Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
230 : Alstrelia : Frustasi


__ADS_3

"Hah...hah...hah...." Elda, dia terus berlari dengan membawa tubuh komandannya pergi ke suatu tempat.


Ya, setidaknya memang itulah niatnya yang sebenarnya, membawanya pergi ke suatu tempat yang ia pikir akan menjadi tempat paling berguna.


Disebabkan Alsterlia saat ini sedang tertidur dan mengatur strategi di alam bawah sadarnya, maka Elda pun membawanya dengan cara menggendongnya.


Tentu saja dia tidak pergi sendirian, sebab dia temani dengan ke empat Gimmick yang selalu bersama dengan Tuan nya itu.


'Koman, aku akan mencari tempat yang aman untukmu. Itu jauh lebih baik dari pada harus bersama dengan pria itu. Walaupun aku suka dengannya, bukan berarti aku rela melihat koman mendapatkan perlakukan seperti itu.' Pikir Elda, hingga sampailah dia di ujung tebing.


Sebuah area hutan yang cukup luas itu harus Elda lewati.


Dan tanpa diberi perintah Gimmick itu langsung terbang di hadapan Elda, membuat satu papan layar transparan yang hanya bisa di lihat oleh dia saja.


'Jadi di alam bawah sadar Komandan, dia sudah membuat semua informasi yang sudah aku beritahu menjadi satu dengan informasi miliknya? Dan hasilnya, komandan berhasil membuat peta baru dengan kondisi medan yang asli?' Elda terus membaca semua kode dan informasi yang sudah di ringkas oleh Alstrelia, sampai akhirnya Elda sendiri mendapatkan sebuah kabar kalau Alstrelia memilih untuk menghadapi musuh nya adiknya Alrescha lebih dulu.


Tidak hanya sampai di situ saja, Elda pun tiba-tiba diberitahu posisi sebenarnya Alstrelia adiknya Alrescha yang asli.


'Wadaw, ternyata jarak diantara kedua tempat ini saling berjauhan. Tapi bukan berarti tidak mungkin tidak bisa saling bertemu. Pihak musuh kan suka untuk menyerang musuhnya lebih dulu. Jadi tidak ada yang tidak mungkin.' Begitu deretan informasi yang Elda serap sudah selesai, Gimmick itu langsung bersatu menjadi bentuk papan yang bisa Elda gunakan untuk duduk.


Dan akhirnya mereka berdua pun pergi menuju tujuannya, ke sebuah kastil yang di huni oleh Agres, musuh sebenarnya dari Alstrelia yang asli.


____________


Di kastil yang di huni oleh Tuan Naga hitam.

__ADS_1


"Alstrelia! Kau mau pergi kemana?" Teriak Eldania.


Padahal Eldania hanya berjalan cepat, tapi tidak dengan Alstrelia yang memutuskan untuk berlari kembali masuk kedalam kamarnya.


BRAKK....


'Bagaimana ini? Aku takut jika harus berhadapan dengannya. Lagian, kenapa harus aku? Jika saja aku tidak punya kekuatan ini, jika saja aku jelek, aku pasti bisa hidup tenang.' batin Alstrelia yang asli.


Karena ia harus berlari menyusuri koridor kasti yang cukup panjang tanpa berhenti, sekarang dia akhirnya jadi ngos-ngosan sendiri.


'Untuk lari saja aku rasanya sudah lelah sekali seperti ini, bagaimana aku harus mengahadapi dia?


"Kenapa? Padahal selama lebih dari tujuh belas tahun ini aku bisa hidup dalam diam. Tapi kenapa baru sekarang? Aku harus menghadapi musuh yang bahkan aku tidak tahu siapa dia?" Gumam Alstrelia. Wajahnya terus tersirat ketakutan yang amat mendalam.


Mengingat selama ini dirinya memang hidup dalam sebuah bayang-bayang dari kakaknya yang bisa bersinar terang menghadapi semua masalahnya dengan tangannya sendiri, Alstrelia yang bahkan tidak berani membentak orang-orang di sekitarnya yang lalai atau mengabaikannya, akhirnya kini dia dalam banyak tekanan.


