PENDEKAR API DAN ES SURGAWI

PENDEKAR API DAN ES SURGAWI
TEPI TELAGA SEKTE PEDANG LANGIT


__ADS_3

Thian Yi mendayung perahu menjauhi lokasi pertempuran, dia bergerak menepi kearah sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi telaga.


Tapi dahan dan dedaunan rimbunnya tumbuh menjorok kearah telaga.


Sehingga memayungi area di bawahnya yang jadi terlindungi dari panas dan hujan.


Tempat itu begitu adem, sejuk dan sangat nyaman.


Thian Yi sengaja menepikan perahu nya di sana, mengikat tali perahu melilit salah satu cabang dahan pohon.


Sehingga perahu berhenti bergerak, tidak sampai terseret oleh ombak kecil ataupun arus pelan, saat perahu lain lewat ataupun angin kencang berhembus.


Dengan cara ini, dia dan Kim Kim bisa duduk bersama, menikmati masakan hasil olahan Kim Kim dengan tenang.


Mereka berdua makan sambil saling suap, bercanda dan tertawa bahagia.


Kebetulan cadangan udang di tempat tersebut cukup banyak dan besar besar..


Hanya dengan melihat dari pinggiran perahu, semua terlihat dengan sangat jelas hingga ke dasar telaga.


Air telaga yang begitu jernih dan bersih, membuat semua di dasar sana terlihat dengan sangat jelas.


Kim Kim tinggal mengulurkan telapak tangannya kedalam air.


Udang udang di bawah sana pada berlompatan keatas.


Sebagian pada masuk kedalam perahu mereka, seperti hujan udang jatuh dari langit.


Thian Yi bertugas memungut nya, kemudian memasukkan semua kedalam rebusan air yang mendidih.


Tidak lama kemudian warna udang berubah merah, Thian Yi pun mengangkatnya untuk di tiriskan dan dinginkan.


Sesaat kemudian dia dan Kim Kim sudah terlihat sedang menikmati pesta udang segar.


Setelah makan bersama, Thian Yi baru menyadari ternyata kemampuan makan calon istrinya ini sangat luar biasa.


Agak sedikit tidak normal, tapi Thian Yi tidak masalah, dia malah terlihat sangat menikmati melihat cara makan calon istrinya tersebut.


Satu hal yang membuat Thian Yi sedikit kaget adalah cara makan Kim Kim, di mana dia tidak perlu repot mengupas kulit ataupun cangkang capit udang yang keras seperti cangkang kulit kepiting.


Kim Kim tinggal menelan semuanya bulat bulat.


Sesaat kemudian, dia bisa memuntahkan semua cangkang dan kulit udang keluar dari mulutnya.


Thian Yi yang awalnya penasaran pun bertanya,


"Sayang itu gimana caranya, bisa seperti itu..?"


Kim Kim sambil menahan tawa berkata,


"Tidak ada cara khusus, tinggal masuk terus keluar..hi...hi..hi..hi.."


"Ada mesin pengupas di dalam.."


Seloroh Kim Kim sambil tertawa.


Thian Yi pun ikut tersenyum dan tidak banyak tanya lagi.


Percuma saja pikir dia, kekasihnya ini memang penuh misteri dan kejutan.


Beberapa waktu kemudian setelah mereka puas makannya, lebih tepatnya Kim Kim merasa puas.

__ADS_1


Mereka baru kembali melanjutkan perjalanan menuju Lin Wu Shan yang mulai bisa terlihat bayangan nya.


Puncak nya yang tertutup kabut dan awan yang melintas lewat, membuat panorama di sana terlihat sangat indah.


Seperti sebuah lukisan pemandangan yang sangat menakjubkan.


Thian Yi dan Kim Kim tentu saja tidak ada mood untuk menikmati hal itu.


Karena mereka sudah semakin mendekati kali gunung Lin Wu Shan.


Di mana dari kejauhan saja, mereka sudah bisa melihat orang orang berkerumun di tepi telaga.


Bersiap untuk menyambut kedatangan mereka berdua.


Kim Kim yang terbentur oleh indentitas asli dirinya yang belum dia buka ke Thian Yi.


Karena dia sebelum nya adalah lawan yang telah ikut andil, menewaskan Burung tunggangan Thian Yi dan Chi Ming ketua sekte Lautan Pedang.


