
SRING~
Dalam kurun waktu kurang dari 6 detik, mereka berdua berhasil berpindah tempat. Dan perpindahannya berhasil ke tempat yang menjadi tujuannya, yaitu ke sebuah kamar.
Layaknya memegang gelas kaca, Alrescha meletakkan tubuh Alstrelia di atas kasur dengan perlahan.
Entah kenapa Alrescha terbesit rasa bersalah karena meninggalkannya?
‘Jika aku tidak jeli, aku pasti sudah tertipu dengan akting nya ini.’ benak hati Alrescha selalu benar.
Ya.
Meskipun wanita yang dia baringkan sedang berakting, tapi sayangnya Alrescha tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa simpati itu jika yang ada di depannya itu benar-benar adiknya.
Apa yang akan terjadi jika Alstrelia yang ini adalah adiknya yang asli, dan sekarang sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri? Apalagi ditambah jika darah yang ada di gaunnya itu benar-benar darah asli miliknya?
Alrescha merasa enggan untuk membayangkan perasaan terburuknya jika hal itu benar-benar terjadi pada adiknya.
“Kau sudah bisa bangun,” perintah Alrescha kepada Alstrelia.
Tapi setelah ditunggu selama beberapa detik, Alrescha tidak mendapatkan responnya.
‘Dia benar-benar akting, kenapa dia tidak bangun juga?’ Alrescha semakin mengernyitkan matanya ketika Alstrelia tidak merespon sahutan nya, dan tetap pada posisinya yang terbaring tenang layaknya seseorang yang tidak sadarkan diri?
Karena merasa sedikit khawatir, Alrescha berdiri mendekat, lalu dia membungkukkan tubuhnya ke depan dan mencoba memperhatikan Alstrelia lebih dekat lag.
“Alstrelia, bangun.” panggil Alrescha sambil menusuk-nusuk pipi Alstrelia yang ternyata cukup halus.
Alrescha langsung menepis pikiran itu dan mencoba menepuk-nepuk pipi Alstrelia.
“Hei, kau jangan pura-pura pingsan dan tidur.” tetapi semua ucapannya tetap tidak ada responnya sama sekali. ‘Kenapa tidak bangun? Jangan-jangan jika tidak ada luka luar, dia mendapatkan luka dalam?’ Alrescha semakin masuk dalam mode cemas. “Alstre.” Alrescha memanggil namanya lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Alrescha bahkan sempat memeriksa gaun bagian perutnya. itu memang darah asli, tapi tidak adanya robekan atau sayatan di tempat tersebut sebagai tanda luka.
“.............” Tidak mau membiarkannya lebih lama lagi seperti itu, Alrescha pun pergi.
Tapi sebelum dia pergi dari sana, tiba-tiba dia merasakan ujung lengan dari pakaiannya tiba-tiba tertahan. Alrescha menoleh ke samping kiri, dan terlihat Alstrelia masih memejamkan matanya, tapi bukan berarti tangannya diam.
“Mau kemana kau?” tanya Alstrelia ke poin intinya.
“Mencarikanmu dokter.” jawab Alrescha apa adanya.
__ADS_1
“Aku tidak memerlukannya." Pungkas Alstrelia lalu bangun dari posisinya yang berbaring itu untuk duduk. "Dan jangan pernah panggilkan dokter ataupun penyihir. Siapapun itu jika berkaitan dengan pekerjaaan seperti itu, bahkan pendeta sekalipun.” terang Alstrelia sambil menutup kedua matanya dengan telapak kanannya, dia benar-benar frustasi baru saja merasakan sesuatu di luar kehendaknya sendiri.
“Terus apa alasanmu diam saja saat aku memanggilmu?” tanya Alrescha.
“Aku- tidak sengaja memang tertidur.” Alstrelia sendiri merasa aneh. Dia awalnya memang berpura-pura seperti orang yang terluka. Tapi siapa yang akan menyangka, kalau saat tubuhnya digendong, Alstrelia merasa nyaman dan langsung terlelap tidur begitu saja. ‘Ini aneh, aku itu bukanlah orang yang akan tertidur tanpa alasan seperti itu. Tapi kekonyolanku adalah saat aku merasakan aroma anak ini, aku tiba-tiba langsung tidur begitu saja.’ Alstrelia langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
“Karena kau sudah bangun, apa kau bisa aku interogasi sekarang juga?” tanya Alrescha, sedikit menurut.
“Jika aku di introgasi, aku akan dapat apa?” sela Alstrelia. Setelah itu Alstrelia kembali berkata lewat kemampuan telepatinya. “Aku sudah pergi ke pesta, memberimu informasi soal perbatasan, dan kau sekarang akan menginterogasi aku soal di Ballroom? Apa yang bisa aku berikan kepadamu harganya tidaklah murah. Bahkan sampai aku menggantikan posisi adikmu, kau tahu kan, didunia ini itu tidak ada yang gratis.” kata Alstrelia mencoba memeras anak kaya itu.
“100 juta.”
“Dolar!” Alstrelia menyeringai saat mengucapkan kata dollar dengan sangat jelas dan penuh dengan penekanan.
“Aku tidak tahu dollar itu apa, tapi aku akan memberikanmu 100 juta keping emas sebagai uang muka untuk satu bulan.” jawab Alrescha tanpa ragu.
