PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
PIMPINAN TURUN TANGAN


__ADS_3

Tek Hoat dan Tin Siok saling memberi hormat dan memperkenalkan diri.


Sekedar basa basi, setelah itu mereka berdua mulai saling serang untuk mengukur kekuatan lawan, sambil mengerahkan kekuatan mereka dalam persiapan untuk saling serang.


Tek Hoat terlihat mulai kembali mengerahkan kekuatan inti neraka memenuhi tubuh'nya.


Sepasang jari telunjuknya terlihat berubah warna, menjadi merah seperti bara di bakar.


Tadi sewaktu menghadapi Petugas Arena Ketiga keadaan jari Tek Hoat tidak seperti ini.


Ini menunjukkan Tek Hoat benar benar serius, sehingga begitu memulai nya tampilan jari mautnya langsung berbeda.


Kesan ganasnya mulai terlihat, sepasang mata Tek Hoat pun mulai terlihat agak tidak normal.


Sepasang mata nya mengeluarkan cahaya merah bara, seperti sepasang mata iblis.


Sebaliknya Tin Siok penampilannya tetap sama, tidak ada perubahan sama sekali.


Dia hanya terlihat bersikap lebih waspada dan berhati-hati saja.


Tin Siok tidak berani sembarang bergerak, dia lebih memilih menunggu.


Menunggu Tek Hoat datang menyerang, dia baru akan membalas menyerang.


Melihat Tin Siok tidak juga kunjung menyerang setelah sekian lama di tunggu.


Tek Hoat akhirnya kehilangan kesabaran, sambil berteriak keras.


Tek Hoat langsung menghilang dari tempatnya.


Saking cepatnya bayangan nya sampai tidak terlihat, tahu tahu dia sudah muncul di hadapan Tin Siok.


Tin Siok begitu melihat Tek Hoat mulai menyerang, dia segera menggeser langkah kakinya.


Menghindari serangan jari maut Tek Hoat yang datang menusuk kearah keningnya.


Tin Siok tidak berani langsung menyambut keras lawan keras, dia memilih menghindar.


Kemudian sambil menghindar, dia menggunakan ujung sepatunya, menendang nadi di pergelangan tangan Tek Hoat.


Pergerakan itu juga terjadi dengan sangat cepat.


Tapi Tek Hoat juga tidak kalah, sebelum tendangan Tin Siok tiba.


Tek Hoat dia sudah menggunakan jari tangan nya yang lain memberikan ancaman kearah tulang punggung telapak kaki Tin Siok.


Bila tendangan itu di lanjutkan, otomatis sebelum ujung sepatu Tin Siok mengenai nadi di pergelangan tangan Tek Hoat.


Tulang punggung di telapak kakinya sudah di tembus oleh jari maut Tek Hoat.


Tin Siok terpaksa membatalkan tendangan tersebut, lalu dia menggunakan kakinya yang lain, untuk memberikan tendangan dahsyat kearah leher Tek Hoat, dari arah samping.


"Blukkkk..!"


Serangan tepat sasaran sayang nya, Tek Hoat yang kebal, tidak bergeming.


Malah Terdengar suara,

__ADS_1


"Cussss...!"


"Arggghhh..!"


Di susul dengan suara teriakan kesakitan Tin Siok yang melompat mundur, dengan kaki terpincang pincang.


Karena tempurung lututnya sudah di tembus oleh jari mautnya Tek Hoat.


Musuh belum menyatakan menyerah, tidak ada alasan bagi Tek Hoat untuk tidak kembali menyerang.


Tek Hoat kembali menghilang dari posisinya, saat muncul lagi jari nya sudah kembali mengancam kening Tin Siok.


Tin Siok segera membentuk tameng energi untuk menahan serangan jari Tek Hoat.


Tapi energi pelindung juga tidak bisa bertahan lama, sebentar saja sudah retak oleh serangan jari Tek Hoat.


Tin Siok mati matian bertahan dengan mengempos energi nya untuk meningkatkan kekuatan perisai energi' pelindungnya.


Tapi semua menjadi sia sia saat Tek Hoat, melakukan gerakan memutar ujung jari telunjuknya seperti mata bor.


Perisai energi akhirnya pecah hancur berantakan, jari Tek Hoat tahu tahu sudah berada di ujung hidung Tin Siok.


Tin Siok sebagai usaha terakhir, hanya bisa menebaskan dua cahaya putih transparan dari arah kiri kanan. Untuk membacok leher Tek Hoat.


