
"................" Dari lima belas sentimeter berkurang jadi sepuluh, dan lima centimeter, lalu jarak yang hanya tinggal seujung jari itu pun membuat Chavire memejamkan matanya.
Dia akan merasakan bagaimana rasanya mencium calon Istrinya sendiri.
Ya...selagi ada kesempatan, maka akan dia gunakan untuk merasakannya lebih dulu.
"...........!" Namun ketika jarak itu sudah terkikis dua centimeter lagi dan Chavire sudah bersiap untuk merasakan sensasi bibir itu, sebuah dorongan kuat di bahunya berhasil membuat Chavire terjungkal ke sisi lain tempat tidur.
BRUK..
Tubuh Chavire yang saat ini sudah mendarat di atas tempat tidur itu langsung ditindih oleh Alstrelia yang saat ini sudah terbangun.
"Chavire, kau benar-benar butuh seorang wanita untuk berciuman ya?" Ucap Alstrelia dengan lengan kiri sudah dia gunakan untuk menekan leher Chavire, sehingga jarak wajah diantara mereka berdua pun kembali berdekatan.
Wajahnya saat ini sudah serius, tatapan matanya pun menatap tajam Chavire yang terlihat terkejut itu karena tidak tahu kalau Alstrelia bisa bangun secepat itu.
Dengan senyuman tawarnya, Chavire berkata : "Memangnya kenapa jika aku jawab iya?" Tanya balik Chavire, sambil melirik ke arah bawah sana. Dia setidaknya tahu persis apa yang ada di balik rok itu yang saat ini perempuan yang Chavire kira adalah Alstrelia yang dia kenal saat ini ada di atas tubuhnya.
Jika saja hari ini bukan hari penuh dengan kesibukan yang mengharuskan dirinya menyelamatkan negaranya, Chavire sebenarnya ingin sekali bisa bermain dengan perempuan ini.
Tapi sayangnya pikiran itu harus Chavire singkirkan jauh-jauh sebab sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengurus perasaan pribadinya itu.
"Sudah tidak sabar ya?"
"Bisa dibilang begitu," Sahut Chavire lagi. 'Kenapa dia bertanya seperti itu? Apakah dia sudah sadar kalau aku memang dari dulu sudah menyimpan perasaan padany?' Chavire sejujurnya sudah cukup gugup, karena perempuan yang saat ini berada di atas tubuhnya itu benar-benar bertanya demikian.
Alstrelia yang awalnya hanya terdiam itu, akhirnya melepaskan kuciannya pada leher Chavire yang saat ini terlihat sedikit memerah, berkat perbuatannya yang menekan leher itu dengan cukup kuat.
"Tenang saja, kau akan mendapatkan momen itu nanti, bahkan lebih." Ucap Alstrelia dengan wajahnya yang serius, seakan topik yang sedang mereka bahas adalah hal ringan yang bisa dilakukan kapanpun asal Alstrelia ada waktu?
__ADS_1
"Apa? Lebih?"
Alstrelia bangkit dan menyingkir dari atas tubuh Chavire lalu berkata lagi : "Kau tadi bilang sangat ingin bisa mendapatkan ciuman kan? Suatu saat nanti itu kau akan mendapakan jatah itu, dan bahkan lebih. Jadi sebaiknya tunggu itu." Jelas Alstrelia.
Tapi Chavire yang melihat Alstrelia berbicara secara terang-terangan dengan mimik wajah seperti orang akan mengenterogasi tawanan dari seorang pembunuh, justru kesan yang Chavire dapatkan dari ucapan tadi adalah ditujukan untuk orang lain.
"Alstrelia." Panggil Chavire dengan tiba-tiba.
"Apa?" Alstrelia yang saat ini baru saja mengeluarkan sarung tangan hitamnya dari bailk seragamnya, langsung melirik kearah Chavire yang terlihat kebingungan itu.
"Kamu benar-benar percaya kan, kalau aku Chavire?" Tanya Chavire.
"Entahlah. Antara percaya dan separuh percaya. Tapi jika kau memang benar-benar Kaisar negeri ini yang jiwanya masuk ke tubuh orang lain, memangnya apa gunanya sekarang? Kan kau sudah tidak punya status. Bukannya dengan begitu harusnya kau bisa bebas dari belenggu dari menanggung beban status Kaisar, kenapa kau kembali?"
DEG..!