Meskipun ia akan di bantu dengan teman barunya, yaitu Eldania, ia sama sekali tidak yakin. Dan bahkan sekalipun ada sosok pengganti yang lebih hebat dari dirinya sendiri, ia hanya bisa yakin dengan apa yang ia lihat saja.


Meskipun, pada akhirnya ia tidak bisa yakin dalam keyakinan yang paling murni, karena ramalan, masa depan yang sempat ia lihat beberapa minggu lalu, bisa saja berubah, itulah yang Alstrelia khawatirkan.


"Alstrelia! Buka!" Teriak Eldania, tidak tahan dengan sikap Alstrelia, perempuan yang ingin ia temui itu benar-benar sangat penakut. 'Padahal dia punya kekuatan sebesar itu, jika tidak di manfaatkan dengan baik, justru dia sendiri yang akan menjatuhkan dirinya sendiri kedalam lubang kejahatannya itu.' Pikir Eldania.


Namun, Alstrelia tetap saja tidak menyahutnya sama sekali. Bagaimana bisa seperti itu, padahal musuhnya saja sudah tahu tentang jati diri Alstrelia. Eldania benar-benar tidak ingin tinggal diam, makannya dia pun terus mengetuk pintu sambil memanggil namanya terus.


"Alstrelia, kenapa kau jadi anak setakut itu? Kau mau, jika ketakutanmu itu terus membawamu dalam rasa bersalah jika membiarkan dia melakukan sesuatu pada kekaisaran dan bahkan rumahmu serta kakak atau orang yang tulus denganmu sesuka hatinya?"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak ingin itu terjadi. Tapi saat mendengar ucapannya benar-benar menginginkanku, aku sekarang benar-benar jadi sangat takut." jawab Alstrelia dengan nada gemetar. Ya, bahkan untuk berdiri saja ia sudah tidak mampu, apalagi untuk bicara panjang lebar, menjawab kekhawatiran yang sedang di tunjukkan oleh Eldania kepadanya.


"Alstrelia, aku disini ada untukmu." ungkap Eldania setelah menghela nafas kasar.


"Padahal tidak ada alasan bagimu untuk membantuku yang merupakan orang asing." Gerutu Alstrelia.


"Memangnya jika ingin membantu orang, harus ada alasan pasti? Kalau begitu aku akan menjawab rasa penasaranmu, alasanku ingin membantumu karena aku tidak ingin kekuatanmu yang cukup berharga itu terbuang sia-sia jika di biarkan terus.


Kalau saja memang ada sihir agar kekuatanmu pindah ke aku, maka aku akan lebih senang, karena bisa menggunakannya.


Tapi karena tidak atau tepatnya belum ada sihir pemindah kekuatan, jadi aku ingin membantu orang yang punya potensi besar dengan sihir masa depanmu itu dengan tanganku juga.


Jika saja kau bisa sepenuhnya membangkitkan kekuatan milikmu, justru dengan kekuatanmu itu, kemenangan akan selalu berpihak kepadamu. Aku punya pikiran seperti itu, karena aku memang sudah banyak pengalaman untuk bertarung, jadi aku tahu kekuatan itu harus di gunakan untuk apa dan saat apa.


Jadi jangan takut, lagi pula, kau itu tidak sendirian di dunia ini." Jelas Eldania panjang lebar, sampai dia pun ngos-ngosan sendiri.


Dan orang yang ada di balik pintu kamar yang sedang di ajak bicara oleh Eldania itu sudah duduk bersandar ke pintu sambil meringkuk memeluk lututnya sendiri.


"Enak ya, karena kau sudah punya banyak pengalaman." Lirih Alstrelia dengan senyuman mencibir.


Dia bingung, harus dia apakan hidupnya itu, apakah berdiam diri dan membuat orang lain yang mengurus musuhnya, dengan mengandalkan Alstrelia dari dirinya yang lain itu, dan dirinya jadi seperti tikus yang terjebak di dalam got, ataukah-


Pilihan yang kedua, baginya cukuplah sulit.


Alstrelia yang tidak pernah sekalipun menghadapi apapun, akhirnya jadi frustasi sendiri.

__ADS_1


Dan begitulah akhir dari Alstrelia si pendiam, adik dari Alrescha Vion Beltmore Fisher.


__ADS_2