PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
YE SE BU HUA


__ADS_3

Nan Thian langsung memasuki kota Kai Feng dengan langkah santai.


Dia langsung melangkahkan kakinya menyusuri keindahan dan keramaian kota tersebut.


Nan Thian yang ingin mengumpulkan informasi, dia langsung membelokkan langkahnya, memasuki sebuah restoran yang besar megah dan sangat ramai pengunjungnya.


Baru saja Nan Thian melangkah memasuki restoran, terlihat seorang pria gemuk yang mengenakan topi berenda di kepalanya.


Dia langsung berlari datang menghampiri Nan Thian dan berkata,


"Ta Sia selamat datang.."


"Silahkan ikut dengan saya,.."


"Biar saya yang antar Ta Sia pergi menemui Tamu agung kami, beliau sudah cukup lama menantikan kedatangan Ta Sia.."


Ucap Pemilik Restoran sambil membungkukkan badannya hingga hampir terlipat kebawah.


Sayangnya dia terganjal perutnya yang one pack, jadi dia hanya bisa membungkuk sampai sebatas itu saja.


Tapi itu juga sudah menunjukkan bahwa dia sangatlah menghormati Nan Thian .


Nan Thian menatap heran kearah pemilik restoran dan berkata,


"Katakan saja siapa Tamu Agung mu itu..?"


Pemilik restoran tersenyum kecut dan berkata,


"Kalau itu bukan ranah ku untuk menjawabnya maaf.."


"Harap Ta Sia Sudi berbaik hati, tidak mempersulit kami orang di bawah.."


"Saya sekali lagi mohon dengan amat sangat, ikut lah dengan saya untuk menemui Tamu Agung kami.."


"Setelah bertemu semua akan jelas dengan sendirinya.."


Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,


"Baiklah tunjukkan saja jalannya .."


Pemilik restoran langsung tersenyum gembira dan segera berjalan lebih dulu menuju undakan anak tangga di tengah ruangan tersebut.


Dia segera memimpin jalan di depan sana buat Nan Thian .


Nan Thian tinggal melangkah santai mengikutinya dari belakang.


Mereka melewati lantai dua restoran, yang terlihat masih sangat ramai pengunjungnya, sama dengan lantai pertama.


Saat tiba di lantai 3 di sini tidak lagi terlihat ada keramaian seperti di bawah sana.


Seluruh lantai 3 yang luas, hanya terisi seorang gadis cantik dan dua orang pria, yang terlihat berdiri di belakang nya.


Dari gerak gerik kedua pria itu yang tenang, dengan sepasang mata mencorong tajam.


Nan Thian menebak kedua pria itu tentu nya bukan orang sembarangan.


Mereka pastilah orang hebat yang punya nama di dunia persilatan.


Nan Thian serasa pernah mengenali gadis tersebut tapi di mana dia lupa.


Bila di lihat dari penampilannya, gadis itu jelas adalah seorang putri dari kerajaan Mongolia.


Setelah kejadian Siao Hung, Nan Thian kini sangat berhati hati dengan yang namanya wanita.

__ADS_1


Terutama yang cantik.


Dia tidak mau kembali terulang masalah pelik yang gawat.


Yang dia cintai tidak bisa bersama dan bersatu, malah datang gadis lain yang tidak dia cintai.


Justru di takdirkan menjadi miliknya.


Ini benar benar suatu kekacauan besar dalam kehidupan cintanya, yang penuh dengan ujian dan penderitaan.



Nan Thian yang masih trauma, dia dengan suara dingin segera berkata,


"Maaf diantara kita tidak saling mengenal.."


"Silahkan saja,.."


"Biar aku bergabung dengan tamu biasa lainnya di bawah sana saja."


"Terimakasih.."


Selesai berkata, Nan Thian langsung menjura dengan kedua tangannya kearah gadis cantik itu.


Setelah itu dia langsung membalikkan badannya, bersiap melangkah meninggalkan tempat itu.


"Berhenti..!"


"Meski kamu rambutnya kini putih semua, tapi aku tetap mengenali mu..!"


"Kamu adalah si sombong yang mengacau di Hua San bukan..!?"


Ucap gadis itu yang bukan lain adalah YeSe Bu Hua dengan suara di keraskan.


