
Lewat tengah hari sebuah kereta besar dan mewah, terlihat meninggalkan kota Kai Feng tanpa pengawalan sama sekali.
Hanya saja di depan pintu gerbang kota, terlihat penuh dengan penduduk yang datang mengantar dan menyaksikan keberangkatan kereta tersebut.
Seluruh pejabat, baik sipil maupun militer semua hadir lengkap di sana.
Begitu pula barusan pasukan keamanan kota, mereka juga berbaris rapi melepas kepergian kereta mewah tersebut.
Kereta itu hanya membawa sebuah bendera di atapnya, bendera kerajaan Ming, lainnya tidak.
Di bagian depan hanya terlihat seorang kusir mengendalikan laju lari 4 ekor kuda penarik kereta.
Sedangkan di bagian dalam kereta, tentu saja adalah Nan Thian dan keluarganya .
Keluarga kecil tersebut duduk di dalam kereta, membiarkan kusir kereta yang mengatur rute perjalanan mereka.
Jarak cukup jauh, jadi Nan Thian dan Zi Zi bersikap santai saja.
Putri tunggal Nan Thian yang terlihat paling bergembira, dia terus duduk di samping jendela melihat pemandangan di luar.
"Ayah Ying Ying ingin kedepan duduk di samping paman Jiang boleh tidak ayah..?"
Ucap Ying Ying sambil menutup tirai jendela.
Paman Jiang adalah kusir kereta keluarga Nan Thian, kini sedang bertugas di depan mengendarai kereta.
Nan Thian yang tahu putrinya menguasai ilmu ringan tubuh dan ilmu bela diri cukup lumayan, jadi dengan tenang dia berkata,
"Boleh tapi tidak boleh nakal dan mengganggu paman Jiang bekerja. "
Ying Ying sambil tersenyum gembira maju, memeluk dan menciumi ayahnya.
Setelah itu bocah cilik itu, segera keluar dari dalam kereta.
Setelah putri mereka tidak berada di dalam kereta, Nan Thian segera bergeser mendekati istrinya.
Zi Zi yang paham, dia segera menggeser posisi duduknya untuk bersandar setengah berbaring dalam pelukan suaminya.
"Suami ku,.. sudah 5 tahun ini kita tidak pernah melakukan perjalanan jauh, bagaimana perasaan mu .?"
Tanya Zi Zi sambil menoleh kearah suaminya.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Sama aja bagi ku tiada beda.."
"Kok bisa...?"
"Apa kamu tidak merindukan pertualangan di dunia persilatan..?"
"Apa kamu tidak merindukan teman teman dunia persilatan mu..?"
Tanya Zi Zi heran.
__ADS_1
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Guru dan orang tua ku tentu aku rindu mereka.."
"Saudaraku cuma satu, kini pun kita sedang kesana dan akan segera bertemu.."
"Sedangkan teman kamu tahu sendiri teman ku tidak banyak, Kim Kim kini dia dan Thian Yi sudah hidup berbahagia di Ming Yue Shan.."
"Dia bahkan lupa dengan keinginan nya untuk mengunjungi Wu Song, mencari informasi saudaranya.."
"Tapi itu ada baiknya sehingga aku tidak perlu menemaninya pergi ke San Qing Kuan, yang menjadi tempat kediaman para Dewa Agung."
Ucap Nan Thian sambil tersenyum.
Sesaat kemudian Nan Thian sambil termenung berkata,
"Mungkin bila ada sedikit penyesalan dan ada keinginan untuk aku temui.."
"Itu adalah Li Sun dan Siao Hung, terhadap aku selalu ada rasa sesal dan bersalah.."
"Sayangnya, aku tidak bisa memutar waktu kembali dan memperbaiki semuanya.."
Ucap Nan Thian penuh sesal.
Zi Zi mengangguk pelan, dia juga ikut diam dan merenung tanpa berkata-kata.
Tiba tiba di luar sana terdengar suara ringkik kuda ketakutan, paman Jiang di luar sana terlihat sibuk menenangkan kuda penarik kereta, yang terlihat gelisah dan ketakutan, hingga mereka tidak mau meneruskan perjalanan.
Kaget oleh kereta yang tiba tiba berhenti secara mendadak.
"Paman Jiang apa yang terjadi .?!"
