
Petugas Arena Kedua juga menghunuskan pedang ditangan, bersiap menghadapi serangan dari Yang Ming.
Dunia persilatan tidak ada yang berani meremehkan Thian San Pai.
Karena ribuan tahun yang lalu Thian San Pai memiliki seorang pemuda berbakat maha dewa pedang yang sempat menggetarkan seluruh kolong langit dengan kemampuan ilmu pedang Thian San nya.
Bahkan kabarnya jagoan pedang itu sampai kini masih hidup, hanya saja dia tidak suka terlibat urusan partai.
Dia tinggal di puncak Thian San tidak mau ikut campur urusan dunia ramai, terkecuali ada yang mengganggu Thian San Pai.
(Jagoan hidup abadi ini, akan muncul di Kisah KEMBALI NYA SANG LEGENDA ) sebagai si topeng besi.
Sayangnya ketua partai Thian San Pai tidak ada lagi yang bisa mencapai prestasi secemerlang Yang Jian.
Sehingga ilmu paling hebat Thian San Pai sudah lama ikut lenyap bersama Yang Jian.
Contohnya adalah Yang Di dan Yang Ming, mereka hanya bisa ilmu kulit jurus pedang Thian San tanpa mengerti isi nya.
Hal itu segera terbukti, setelah Yang Ming dan Petugas Arena Kedua mulai bentrok tidak sampai 50 jurus.
Yang Ming sudah tertekan di bawah angin.
Dia hanya bisa memutar pedangnya berusaha mempertahankan diri tanpa mampu balas menyerang .
Bahkan akhirnya pedangnya terlepas dari pegangan tangannya, terpental ke udara.
Dada nya terkena tendangan keras, yang membuatnya terpental mundur menjauhi pedangnya yang terlempar keudara.
Di saat terdesak, Yang Ming segera mengeluarkan ilmu simpanannya.
Pedangnya di panggil dengan ujung jari nya yang dirapatkan.
Pedang yang terpental di udara.
Kini secara ajaib mengikuti pergerakan jari tangan Yang Ming mendesak dan menyerang Petugas Arena Kedua .
Melihat hal itu Petugas Arena Kedua setelah beberapa kali mementalkan pedang Yang Ming yang terus terbang datang menganggu nya.
Dia segera melepaskan pedang di tangan nya yang di selimuti cahaya kuning, melesat berbenturan di udara, dengan pedang yang di kendalikan oleh Yang Ming dari jarak jauh.
Yang Ming kembali tertekan oleh energi pedang Petugas Arena Kedua .
Yang Ming segera memanggil pulang pedangnya, berputaran beberapa kali di depan tubuhnya.
Sebelum kemudian pedang itu di rubah menjadi tujuh batang energi pedang, melesat mengejar kearah Petugas Arena Kedua .
__ADS_1
Petugas Arena Kedua dengan sikap tenang tetap menyerang Yang Ming dengan pedang cahaya merahnya.
Sedangkan tujuh pedang Yang Ming yang datang mengincarnya.
oleh Petugas Arena Kedua di hadapi dengan dorongan bola energi cahaya merah, yang melesat kedepan menelan ketujuh pedang itu kedalam bola energi merah itu.
Ketujuh pedang Yang Ming di buat berputaran di dalam bola energi, sebelum nya akhirnya dengan satu hentakan keras di ledakan hingga hancur berkeping keping.
Yang Ming sendiri pun ikut terpental dengan bahu kanan tertusuk pedang Petugas Arena Kedua .
Meski tidak sampai kehilangan nyawa, tapi Yang Ming jelas sudah di kalahkan oleh Petugas Arena Kedua .
Dengan wajah merah padam menahan malu dan rasa sakit luka di bahu nya.
Yang Ming memberi hormat kearah Petugas Arena Kedua dan berkata,
"Yang Ming mengaku kalah, mulai hari ini Yang Ming akan tunduk dengan Sekte kalian.."
"Tapi hanya aku pribadi, Thian San Pai tidak terlibat.."
"Bila ingin kuasai Thian San Pai secara penuh, silahkan coba kalahkan leluhur kami Yang Jian.."
