
Sesaat kemudian tubuh Thian Yi kembali turun duduk diatas ranjang batu giok.
Dia perlahan lahan membuka kembali matanya, sambil menghembuskan nafas nya, yang penuh dengan hawa sakti Ming Yue Sen Kung yang mengandung uap beku.
Sesaat kemudian dia segera menoleh kearah Kim Kim dengan ekspresi wajah gembira bahagia terharu.
Dia benar benar merasa sangat berterimakasih dan berhutang Budi pada Kim Kim.
Bila bukan karena bantuan Kim Kim, dia kemungkinan besar, hanya akan melewatkan sisa hidupnya, sebagai orang cacat tidak berguna lagi.
"Adik Kim Kim terimakasih.."
Hanya ucapan itu yang keluar dari mulutnya, setelah itu dia langsung maju memeluk erat Kim Kim, meluapkan semua perasaannya.
Kim Kim membalas memeluk Thian Yi sambil tersenyum bahagia.
Sesaat kemudian kedua sejoli yang lupa diri, sudah larut dalam ciuman panjang yang menghanyutkan.
Mengungkapkan seluruh perasaan cinta dan kasih sayang mereka masing masing.
Saat Thian Yi mulai terpancing oleh kecantikan dan kemolekan tubuh pasangan nya.
Tiba-tiba pergerakan nya, di tahan oleh Kim Kim, yang lebih duluan tersadar dari hawa nafsu yang hampir menguasai kesadaran mereka berdua.
"Yi ke ke,..apa tidak sebaiknya kita lihat dulu keadaan di luar sana.."
"Memastikan apa yang telah terjadi..?"
Thian Yi seolah olah mendengar suara lonceng yang bertalu di samping telinga nya.
Membuat dia segera sadar dari kelakuannya yang sedikit kelewat batas.
Dengan wajah merah padam, dia membantu membenahi pakaian Kim Kim yang setengah terbuka dan acak acakan.
Tertindih di bawah oleh tubuh nya.
Setelah itu dia baru menantu Kim Kim untuk bangun duduk di hadapannya.
Sambil memperhatikan Kim Kim membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.
Thian Yi juga membenahi pakaiannya sendiri, setelah itu dia buru buru turun dari ranjang batu giok itu.
Dia berdiri diam di sana sambil terus menerus menatap kearah Kim Kim dengan tatapan mata takjub dan terpesona oleh semua gerak gerik Kim Kim.
Kim Kim yang tahu hal itu, dia menahan senyum dan berkata,
"Yi ke ke kamu lihat apa ?..ayo kita segera lihat keluar.."
Kim Kim yang sudah selesai merapikan diri, segera maju menggandeng tangan Thian Yi dengan mesra mengajaknya meninggalkan tempat tersebut.
Thian Yi mengangguk pelan, dia segera mengikuti langkah Kim Kim meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Thian Yi dan Kim Kim sudah terlihat keluar dari balik air terjun.
Saat mereka berdua keluar dari balik air terjun.
Mereka segera bisa melihat kekacauan yang tersisa di tempat tersebut.
Pondok sederhana yang tadinya memunggungi air terjun, kini telah tiada.
Hanya tersisa puing puing kayu yang sudah berubah menjadi arang dan hangus.
Begitu pula dengan kondisi kincir air, juga terlihat sudah rusak parah, setengah bagian nya patah terbelah, mengambang di atas air tersangkut di dekat jembatan penyeberangan menuju pondok.
Hutan pohon bunga Mei Hua, yang indah tidak lagi terlihat.
Kini di hadapan mereka hanya terlihat hamparan pohon pohon yang gosong dan tumbang berserakan di mana mana.
Dengan melihat mayat mayat yang bergelimpangan mengenakan pakaian biru langit, dengan lambang di bagian dada.
Menggambarkan sebatang pedang menghadapi kearah langit.
Thian Yi segera paham siapa pelaku pengrusakan di tempat nya ini.
Dia bergumam dengan sepasang mata berkilat,
"Keparat kamu sekte pedang langit.."
"Kamu lihat saja, aku akan membuat mu membayarnya..'
