
Ping Ping dengan penuh percaya diri balas menatapnya, seolah olah menantangnya dan berkata,
"Aku di sini kamu mau apa..?"
"Hayo maju kalau berani.."
Reaksi Ping Ping , tentu saja membuat gadis itu terlihat semakin emosi.
Sepasang tinjunya yang putih halus kemerahan, terlihat terkepal erat hingga gemetaran.
Ping Ping sendiri tahu itu, tapi dia menanggapinya dengan santai dan berkata,
"Kakak kamu lihat dia,.."
"Apa kamu kenal dia..?"
"Atau mungkin dia adalah gundik nya si marga Coa itu, datang kemari ingin balas dendam."
Ucapan Ping Ping tentu saja terdengar jelas oleh semua yang hadir di sana.
Termasuk gadis secantik bidadari itu tentunya.
Gadis itu dengan sepasang alis bertaut jadi satu, sorot mata tajam berapi-api berjalan menghampiri Ping Ping .
Tapi sebelum dia sempat melabrak Ping Ping , tangannya di pegang oleh seorang pemuda rambut biru.
Pemuda berambut biru yang berwajah sedingin es tapi sangat tampan.
Tidak kalah tampan di banding Nan Thian , ada kemungkinan dia sedikit lebih tampan dari Nan Thian .
Masing masing memiliki kelebihan sendiri.
Bila pria itu ketampanannya, mendekati kecantikan wanita.Terlihat imut imut menggemaskan.
Maka Nan Thian ketampanannya, justru menunjukkan kejantanan seorang pria matang dewasa.
Pria berambut biru itu memberi kode kearah gadis cantik itu dengan gelengan kepala.
Dan sedikit memaksa menariknya mundur menjauh menuju meja lain.
Meski terpaksa menuruti tarikan teman prianya yang berambut biru itu.
Tapi sepasang mata gadis cantik itu, tetap tidak beralih.
Dia masih terus menatap kearah Ping Ping dengan emosi.
Di saat situasi sedang panas, Nan Thian mengangkat kepalanya sedikit, menatap kearah gadis secantik bidadari itu.
Nan Thian hanya menatapnya sekilas saja, setelah itu dia kembali menunduk dan berkata,
"Ping Ping kita makan saja, buat apa urusi urusan orang asing yang tidak kita kenal."
"Kurang masalah tidak perlu, itu lebih baik.."
"Lebih baik setelah ini, kita bungkus makanan dan Carikan tabib untuk mengobati kakek.."
Ucapan Nan Thian segera menyadarkan Ping Ping , yang kini baru teringat dengan kakeknya.
__ADS_1
Lalu dia buru buru memanggil pelayan mendekat, memesan beberapa macam masakan dan arak kesukaan kakek nya.
Setelah itu, dia segera menarik Nan Thian meninggalkan restoran dengan agak sedikit terburu-buru.
Nan Thian tidak menolak, dia segera melangkah mengikuti arah tarikan tangan Ping Ping ..
Mengikutinya segera bergerak meninggalkan lantai dua restoran.
Di tempat lain gadis cantik itu, sepasang mata nya mulai berkaca-kaca, bibir merah kecil nya yang berbentuk seperti gendewa.
Terlihat sedikit bergetar dua bergumam kecil,
"Nan Thian ke ke, semudah itukah kamu melupakan Zi Zi.."
"Apa kamu masih marah pada Zi Zi, karena masalah Zi Zi dan Sun ke ke.."
"Ohh Nan Thian ke ke.."
Gumam gadis itu tidak jelas.
Gadis itu memang benar adalah Zi Zi, putri tunggal Li Fei Yang dan Xue Lian.
Masih terhitung bibi kecilnya Nan Thian .
Zi Zi yang terdampar di Pulau Es, di tolong oleh Bing Han Majikan Pulau Es yang baru.
Kini Bing Han Majikan Pulau Es sendiri yang turun tangan langsung menemani Zi Zi mengarungi dunia persilatan yang sedang kacau balau.
Karena di mana mana terjadi pertempuran antara bangsa Han melawan bangsa Mongolia.
Tidak pernah tertarik dengan urusan perasaan cinta pria dan wanita.
