Khan membelalak menatap kearah adiknya sedikit kurang percaya.


Tapi tanggapan anggukan kepala dari adiknya yang tidak suka berbohong ataupun membual dalam berbicara .


Memaksa Kubilai Khan mau tidak mau harus mempercayainya.


Dia akhirnya hanya bisa berdiri diam di sana menatap kearah tengah ruangan dengan tatapan mata cemas.


Seluruh pasukan pengawal istana, terlihat sudah siaga, mengamankan tempat itu, dan keselamatan kedua Khan mereka.


Tapi sebelum mendapat kode dari atasan mereka, mereka tidak ada satupun yang bergerak.


Semua hanya diam di tempat menunggu kode dari komandan mereka.


Di tengah ruangan Empu Jayabaya dengan senyum penuh ancaman.


Dia melangkah maju kedepan dan berkata,


"Serahkan kitab Pancasona, aku akan mengampuni nyawa kecil mu.."


"Atau kamu akan menyesalinya.."


Empu Ranubhaya mengibaskan tangannya, serangkum angin menolak tubuh YeSe Bu Hua terpental mundur hingga berada di bagian belakang barisan pasukan pengawal istana.


"Tuan putri, bawalah orang orang mundur menjauh, jangan ada yang terlalu dekat dengan tempat ini..!"


Teriak Empu Ranubhaya berusaha mengingatkan YeSe Bu Hua.


Empu Jayabaya menjengek dingin dan berkata,


"Keras kepala cari mati kamu..!"


"Cepat serahkan kitab Pancasona bangsat..!"

__ADS_1


Belum juga ucapan kakek ompong itu selesai, dia sudah menghilang dari posisinya.


Dengan ilmu Saipi Angin, kakek ompong itu bisa muncul dan menghilang sesuka hati.


Seperti saat ini, kakek itu tiba-tiba muncul di depan Empu Ranubhaya.


Dia menggunakan ilmu Lebur Saketi, untuk mencekik leher Empu Ranubhaya dengan cakar terbuka nya.


Ilmu yang harusnya di mainkan dengan tinju, oleh si kakek ompong yang sakti mandra guna.


Dia bisa menggunakan apa saja untuk menyerang lawan, bahkan dengan ujung jari pun dia mampu memainkan ilmu itu.


Serangan tersebut saat tiba, Empu Ranubhaya segera mengerahkan ilmu lembu Sakilan untuk melindungi diri.


Hawa kuning tipis transparan muncul melindungi tubuh empu Ranubhaya dari cengkraman tangan kakek ompong, yang mengeluarkan hawa panas dan daya ledak mematikan.


Serangan kakek ompong harusnya berhasil di tolak balik, ataupun di pelesetkan kearah lain.


Tapi cakar kakek itu tiba melakukan gerakan mematuk, dengan merubah bentuk cengkraman cakar, menjadi Patukan paruh bangau.


"Blassss...!"


Patukan keras itu menimbulkan suara seperti sesuatu pecah, sebelum akhirnya pelindung cahaya kuning tipis itu, mengalami retak-retak, sebelum akhirnya meledak pecah.


"Blaaarrrr...!"


Empu Ranubhaya di buat terpental mundur dengan langkah kaki terhuyung-huyung kebelakang.


Dia buru buru mengatur nafas menghisap hawa alam, untuk memulihkan guncangan organ pentingnya akibat benturan keras barusan ini.


Tapi belum juga dia berhasil memulihkan diri, dengan ilmu Pancasona nya yang masih mentah.


"Peringatan terakhir, sebelum kamu mencicipi ilmu baru ku..!"


Empu Ranubhaya tidak menanggapinya, dia tetap mengerahkan Ilmu Pancasona, untuk pertahanan.


Dan menyiapkan Ilmu Tapak Naga Puspa untuk menyambut serangan dari Empu Jayabaya.


Empu Jayabaya mengeluarkan bentakan keras.


