
Tapi setelah berhasil menemukan Nan Thian kekasihnya, semuanya berubah.
Kini dia tidak akan pernah bisa melihatnya lagi, dia hanya bisa mengenangnya saja.
Menyimpan semua kenangan indah dan manis nya, bersama Zi Zi, semuanya hanya bisa dia simpan di dalam hati.
Bing Han berdiri termenung di sana hampir 3 hari, akhirnya dia dengan langkah lesu.
Meninggalkan tempat itu, meninggalkan sebuah batu nisan sederhana, yang dia buat untuk Zi Zi dan Nan Thian di depan reruntuhan mulut Goa.
Sebaliknya di dalam sana, setelah mulut Goa runtuh, Zi Zi langsung ikut berbaring di sebelah Nan Thian .
Sebelum menutup peti mati dari dalam, Zi Zi berkata pelan,
"Thian ke ke kamu beristirahatlah dengan tenang.."
"Zi Zi akan menemani mu di sini, mulai saat ini kita bisa bersama selamanya.."
"Tidak akan ada yang mengusik ketenangan kita lagi.."
"Tidak akan ada siapapun yang bisa memisahkan kita lagi.."
Selesai berkata, Zi Zi memberikan ciuman lembut di bibir Nan Thian yang kering dan dingin.
Setelah itu dia pun menutup sepenuhnya peti mati tersebut, dua sendiri yang berbaring di sebelah Nan Thian .
Sambil tersenyum manis dia menggenggam erat telapak tangan Nan Thian.
Sesaat kemudian Zi Zi ikut memejamkan matanya sambil tersenyum tenang.
Dia sudah memutuskan dengan cara inilah dia ingin hidup bersama pujaan hati nya.
Tidak lahir di tahun bulan dan tanggal yang sama.
Semasa hidup tidak bisa bersama, biarlah setelah meninggal mereka bisa bersama.
Mungkin inilah jalan terbaik yang bisa dia pilih buat dirinya sendiri.
Setelah Zi Zi memejamkan matanya, semuanya pun menjadi gelap dan hening.
Sementara Zi Zi mengambil keputusan nekadnya, di dalam tidur panjangnya.
Nan Thian masih sedang berjuang keras, menyerap seluruh kekuatan dari ketiga batu ajaib yang sudah pecah hancur berkeping-keping menyatu kedalam tubuh nya.
Proses pembentukan tubuh baru dengan penyatuan ketiga kekuatan dahsyat dan gaib itu, tidaklah mudah.
Setiap tahapan prosesnya, berulang kali, membuat Nan Thian kesakitan hingga kehilangan kesadaran dirinya.
Baru setelah Nan Thian sadar kembali, proses penyerapan kembali di lanjutkan.
Kekuatan yang begitu besar, harus di serap dengan teliti dan hati hati oleh Nan Thian .
Tidak boleh terburu-buru, atau dia akan meledakkan organ organ penting di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Bila itu terjadi, dia pasti akan mati, tidak ada peluang untuk hidup kembali .
Nan Thian terus berjuang, pantang menyerah.
Dia terus menyerap kekuatan pecahan ketiga batu itu, hingga sepenuhnya hilang, seluruh kekuatan yang terkandung di dalamnya terserap masuk kedalam tubuh Nan Thian .
Saat penyerapan berhasil sepenuhnya, memenuhi seluruh tubuh Nan Thian.
Bagian otak Nan Thian yang syarafnya terganggu, tersumbat oleh energi liar hawa api dan es surgawi.
Perlahan-lahan bisa berhasil di serap kembali energi penyumbat nya.
Energi itu, berhasil ditarik, untuk di satukan kembali dengan kekuatan baru Nan Thian, yang tersimpan di seluruh tubuhnya.
Setelah energi itu tidak menyumbat syaraf daya ingat Nan Thian , perlahan lahan syaraf otak Nan Thian yang terluka.
Mulai beregenerasi sendiri, membentuk sel sel baru, menyembuhkan secara total, setiap inchi, setiap titik tubuh Nan Thian yang terluka.
Setelah syarafnya pulih, aliran darah bisa berjalan dengan lancar, perlahan lahan ingatan Nan Thian pun satu persatu pulih kembali.
Di mulai dari pertarungan terakhirnya dengan samsara, semuanya terus berkilas balik kebelakang.
