
"Tuan, ini dokumen yang harus anda bawa.” Elbert memberikan satu amplop besar berwarna coklat untuk diberikan kepada Alrescha yang hendak berangkat dengan langkah kakinya yang terburu-buru.
“Aku akan pergi selama 3 hari, aku serahkan semua yang ada disini kepadamu. Termasuk Alstrelia.” pinta Alrescha agar Elbert yang bertanggung jawab atas kediaman rumah dari Duke Fisher dan juga satu orang perempuan yang dianggap sebagai adiknya, yaitu Alstrelia.
“Baik tuan.” Elbert membukakan pintu kereta kuda untuk tuan muda Alrescha. “Apa ada pesan yang ingin anda tinggalkan kepadanya?”
“....................” Alrescha awalnya terdiam saat tiba-tiba Elbert menanyakan itu kepadanya. Sampai dia akhirnya menyadari seseorang yang sedang menatap ke arahnya.
Ketika Alrescha menoleh kebelakang, dia langsung melihat seseorang yang sedang disinggung itu.
Terlihat seperti biasa, wanita bernama Alstrelia juga saat ini masih saja keras kepala dengan memakai pakaian yang sama selama tiga hari ini. Sebenarnya Alrescha terbesit sebuah pikiran, soal pakaian yang dikenakan oleh wanita itu apakah tidak dicuci dan bau? Setelah dipakai selama tiga hari penuh ini?
“....................?” Alstrelia hanya menatap wajah berpikir Alsrescha itu. ‘Kenapa dia menatapku seperti itu lagi? Itu seperti tatapan mata yang sedang mempermasalahkan apa yang sedang aku pakai ini.’ Pikir Alstrelia.
Alstrelia juga sebenarnya sadar juga, kalau selama tiga hari ini dirinya masih memakai pakaian miliknya.
Alstrelia melirik pakaiannya sendiri, dan merasa tidak ada masalah apapun kecuali orang-orang yang mulai memperhatikan penampilannya yang memakai pakaian yang sama selama tiga hari ini.
‘Aku sudah pernah mengatakannya, dia tidak akan bisa membuat baju seperti yang aku inginkan. Karena baju yang kupakai ini adalah baju yang dibuat untukku secara khusus.’ Alstrelia tetap saja memberikan tatapan datar kepada Alrescha yang kini akhirnya masuk kedalam kereta kudanya. “Dia mau pergi kemana?”
Lena sesaat melirik nona Alstrelia dan menjawab, “Tuan muda akan pergi ke istana.”
“Kenapa ke istana?”
“Karena yang mulia kaisar memanggilnya. Beliau mengatakan akan pergi paling tidak selama tiga hari.”
“Kaisar.” Gumam Alstrelia. “Berarti anak itu akan ke pusat kota kan?” Tanya Alstrelia lagi sambil mengusap dagunya sendiri.
‘A-anak?’ Lena lagi-lagi dikejutkan dengan tutur kata Alstrelia yang begitu tidak sopan itu. “I-iya. Kenapa anda bertanya?”
“Karena aku ingin ikut dengannya pergi.” Jawab Alstrelia kepada Lena dengan nada berbisik.
Setelah itu, Alstrelia berjalan menghampiri kereta kuda yang hendak berangkat itu.
“Berhenti!” Perintah Alstrelia kepada kusir kuda itu agar berhenti.
“Nona?” Elbert melirik langsung Alstrelia yang tiba-tiba muncul dan berteriak untuk berhenti.
__ADS_1
Alhasil Alrescha kembali membuka pintunya, dan bertanya, “Apa kau memerlukan sesuatu?”
Karena pintunya kebetulan terbuka, Alstrelia langsung masuk tanpa permisi sambil menjawab : “Ya, kau akan pergi ke istana, kan? Karena itu aku ikut numpang kendaraan ini pergi ke kota.”
Alrescha seketika mengernyitkan matanya saat melihat wanita yang mempunyai kemiripan 99% dengan adiknya, sudah duduk manis sambil menumpukkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya.
“Pergi dengan pakaian seperti itu?” Lagi-lagi Alrescha terusik dan sedang diuji dengan penampilan feminim dari wanita di depannya itu.
“Kita tidak tahu kapan musuh akan datang menyerang. Aku akan tetap memakai ini untuk berjaga-jaga.”
“Siapapun kau ka-”
“Alstrelia. Sekalipun namaku memang sama dengan nama dari adikmu, aku tetap Alstrelia.” ujar Alstrelia, berhasil menyela ucapannya Alrescha yang lagi-lagi akan menegurnya.
