
Begitu permainan pedang Bi Lian Sethai kacau, Petugas Arena Ketiga segera melepaskan serangan Golok nya menyerang balik, dengan satu tebasan Golok bergerak dari bawah keatas.
Seberkas cahaya merah yang di ikuti oleh api berkobar, segera menerjang kearah Bi Lian Sethai .
Berhubung jaraknya begitu dekat, Bi Lian Sethai dengan terpaksa, harus menggunakan pedangnya mencoba menahan serangan Golok yang menyerangnya.
"Trangggg..!"
Tubuh Bi Lian Sethai yang sedang mengambang di udara, segera di buat terpental kebelakang.
Di saat tubuh Bi Lian Sethai sedang terpental kebelakang, Petugas Arena Ketiga justru menjejakkan kakinya keatas tanah.
Tubuhnya segera melesat terbang tinggi keatas mengejar kearah depan.
Saat berhasil menyusul Bi Lian Sethai , Petugas Arena Ketiga segera menebaskan Golok nya, dari atas kebawah.
Dengan pengerahan tenaga yang jauh lebih kuat dan lebih besar lagi.
Dia menebaskan Golok di sertai dengan ayunan berat badannya, tentu saja kekuatan nya bertambah berkali kali lipat.
Bi Lian Sethai yang sedang dalam posisi kurang baik, menghadapi serangan seperti itu tentu saja keadaan nya semakin mengkhawatirkan.
Sekali lagi dia berusaha menggunakan pedangnya mencoba menangkis serangan dahsyat tersebut.
"Trangggg...!"
"Brakkkkk...!"
Bi Lian Sethai terbanting keras terlentang di atas arena.
Punggung dan pinggang nya yang terbanting keras terasa sakit luar biasa.
Belum lagi kepala belakang nya yang ikutan membentur lantai arena dengan cukup keras.
Bi Lian Sethai merasa kepalanya pusing, pandangannya kabur.
Sampai di situ pun bahaya belum berhenti, karena setelah benturan keras tersebut.
Golok Petugas Arena Ketiga tidak berhasil dia pentalkan ataupun belokan serangannya.
Melainkan masih terus bergerak kebawah menekan pedangnya.
Bi Lian Sethai yang telapak tangannya sudah robek berdarah akibat benturan keras senjata mereka.
Di tambah lagi lengannya pun terasa kaku.
Dia semakin kesulitan menahan tekanan Golok yang terus meluncur ke bawah.
Petugas Arena Ketiga tiba tiba mengubah tekanan golok menjadi Sontekan Golok berkelebat keatas .
Dengan cara ini, tanpa bisa di pertahankan lagi, pedang di tangan Bi Lian Sethai akhirnya terbang keudara, terlepas dari pegangan tangannya.
__ADS_1
Dia tidak lagi mampu mempertahankan pedangnya, Petugas Arena Ketiga saat mendarat keatas tanah, Golok nya dia kalungkan di leher Bi Lian Sethai .
Sedangkan kakinya yang satu menginjak bahu Bi Lian Sethai .
"Terimakasih sudah mengalah.."
Ucap Petugas Arena Ketiga sambil melompat mundur menjauh.
Bi Lian Sethai bangkit berdiri menjura kearah lawannya, dengan kepala tanpa banyak bicara.
Bi Lian Sethai menjemput pedangnya yang tergeletak di atas arena.
Lalu dia segera bergerak meninggalkan arena kembali ke bangku penonton.
Bi Lian Sethai hanya mengalami luka gores dan memar saja, secara umum kondisinya masih cukup baik, di bandingkan peserta peserta lainnya.
Setelah Bi Lian Sethai di kalahkan, kini pertandingan di arena keempat sudah di mulai.
Di mana ketua Hoa San Pai, Ye Wen mulai bergerak menyerang Petugas Arena Keempat dengan permainan pedang Hoa San Cien Fa.
Setelah puluhan jurus berlalu, Ye Wen merasa permainan pedang nya selalu di bawah angin.
Dia akhirnya mengeluarkan ilmu simpanan nya, 9 pedang Hoa Shan.
Karena lawannya bertangan kosong, memiliki pukulan yang tinju yang mengandung Chi yang sangat kuat.