"Tidak tahu tuan, ini kuda kita tiba tiba gelisah dan tidak mau melanjutkan perjalanan..!"
Nan Thian segera melepaskan pelukannya dan berkata pelan,
"Istri ku, aku pergi lihat keluar, kamu dan Ying Ying, sebaiknya tunggu di dalam kereta saja ."
Selesai berkata, Nan Thian segera bergegas keluar dari kereta,
"Ying Ying kamu masuklah dulu kedalam temani ibu mu ."
"Ayah mau lihat lihat kedepan apa yang sebenarnya terjadi ?"
Ucap Nan Thian pelan, sambil membelai lembut kepala putrinya.
Ying Ying mengangguk patuh, lalu dia segera masuk kedalam kereta.
Setelah putrinya masuk kedalam kereta, Nan Thian berkata pelan.
"Paman Jiang bawalah kereta mundur 100 meter kebelakang."
Kusir kereta mengangguk paham, begitu Nan Thian melayang kedepan meninggalkan kereta.
__ADS_1
Dia segera menarik mundur kuda kudanya, menjauhi tempat tersebut.
Nan Thian mendarat ringan beberapa puluh meter di depan sana.
Lalu dia melanjutkan langkahnya berjalan kedepan dengan sikap tenang dan waspada.
Beberapa puluh langkah kedepan, Nan Thian melihat dari balik tikungan muncul 3 pria bertubuh kekar, mendatanginya.dengan menunggang kuda bertanduk.
Sebenarnya bukan kuda bertanduk asli, tapi lebih tepatnya seragam kuda besi itu lah, yang ada hiasan tanduknya, di bagian tengah tengah dahi kuda tersebut.
Salah satu dari mereka segera melempar sebuah kertas undangan berwarna hitam.
Tapi anehnya kertas tipis itu saat melesat kearah Nan Thian menimbulkan suara bercuitan tajam yang sangat kuat.
Seperti bunyi suara senjata tajam rahasia yang di lepaskan dengan pengerahan chi berkekuatan tinggi.
Tapi hal itu bagi Nan Thian hal itu biasa saja, Nan Thian hanya mengulurkan sepasang jari telunjuk dan jari tengahnya, untuk menjepit kertas undangan hitam itu, dari arah samping.
Pria yang melempar kertas undangan itu langsung bertepuk tangan dan berkata,
"Benar benar tidak percuma anda menyandang gelar pendekar Api Es Surgawi, sekaligus menyandang gelar pahlawan Ping An Wang ."
"Terimalah undangan dari partai diluar langit ada langit.."
"Jangan lupa menghadiri undangan tempat berkumpulnya jagoan sekolong langit..."
"Jangan melewatkan nya, ketua kami benar benar berharap Pendekar besar Yue, sudi ikut menghadiri acara pertemuan tersebut.."
Nan Thian melihat sekilas lokasi dan tanggal pertemuan, setelah itu dia berkata,
"Maaf saya tidak berani janji, harap kalian pergi mengundang orang lain saja.."
"Saya Yue Nan Thian tidak pantas di undang, karena sebenarnya ketua kalian telah memandang terlalu tinggi diri saya.."
"Permisi.."
Ucap Nan Thian sambil menjura kearah mereka bertiga.
Kertas undangan seperti di sulap sudah menghilang kedalam cincin penyimpanan Nan Thian .
Nan Thian tanpa menunggu jawaban ketiga orang itu, dia segera membalikkan badannya meninggalkan ketiga orang itu.
"Pendekar besar Yue, tahan langkah mu...!"
"Berikan kami sedikit petunjuk sebelum anda pergi .!"
Ucap dua orang yang berada di kanan kiri pelempar undangan tadi .
Belum selesai berkata, kedua orang itu menekan pegangan pelana kuda mereka .
Lalu tubuh mereka langsung melesat menghampiri Nan Thian,
Angin berkesiur kuat segera mengikuti pergerakan mereka berdua, yang sedang bergerak menyerang kearah Nan Thian dengan sepasang telapak tangan terbuka.
__ADS_1
Nan Thian yang mendengar angin berkesiur dahsyat datang menyerangnya dari arah belakang.
Dia langsung membalikkan badannya, dengan gerakan cepat, Nan Thian menyambut serangan sepasang tapak kedua orang itu, dengan 4 buah bayangan tapak nya sendiri.