PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
HARAPAN TERAKHIR SUN JIAN


__ADS_3

Sebatang pedang panca warna meluncur deras membelah udara, tidak terlihat pemilik nya ada di mana.


Tahu tahu pedang itu meluncur keluar dari balik hutan dan langsung menembus dada pemuda asing, yang baru saja sedang mengambil ancang ancang, bersiap untuk merengut kesucian Siao Hung yang malang.


Terdengar suara teriakan kesakitan pemuda itu, sebelum tubuhnya jatuh tergolek miring, di samping tubuh Siao Hung yang polos.


Pedang panca warna yang menembus pemuda asing itu, kini masih melesat mengejar kearah pamannya yang sedang menunggu aksi keponakannya di luar sana.


Kakek berhidung bengkok dan memelihara jenggot kambing di balik penutup wajahnya.


Dia segera memutar tongkat kayu Bahar di tangannya untuk menangkis serangan pedang panca warna.


Tapi baru saja tongkat diputar membentuk gulungan sinar berwarna hitam.


Pedang Panca Warna sudah menembus dadanya .


Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, kakek itu sudah roboh tewas dengan tongkat akar Bahar terpotong jadi dua, masih berada dalam genggaman tangannya.


Sesaat kemudian sebuah jubah luar hitam lebar melesat keluar dari dalam hutan jatuh menutupi tubuh Siao Hung yang polos.


Beberapa saat kemudian, di luar semak belukar, terlihat Nan Thian dan Kim Kim mendarat ringan di tempat itu.


"Kim Kim kamu uruslah dia.."


"Aku mau pergi periksa keadaan di depan sana.."


Ucap Nan Thian yang baru saja tiba.


Nan Thian lah yang mendengar suara permintaan tolong Siao Hung dari jauh.


Jaraknya dari Siao Hung terlalu jauh, takut terlambat mencegah sesuatu yang buruk terjadi.


Jadi Nan Thian melepaskan Tebasan Pedang Tanpa Keinginan.


Sebuah tebasan pedang dahsyat, yang sangat jarang dia gunakan, bila tidak sedang dalam keadaan terpaksa.


Segera terbukti pasangan kakek dan keponakan itu, dalam hitungan detik, kedua nya tewas. Tanpa menyadari apa yang menyebabkan mereka tewas.


Nan Thian dan Kim Kim sedikit terlambat mendapatkan informasi estafet, atas tanda bahaya yang Liu Cong Kuan lepaskan.


Makanya mereka sedikit terlambat, hampir saja mereka terlambat menolong Siao Hung yang malang.


Tapi meski Siao Hung selamat, tapi yang lainnya semuanya tidak ada yang terselamatkan.


Kejadian ini di luar prediksi, karena selama ini, ekspedisi pengiriman ke Nan Jing sangatlah aman.


Siapa berani mati menganggu barang mereka, setelah melihat bendera ekspedisi mereka.


Tidak di sangka sekali ini justru berbeda.


Kim Kim menanggapi ucapan Nan Thian dengan senyum nakal dan berkata,


"Kenapa tidak kakak saja yang kesana menolongnya.."


"Enghiong Ciu Mei, pahlawan menolong gadis cantik.."


"Dia pasti akan semakin mencintai mu dan sangat bahagia, bila kakak yang kesana.."


"Takkkk..!'


"Aduhhh...!"


"kakak kening ku masih mau ini...!"


"Ahhh sakit..!"

__ADS_1


Keluh Kim Kim sambil bersungut sungut dan terus mengelus jidatnya yang merah kehitaman, sedikit bengkak.


Di sentil oleh Nan Thian barusan.


"Makanya kalau keningnya masih mau,.. jaga mulut.."


Ucap Nan Thian dengan wajah kulkasnya.


Lalu dia segera melesat meninggalkan tempat tersebut, tidak mau meladeni Kim Kim, yang pasti akan menyumpahinya habis habisan.


Baru saja Kim Kim mau berargumen, Nan Thian sudah menghilang dari sana.


Kim Kim hanya bisa membanting kakinya dengan kesal, setelah itu dia segera berjalan pergi mengumpulkan sisa pakaian Siao Hung yang berserakan.


Lalu dia sekalian membawanya ke balik semak belukar.


Saat tiba di balik semak belukar, Kim Kim segera membantu melepaskan jalan darah Siao Hung yang terkunci.


