Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
100 : Alstrelia, Orc.


__ADS_3

Satu lompatan demi satu lompatan Alstrelia lakukan. Dia menjadikan semua monster yang berdiri itu untuk dia gunakan sebagai pijakannya sendiri.


'Serang dia.' Detik hati Alstrelia, menyuruh ke empat senjatanya terbang kearah Orc itu lebih dulu dan menyerangnya.


NGUNGG....


Ke empat Gimmick nya pun terbang ke arah targetnya Alstrelia dan langsung memberikan tembakan demi tembakan.


DORR....


DORR....


Di tengah-tengah Alstrelia sedang berlari dan melompati para monster itu, Alstrelia melirik kearah Elbert.


"Elbert" Panggil Alstrelia menggunakan kemampuan telepatinya.


"................." Elbert yang sempat menemukan tatapan mata Alstrelia pun segera mengangguk paham.


Setelah menerima sinyal dari Alstrelia, Elbert sudah bersiap untuk melakukan pertarungan selanjutnya.


"Kalian berdua memang hebat, tapi apakan kalian bisa menandingiku?" Ucap makhluk orc ini.


DORR....!


DORR....!


Tembakan yang tidak berguna itu tidak bisa menghentikan apa yang sedang Orc ini lakukan. Seluruh kawanannya yang sudah menjadi mayat, tiba-tiba aura berwarna hitam yang keluar dari semua tubuh yang baik masih terbentuk maupun yang sudah tidak terbentuk, langsung masuk kedalam tubuh Orc itu.


Membuat tubuh Orc yang awalnya hanya setinggi 2 meter, kian kesini tubhunya semakin besar.


ARRGGHHH....!


Dan ternyata tidak hanya para monster yang sudah mati saja yang Orc itu serap, tapi kawannya sendiri yang ada di sekitarnya, langsung dia serap energi kehidupan mereka agar bisa masuk kedalam tubuhnya.


Erangan demi erangan yang cukup memilukan berhasil mengisi suasana menjadi leih kacau dari sebelumnya.


DORR...!


Entah seberapa banyak Orc itu ditembak, nyatanya hal itu tidak memberikan perngaruh sama sekali.

__ADS_1


Semakin besar, dan semakin kuat. Itulah yang bisa mereka lihat setelah melihat perubahan besar pada tubuh Orc tadi.


"Alstrelia! Demi Tuanku, riwayat hidupmu akan berakhir di tanganku sendiri." Ucap Orc itu dengan lantang, selepas membuat kawanannya sendiri saat ini sudah tumbang semua, sampai hanya menyisakan makhluk ini saja.


*************


BRUKH....


BRUKH.....


CTANG....!


"Kalian benar-benar merusak taman Tuan kami!" Teriak salah satu kesatria yang saat ini memang sedang melawan monster dengan tubuh berbentuk buaya.


Tapi karena namanya adalah monster, maka mau seperti apakah bentuknya, mereka adalah makhluk yang mampu berdiri dan bisa menggunakan senjata mereka masing-masing untuk melawannya1


CTANG!


"Kau boleh juga, manusia." Ucap monster buaya darat ini.


"Hehehe.. boleh juga?" Kesatria ini tiba-tiba terkekeh geli mendengar pujian yang baru saja dia terima dari musuhnya sendiri. "Aku sangat tersanjung kau memujiku, tapi aku tidak akan menerima pujian dari monster jelek sepertimu Ok!" Dalam seperkian detik itu, kesatria ini tiba-tiba memberikan serangan brutal kepada buaya darat yang menghancurkan taman indah milik majikannya yang kebetulan juga memang kesatria ini sukai.


CTANG!


CTANG!


'Kau memberikanku ekor? Kebetulan sekali buaya.' Kesatria ini pun menyeringai, lalu dengan mana sihir yang dia miliki itu, mana tersebut pun dia salurkan ke kedua tangannya, dan seketika itu kesatria ini melompat dalam posisi salto, setelah itu ayunan pedang tersebut pun dia hampiri ke arah ekor buaya itu dengan arah berlawanan, dan drama pertarungan diantara mereka berdua pun berakhir dengan potongan gaing.


CRASSHH....!


Suara erangan yang begitu keras langsung menggema.


ARRGHHH....!


"Eh? Ini bukan erangan monster dari buaya ini." Lirik Kesatria ini setelah melihat buaya yang berhasil dia potong bagian ekor buaya itu, sudah mati begitu saja.


