
Satu tebasan cahaya golok merah melesat kearah Sui Sian, Sui Sian membungkukkan badannya menghindari serangan tersebut.
Tapi di luar dugaan saat Sui Sian kembali tegak bayangan golok merah membentur dinding cahaya putih.
Bayangan Golok merah bergerak membalik kembali menyerang punggung Sui Sian, yang tidak menyangka ada serangan seperti itu.
"Sraaat...!"
Sui Sian yang terlindungi oleh Chi nya, masih bisa menahan serangan tersebut.
Tapi dia tidak bisa menahan daya dorong serangan tersebut.
Sehingga tubuhnya di buat terhuyung huyung kedepan.
Di saat itulah sepasang tapak Tin Siok yang mengeluarkan bola cahaya putih berkilauan menghantam dada Sui Sian.
"Blaaarrrr...!"
Sui Sian terpental keluar dari kukungan kubah cahaya putih.
Karena kubah cahaya putih sendiri sudah lenyap, saat Sui Sian terkena pukulan dari Tin Siok .
Tubuh Sui Sian melayang keluar dari arena seperti layangan putus, pergerakan nya baru berhenti saat tubuhnya terbanting diatas tanah.
Beberapa murid Sui Sian berusaha ingin membantu guru mereka berdiri.
Tapi Sui Sian menolaknya, dia mencoba untuk bangun sendiri, lalu memberi hormat kearah Tin Siok .
Tapi baru saja dua langka, Sui Sian melangkahkan kakinya. Setelah dia sempat menyemburkan darah segar dari mulutnya
Tubuhnya langsung ambruk tidak sadarkan diri,
Untungnya murid murid Sui Sian bertindak sigap, mereka berhasil menyambut tubuh guru mereka tepat waktu.
Sehingga Sui Sian tidak perlu mencicipi terbanting keatas tanah untuk yang kedua kalinya.
Seperti yang lainnya, Sui San juga menerima pil teratai salju untuk pemulihan kondisi.
Selagi di bawah sana sedang ramai, Ketua sekte Takdir Langit Sim Qiao sudah melesat meninggalkan bangku penonton, kemudian mendarat ringan di atas arena pusat, berhadapan dengan Tin Siok.
Berbeda dengan Sui Sian yang pandai berbasa basi.
Sim Qiao tidak banyak bicara kaku dan angkuh, dia hanya berkata singkat,
"Kita mulai saja.."
"Majulah.."
Tin Siok mengangguk pelan, lalu dia segera menghimpun energi'nya, dan mulai maju melepaskan serangan tapak terbuka menyerang kearah wajah Sim Qiao .
Sim Qiao hanya mendengus dingin menanggapi serangan tapak terarah ke wajahnya.
Dia berdiri tenang dengan sepasang tangan tersimpan di balik punggung.
Dia diam menanti hingga tapak sudah dekat kewajah, tinggal satu Inchi tiba tiba tapak berubah menjadi totokan menotok kearah leher.
Dia baru melepaskan pukulan menyambut serangan tersebut.
"Tapak pemecah takdir bumi..!"
__ADS_1
Bentak Sim Qiao keras.
"Blaaarrrr tapak dan totokan jari bertemu di udara.
"Blaaarrrr...!"
Tin Siok dan Sim Qiao sama sama terdorong mundur satu langkah ke belakang.
Mereka saling mengamati sejenak, sebelum sama sama bergerak maju, mendorongkan sepasang tapak tangan mereka kedepan.
"Blaaarrrr...!'
"Boooommm..! Boooommm..! "
"Boooommm..! Boooommm..! "
"Boooommm..! Boooommm..! "
"Boooommm..! Boooommm..! "
Setelah tapak dan tapak saling beradu di udara, menempel di sana saling dorong.
Ledakan pertemuan sepasang tapak mereka, segera memicu ledakan di sekeliling arena pertandingan mereka berdua.
"Tapak pemecah takdir langit .!"
Bentak Sim Qiao sambil ulang menghentakkan kedua telapak tangannya kearah Tin Siok .
Dua huruf bertuliskan takdir langit, muncul dari langit.
Turun kebawah menyatu kedalam tubuh Sim Qiao sebelum dia hentakkan kearah Tin Siok .
Tapi Tin Siok belum kalah, dia segera menghimpun tenaga alam semesta tak berbatas masuk kedalam tubuhnya.