Padahal dulu Alstrelia si sosok pemalu yang pemalu itu, meskipun malu untuk berinteraksi dengan orang lain, terutama dirinya, yaitu Chavire sendiri, Alstrelia pasti akan tetap mengatakan kata-kata yang membuat dirinya semangat.
Memang benar, menjabat menjadi seorang Kaisar bebannya sungguhlah banyak. Semua tugas selalu di limpahkah kepadanya.
Dari perekonomian negara, pertahanan negara, kesenjagangan hidup semua warganya, dan masih banyak lagi yang harus Chavire urus.
Tapi semua itu bisa Chavire jalankan karena ada seseorang yang menyemangatinya.
Meskipun menjadi kaisar adalah pekerjaan yang memiliki beban yang cukup besar dan tanggung jawab yang cukup banyak, selama itu dikerjakan dari hati dan di melihat warganya mendapatkan kebahagiaan saat berada di bawah kepemimpinannya, sekalipun tidak ada orang yang akan menegrti lelahnya bekerja menjadi seorang Kaisar, semua itu akan mendapatkan hasil yang lebih, yaitu bangga dengan keberhasilannya dalam bekerja di balik layar.
Tapi apa yang barusan dikatakan oleh Alstrelia tadi?
Alstrelia justru mengatakan kepada Chavire untuk tidak kembali atau ikut campur lagi dengan urusan negaranya, dengan artian Alstrelia menyuruh agar Chavire menikmati hidupnya sebagai orang lain, karena sudah tidak ada tanggung jawab lagi atau kaitannya dengan Kekaisaran sebesar itu.
__ADS_1
"Alstrelia, sebenarnya siapa kau?" Tuding Chavire. Karena ucapannya sungguh bertolak belakang dengan apa yang ada di ingatannya tentang Alstrelia yang dia kenal, Chavire pun menaruh curiga kepada perempuan di depannya itu.
"Mau seberapa banyak kali pun kau bertanya aku siapa, karena namaku Alstrelia maka tetap saja Alstrelia." Tegas Alstrelia, selesai menyarungkan sarung tangan hitam miliknya.
'Aku memang sedikit janggal dengan sifat dan karakter Alstrelia yang ini. Tapi aku sengaja membohongi diriku kalau dia adalah Alstreila yang aku kenal karena aku memang sebenarnya...merindukannya. Jadi jika dia Alstrelia, maka Alstrelia yang aku kenal ada dimana? Alrescha, dia juga sama sekali tidak mau menjawab pertanyaanku.' Racau Chavire.
Pada akhirnya dia tidak bisa membohongi dirinya lagi soal perempuan yang ada di depannya itu bukanlah Alstrelia yang Chavire kenal.
"Aku iri padamu."
".................!" Ucapan dari Alstrelia pun langsung memecah lamunan Chavire yang sedang dilanda kegalauan. "Apa yang membuatmu iri?"
"Karena sama-sama cinta." Tukas Alstrelia lalu pergi begitu saja dari kamar itu.
'Apa maksudnya? Sama-sama cin-' Chavire yang akhirnya sadar dengan maksud ucapannya Alstrelia, dia langsung berlari menyusul Alstrelia dan segera menangkap pergelangan tangan perempuan itu sebelum benar-benar keluar dari kamar itu. "Tunggu, kamu tadi bilang apa? Sama-sama cinta? Apa maksudnya dia juga men-"
"Kau dimabukkan cinta ya? Jangan seperti orang bodoh. Dia memang mencintaimu, jadi jangan sekali-kalinya menganggapku sebagai cintamu itu. Lepaskan," Ujar Alstrelia sambil menjeling kearah pergelangan tangannya yang saat ini sedang dicengkram oleh Chavire.
Lagi pula karena Chavire sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, meskipun belum begitu memuaskan, tapi karena Chavire melihat wajah Alstrelia yang benar-benar terlihat seperti orang yang kesal itu, Chavire pun melepaskan cengkraman tangannya.
"................." Setelah cengkraman tangan dari Chavire terlepas, Alstrelia pun menarik pintu kamar. Sekarang...dia akan menghadapi apa yang harus dia hadapi saat ini demi negeri ini? Atau demi keinginan kembarannya yang ingin menyelamatkan banyak orang?
Tidak.
Tapi demi keinginan dari Alstrelia Ve Der Francisteen sendiri, yaitu ingin segera mencari jalan pulang.
KLEK.
Tepat di saat pintunya terbuka, di saat itu pula kisah dari jalan hidup mereka pun dimulai lagi dengan cerita yang kian terus berlanjut.
__ADS_1