"Hanya dia yang berhak menentukan arah Thian San Pai.."
Ucap Yang Ming berterus terang.
Pimpinan sekte mereka yang melayang di udara berkata,
"Bila seperti itu, mulai saat ini kamu tidak bisa meninggalkan tempat ini selangkah pun.."
"Kecuali orang bernama Yang Jian datang kemari.."
Yang Ming tersenyum tenang dan berkata,
"Terserah saja, itu hak kalian sebagai pemenang.."
"Aku tidak punya pendapat.."
Yang Ming sadar Yang Jian tidak mungkin datang kecuali keturunan si Marga Xie dalam masalah tertahan di sini..
Dia pasti akan datang kemari mengobrak Abrik tempat ini tanpa ampun.
Tapi itu mustahil, karena keturunan marga Xie kini, semuanya adalah pedagang pengusaha dan pejabat sipil..
Mereka tidak pernah terlibat lagi dengan masalah di dunia persilatan.
__ADS_1
Itu sudah berjalan turun temurun hampir ratusan tahun.
Meski antara Thian San Pai dan keluarga Xie tidak ada hubungannya.
Tapi secara aturan tidak tertulis Thian San Pai diam diam selalu mengutus orang mengawasi kehidupan dan kepentingan keluarga tersebut dan itu sudah berjalan selama ribuan tahun hingga saat ini.
Makanya Yang Ming sebagai ketua juga tahu keberadaan dan keadaan keluarga tersebut.
Dengan kalahnya Yang Ming di arena kedua di arena ketiga pertandingan antara ketua Xue San Pai, Bi Lian Sethai dengan Petugas Arena Ketiga sudah mulai berlangsung.
Masing masing-masing mulai saling serang dengan permainan pedang dan golok mereka.
Putaran pedang Bi Lian Sethai selain mendatangkan hawa dingin juga menimbulkan bunga salju dan angin kencang menerjang kearah Petugas Arena Ketiga .
Petugas Arena Ketiga melayaninya dengan putaran ilmu golok cahaya merah, yang mendatangkan hawa panas dan Sambaran api berkobar kobar dalam setiap serangan nya.
Pertarungan mereka menjadi terlihat berimbang dan seru, api dan es yang saling bertentangan terus membuat cuaca di sekitar arena terus berubah dengan extrim.
Bi Lian Sethai dalam satu kesempatan memutar pedangnya di udara membentuk butiran salju berubah menjadi mata tombak kecil kecil menjadi senjata rahasia terbang menyerang kearah Petugas Arena Ketiga .
Petugas Arena Ketiga menanggapi serangan tersebut dengan putaran golok yang mendatangkan pusaran api, yang berputaran membungkus dirinya.
Dengan cara itu, serangan jarak jauh Bi Lian Sethai, berhasil dia tangkal dan rontok kan semua nya.
Bi Lian Sethai tentu tidak tinggal diam serangan jarak jauhnya di rontok kan begitu saja.
Bi Lian Sethai melesat kedepan terbang berputaran bagaikan mata bor dengan membawa pusaran salju menerjang kearah Petugas Arena Ketiga .
Petugas Arena Ketiga segera memutar goloknya menjadi titiran di depan tubuh' nya, untuk menangkis serangan pedang Bi Lian Sethai yang sangat banyak perubahan dan sangat lincah bisa menyelinap kemana mana untuk membongkar pertahanan nya .
Tapi dengan putaran golok seperti titiran, jelas kemanapun pedang Bi Lian Sethai bergerak.
Pasti akan berbenturan dengan Golok nya.
Petugas Arena Ketiga memperhitungkan bila terjadi benturan keras lawan keras.
Itu akan membuat kelincahan pedang berhenti, syukur bila pedangnya bisa dia tebas patah.
Itu akan semakin memudahkan dirinya melakukan serangan balik dengan Golok nya.
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
__ADS_1
Sesuai perkiraan Petugas Arena Ketiga, pergerakan pedang Bi Lian Sethai terhenti dan menjadi kacau.
Setelah beberapa kali mengalami benturan keras, di mana Bi Lian Sethai sejak awal memang kalah tenaga, tapi dia memang lincah.