Lalu dia membentak,
"Kekuatan semesta tak berujung..!"
"Blaaarrrr...!"
Sekali ini Sim Qiao lah yang terpental keluar dari arena, dengan langkah tidak beraturan saat mendarat diatas tanah.
Sim Qiao tanpa berkata apa-apa, dia menjura kearah Tin Siok , lalu memutar tubuhnya melangkah kembali ke bangku penonton.
Kini pihak sekte, sekaligus mengirim 5 orang maju keatas arena, sebagai pengganti 5 petugas pengawas arena sebelumnya.
5 Petugas Arena baru segera muncul menggantikan yang lama.
Tin Siok dan keempat bawahan nya, segera di tarik kembali kedalam bangunan istana sekte mereka.
Setelah petugas pengawas di ganti, tawaran pertandingan pun kembali di buka.
Begitu tawaran di buka dari kalangan netral hadir perwakilan dari istana lembah hantu di arena pertama.
Sisa nya berturut turut maju Ketua Thian San, Xue San, Hoa San.
Dari Wu Dang dan Shaolin masing masing memilih terus mengamati dengan sabar.
Sedangkan dari pihak golongan hitam, mereka sudah ciut.
__ADS_1
tidak ada yang berani maju mencari penyakit.
Ketua genk Naga Hijau dan ketua Genk harimau hitam adalah dua contoh nyata, mereka menyadari kemampuan dan kekuatan mereka.
Mereka tidak ada yang mau maju mencari penyakit buat diri sendiri.
Diarena pertama perwakilan dari istana lembah hantu yang bernama Sun Heng.
Sudah mulai maju menghadapi petugas Arena pertama.
Masing masing mulai saling serang, berbeda dengan sebelumnya.
Di mana pertarungan di empat arena di laksanakan secara serentak, begitu ada lawan yang maju kedepan.
Kini yang aktif hanya arena pertama saja, sedangkan arena kedua sampai keempat.
Mereka di sediakan kursi untuk duduk menonton pertandingan di arena pertama.
Hal ini di lakukan karena peserta yang akan maju berikutnya tinggal sedikit lagi.
Tidak sebanyak awal-awal, jadi petugas arena lain di beri kesempatan untuk bersantai sejenak.
Pertandingan di arena pertama berjalan cukup seru.
Sun Heng mulai mengeluarkan ilmu andalan lembah hantu.
Di mana dia berubah menjadi sesosok bayangan yang mengelilingi, Petugas Arena Pertama .
Sambil berputaran semakin lama semakin cepat, hingga sulit untuk di temukan, dimana keberadaan nya.
Hanya bayangan hijau, yang tidak terlihat jelas.
Pergerakan itu, menimbulkan angin berkesiur dingin dan suara magis yang bisa melemahkan mental lawannya.
Petugas Arena Pertama tetap bersikap waspada dengan ilmu yang di tunjukkan oleh sekte tersebut.
Dia berdiam tenang di tengah tidak bergerak gerak, hanya sepasang matanya saja yang ikut bergerak.
Perlahan-lahan Sun Heng mulai melancarkan serangan, yang mengeluarkan cahaya hijau dan bayangan roh hijau kecil kecil di sekitar telapak tangan, hingga ke lengannya.
Petugas Arena Pertama pertama segera menyambut serangan itu dengan telapak tangan nya.
"Blaaarrrr..!"
Sun Heng merasa telapak tangannya seperti tenggelam kedasar lumpur, hal ini benar benar membuat kaget dirinya.
Sebelum Sun Heng dapat menguasai keadaan di mana tenaga serangannya terhisap masuk kedalam pusaran kekuatan itu.
Tiba-tiba tenaganya sudah di lontarkan kembali, berikut hadiah serangan balik dari Petugas Arena Pertama .
Sun Heng merasa dirinya, seperti di terjang angin badai.
Hingga pergerakannya jadi terhenti. Posisinya kembali terlihat.
Dalam kesempatan tersebut, Petugas Arena Pertama, langsung melesat cepat memberikan serangan beruntun, dengan jumlah bayangan telapak tangan, yang mengeluarkan cahaya hijau muda lembut memenuhi udara mengurung Sun Heng.
Sun Heng langsung terlihat repot dengan tekanan besar yang datang mengurungnya.
"Blaaarrrr...!"
__ADS_1