"Itu, Orc Lord!" Teriak salah satu kesatria.


"Orc Lord?" Secara bersama-sama mereka semua mellihat kearah tempat dimana di jarak mereka yang sudah cukup jauh itu, masih membuat mereka semua mampu untuk melihat keberadaan monster bab* dalam wujud raksasa.

__ADS_1


Tanpa terkecuali, Edward dan Alrescha yang saat ini sedang membuat sihir lingkaran sihir dengan menggunakan darahnya di tengah taman, juga turut melihat sosok raksasa dari monster yang saat ini sudah beralih peringkat dari Orc menjadi Orc Lord. Raja dari kaum monster berbentuk bab* itu, sekaligus makhluk yang memimpin semua monster disana.


Dan keberadaannya itu untuk?


"Alstrelia! Demi Tuanku, riwayat hidupmu akan berakhir sampai di tanganku sendiri." Ucap monster tersebut.


BRUKH....!


BRUKH...!


Para monster yang tadinya masih berdiri untuk melawan para manusia yang menghalangi rencana mereka demi kemenangan mereka, tiba-tiba semuanya pada ambruk.


"Nona dalam bahaya!"


"Apa yang harus kita lakukan? Makhluk itu bukan musuh sembarangan yang bisa kita lawan seperti mereka." Ujar salah satu kesatria dari mereka.


"Dan sekarang Nona ada dimana?" Beberapa diantara mereka yang belum sadar, hanya celingukan menacri keberadaan dari Alstrelia.


Sedangkan bagi mereka yang sadar, sudah berdiri mematung dengan mulut diam membisu, karena orang yang menjadi tujuan dari Orc Lord itu menyerukan ingin membunuh Putri Alstrelia, saat ini orang tersebut sedang berdiri tepat di depan makhluk itu persis.


Lebih tepatnya sosok yang sedang berdiri di udara itu adalah satu-satunya tujuan dari para monster itu datang ke kediaman Fisher.


"Sudah seperti ini, apakah masih harus dilanjutkan?" Tanya Edward kepada Arescha, yang dimana saat ini telapak tangan kiri Alrescha sudah Alrescha sayat demi mendapatkan satu mangkuk darahnya sendiri.


Dengan ekspresi menahan rasa sakit yang dirasakan di telapak tangannya, Alrescha kemudian menjawab pertanyaannya Edward. "Aku percaya Elbert bisa mengurusnya untuk sementara waktu."


"Tapi adikmu itu, dia saat ini sedang menantang mautnya sendiri." Ucap Edward memberitahu Alrescha yang dari tadi sibuk demi mendapatkan semangkuk darah.


"Dia?" Mungkin karena efek kehilangan darahnya, sesaat tadi Alrescha tidak begitu memperhatikannya. Tapi setelah diam sesaat, dia akhirnya bisa melihat sosok dari orang yang saat ini tengah berdiri di udara dengan rambut hitam panjangnya yang kini berkibar tertiup angin. 'Apakah dia sudah mulai menggila sampai dia mau melawan Orc Lord itu? Aku tidak yakin dia bisa melawannya atau tidak, tapi sebaiknya aku harus secepatnya melakukan ritual pemanggilan ini.'


Setelah berhasil mengumpulkan darahnya, Edward segera memberikan sihir penyembuhn pada Alrescha, sehingga luka itu sekarang sudah menghilang tanpa bekas sedikit pun.


"Edward." Panggil Alrescha sambil menyodorkan tangan kanannya untuk memberikan sesuatu yang sedang Alrescha butuhkan saat ini.


"..................." Tanpa sepatah kata, Edward memberikan sebuah kuas kepada Alrescha. Itu bukanlah kuas biasa, karena setelah Alrescha celupkan, kuas itu langsung menyerap semua darah yang terkumpul di mangkuk tadi. "Apakah kau ingat dengan polanya?"


"Aku sudah mengingatnya." Jawab Alrescha. Setelah semua darah itu berhasil menyerap kedalam kuas pemberian Edward, Alrescha kemudian mulai membuat lingkaran sihir dengan kuas itu.


Dimana dalam satu goresan itu, darah miliknya langsung terlukis dengan sempurna tepat di atas keramik.

__ADS_1


'Semoga pemanggilannya berhasil.' Batin Alrescha.


__ADS_2