PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
MENINGGALKAN KEDIAMAN DO KU


__ADS_3

Teringat kematian Siao Hung , senyum Nan Thian menjadi dingin.


Sedingin kelebatan pedangnya.


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Singggg...!"


"Singggg...!"


Cahaya biru membentuk garis lengkung horisontal, bergerak menyapu pasukan Mongolia, yang sedang berlarian menghampiri Nan Thian dengan senjata lengkap di tangan.


Cahaya biru berbentuk garis horisontal sedikit melengkung itu, datang secara bertahap bagaikan gelombang laut.


Selapis demi selapis, melewati kerumunan pasukan Mongolia, yang melakukan pengepungan terhadap Nan Thian .


Setiap pasukan Mongolia yang di lewati oleh serangan Nan Thian yang datangnya bagaikan gelombang tsunami.


Langsung tewas, berubah menjadi patung es yang memenuhi tempat sekitar pengepungan berlangsung.


Tanpa terkecuali puluhan ribu pasukan Mongolia yang sedang melakukan pengepungan semuanya tewas menjadi patung es beku.


Pasukan Mongolia susulan yang sedang berdatangan dari segala arah.


Begitu mereka melihat nasib rekan mereka di barisan depan, nyali mereka menjadi ciut.


Tanpa perlu di komando, mereka semua berhamburan melarikan diri dengan panik dan kacau balau.


Situasi benar benar menjadi kacau tak terkendali saling injak saling dorong, berusaha melarikan diri lewat pintu gerbang yang mereka buka paksa.


Para perwira, komandan pasukan, hingga komandan regu, tidak ada yang berhasil memenangkan situasi.


Melihat situasi sudah tidak terkontrol, mereka malah ikut ikutan melarikan diri.


Di antara kekacauan, di bagian paling belakang, lewat pintu gerbang yang berlawanan arah dengan kedatangan Nan Thian .


Jendral Do Ku di kawal oleh sebarisan pasukan elitenya, dan beberapa jendral bawahannya.


Mereka diam diam berusaha mendekati pintu gerbang sebelah barat, bersiap siap meninggalkan kota An Hui.


Sayangnya pakaian kelompok itu yang mentereng, membuat mereka gampang terlihat.


Nan Thian yang sedang melakukan pencarian dengan berkelebatan di atas atap rumah penduduk kota An Hui.


Sebentar saja, dia sudah menemukan keberadaan rombongan Jendral besar Mongolia tersebut.


Nan Thian memutuskan tidak akan melepaskan orang tersebut, karena bila orang ini terlepas.


Berikutnya dia bakal kembali datang dengan rombongan, yang jauh lebih kuat, untuk kembali menganggu kota An Hui.


Begitu rombongan tersebut terlihat oleh Nan Thian, di mana mereka sedang berusaha melarikan diri lewat pintu gerbang barat.


Nan Thian segera melesat menyusul dengan cepat, dari kejauhan Nan Thian melepaskan dua kali dorongan telapak tangan kiri terbuka, yang di arahkan ke pintu gerbang yang sedang bergerak terbuka ke kiri dan ke kanan.


"Wusssshhh..!"


"Wusssshhh..!"


Dua rangkum pusaran angin yang Nan Thian lepaskan, segera membuat kedua pintu gerbang yang sedang terbuka menutup kembali.

__ADS_1


"Brakkkk..!"


"Brakkkk..!"


"Booommm..!'


Sekali lagi Nan Thian menebaskan pedangnya kearah pintu gerbang yang besar dan berat itu.


Seketika pintu gerbang yang sudah tertutup kembali, sepenuhnya tersegel oleh es.


Pintu gerbang tidak bisa di buka kembali, sebelum segel es di buka.


Jendral Do Ku dan pasukan elite serta beberapa Jendral bawahannya, kini terjebak di depan pintu gerbang.


Nan Thian mendarat ringan di hadapan pasukan elite, yang sedang memberikan perlindungan ketat, terhadap kereta kuda yang di tumpangi oleh Do Ku.


Serang,..!"


Teriak 4 orang jendral yang mengawal kereta kuda Jendral Do Ku.


Keempat Jendral itu segera mencabut golok bengkok, yang tergantung di pinggang mereka.


Lalu bergerak maju, memimpin pasukan elitenya menerjang kearah Nan Thian .


"Wusssshhh...!"


Serangkum angin dingin yang berasal dari telapak tangan kiri Nan Thian berhembus kedepan.


