PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
Kekhawatiran Nan Thian


__ADS_3

"Di mana jasadnya kini berada..?"


"Apa kamu ingin minta ijin agar dia bisa di makamkan di perguruan kita, sebagai bagian dari keluarga kita..?"


Tanya Yue Feng sambil menatap putranya lekat lekat.


Nan Thian mengangguk pelan dan berkata,


"Bila ayah tidak berkeberatan, ananda memang punya keinginan seperti itu.."


"Siao Hung dia tidak perlu di makamkan, dia hanya perlu satu tempat sepi di belakang perguruan kita.."


"Bila diijinkan aku akan membangunkan sebuah pondok untuk nya di sana.."


"Agar dia bisa beristirahat dengan tenang di sana.."


"Dia dan Ying Ying punya hubungan sangat dekat, sampai saat ini Ying Ying masih menganggapnya sedang tidur.."


"Bila di makamkan takutnya Ying Ying akan protes dan rewel.."


"Untuk itu, menurutku jalan terbaik adalah bangunkan pondok tempat beristirahat untuk nya.."


"Tentu saja bila ayah dan ibu tidak berkeberatan.."


Ucap Nan Thian sambil menatap kearah ayahnya.


Yue Feng tersenyum dan berkata,


"Beri ayah waktu, malam ini ayah akan bicara dengan ibu mu.."


"Besok pagi akan ayah kabari.."


Nan Thian mengangguk, dia juga tahu, di perguruan ini ilmu ayahnya paling tinggi.


Tapi ucapan ibunya lah yang menjadi hukum tetap yang tidak bisa di ganggu gugat.


Bila ibunya tidak setuju, ayahnya juga tidak bisa apa-apa.


Yue Feng menatap kearah putranya dan berkata,


"Thian Er, .. jasad orang meninggal sudah lewat berhari hari, apa kamu perlu menggunakan pet mati kayu Cendana khusus untuk nya..?"


"Agar aroma tidak sedap nya tidak keluar..?"


Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak perlu, ayah jasadnya sudah terawetkan oleh mutiara es abadi .."


"Kalau pun tidak ada benda itu, aku akan menggunakan segel es abadi surgawi untuk mengawetkan jasadnya.."


"Untuk itu ayah tak perlu khawatir.."


Yue Feng tersenyum dan mengangguk puas.


"Thian er selain hal ini yang berani pikiran mu, apa kamu ada hal lain..?"


Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,

__ADS_1


"Tidak ayah,.."


"Saat ini yang paling ingin ananda lakukan adalah mengurus jasad Siao Hung .."


"Bila sudah beres, ananda ingin mengajak Zi Zi dan Ying Ying mengunjungi tempat kediaman orang tuanya di puncak Yu Ni Feng.."


"Setelah itu tugas ananda selanjutnya adalah segera temukan kembali Siao Lung putra ku dan Siao Hung .."


Ucap Nan Thian sambil tersenyum pilu.


Yue Feng menepuk pundak putranya dan berkata,


"Jalani saja, jangan ada penyesalan, tidak ada penderitaan manusia tidak akan tumbuh dewasa.."


"Ada duka baru ada suka, ada sedih ada bahagia, semua terjadi silih berganti itulah hidup.."


"Pria sejati sanggup angkat sanggup lepas, jalani dan hadapi semuanya dengan tegar.."


Nan Thian mengangguk pelan, dengan kepala tertunduk.


Air bening jatuh menitik di pangkuan nya.


Yue Feng menghela nafas panjang menyaksikan keadaan putranya yang seumur hidupnya selalu di penuhi dengan berbagai cobaan.


"Thian er bagaimana dengan keadaan kakak mu..?'


"Ibu mu akhir akhir ini agak khawatir dengan keadaannya di istana.."


Nan Thian menghapus sisa air bening di mata nya.


"Ayah tidak perlu khawatir, kakak hanya menanti waktu.."


"Dia sungkan untuk mengajak anak istrinya meninggalkan istana, selama ayah dan ibu mertuanya masih hidup.."


"Bila mereka tiada, tentu dia akan segera memboyong keluarganya pulang kemari.."