Sangat sulit dia atasi, dia langsung memilih jurus ke 9 sikap mengalah Chi.
Ilmu pedang ciri khas 9 pedang Hoa Shan, adalah menyerang tanpa putus mengalir seperti air mencari tempat rendah.
Seperti lubang panca Indra dan beberapa titik mematikan yang menjadi titik pusat Chi di kontrol dan di gerakkan.
Pedang Ye Wen berkelebat kesana kemari dengan sangat cepat tanpa henti.
Petugas Arena Keempat berulang kali ingin mencegat serangan pedang dengan pukulan keras nya.
Tapi sebelum pukulan nya tiba pedang sudah melejit menyerang area lain.
Pedang Ye Wen selalu bergerak menghindari keras lawan keras, tapi terus menyerang tiada henti.
Petugas Arena Keempat menjadi sedikit terdesak oleh kecepatan permainan pedang Ye Wen yang terus mengejar dan menyerangnya.
Di saat Petugas Arena Keempat terdesak hingga hampir keluar dari arena.
Dia segera membentuk energi Chi pelindung untuk menghadang pergerakan pedang Ye Wen yang lincah cepat dan akurat.
Dengan pengerahan Chi pelindung serangan Ye Wen terpaksa di hentikan.
Karena tenaga dalam nya, tidak cukup kuat membantunya membongkar pertahanan Chi dari Petugas Arena Keempat .
Di saat Ye Wen berhenti menyerang karena bingung mau memulai nyerang darimana.
__ADS_1
Kini Petugas Arena Keempat segera menyiapkan serangan Chi yang akan membuat Ye Wen terkunci pergerakannya.
Sehingga Ye Wen akan di paksa untuk menyambut pukulannya, keras lawan keras. Tidak bisa berkelit kesana kemari lagi sesuka hati nya.
Dia sebenarnya sudah lama menunggu kesempatan ini, kini begitu kesempatan muncul.
Dia tidak mau menyia nyiakan nya lagi, Petugas Arena Keempat segera melepaskan hujan energi cahaya emas menyerang dan mengunci seluruh akses jalan mundur Ye Wen.
Ye Wen yang kembali terdesak dan tertekan, merasa tidak mungkin menahan serangan tersebut.
Akhirnya dia memilih melompat terbang keluar dari arena.
Setelah mendarat di bawah arena.
Ye Wen segera menjura kearah Petugas Arena Keempat, dan berkata.
"Ye Wen mengaku kalah.."
"Permisi.."
Selesai berkata, Ye Wen segera kembali ketempat duduknya.
Meski akhirnya dia harus kalah, tapi setidaknya kondisinya baik baik saja.
Dari semua peserta yang maju dan kalah, dia dan Bi Lian Sethai adalah yang paling beruntung.
Hanya mereka berdua yang setelah kalah masih mampu keluar dari arena dengan luka ringan dan hampir tidak berarti.
Kini setelah peserta tidak ada lagi yang naik ke arena.
Siangkoan Li secara terang terangan menatap kearah ketua Shaolin dan ketua Wu Dang.
Lalu dia berkata,
"Setelah semua penghuni dunia persilatan dewasa ini, tidak ada lagi yang berani maju.."
"Bagaimana bila dua poros utama dunia persilatan ikut maju meramaikan pertandingan ini.."
"Jangan bilang kalian yang berada di posisi puncak tidak berani maju mencoba karena takut kalah.."
"Takut nama baik dan nama besar partai kalian yang berusia ratusan tahun, harus hancur dan rata dengan tanah hari ini.."
"Omitofo... Sancai...sancai..!"
Ucap Ketua partai Shaolin sambil melompat terbang keatas arena pertama.
"Baiklah bila kalian memaksa, hari ini aku Khong Sim He Shang.."
"Akan menunjukkan sedikit kebodohan yang berhasil aku pelajari dari ilmu aliran kuil kami yang maha tinggi dan maha dalam.."
"Silahkan tuan penguji.."
__ADS_1
Ucap Khong Sim He Shang sambil memberi kode, agar Petugas Arena Pertama boleh maju menyerangnya.
Dirinya sudah siap untuk itu..