
"Boooommm..!"
"Boooommm..!"
"Boooommm..!"
"Boooommm..!"
Terjadi ledakan dahsyat di bagian agak ketengah laut sana.
Saat Nan Thian melepaskan suara teriakan dahsyat, yang penuh dengan energi Chi, yang sedang bergolak liar dalam tubuhnya.
Ping Ping yang sudah berhasil menyusul Nan Thian , dia juga ikut terhempas mundur.
Hingga jatuh terduduk di pasir pantai yang halus lembut dan agak dingin.
Ping Ping menatap kearah Nan Thian dengan wajah khawatir .
Nan Thian sendiri setelah melepaskan gejolak kekuatan dahsyat di dalam tubuhnya.
Dia akhirnya jatuh berlutut di pinggir laut, sana.
Duduk diam di sana dengan sepasang mata terpejam rapat.
Ping Ping setelah hilang kagetnya, dia segera berlari menghampiri Nan Thian .
Lalu dia segera ikut berlutut di samping Nan Thian .
Memeluknya dari belakang dan berkata,
"Sudahlah aku yang salah.."
"Tidak seharusnya aku memaksa mu mengingatnya.."
"Mungkin Thian memang mau kamu hidup tenang di sini dan melupakan semuanya.."
"Aku janji tidak akan pernah meminta mu mengingatnya lagi.."
"Mari kita lupakan saja semuanya.."
Ucap Ping Ping sambil merangkul tubuh Nan Thian, yang kini sudah terkulai lemas dalam pelukan nya.
Beberapa saat kemudian, saat ombak dari tengah laut sampai kebibir pantai.
Ping Ping melihat ada begitu banyak ikan kepiting udang dan lainnya.
Terbawa ketepi pantai berserakan di tepi pantai.
Mahluk mahluk itu besar kecil tergeletak tak berdaya di atas pasir pantai.
Ping Ping melihat mahluk itu belum mati, hanya mirip pingsan dan lemas saja.
Dengan gembira Ping Ping segera membaringkan Nan Thian diatas pasir pantai.
Lalu dia segera berlarian pergi mengumpulkan hasil laut yang datang secara tak terduga tanpa perlu bersusah payah pergi mencarinya.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu mengumpulkannya, Nan Thian yang sudah sadarkan diri.
Dia segera mengikuti Ping Ping pergi mengumpulkan hasil hasil laut itu.
Untungnya tempat itu sangat sepi, karena pantai yang terletak tidak jauh dari halaman depan rumah Ping Ping .
Itu adalah pantai yang ada paling laut yang dalam, jadi tidak bisa di gunakan untuk berenang menangkap ikan dan lain sebagainya.
Tanah pantai yang landai , tertutup air laut hanya sedikit, sebelum kemudian langsung jadi dalam, karena ada patahan Palung laut dalam di bawah sana.
Beberapa saat mengumpulkan hasil laut bersama, Ping Ping pun berkata,
"Kakak pergilah bawa keranjang keranjang ikan di perahu kita kemari.."
"Kita perlu alat untuk membawanya kepasar untuk di tukar jadi uang.."
Ucap Ping Ping bersemangat.
Nan Thian mengangguk cepat, dia segera berlari meninggalkan tempat itu, kembali ke perahu Ping Ping yang tertambat di tepi pantai lainnya.
Saat tiba di sana, Nan Thian segera menurunkan semua keranjang di dalam perahu Ping Ping .
Lalu dia segera membawa semua nya kembali lagi ketepi pantai di mana Ping Ping dan hasil tangkapannya sedang menanti kedatangannya.
Begitu Nan Thian tiba, mereka berdua segera memasukkan hasil tangkapan mereka, kedalam keranjang keranjang besar yang Nan Thian bawa .
Setelah semua keranjang terisi penuh, Ping Ping kembali berkata,
"Kakak di depan teras rumah ada gerobak bawalah kemari.."
Nan Thian lagi lagi mengangguk dengan wajah polos, lalu dia segera pergi mendorong sebuah gerobak tua, yang agak reyot.
Tapi masih bisa mereka gunakan untuk memuat keranjang keranjang ikan yang sudah penuh itu.