Ucap Nan Thian mengemukakan pengamatannya.


Yue Feng menghela nafas panjang dan berkata,


"Semoga saja seperti yang kamu katakan.."


"Ayah dan ibu agak sedikit khawatir karena kami mendengar Zhu Yuan Zhang setelah tua agak paranoid.."


"Banyak bawahan setianya yang terkena masalah, dan di jatuhi hukuman mati.."


Nan Thian tersenyum dingin dan berkata,


"Seperti yang ayah ibu katakan, dia paranoid karena takut ada orang yang akan merebut kekuasaannya.."


"Aku sanggup membantunya menjadi kaisar, aku juga sanggup membuat nya terusir dari negeri ini menyusul Tenur Khan.."


"Aku rasa dia juga tahu itu, dia tidak akan sembarang menyentuh kakak selama aku masih hidup.."


Yue Feng menatap putranya dan berkata,


"Thian er kita adalah bangsa Han kamu harus tahu itu.."

__ADS_1


"Kamu harus utamakan nasib rakyat Han, tidak boleh karena urusan pribadi kamu mengacaukan semuanya.."


"Bila itu terjadi, kelak ayah saat bertemu dengan kakek mu di bawah sana.."


"Ayah tidak akan punya muka menghadapi mereka.."


Nan Thian mengangguk pelan dan berkata,


"Nan Thian akan perhatikan nasehat ayah.."


"Nan Thian akan perhatikan kepentingan orang banyak diatas kepentingan pribadi.."


Yue Feng mengangguk dan berkata,


"Ayo kita bergabung kedalam, agar ibu dan istri mu tidak khawatirkan kita.."


Nan Thian mengangguk pelan, dia segera mengikuti ayahnya kembali lagi keruang tengah, untuk mengikuti acara reuni keluarga.


Hingga selesai makan malam, Nan Thian dan anak istrinya baru kembali kekamar mereka untuk beristirahat


Nan Thian menemani anak istrinya hingga mereka tidur.


Setelah mereka berdua tidur dengan pulas.


Nan Thian diam diam meninggalkan kamarnya, dia berkelebat meninggalkan bangunan induk.


Kembali ke kereta nya di pos kedua.


Nan Thian menghabiskan malamnya berjaga di dalam kereta.


Agar jangan sampai jasad Siao Hung di ganggu oleh mahluk bias di lereng gunung itu.


Bila hal itu terjadi, kelak dia akan semakin sulit untuk meyakinkan putranya itu, bahwa semua yang dia lihat adalah suatu ke salah pahaman yang sengaja di rencanakan oleh musuh buat mereka.


Nan Thian kembali kedalam kereta saat semua saudara seperguruannya sedang asyik tertidur di dalam pos jaga mereka.


Nan Thian dengan hati hati membuka tutup peti Siao Hung .


Melihat keadaannya baik baik saja.


Nan Thian pun bernafas lega, dia duduk berjaga di sana sepanjang malam hingga pagi.


Nan Thian menanti disana tidak beranjak ke manapun, dia hanya duduk termenung di dalam kereta.


Memikirkan kemana dia harus menemukan keberadaan putranya, yang kemungkinan ada hubungannya dengan utusan dari Chi Le Thian lainnya, yang akan menggantikan posisi Siao Nu yang sudah dia habisi..


Nan Thian sedikit khawatir dengan kelompok itu, karena di dunia persilatan saat ini, cukup banyak orang penting yang telah mengalami nasib keracunan yang sama seperti Siao Hung .


Sejauh ini belum di temukan obat penangkalnya.


Nan Thian nanti habis dari sini, dia berencana ingin mengunjungi tabib dewa.


Membawa sampel.darah Siao Hung untuk di teliti, agar bisa di temukan penangkal racun dari kelompok berbahaya itu.


Setelah merenung semalaman menentukan arah langkahnya .


Begitu pagi tiba, Nan Thian buru buru keluar dari dalam kereta,.saat dia dari dalam kereta mendengar suara para murid yang di tugaskan berjaga di pos kedua, pada memberi salam hormat pada kedua orang tuanya yang datang berkunjung .

__ADS_1


__ADS_2