PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
JAWABAN SANTAI


__ADS_3

Zi Zi buru buru membuka matanya, lalu bangkit duduk diatas pembaringan nya.


Sedangkan Nan Thian dia terlihat buru buru turun dari pembaringannya.


Nan Thian masih sempat menurunkan kain penutup, menutupi ranjangnya.


Agar orang dari luar tidak bisa melihat istri kecilnya yang baru saja bangun tidur.


Setelah menurunkan kain penutup, Nan Thian baru pergi membuka pintu kamar dan menjawab dari dalam.


"Ya kak,.. sebentar..!"


Yue Lin di luar sana, setelah mendengar suara sahutan dari adiknya.


Dia tidak lagi mengetuk pintu kamar, melainkan terus meninju telapak tangannya sendiri, sambil berjalan mondar mandir.


Pokoknya Yue Lin benar benar terlihat panik dan cemas.


Nan Thian akhirnya membuka pintu kamar nya, dan berkata,


"Ya kak ada apa ?"


Begitu melihat pintu terbuka, dan adiknya berdiri di hadapan nya, menatap kearah nya penuh tanda tanya.


Yue Lin sudah tidak bisa menahan diri untuk langsung berbicara.


"Adik,.. barusan mata mata kita mengirim kabar dari Beijing. "


"Katanya pihak kerajaan monggolia, sudah bergerak kemari dengan 500.000 pasukan berkuda ."


"Aku rasa 3 hari kemudian, mereka kemungkinan besar, akan sampai kemari.."


"Barusan Yang Mulia mengirim orang meminta kita segera menghadap ke istana.."


Nan Thian mengangguk tenang dan berkata,


"Baik kak sku mengerti, kakak berangkatlah lebih dulu ke istana.."


"Aku dan yang lainnya bersiap siap dulu, nanti baru menyusul ke istana."


Yue Lin mengangguk cepat dan berkata,


"Baiklah, kalau begitu biar kakak yang berangkat duluan.."


"Sampai ketemu nanti.."


Ucap Yue Lin sambil tergesa gesa melangkah meninggalkan tempat itu.


Setelah Yue Lin pergi, Zi Zi baru turun dari pembaringannya dan berkata,


"Kakak aku pergi mandi dan bersiap siap dulu.."


"Agar kita bisa segera berangkat.."


Nan Thian menoleh kearah istrinya dan mengangguk pelan.


Dia kemudian menutup pintu kamar, baru berjalan menyusul ke arah kamar mandi.


Nan Thian sambil berjalan menuju kamar mandi, dia menggunakan pesan suara jarak jauh mengabari Kim Kim.

__ADS_1


Hanya Kim Kim yang dia tuju, yang bisa mendengarnya.


Orang lain tidak akan bisa mendengarnya.


Di tempat lain, Kim Kim yang kebetulan sudah bangun sedang menyisir rambut.


Begitu mendengar pesan suara jarak jauh dari Nan Thian, dia segera membalasnya,


"Biarin aja,..! itu bukan urusan ku..!"


"Nanti kakak bawel ku marah dan ingin menghukum ku lagi..!"


"Aku malas,..! mau tidur saja..!"


Ucap Kim Kim sengaja jual mahal, sambil menahan tawa.


Di tempat lain Nan Thian yang sudah masuk kamar mandi, mendengar jawaban ketus dari Kim Kim.


Di mana suara yang muncul, begitu keras, hingga gendang telinga nya terasa berdengung.


Nan Thian menggunakan ujung jari kelingkingnya, untuk mengorek ngorek lubang telinganya, mengurangi pendengaran nya yang berdengung.


Zi Zi yang sudah berada dalam Tong air tempat mandinya, sambil menahan senyum dia berkata,


"Kenapa ? dia gak mau kan..?"


"Kamu sih, dikit dikit marahin dia.."


"Harusnya cari tahu dulu lebih jelas, baru boleh marah.."


Nan Thian hanya membalas dengan senyum canggung, lalu dia melepaskan pakaian nya.


Nan Thian memilih tidak menjawab ledekan dan teguran dari Zi Zi.


Dia lebih memilih menenggelamkan diri kedalam air, untuk menenangkan pikiran dan mendapatkan ketenangan dan kesegarannya kembali.