Dia belum punya keberanian dan belum menemukan saat tepat untuk bercerita.


Hal ini lah yang membuat Kim Kim tidak berani mengeluarkan kemampuan sejatinya.


Bila bukan karena hal itu, dia pasti sudah menyapu habis semua barisan anggota sekte pedang langit, yang berkerumun di tepi telaga


Mereka merupakan santapan lezat yang akan membantu meningkatkan kemampuan nya.


Untuk itu Kim Kim harus berusaha menahan diri sebisanya tidak ikut campur.


Bila Thian Yi tidak dalam keadaan terancam, dan untuk satu hal itu.


Kim Kim sangat yakin akan kemampuan kekasihnya itu.


Kini setelah dia membantu Thian Yi pulih, kemampuan Thian Yi justru mengalami peningkatan pesat.


Tentu saja hal ini membuat Thian Yi mengalami peningkatan kekuatan signifikan terutama dalam Chi murni di tubuhnya.


Makanya Kim Kim baik sebelumnya maupun saat ini, dia memutuskan tidak maju ikut campur.


Membiarkan saja Thian Yi membereskan masalah hutang piutang sekte lautan pedang dan sekte pedang langit.


"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"


"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"


"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"


"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"


"Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..! Serrrr..!"


Saat perahu mereka tinggal berjarak 50 meter dari tepi telaga, anak panah berhamburan memenuhi udara, mulai berjatuhan seperti hujan mengarah ke perahu kecil Thian Yi dan Kim Kim.


Bila yang di perahu bukan Thian Yi dan Kim Kim, sudah pasti perahu dan penumpangnya akan karam dan tewas secara bersamaan.


Tapi berhubung penghuni perahu itu adalah bukan manusia awam biasa.


Melihat serangan yang datang Thian Yi segera menghimpun Chi nya, menggerakkan air telaga yang dia ubah menjadi jutaan pedang.


"Wusssshhh...!"


"Hyaaahhh...!"

__ADS_1


"Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..!"


"Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..!"


"Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..!"


"Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..!"


"Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..! Cuittt..!"


Sebelum kemudian dia lesatkan untuk menyambut serangan anak panah.


Suara bercuitan pedang air yang membelah udara segera terdengar memenuhi udara, saat serangan di lepaskan oleh Thian Yi.


Serangan balasan Thian Yi, segera memukul runtuh semuanya.


Kemudian bergerak melesat ke tepi telaga mengincar anggota sekte pedang langit yang bersiaga di sana.


Melihat datangnya serangan Thian Yi, anggota sekte pedang langit yang ada di tepi sungai.


Mereka segera menggabungkan kekuatan bersama sama menunjukkan tangannya ke udara.


Jutaan energi pedang turun dari langit melesat cepat menghadang serangan pedang air Thian Yi


Tapi meski mereka bergabung, mereka bukan lawan Thian Yi.


Sebentar saja gabungan energi pedang mereka, berhasil di hancurkan Thian Yi.


Di mana jutaan pedang air melesat tak terhentikan menerjang kearah semua anggota sekte di tepi telaga.


"Cusss..! Cusss.! Cusss..! Cusss.!"


"Arggghhh! Arggghhh! Arggghhh.!"


"Cusss..! Cusss.! Cusss..! Cusss.!"


"Arggghhh! Arggghhh! Arggghhh.!"


"Cusss..! Cusss.! Cusss..! Cusss.!"


"Arggghhh! Arggghhh! Arggghhh.!"


"Cusss..! Cusss.! Cusss..! Cusss.!"


"Arggghhh! Arggghhh! Arggghhh.!"


"Cusss..! Cusss.! Cusss..! Cusss.!"


"Arggghhh! Arggghhh! Arggghhh.!"


Anggota sekte pedang langit yang tubuh nya tertembus oleh pedang air, pada menjerit kesakitan.


Bertumbangan satu persatu ditepi telaga sana.


Thian Yi terlihat mendorongkan tapak tangan kirinya kearah air telaga.


"Wusssshhh..!"


Perahu meluncur cepat mendekati tepian telaga.


Sambil mengikuti luncuran cepat perahu mendekati tep telaga.

__ADS_1


Thian Yi melepaskan tebasan pedang Ming Yue Cien yang masih di dalam sarung pedang , kearah tepi telaga.


__ADS_2