Setelah keranjang termuat, mereka segera membawa hasil tangkapan mereka kepasar.
Mereka berdua terlalu gembira, hingga lupa kakek Ping Ping yang kurang sehat, ada di rumah sendirian.
Lebih parahnya lagi kakek Ping Ping sedang tergeletak pingsan di atas lantai tanpa ada yang tahu.
Nan Thian tadi cuma ambil gerobak, dia tidak melihat kedalam rumah, jadi dia tidak tahu kalau kakek itu tergeletak pingsan di dalam rumah.
Nan Thian dan Ping Ping sangat gembira, karena hasil tangkapan mereka kali ini, jauh lebih banyak daripada hasil tangkapan mereka sebelumnya, yang di sita oleh anak buah hartawan Coa.
Saat tiba di pasar, Ping Ping meminta Nan Thian membelok melewati toko pusat pelelangan ikan yang pertama.
Karena itu milik hartawan Coa,
Ping Ping lebih memilih mampir ke toko pelelangan ikan yang kedua..
Di desa Nelayan ikan ini, memang hanya ada dua toko pusat pelelangan ikan dan hasil laut.
Toko pertama milik hartawan Coa, toko kedua milik Hartawan Song.
Hartawan Coa berani membeli dengan harga tinggi diatas harga pasaran.
__ADS_1
Tapi bagi yang punya hutang dengan nya.
Dia akan di tekan harganya hingga di bawah pasaran, oleh hartawan Coa.
Bila mereka punya hutang tapi berani jual hasil laut ketempat lain.
Hartawan Coa tidak akan segan segan mengutus anak buah mereka, untuk merampas seluruh uang hasil penjualan mereka untuk bayar hutang.
Ping Ping yang sebelumnya sudah di rampas hasil tangkapannya untuk bayar hutang.
Tentu saja dia tidak mau memilih menjual lagi hasil tangkapan barunya sekarang.
Karena bisa saja hartawan Coa akan kembali merampas semuanya dengan alasan buat bayar hutang
Makanya Ping Ping mengajak Nan Thian , mengambil jalan memutar, langsung menuju toko hartawan Song.
Meski harga lebih murah, tapi di sini Ping Ping di bayar uang cash.
Tidak ada potongan nya.
Tanpa kesulitan Ping Ping yang di temani Nan Thian berhasil menjual semua hasil tangkapan mereka, di tukar dengan sekantong uang perak yang cukup berat.
Tentu saja tidak sebanyak uang yang di berikan dari dalam kantong Nan Thian .
Tapi hasil penjualan sekali ini, bagi Ping Ping ini adalah penjualan terbesar dalam seumur hidupnya.
Bahkan semasa ayah nya masih ada, ayah dan kakeknya juga tidak pernah memperoleh hasil tangkapan dan penjualan sebanyak saat ini.
Ping Ping terlihat sangat gembira, saat dia dan Nan Thian melangkah keluar dari toko pelelangan Hartawan Song.
Tapi senyuman wajahnya seketika lenyap, saat dia melihat hartawan Coa sedang menunggunya di depan halaman toko hartawan Song.
Di belakang hartawan Coa terlihat berbaris sederet tukang pukul tukang pukul peliharaan hartawan itu.
Diantara mereka adalah orang yang sama, dengan orang orang kasar yang merampas hasil tangkapan Ping Ping sebelumnya.
Hartawan Coa sambil tersenyum sinis berkata,
"Ping Ping kamu kelihatannya sudah besar, sayap pun sudah keras ya..?"
"Berani berhutang dengan ku, menjual barang di tempat lain.."
"Kamu sudah bosan hidup rupanya..?"
"Cepat serahkan semua uang penjualan mu, untuk membayar hutang ayah dan kakek mu..!"
"Atau kalian boleh merasakan akibatnya..!"
Bentak Hartawan Coa marah.
Ping Ping hanya bisa mundur ketakutan, berlindung di belakang Nan Thian , sambil memegang kantung bajunya erat erat.
Dia sudah putuskan, akan berusaha mempertahankan uangnya.
Meski harus mati, dia juga tidak akan sudi melepaskan pegangan tangannya dari kedua kantung uangnya itu.
__ADS_1