‘Walaupun tidak sesuai harapkan, tapi terdengar banyak juga.’ pikir Alstrelia mencoba menimbang-nimbang keputusannya itu. Dan akhirnya dia membuat kesepakatan dengan Alrescha.
Ya, selama ada informasi yang akurat, Alstrelia akan terus memeras Alrescha.
"Beritahu."
"Sekarang?" Alstrelia mendelik Alrescha si wajah serius itu.
"Hah~ Satu yang pasti, mereka mengincarku, terutama Kaisar. Karena itulah di sana sangat berantakan. Tapi itu sangat menyenangkan kok, lain kali ajak kesatriamu itu untuk melakukan sparing denganku.” oceh Alstrelia.
‘Kaisar, jadi memang benar dari awal dia sedang menargetkanku. Lalu dia yang mengatasi semua orang yang ada di pesta?’ Alrescha melirik Alstrelia yang sibuk menghitung dengan kesepuluh jarinya.
“Tinggal sebentar lagi, apakah kau-”
Alrescha yang tidak mendengarkan itu terus masuk ke dalam pikirannya sendiri, ‘Kira-kira jika kaisar itu memang palsu, sudah berapa lama dia mengisi posisi itu? Ah, minggu ini akan jadi hari sibukku lagi. Banyak kesatria yang mati, aku harus meng-’ Alrescha membelalakkan matanya saat tubuhnya tiba-tiba saja terhuyung ke arah Alstrelia.
BRUKK!
Dan mendaratlah tubuh Alrescha di atas pangkuan Alstrelia.
Setelah membuat Alrescha menindih kakinya, Alsterlia langsung meracau lagi, “Kau tidak mendengarkanku malah sibuk dengan pikiranmu. Soal kesatriamu yang mati, biar Elbert yang urus, sedangkan kau urus seluruh pasukan inti.
Berapa banyak pasukan yang dimiliki Fisher? Jika itu 50.00 masih kurang, aku harap bisa 200.000 lebih.
Tapi jika memang punya sekelompok penyihir, itu akan lebih baik untuk menutupi kekurangan jumlah pasukanmu.
Aku mengatakan ini karena kau harus bersiap, sebab dalam beberapa hari lagi akan ada invasi monster yang lebih besar.
__ADS_1
Sedangkan aku akan mengisi posisi adikmu dengan baik, dan membereskan masalahku sendiri. Jadi jangan terpaku untuk mengurus semua masalah sendirian.
Apa gunanya punya bawahan, jika tidak dipakai dengan benar?”
“Kau-” Alrescha langsung termangu, lalu menoleh ke arah kiri untuk menatap Alstrelia. Dia benar-benar baru saja seperti memberikan perintah berupa solusi kepada Alrescha sebelum Alrescha sendiri menemukan pikiran itu.
BUKH..
Dengan kasar, Alstrelia langsung menumbuk belakang kepala Alrescha yang dengan lancang menatapnya dengan intens. “Jangan menatapku seperti itu.” cetus Alstrelia.
“................”
“Aku akan memberitahumu satu kali, posisimu membuatmu terbelenggu dalam semua kewajiban kan? Kalau begitu buat bawahanmu sampai mengerjakan pekerjaan rodi. Itulah pentingnya memiliki kekuasaan, untuk menyuruh orang lain sesuka hati bahkan kau bisa melakukan ancaman.”
“Apa itu hasutan?” Alrescha hendak bangun dari pangkuannya Alstrelia, tapi Alstrelia dengan seenaknya, langsung merobohkan kembali tubuh Alrescha lalu menumbuk lagi kepalanya dengan kasar.
BUKH…
“Ya, benar. Aku menghasut orang lain dengan mulut manisku. Apakah kau suka dengan caraku ini?” tutur Alstrelia. Lagi-lagi menyeringai dengan bangga dengan bibir mungilnya itu. ‘Bahkan aku bisa memastikan, hasutan dariku langsung ampuh saat itu juga.’ benak hati Alstrelia. “Bukannya karena itu kau kehilangan sesuatu yang kau miliki?”
DEG!
“Jangan membahas itu,”
“Ha~ Jangan-jangan kelinci itu tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan benar.” Alstrelia terkekeh geli.
“Kelinci? Apa maksudmu Edward?”
“Rambutnya yang putih itu, dan dia yang terus menghindariku saat aku mendekatinya, bukannya dia mirip kelinci?”
Alrescha tidak dapat menyangkalnya, karena dia sendiri merasa begitu. Dia merasa Edward seperti antara takut juga tidak, tapi selalu menghindari Alstrelia yang ingin mendekatinya.
*
*
*
'Kenapa di dalam kamar jadi diam? Bukannya tadi ada suara Tuan?' pikir seorang pelayan ini. Saat kebetulan lewat depan kamar, tidak sengaja mendengar sedikit percakapan. Tapi setelah itu menjadi hening kembali.
____________________
“Hyah………!” lebih dari berjam-jam, Chavire terus menerus mempertahankan kecepatan berkudanya.
__ADS_1
Tubuhnya memang lelah, tapi dia tidak memiliki waktu untuk depresi jika mengingat sekarang dirinya masuk kedalam tubuh orang lain, dan harus mencari jalan pulang sebelum negaranya hancur.