Keempat Jendral itu, langsung tewas menjadi patung es, diikuti oleh puluhan pasukan elite terdepan, yang mengikutinya dari belakang sana.


Pasukan elite adalah pasukan terlatih dengan keberanian teruji.


Apapun yang terjadi dengan atasan dan rekan mereka.


Nan Thian tersenyum dingin, pedang panca warna kembali berkelebat.


"Singgg..!"


Cahaya garis biru horisontal melewati tubuh pasukan elite Mongolia, yang sedang menerjang kearah Nan Thian .


Seketika seluruh pasukan elite yang sedang menerjang kearah Nan Thian, semuanya berdiri mematung di tempat.


Semuanya tewas berubah menjadi patung es beku.


Setelah menyelesaikan pasukan elite yang mengepungnya.


Nan Thian langsung melepaskan satu tebasan pedang secara vertikal kearah kereta kuda yang di tumpangi oleh Do Ku.


"Singggg...!"


"Braakkk..!"


Kereta kuda terbelah dua satu sosok yang berpakaian mentereng.


Terlihat terlempar keluar dan jatuh tertelungkup diatas tanah.


Nan Thian segera melayang mendekati orang itu.


Dia mendarat ringan di samping orang itu.


Dengan satu dorongan menggunakan kakinya, kearah bahu orang itu.

__ADS_1


Segera langsung terlihat jelas wajah orang itu.


Begitu saling bertatap muka, Nan Thian seketika terkesiap, karena wajah itu, dia tidak mengenalinya.


Wajah itu jelas bukanlah Di Ku yang sedang dia kejar.


"Siapa kamu..!"


Bentak Nan Thian kesal.


"Mana Do Ku,..!?"


Bentak Nan Thian sekali lagi, dengan wajah tidak sabar.


"Aku tidak tahu Ta Sia, aku hanya di bayar untuk menempati kereta ini.."


Ucap orang itu gugup ketakutan.


"Keparat..!"


Bentak Nan Thian kesal.


Tapi dia tidak menimpakan kekesalannya, pada orang tidak tahu apa apa itu.


Nan Thian segera berkelebat pergi dari sana, setiap melihat ada pasukan Mongolia.


Nan Thian pasti menangkap dan menanyakan kepada mereka keberadaan Do Ku.


Tapi hingga dia selesai mengelilingi 4 penjuru gerbang kota, Nan Thian tetap tidak berhasil menemukan keberadaan Jendral Monggolia tersebut.


Nan Thian menebak Jendral itu pasti membaur dengan prajurit Mongolia.


Dia menggunakan seragam prajurit Mongolia untuk melarikan diri, di saat kekacauan sedang terjadi.


Mungkin saat ini, Jendral tersebut sudah kabur jauh.


Nan Thian menggunakan prinsip dunia persilatan aliran putih, sedangkan Jendral itu adalah seorang militer.


Tentu dia akan menggunakan prinsip militer, cara apapun boleh yang penting tujuan akhirnya.


Selama nyawa masih di badan, dia masih punya kesempatan untuk membalas kekalahan hari ini.


Menang kalah dalam perang itu hal biasa, yang penting menyadari kesalahan dan mencari solusi untuk memperbaikinya.


Banyak prinsip yang tidak sepaham, makanya Nan Thian terjebak kalah strategi, meski unggul jauh dalam kesaktian nya, yang sudah tidak diragukan lagi.


"Keparat itu pasti akan menuju kota terdekat yang menjadi basis pertahanan pihak Mongolia.."


Batin Nan Thian didalam hati.


"Do Ku tidak peduli kamu mau lari kemana, aku tidak akan biarkan kamu lolos.."


Ucap Nan Thian geram.


Nan Thian melesat menuju kediaman Do Ku.


Dengan bertanya tanya sambil menggunakan ancaman kekerasan.


Akhirnya Nan Thian diantar oleh kepala pelayan kediaman tersebut, hingga sampai ke ruang kerja Do Ku.


Nan Thian begitu masuk kedalam ruangan, dia langsung pergi menghampiri peta yang di gelar di tengah tengah ruangan.

__ADS_1


Nan Thian memeriksa sejenak posisi An Hui, sesaat kemudian dia baru menggunakan jarinya menelusuri mencari kota ataupun desa terdekat.


Sesaat memperhatikan peta, Nan Thian pun tersenyum, lalu dia segera bergerak melesat meninggalkan kediaman Do Ku.


__ADS_2