Tapi kehadiran Li Meng Zi di pulau es, kecantikan nya, sikap nya tindak tanduknya semuanya akhirnya mengubah pandangan Bing Han terhadap hubungan antara pria dan wanita.
Rasa penasaran nya, terhadap ke misteriusan latar belakang kehidupan Zi Zi.
Lama lama membuat tembok es yang dia bangun untuk membentengi diri dari urusan cinta pria dan wanita akhirnya runtuh.
Bing Han sedikit demi sedikit mulai menyukai Zi Zi.
Berawal dari rasa penasaran, dia lalu menjadi tertarik sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya dia benar benar jatuh cinta dan menyukai gadis yang dia tolong itu.
Karena perasaan itu lah, dia akhirnya mengakhiri masa pertapaan nya di Pulau Es .
Memilih turun ke dunia ramai, menemani Zi Zi mengarungi dunia persilatan yang sedang kacau balau.
Dia rela menemani gadis yang di cintai nya itu, melakukan perjalanan mencari keberadaan Nan Thian mantan kekasih nya Zi Zi.
Di mana menurut cerita Zi Zi, mereka saling mencintai, tapi tidak bisa bersama sama.
Mereka di pisahkan oleh Budi janji dan hal hal lainnya yang sangat rumit.
Bahkan menyangkut Budi dan janji dari generasi sebelumnya.
Mereka sudah mencari ke berbagai penjuru dunia, mereka bahkan sudah mengunjungi Xu San tempat tinggal orang tua Nan Thian .
__ADS_1
Juga mengunjungi tempat tinggal orang tua Zi Zi yang sangat tersembunyi dari dunia ramai.
Tapi tetap saja mereka tidak berhasil menemukan keberadaan Nan Thian yang seperti seekor Naga Sakti.
Terlihat kepala, tidak terlihat ekor, terlihat ekor tidak terlihat kepalanya.
Kini secara kebetulan mereka bertemu di tempat ini, berawal dari informasi yang mereka dapatkan dari penduduk setempat.
Atas keributan Nan Thian dengan Hartawan Coa, mereka akhirnya berhasil menemukannya.
Tapi setelah bertemu, hasilnya sungguh sungguh mengejutkan, sekaligus mengecewakan.
Melihat kesedihan Zi Zi, Bing Han diam diam sangat kasihan terhadap Zi Zi.
Dia juga sangat kesal dan marah dengan sikap Nan Thian , tapi sebagai orang berpengalaman.
Dia tidak mau ikut campur, terlalu jauh dalam masalah ini.
Dia hanya akan mendampingi dan melindungi Zi Zi saja.
"Zi Zi bila dia sudah melupakan mu, dan sudah berbahagia dengan yang lainnya.."
"Bagaimana bila kamu ikut dengan ku kembali ke Pulau Es saja.."
"Belajar merelakan dan melepaskan semua masa lalu mu.."
Ucap Bing Han lembut.
Zi Zi terdiam sesaat memikirkan ucapan Bing Han, tapi sesaat kemudian.
Setelah dia menghapus air bening nya yang runtuh, Zi Zi pun bangkit berdiri dan berkata,
"Maaf Han Ta ke, aku belum bisa.."
"Aku mau menyusulnya, aku tidak percaya dia telah melupakan semuanya tentang kami.."
"Aku yakin pasti telah terjadi sesuatu dengan nya.."
"Mungkin gadis jahat itu telah melakukan sesuatu pada Nan Thian ke ke.."
"Mungkin dia menggunakan semacam ilmu sihir perampas Sukma, mempengaruhi pikiran Nan Thian ke ke.."
"Aku harus pergi memastikan nya, aku tidak bisa membiarkannya.."
"Bila terjadi sesuatu dengan Nan Thian ke ke, aku tidak menolongnya.."
"Aku akan menyesal seumur hidup.."
"Maafkan aku Han ke ke.."
Selesai berkata, tanpa menoleh lagi, Zi Zi langsung meninggalkan restoran.
Dia langsung melakukan pengejaran kearah Ping Ping yang pergi membawa Nan Thian .
Bing Han hanya bisa menghela nafas panjang, tepat saat makanan datang.
Dia pun langsung berdiri, dan berjalan pergi tanpa sempat menyentuh makanan yang baru saja di sajikan.
__ADS_1