Setelah itu dia baru membantu Siao Hung mengenakan pakaian nya yang robek di sana sini.


Tapi semua itu terbantu dengan jubah luar Nan Thian yang lebar, sehingga bagian yang terbuka.


Terlindungi oleh jubah hitam tersebut.


Setelah berpakaian lengkap dengan wajah basah airmata bibir masih bergetar.


Siao Hung segera berkata,


"Kakak aku mau pergi lihat keadaan ayah..ku.."


Kim Kim mengangguk pelan dan berkata,


"Ayo kita susul kak Nan Thian , dia sudah kesana duluan.."


Sesaat kemudian Siao Hung di bawa terbang bersama Kim Kim menuju celah sempit, tempat pengepungan berlangsung.


Nan Thian terlihat sedang berusaha menolong nyawa Sun Jian.


Lainnya tidak ada yang terlihat.


Nan Thian disana sambil membantu sun Jian bertahan, dia berkata,


"Kim Kim barang kita belum jauh pastinya, rebutlah kembali.."


"Jangan biarkan mereka berhasil membawanya pergi.."


Kim Kim membuang mukanya dan berkata,


"Minta maaf dulu.."


Nan Thian menghela nafas dan memaksakan diri tersenyum dan berkata,


"Maaf..."


"Tidak kedengaran.."


Ucap Kim Kim sambil berpura-pura mengorek ngorek lubang telinganya.


Nan Thian menahan sabar dan kembali memaksa senyum dan berkata,


"Baiklah ,.. Maaf...!"


"Apa begitu cukup..?"


"Terdengar kurang tulus, sepertinya di ucapkan dengan emosi.."

__ADS_1


Ucap Kim Kim masih cemberut.


Nan Thian kembali menghela nafas panjang dan berkata,


"Baiklah,.. tadi itu memang salah ku, kau maafkan lah kakak mu ini ya.."


"Hmmm begini lebih baik, "


"Sedikit mirip ucapan manusia.."


Ucap Kim Kim masih mau jual mahal.


Nan Thian langsung emosi dan berkata,..


"Kamu jangan kelewatan atau kamu dan dia akan tahu akibatnya.."


"apa hubungannya dengan dia, mengapa kakak selalu gunakan dia mengancam ku..!?"


"Dasar bajingan berhati es, berotak batu .!"


Selesai memaki Nan Thian , Kim Kim langsung berubah jadi Naga emas.


"Rooaaarrrrrrr...!"


Dia mengeluarkan suara raungan nya yang menggetarkan sebelum melesat pergi.


Nan Thian sedikit menahan senyum kemenangannya.


Nan Thian kembali berkonsentrasi menangani luka luka parah di tubuh Sun Jian yang sulit tertolong.


"Tuan penolong.. bagaimana keadaan ayah ku..?"


"apa masih bisa..?"


Tanya Siao Hung dengan suara bergetar dan airmata bercucuran membasahi wajahnya.


Nan Thian menatap kearah Siao Hung dan menggeleng pelan, bahwa dia juga tidak berdaya.


Lalu Nan Thian berkata,


"Kalian ayah dan anak ngobrol lah, waktunya tidak banyak lagi.."


"Manfaatkan saja sebaik-baiknya."


Selesai berkata, Nan Thian pun hendak pergi dari sana.


Tapi telapak tangannya tiba tiba di tahan oleh Sun Jian yang tersenyum lemah.


Nan Thian terpaksa menghentikan niatnya untuk berlalu, dia menatap kearah Sun Jian dengan heran dan berkata,


"Paman Sun,.. apa kamu ada pesan untuk ku..?"


Sun Jian menggamit telapak tangan Nan Thian untuk di satukan dengan telapak tangan putrinya.


Dia kemudian berkata dengan suara lemah tapi serius,


"Tuan, aku hanya punya dia, setelah aku pergi, hanya kamu lah harapan terakhir ku, yang bisa aku percaya untuk menjaga dia untuk ku.."


Nan Thian terlihat agak keberatan dan ingin menarik kembali tangannya.


Tapi Sun Jian menahannya dan berkata,


"Aku tahu, meminta mu menikahi anak ku adalah tidak mungkin.."


"Aku tahu di hati tuan, sudah ada gadis lain.."

__ADS_1


"Aku tahu diri dan tidak akan memaksa untuk itu.."


__ADS_2