Kim Kim menyentuh tangan Thian Yi dengan lembut dan berkata.
"Tahan emosi mu, lebih baik kita lihat lagi ketempat lainnya..'
"Barangkali masih ada yang bisa di selamatkan.."
Thian Yi menoleh kearah Kim Kim dan mengangguk pelan, sambil tersenyum lembut.
Dari senyumnya, terlihat jelas, Thian Yi sangat berterima kasih dengan dukungan tulus dari Kim Kim, yang dengan setia menemaninya menghadapi berbagai kesulitan.
Dia semakin jatuh cinta pada gadis cantik yang telah berbuat begitu banyak untuk dirinya itu.
Dia sudah hidup begitu lama menyendiri dan terbiasa hidup seorang diri .
Mau datang mau pergi selalu seorang diri.
Ini adalah kali pertama dia merasakan hidupnya tidak lagi sepi dan sendirian.
Dia mulai merasa sangat nyaman dan menikmati perubahan kehidupan terbaru nya ini.
Thian Yi segera menggandeng tangan Kim Kim bergerak secepat terbang meninggalkan tempat itu, menuju pintu keluar yang terhubung dengan bagian ruangan aula depan istana kuno.
Di sana Thian Yi dan Kim Kim tidak menemukan sesuatu.
__ADS_1
Ruangan tersebut tetap sepi, hanya perabot mewah nya, banyak yang sudah tiada di tempat nya.
"Maling hina.."
Gumam Thian Yi kesal.
Dia kembali bergandengan tangan dengan Kim Kim melanjutkan perjalanan menembus mulut gua dan terus bergerak hingga keluar dari dalam jalan rahasia yang terhubung dengan sebuah bangunan altar berbentuk lingkaran.
Pintu rahasia menuju jalan keluar masuk di bangunan altar telah dirusak.
Di sini mulai terlihat mayat mayat anggota sekte lautan pedang, pada mati mandi darah berserakan di atas tanah .
Tempat yang di selalu di jadikan sebagai tempat suci, kini telah di kotori oleh genangan darah dan mayat anggota anggota sekte Lautan Pedang sendiri.
Thian Yi menatap dengan tatapan mata terenyuh, melihat anggota sekte nya pada tewas di bantai.
Dia kembali mengajak Kim Kim meninggalkan tempat tersebut.
Mereka bergerak cepat menuruni puncak Ming Yue Shan.
Menuju bangunan induk dan asrama di mana sekte Lautan Pedang bermarkas.
Tiba di tempat ini, keadaan yang hampir sama, bahkan terlihat jauh lebih parah terhampar di depan mata Thian Yi dan Kim Kim.
Mereka berdua segera melakukan pemeriksaan sejenak mencari cari apakah ada anggota yang masih hidup.
Setelah di pastikan di halaman depan tidak ada yang hidup.
Mereka beralih ke halaman dalam, hingga keruangan tengah ruang utama.
Tempat ketua dan dan para tetua dan pengurus tingkat tinggi berada.
Di sana Thian Yi menemukan 3 tetua sekte dan 4 pengurus sekte jajaran tertinggi, semuanya tewas mengenaskan, tidak ada satupun yang hidup.
Thian Yi kembali melakukan pemeriksaan menuju halaman belakang, di mana merupakan bangunan asrama tempat tinggal anggota sekte lautan pedang.
Di sana juga di temukan mayat mayat bergelimpangan bahkan mayat mayat anak kecil pun tidak terlepas dari pembantaian.
Di bagian dapur akhirnya Kim Kim mendengar suara rintihan pelan, tepat di bawah tungku masak.
Kim Kim segera bergerak kesana untuk melakukan pemeriksaan, sesaat kemudian dia pun berteriak,
"Yi ke ke..! kemarilah..!"
"Di sini masih ada satu yang selamat..!"
Sebuah bayangan berkelebat cepat muncul di samping Kim Kim yang sedang berlutut memangku sesosok pria paruh baya.
"Koki Chou apa yang sebenarnya terjadi..?"
Tanya Thian Yi yang segera mengenali koki yang terkadang bertugas mengantar makanan untuk nya.
__ADS_1