“A-als-”
“..............? Apa namaku begitu susah disebut?” tanya Alstrelia bingung kepada pria ini, karena terlihat ragu untuk memanggil namanya. “Alstrelia.” ucap lagi Alstrelia memanggil namanya sendiri dengan nada penuh penekanan.
‘Padahal dia hanya punya dan wajah yang sama, tapi kenapa aku merasa kalau adikku jadi menyebalkan?’ Di dalam pikirannya, Alrescha ada dalam kebingungannya juga.
Sejujurnya Alrescha jadi bingung bagaimana caranya untuk menanggapi wanita seperti yang ada di depannya itu.
“Soal keamanan, jika kau mau pergi maka bawalah salah satu kesatria disini.” Jawab Alrescha. “Kau harus ingat, seorang nona dari keluarga bangsawan, sudah pasti pergi dengan pengawalnya sendiri, camkan itu.” imbuhnya.
“Kalau begitu, biarkan dia yang ikut denganku.” Alstrelia langsung menunjuk Elbert sebagai pengawalnya.
“Jika seperti itu, ada baiknya nona pakai kereta kuda terpisah.”
“Apa jaraknya memang jauh?”
“Tidak terlalu. Tapi sebaiknya kau menggunakan kereta kuda yang lain. Karena jika kau turun dari kereta kuda ini tepat ditengah jalan, itu ak-” Kembali lagi Alrescha kehilangan kata-katanya karena dia langsung sadar, mau seberapa keras menyembunyikan Alstrelia yang ini untuk menghindari pusat perhatian banyak orang, selama wanita ini tetap memakai pakaian dengan rok pendek seperti itu, maka semua itu tidak akan ada gunanya.
Elbert yang peka dengan raut wajah tuannya itu, langsung angkat bicara. “Nona-”
“Apa?” tanya Alstrelia di detik itu juga dengan wajah seriusnya.
“Ji-” Elbert yang belum sempat berbicara, langsung dipotong oleh ucapannya Alstrelia lagi.
__ADS_1
“Jika tidak cepat berangkat, kau sendiri yang akan terlambat.” Ujar Alstrelia memperingatkan.
“Hah~” Alrescha langsung mengetuk dinding kereta kuda untuk memberikan kode pada kusir agar segera berangkat. “Elbert, kau bawa kereta kuda satu lagi untuk mengikutiku dari belakang.”
“Ya.”
“Hyah….!” sang kusir langsung menarik tali pelana untuk memerintahkan kedua di depannya segera berjalan.
Akhirnya Alrescha dan Alstrelia kini duduk berhadapan dengan saling menatap mata mereka satu sama lain.
“Kendaraan ini benar-benar tidak nyaman.” kata Alstrelia sambil melirik ke samping kanan dan kekiri, lalu keatas dan ke bawah. Semua yang ada di dalamnya tidak membuat Alstrelia tertarik sedikitpun.
“Kalau tidak nyaman, kenapa bersikeras untuk ikut?” Tanya Alrescha.
“Jika tidak ikut, aku tidak akan pernah bisa melihat apa yang ada di luar pagar halaman rumah kalian.” Jawab Alstrelia sambil menatap pemandangan diluar jendela.
DEG!
Alsrescha yang hendak membaca buku yang sengaja dia bawa, langsung dia urungkan niatnya itu setelah mendengar perkataan dari wanita di depannya itu.
“Walaupun bagiku semua yang ada disini sangatlah asing, tapi tetap saja jika waktu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk melihat apa yang ada diluar sana, lalu apa gunanya lahir diberikan mata, tangan dan kaki?” Jelas Alstrelia.
Yang mana, apa yang diucapkan oleh Alstrelia sendiri sebenarnya dia tidak menyadari kalau ucapannya itu sedang mempengaruhi pikiran Alrescha soal adiknya lagi dan lagi.
Membuat Alrescha seperti sedang dipukul oleh adiknya langsung yang sedang menuntut protes karena Alrescha sekalipun tidak pernah mengajaknya keluar bersama-sama.
“Kau-” mulutnya langsung terdiam saat kedua mata mereka saling bertembung.
“Bagaimana caramu untuk menemukan adikmu?”
Saat ditanya begitu, Alrescha sontak langsung terdiam ketika dia kembali lagi diingatkan tentang adiknya yang asli.
Padahal yang di depannya punya nama yang sama.
Wajah yang sama.
Rambut dan warna mata yang sama.
__ADS_1
Tapi kenapa?
Alrescha seperti sedang ditegur oleh adiknya secara langsung seperti ini?