Selain itu dia juga memberikan sebuah tendangan kearah ulu hati Tek Hoat.


Dengan maksud mencegah Tek Hoat mendekatinya, atau mereka berdua akan tewas bersama.


Tapi tindakan nya percuma, bacokan ataupun tendangannya, tidak ada yang mempan di Tek Hoat.


Tek Hoat terlalu tangguh untuk Tin Siok, ujung jari Tek Hoat sudah hampir menyentuh kening Tin Siok.


Jari Tek Hoat terhenti di sana, tidak bisa maju juga tidak bisa mundur.


Dari balik punggung Tin Siok muncul sebuah telapak tangan halus, memberikan dorongan pelan kearah dada Tek Hoat.


Pukulan itu mendarat seperti tidak bertenaga, lebih tepat seperti lengan seorang gadis penghibur, sedang menyentuh dada lawan jenisnya.


Tapi kesudahan nya cukup hebat, Tek Hoat langsung di buat terpental kebelakang dengan baju bagian dada hangus berlubang, membentuk sebuah telapak tangan.


Kulit dada Tek Hoat yang tadinya putih mulus, kini terlihat lebam merah kehitaman.


Tek Hoat yang terpental mundur, dengan wajah geram, langsung menunjuk kearah wanita bercadar dan berkerudung, yang tiba-tiba muncul di belakang Tin Siok.


"Kamu sebagai pimpinan sekte, tidak punya malu kah kamu, berbuat begini..!?"


Bentak Tek Hoat gusar.


Wanita di belakang Tin Siok melangkah maju kedepan menggantikan Tin Siok dan berkata,


"Saudara Tek Hoat anda jangan gusar dulu, dengarkan dulu penjelasan ku.."


"Apalagi yang ingin kamu jelaskan !? Cepat katakan..!?"


Bentak Tek Hoat masih saja merasa kesal.


Wanita bercadar itu berkata dengan suara tenang,

__ADS_1


"Saudara Tek Hoat harap di ketahui.."


"Kedatangan ku bukan ingin membantu bawahan ku, aku hanya tidak ingin bawahan ku mati di tangan mu.."


"Pertandingan ini sudah dianggap berakhir, sejak aku ikut campur."


"Jadi aku sudah putuskan kamu lah pemenangnya.."


"Kamu boleh segera menerima hadiah dan memilih salah satu senjata pusaka kami.."


Ucap wanita itu sambil memunculkan lima senjata pusaka kehadapan Tek Hoat.


Sedangkan pelayan Sekte Diatas Langit Masih Ada Langit, setelah mendapat kode dari pimpinan mereka.


Mereka segera datang membawa pelbagai sumber daya langka, yang menjadi hadiah kemenangan Tek Hoat.


Melihat hal ini, redalah kegusaran Tek Hoat, Tek Hoat sambil tersenyum puas berkata,


"Terimakasih banyak atas kemurahan hati ketua sekte.."


"Maaf bila tadi ada ucapan ku yang kurang sopan.."


Wanita itu mengangguk pelan dan berkata,


"Tidak perlu, dalam kejadian barusan memang pihak kami yang salah, jadi saudara Tek Hoat tak perlu meminta maaf.."


"Seharusnya Kamilah yang meminta maaf ke saudara Tek Hoat."


Tek Hoat sambil tersenyum berkata,


"Kalau itu tidak perlu, justru aku ada sedikit permintaan yang sedikit kelewatan.."


"Harap ketua bisa memenuhinya.."


Wanita itu menatap penasaran ke Tek Hoat dan berkata,


"Apa itu,..? katakan saja saudara Tek Hoat..tak perlu sungkan.."


Tek Hoat sambil tersenyum canggung berkata,


"Aku tidak perlu senjata, aku hanya perlu sumber daya langka yang lebih banyak.."


"Bisakah anda menukarkan senjata itu, dengan sumberdaya langka yang lebih banyak lagi untuk ku..?"


Wanita itu tersenyum dan berkata,


"Itu tentu saja sangat bisa.."


"Tapi apa saudara Tek Hoat tidak akan menyesal.."


Tek Hoat tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.


Dia berkata dengan penuh keyakinan.


"Tidak akan pernah, sebaliknya aku akan sangat berterima kasih.."


Wanita itu mengangguk pelan dan berkata,

__ADS_1


"Itu mudah, aku akan mengabulkan nya.."


"Sekarang aku mau bertanya, apa saudara Tek Hoat berminat untuk menyambut sisa 4 jurus dari ku..?"


__ADS_2