Satu persatu muncul dengan sendirinya, termasuk pertarungan di tengah laut yang menyebabkan Sun er dan Zi Zi hilang tanpa jejak.
Sampai di sini, Nan Thian mulai ingat siapa gadis secantik bidadari yang terakhir bertemu dengan nya di restoran, lalu menghadang nya di tengah jalan.
Semua pikiran Nan Thian terus berkilas balik, termasuk semua kenangannya bersama Zi Zi.
Hingga akhirnya Zi Zi di nikahkan dengan Li Sun, oleh kakek paman gurunya .
Setelah seluruh ingatan nya pulih secara total, Nan Thian pun berteriak sendiri .
"Zi Zi....!"
Suara teriakan Nan Thian, yang mengandung kekuatan dahsyat. Segera membuat peti mati tempat dia dan Zi Zi berbaring.
Hancur meledak berantakan, seluruh Goa bergetar hebat, seperti mau roboh.
Saat Nan Thian membuka sepasang matanya, dia melihat seluruh ruangan kini gelap gulita.
Tapi Nan Thian yang berpenglihatan tajam, dia masih bisa melihat dengan jelas.
Saat dia mencoba mengedarkan pandangan matanya, Nan Thian segera menemukan ada sosok yang sedang berbaring di sebelah nya.
"Ahhh Zi Zi .."
Keluh Nan Thian kaget.
Nan Thian buru buru bangkit untuk duduk, lalu dia segera menggunakan jari telunjuknya.
Untuk memeriksa pernafasan Zi Zi, dan denyut nadi di dekat leher Zi Zi.
Nan Thian segera menemukan kenyataan nafas Zi Zi sudah terhenti.
__ADS_1
Denyut nadinya meski masih ada tapi sangatlah lemah.
"Ahh Zi Zi tidak...tidak.."
"Maafkan aku.."
Keluh Nan Thian cemas bercampur panik dan sedih.
Nan Thian buru buru mengedarkan pandangan mata nya, matanya sejenak terpaku pada sepasang lilin merah besar yang padam api nya, Nan Thian langsung berkata dalam hati.
"Pasti tempat ini, tempat ini sangat minim udaranya, sehingga lilin pun padam."
"Zi Zi lemas karena kehabisan udara."
"Dia tidak bisa bernafas, pasti karena udara yang minim ini.."
Batin Nan Thian .
Sekali lagi Nan Thian mengedarkan pandangannya matanya, dia segera menemukan mulut Goa yang tertutup oleh reruntuhan.
Nan Thian langsung mengeluarkan pedang Panca Warna.
"Tebasan Pedang Tanpa Wujud..!"
Nan Thian menebaskan pedangnya kearah mulut Goa yang tertutup reruntuhan.
Tidak terlihat ada pergerakan udara atau pun cahaya yang terlihat bergerak.
Tapi tahu tahu pintu mulut Goa yang tertutup rapat mengeluarkan suara ledakan dahsyat.
"Blaaarrrr..!!"
Mulut Goa yang tertutup rapat, kini terbuka lebar, sebuah lubang menga nga terlihat di sana.
Cahaya dan udara segar pun berhamburan masuk kedalam Goa.
Nan Thian sambil memondong tubuh Zi Zi yang lemas, melesat keluar dari dalam Goa.
Di luar sana Nan Thian buru buru, membuka mulut Zi Zi secara paksa, dengan menekan rahang kiri kanan Zi Zi hingga mulutnya sedikit terbuka.
Lalu Nan Thian menempelkan mulutnya di mulut Zi Zi.
Lalu dia menghembuskan udara masuk kedalam paru paru Zi Zi.
Hingga paru paru Zi Zi mengembang, saat Nan Thian melepaskan mulutnya dari mulut Zi Zi.
Paru paru Zi Zi pun kembali mengempis, Nan Thian melakukan berulang kali.
Hingga Zi Zi mengalami batuk batuk Nan Thian baru menghentikan kegiatannya.
Nan Thian duduk diam di sana sambil memangku Zi Zi, dia terus menatap wajah gadis yang memiliki kecantikan sangat luar biasa itu. Dengan tatapan mata cemas bercampur was was.
"Zi Zi bangunlah.. sadarlah..kamu tidak boleh terjadi sesuatu.."
__ADS_1
Ucap Nan Thian sambil terus menatap wajah gadis cantik itu dengan cemas.