
Satu pukulan keras yang membawa tenaga es surgawi mendarat di dinding perisai yang melindungi tubuh E The Na Sen.
Begitu pukulan mendarat, seluruh perisai energi yang membungkus tubuh E The Na Sen, seketika berubah menjadi lapisan es beku tebal.
Belum juga E The Na Sen sempat menetralisir lapisan es beku yang dingin menusuk tulang mengurungnya di dalam sana.
Nan Thian sudah mendarat kan pukulan kedua yang mengandung hawa panas yang sangat mengerikan.
Ya pukulan Api surgawi yang kini mendarat di perisai pelindung E The Na Sen.
Segera lapisan es beku mencair, kini di gantikan oleh hawa panas membakar, dengan api berwarna hitam berkobar kobar membakar perisai pelindung E The Na Sen yang mulai terlihat ada retakan halus, di sekitar telapak tangan Nan Thian yang mendarat di sana.
E The Na Sen di dalam sana terlihat begitu tersiksa, sebentar dingin menusuk tulang, sebentar panas membara, membuat kulit dan daging terasa perih terbakar.
Lagi lagi sebelah dia sempat menetralisir nya, pukulan Nan Thian kembali datang mendarat di tempat yang sama.
Sehingga retakan halus semakin menyebar luas, kali ini perisai pelindung E The Na Sen kembali membeku.
Keadaan ini terus-menerus berlangsung silih berganti, sebentar sebentar dingin.
Retakan terus menerus menyebar, semakin lama semakin meluas ke mana mana.
Selain itu retakan juga semakin lebar, bias energi E The Na Sen mulai terpancar keluar dari retakan.
Energi pertahanan mulai buyar, Nan Thian kembali mendaratkan satu pukulan dahsyat.
Berbeda dengan sebelumnya, pukulan dahsyat ini, memancarkan cahaya panca warna.
"Blaaarrrr...!"
Begitu pukulan Nan Thian mendarat di tempat yang sama, perisai energi E The Na Sen meledak hancur berkeping-keping keping.
Telapak tangan kiri Nan Thian berhasil mendarat di dada E The Na Sen.
Sehingga dada E The Na Sen terlihat berulir melesak kedalam.
"Arggghhh...!"
Teriak E The Na Sen kesakitan di susul dengan semburan darah segar dari mulutnya, yang tidak tercegah lagi.
Semburan darah segar itu saat mendekati Nan Thian , seketika menguap tak berbekas.
Karena seluruh tubuh Nan Thian memancarkan energi gabungan tiga kekuatan dahsyat surgawi.
E The Na Sen yang merasa keadaan nya tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.
Sambil meraung keras, dia memberikan sebuah tendangan menjejak kearah perut Nan Thian .
Meski tertahan oleh perisai energi pelindung tubuh Nan Thian, tapi tetap saja rasa mules itu terasa oleh Nan Thian .
__ADS_1
Akibat kuatnya tendangan E The Na Sen yang menimbulkan getaran hebat di bagian perut Nan Thian yang terlindung energi gabungan tiga kekuatan surgawi.
Nan Thian terpental mundur menjauhi E The Na Sen.
E The Na Sen kembali berteriak keras, tanpa memperdulikan luka di dadanya yang semakin parah.
E The Na Sen mengayunkan sepasang kapak melakukan gerakan menyilang menghantam kearah Nan Thian .
"Trangggg...!"
"Blaaarrrr...!"
Terjadi ledakan dahsyat, saat Nan Thian terpaksa menggunakan Pedang Panca Warna untuk menangkis serangan sepasang kapak raksasa E The Na Sen.
Akibat dari benturan dahsyat itu, Nan Thian lagi lagi harus terpental jatuh mendarat kebawah.
Hingga punggungnya menabrak tanah di dasar jurang hingga melesak kedalam.
Untung nya, Nan Thian masih terlindungi oleh energi pelindung tubuh.
Sehingga tulang punggungnya baik baik saja tidak ada yang patah.