"Ilmu Panca Raga ..!"


"Cakar Naga Puspa..!"


Tubuhnya tiba-tiba membelah diri menjadi lima, dari lima arah dia memberikan serangan cengkraman dahsyat.


Empu Ranubhaya terpaksa mengandalkan ilmu Pancasona untuk menahan serangan yang datang nya sangat cepat.


Dia sendiri menggunakan sepasang Tapak yang sarat energi Naga Puspa untuk menyerang kearah sosok di hadapannya yang dia perkiraan itu adalah target aslinya.


Sedangkan yang lainnya hanya ilusi pengacau.


"Bressss..!"


"Tappp...!"


Tapi di luar dugaan sepasang tapak nya yang bersarang tepat di dada Empu Jayabaya, malah menempel di sana.


Seluruh tenaganya terhisap masuk kedalam tubuh Empu Jayabaya.


Empu Ranubhaya terbelalak tidak percaya, matanya semakin terbelalak.

__ADS_1


Saat Cengkraman cakar naga Puspa dari empat arah lain bersarang di tubuhnya. Semua nyata bukan ilusi.


"Bressss..!"


"Bressss..!"


"Bressss..!"


"Bressss..!"


"Arggghhh...,!'


Teriak Empu Ranubhaya menjerit ngeri, saat punggung dada perut dan leher yang terkena cakar Naga Puspa menjadi berdarah darah.


"Ajian Waringin sungsang..!"


Bentak si kakek ompong sambil tersenyum.


Raut wajah empu Ranubhaya yang sedang menahan nyeri, seketika pucat .


Kini seluruh kekuatan nya terhisap dengan cepat, sebelum dia sempat memulihkan diri.


Semua kekuatan bahkan jiwa nya, sudah terhisap habis oleh kakek ompong itu.


Empu Ranubhaya segera jatuh teronggok di atas tanah menjadi setumpuk pakaian yang membalut tulang belulangnya.


Daging darah semuanya lenyap tak berbekas.


Empu Jayabaya yang tidak berhasil mendapatkan apa yang dia cari menjadi sangat kesal.


Dia segera menjejakkan kaki nya kearah batok kepala Empu Ranubhaya dan berkata,


"Dasar keras kepala, aku ingin tahu, batok mu yang keras atau kaki ku.."


"Prakkk...!"


Tengkorak itu di injak hingga hancur berantakan, empu Ranubhaya mati dengan tragis.


Jasad menjadi tulang belulang, tengkorak kepala masih di injak hingga pecah berantakan.


Isi otak terlihat berhamburan dan tercecer di atas lantai, yang beralaskan karpet merah.


YeSe Bu Hua hanya bisa berdiri diam menangis dalam hati.


Tidak berani mendekat ataupun menunjukkan rasa simpati dan kedekatannya dengan Empu Ranubhaya.


Hal ini harus dia lakukan, bila tidak ingin celaka di tangan kakek ompong yang sadis itu.


Bila kakek itu ingin mengincarnya, YeSe Bu Hua yakin, bahkan kedua kakaknya sekalipun.


Tidak akan ada yang sanggup menolong dan menghentikan kakek ompong itu, bila dia ingin menangkap ataupun membunuhnya.


Melihat sikapnya yang suka berbuat sekehendak hati, YeSe Bu Hua yakin kakek ompong itu bisa saja, merealisasi kan apapun yang dia inginkan.


Setelah menyelesaikan perlawanan Empu Ranubhaya, kakek ompong itu segera memeriksa pakaian empu Ranubhaya.


Saat tidak menemukan sesuatu sepasang matanya langsung berkilat menatap kearah YeSe Bu Hua.


Dia segera bangkit berdiri, mengulurkan tangannya yang ceking kurus kearah YeSe Bu Hua dan berkata,


"Tuan Putri.. mana kitab itu.."

__ADS_1


__ADS_2