Melihat kelakuan suaminya, Zi Zi hanya tersenyum dan berkata,


"Kira kira siapa pimpinan pasukan yang datang..?"


"Apa masih gadis cantik dan kakek aneh itu lagi yang datang.?"


Meski didalam air Nan Thian bisa mendengar jelas, ucapan istrinya.


Perlahan lahan dia naik lagi ke permukaan dan berkata,


"Kurang paham juga, bisa ya bisa tidak.."


"Tapi yang jelas Jendral Yo Ku pasti hadir.."


"Aku duluan, aku tunggu di depan saja.."


Ucap Nan Thian cepat, setelah keluar dari dalam Tong air, dengan sedikit pengerahan hawa panas.


Air yang menempel di tubuhnya pun kering menguap ke udara.


Nan Thian langsung mengenakan pakaian baru.


Setelah itu tanpa menoleh dia segera keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Zi Zi hanya tersenyum melihat tingkah laku suaminya tampan nya.


Dia paham benar mengapa Nan Thian bersikap seperti itu.


Nan Thian bukan tidak perduli dengan nya, Nan Thian justru terlalu perduli.


Nan Thian takut bila menatap kearah nya, akan sulit mengontrol diri untuk melakukan sesuatu padanya.


Makanya Nan Thian memilih buru buru pergi, agar tidak tergoda. Sehingga bisa menunda urusan serius dan penting yang sedang menanti mereka.


Zi Zi juga tidak berani berlama lama, setelah Nan Thian keluar dari kamar mandi tak lama kemudian, setelah berganti pakaian baru, dia pun segera menyusulnya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah terlihat meninggalkan tempat kediaman mereka.


Mereka langsung menuju komplek istana, yang menjadi tempat kediaman sementara Zhu Yuan Zhang dan para pembantu terdekat nya.


Saat tiba di istana, Zi Zi sedikit terkejut. Saat melihat Kim Kim dan Thian Yi, justru sudah hadir di antara Zhu Yuan Zhang dan para bawahannya.


Dia tadinya sempat berpikir mereka tidak akan datang, ternyata mereka berdua malah tiba lebih duluan.


Nan Thian sendiri bersikap santai dan tidak terlalu terkejut, dia terlalu mengenal Kim Kim, yang paling suka keramaian dan keributan.


Di mana ada keributan, asal dia tahu. Dia pasti tidak bakalan tidak ambil bagian.


Kim Kim memang begitu, terkadang lain di mulut lain di hati, jadi dia tidak terlalu mau menanggapi ucapan nya dengan serius.


Bisa gila, bila dia menanggapinya dengan serius.


Kehadiran Nan Thian di sana, membuat pembicaraan terhenti sejenak. Semua yang hadir terlihat sedang menoleh kearahnya.


Nan Thian tersenyum canggung dan memberi kode agar mereka melanjutkan nya.


Jangan hiraukan dirinya, hal ini tidak aneh.


Nan Thian bukan seorang yang mengerti dan ahli ilmu seni berperang.


Dia hanya seorang ahli bela diri, bukan ahli strategi militer dan politik yang banyak intriknya, demi mencapai tujuan.


Nan Thian tidak punya bakat untuk yang satu itu.


Saat inipun dia hadir, dia tahu jelas batas dirinya, dia hanya akan ambil bagian bila lawan lebih kuat.


Ataupun bila lawan menggunakan bantuan orang dunia persilatan, yang memiliki kesaktian tingkat tinggi.


Zhu Yuan Zhang kembali melanjutkan perundingan dan pembahasan. Bagaimana strategi mereka menghadapi invasi pasukan besar Mongolia.


Nan Thian dan Zi Zi hanya ikut hadir sebagai pendengar yang baik saja.


Saat di penghujung pembahasan Nan Thian di tanya kan pendapat nya.


Dia hanya menjawab, santai.


"Aku ikut pengaturan saja..,"


Mereka sudah lama bersama, tidak ada yang merasa heran.


Dalam hampir di setiap perundingan Nan Thian sikapnya selalu sama


Tapi setiap kali perang pecah, mereka berada dalam bahaya, Nan Thian selalu berdiri di barisan terdepan.

__ADS_1


__ADS_2