Sedangkan organ pentingnya yang tergetar, mengalami regenerasi dengan cepat, memulihkan diri secara otomatis.
E The Na Sen diatas sana yang kondisinya makin parah, beberapa kali mengalami batuk batuk darah.
Dia sekali lagi memaksakan diri, melesat kebawah dengan sepasang Kampak yang di selimuti kilatan listrik putih.
Nan Thian yang melihat E The Na Sen kembali datang dengan serangannya.
Nan Thian kedua tangan nya segera melakukan pukulan keras keatas tanah di sampingnya.
Sehingga tubuhnya mumbul keatas, dengan teknik ilmu meringankan tubuh terbang bebas di udara tanpa bayangan, di padu dengan tehnik 32 langkah ajaib.
Nan Thian menghilang dari posisinya, dia berhasil menghindari serangan dahsyat adu nyawa dari E The Na Sen.
E The Na Sen sepasang kampaknya saat tiba di sasaran, dia hanya menghantam tanah berlubang yang kosong tidak ada isinya.
Tanah dan batu berhamburan ke udara, tapi sasaran yang di tuju sudah tidak ada.
Sebelum E The Na Sen sempat menarik kembali sepasang kampaknya.
Dia merasakan tengkuk dan lehernya perih, sesaat kemudian semuanya menjadi gelap gulita.
Dia tidak bisa melihat juga merasakan lagi, karena kepalanya sudah jatuh tergeletak di atas tanah mendahului tubuhnya yang sesaat kemudian baru menyusul tumbang kebawah.
Bila di putar ulang urutan kejadiannya, adalah saat E The Na Sen kehilangan sasarannya.
Nan Thian dari posisi belakang E The Na Sen melepaskan Tebasan Pedang Tiada Awal Tiada Akhir, untuk mengakhiri pertarungan dahsyat tersebut.
__ADS_1
Seberkas cahaya Panca Warna, melesat bagaikan kilat menyambar, melintasi tengkuk dan leher E The Na Sen sehingga berakhir lah sudah nasib E The Na Sen.
Di bawah ketajaman energi pedang Panca Warna.
Setelah menuntaskan perlawanan E The Na Sen, Nan Thian menatap sebentar kearah jasad E The Na Sen dan keadaan di dasar jurang yang porak poranda.
Nan Thian bergumam pelan,
"Manusia merusaknya, alam memperbaikinya.."
"Sampai kapan alam harus menanggung ulah ulah ego manusia.."
Selesai berkata dengan wajah prihatin, tidak ada terlihat ada kegembiraan di wajahnya, meski dia keluar sebagai pemenang nya.
Nan Thian melesat ke udara, terbang keatas melintasi tebing jurang yang curam dan dalam dengan ringan.
Gravitasi bumi tidak lagi berpengaruh lagi pada Nan Thian yang telah mencapai tingkat manusia struktur tubuh dewa.
Nan Thian setelah berhasil keluar dari dalam jurang, dia mendarat ringan di samping istrinya.
Melihat suami dan ayah nya kembali, Zi Zi dan Ying Ying segera menghambur memeluk erat Nan Thian .
"Sayang kamu tidak apa apa kan ?"
"Apa kamu ada terluka..?"
Tanya Zi Zi sambil menatap suaminya dengan wajah cemas.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Tak perlu khawatir, aku baik baik saja.."
"Bagaimana keadaan yang lainnya di sini..?"
"Apa semua nya juga baik baik saja..?"
Zi Zi menghela nafas panjang dan berkata,
"Semuanya cukup baik, kecuali guru ku,.."
"Dia sudah pergi dari sini.."
Nan Thian menatap heran kearah Zi Zi dan berkata,
"Apa yang terjadi ?"
Zi Zi menghela nafas panjang dan berkata,
"Apalagi bila bukan karena kata cinta itu.."
__ADS_1
"Budi dan dendam, penyesalan kekecewaan kesedihan akibat asmara di masa lalu hingga saat ini, tetap saja terus membelenggu guru ku, yang belum bisa melepaskan dan merelakan nya.."