Nan Thian jadi teringat dengan kehancuran Hua San Pai, kematian gurunya.


Juga hilang nya beberapa ketua perguruan aliran lurus terkemuka, yang menjadi teman baik gurunya.


Teringat hal itu, Nan Thian tidak jadi beranjak, sebaliknya dia memutar badannya.


Kembali menghadap kearah gadis itu dan berkata,


"Nona Ye Bu Hua apa kabar..?"


"Lama tak jumpa..?"


"Di mana kakak mu Mongke Khan ?"


"Apa dia baik baik saja, setelah banyak melakukan perbuatan dosa..?"


Tanya Nan Thian mencoba membuka topik pembicaraan, agar dia bisa tahu dengan pasti.


Nasib 3 ketua perguruan aliran lurus teman baik guru nya itu.


Nan Thian berani menghina kakak nya, yang sudah almarhum, tentu saja dia sangat marah.


Ingin rasanya dia maju, menempeleng mulut Nan Thian yang lancang itu.


Tapi reputasi Nan Thian kini, bukanlah yang bisa di buat main main.


Sial sial dia malah kembali di permalukan.


Dulu ditempat orang lain, tentu tidak terlalu memalukan.

__ADS_1


Tapi kini bila terjadi di kandang sendiri, ini baru akan menjadi bahan lelucon orang sedunia.


Dia bisa merusak nama baik kerajaan nya, dia pribadi malu tidak masalah, tapi bila kerajaan nya ikut mendapat malu.


Bagaimana dia mau pertanggung jawabkan ke kakak nya, Kubilai Khan.


Berpikir sampai di sana, YeSe Bu Hua hanya alisnya saja sedikit berkerut, tanda dia emosi nya sedang terganggu.


Dia berusaha sebisa mungkin bersikap tenang, tidak terbawa emosi.


Sambil menatap Nan Thian lekat lekat, YeSe Bu Hua berkata,


"Kakak ku Mongke Khan sudah lama meninggal, sebagai pahlawan kerajaan Mongolia yang jaya.."


"Tak ada yang perlu di bahas.."


"Lebih baik sekarang kita bahas saja, apa yang kamu inginkan datang ketempat ini ?"


"Setelah kamu memilih menjadi anjing nya, si keturunan babi itu..?"


Nan Thian tentu tahu maksud perkataan Ye Bu Hua, yang sengaja di tujukan ke Zhu Yuan Zhang, atasan barunya saat ini..


Secara kebetulan marga Zhu, bila diartikan memang adalah babi, meski itu adalah sebuah penghinaan.


Nan Thian tidak ingin meladeninya.


Dia balas berkata,


"Aku hanya mengabdi pada orang yang memperjuangkan nasib rakyat dan negerinya, yang di duduki oleh bangsa bar bar yang kejam.."


"Jadi apapun yang kamu ucapkan tidak akan berpengaruh banyak.."


"Kamu ingin tahu kenapa aku kemari.."


"Tidak takut berterus-terang padamu.."


"Aku datang ingin menghabisi Do Ku, si anjing pengecut Mongolia itu.."


"Kalau bisa kota ini pun aku akan amankan dari tangan penjajah keji dan manusia manusia serakah.."


Ucap Nan Thian sambil tersenyum mengejek menatap kearah Zee dan Musashi.


Mendengar ucapan Nan Thian yang terdengar sombong.


Musashi kehilangan kesabarannya, dua menunjuk kearah Nan Thian dan berkata,


"Bocah sombong meski ku dengar kamu ahli warisnya Li Fei Yang.."


"Kami tidak bakal takut dengan mu.."


"Kami mampu menjadikan guru mu dan istrinya menjadi pecundang.."


"Kamu si bangsat kecil ini pun, tidak akan terkecuali.."


Mendengar ucapan Musashi, melihat gaya berpakaian kedua orang itu yang unik.


Satu mengenakan baju piyama Linggar mengenakan sandal jepit kayu.


Satu lagi mengenakan baju tebal bulu binatang, Nan Thian mulai bisa menebak asal usul kedua orang itu.


Nan Thian sambil tersenyum sinis berkata,


"Boleh saja, bila kalian ingin mencobanya.."

__ADS_1


"Aku menunggu kalian di depan pintu gerbang selatan.."


__ADS_2