Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
203 : Alstrelia : Bertengkar.


__ADS_3

WUSHH....


Kegelapan itu semakin mendatangi mereka berdua.


Dua orang yang saat ini sedang terjun bebas masuk kedalam lubang tak berdasar yaitu Alstrelia dan Alrescha, terus membawa mereka masuk lebih dalam dan terasa sudah tidak memiliki dasar apapun kecuali suasana yang dingin dan punya udara yang cukup lembab.


Hingga cahaya berwarna merah yang awalnya terlihat sama-samar, ada di bawah mereka persis.


"Apa itu?" Alstrelia bertanya dengan nada yang cukup lirih.


"Anggap saja lubang kematian." Cetus Alrescha terhadap pertanyaannya Alstrelia barusan.


Alstrelia melirik ke samping kanannya. Alrescha sekarang sudah bisa menyamai posisi terjun nya Alstrella. "Jadi maksudnya, kita akan mati karena masuk kedalam lubang ini?"


"Tergantung juga." Balasnya.


Gimmick yang terus mengikuti Tuan nya itu pergi tiba-tiba saja membuat sebuah tembakan.


DOR..


Tembakan yang di tujukan ke arah bola kristal berwarna merah menyala, dengn aura berwarna merah bercampur jingga, sehingga terlihat seperti sebuah api.


Dan hasil tembakan dari Gimmick itu membuat batu kristal itu akhirnya pecah, membuat sebuah serpihan yang lebih kecil dengan jumlah bervariasi sedang bertebaran di tempatnya, tanpa ada kata jatuh. Sebab batu kristal itu tetap mengambang di udara dengan keadaanya yang tetap memperlihatkan aura dengan warna cahaya merah bercampur jingga layaknya api.


Tapi karena pecahan itu bertebaran di semua sisi lubang, maka kegelapan itu sudah mereda karena tergantikan dengan pencahayaan dari batu itu.

__ADS_1


"Ahw.." Rintih Alstrelia saat mereka berdua melewati pecahan batu itu, sebab petir dengan daya kecil terus mengusik tubuhnya, dan membuat sensasi seperti sedang di gigit.


"Itulah, makannya jangan pakai rok sependek itu." Sindir Alrescha saat melihat sepasang kaki Alstrelia mendaptakan sengatan listri berdaya kecil.


"Kenapa? Ini kan suka-suka aku." Delik Alstrelia terhadap Alrescha yang baru saja menyindirnya.


"Aku sudah memberimu peringatan, jangan salahkan aku jika nanti ada sesuatu yang lebih buruk dari yang tadi terjadi." Beritahu Alrescha.


'Memangnya hal buruk apa yang lebih buruk dari yang tadi? Dia tahu sesuatu, tapi sengaja tidak memberitahuku. Alrescha, padahal aku sudah banyak membantumu, tapi sekarang kau sedang mempermainkanku ya?' Alstrelia yang tidak suka di permainkan, padahal dirinya sendiri suka mempermainkan Alrescha, langsung berbuat sesuatu.


Dia menarik salah satu rambutnya sampai putus, setelah itu dia dia lepaskan begitu saja, sehingga satu helai rambut itu jauh tertinggal di atas sana.


Tanpa sebuah rapalan mantera, Alstrelia memejamkan matanya secara perlahan, tapi setelahnya, Alstrelia membuka matanya dengan kesan tegas. Lalu gumaman singkat membuat satu helai rambut miliknya itu terbakar habis oleh api biru.


"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Alrescha, dia merasakan adanya energi mana yang cukup tinggi, dan akibat dari api biru yang muncul dan mengisi area bawa lubang yang belum tahu batasannya sampai mana, di saat itu pula Alrescha merasakan adanya yang terbakar.


"Agar impas." Jawaban yang begitu singkat itu menjadi awal sebauh kejahilan yang di lakukan oleh Alstrelia.


Dengan kendalinya sendiri, pakaian yang di kenakan oleh Alrescha yang tidak di kancing itu terbakar habis, tapi tidak sampai membuat calana yang membalut sepasang kaki jenjang itu ikut terbakar juga.


'Karena aku mengatakan itu, dia sengaja menggunakan kekuatannya untuk membakar pakaianku?' Melihat tubuhnya sendiri memiliki beberapa bekas luka dari sayatan, Alrescha segera menghampiri Alstrelia untuk memberikannya mantel yang selalu tersampid di kedua bahu perempuan itu.


"Apa yang ka-"


"Berikan ini kepadaku."

__ADS_1


"Kenapa aku harus memberikannya?" Protes Alstrelia, dia menahan mantel coat berwarna putih miliknya itu daripada di rebut oleh Alrescha.


"Siapa yang menyuruhmu membakar pakaianku?" Masih mencoba merebut mantel milik Alstrelia.


"Situ sendiri siapa yang menyuruhmu mengatakan aku jangan pakai rok? Kan aku perempuan, ya pakai rok."


"Justru karena kamu perempuan, harusnya jangan pakai rok sependek itu."


"Kau sedang mengguriku?" Tekan Alstrelia.


"Kan aku sudah bilang, aku hanya memberitahumu sekaligus memeringatkanmu. Jangan samakan aku sedang menggurimu. Sini, ini semakin dingin."


"Ish...padahal sendirinya bisa pakai kekuatan es, kenapa bisa kedinginan? Lepaskan tanganmu dari pakaianku." Alstrelia semakin mengernyitkan matanya di samping seluruh area di lubang yang membawa mereka berdua masuk oti masih di selimuti api berwarna biru yang tidak bisa membakar tubuh mereka berdua.


"Tapi ini berasal dari ulahmu. Lepaskan ini, aku meminjamnya sebentar." Mencoba merebutnya dari Alstrelia, karena hanya dialah yang memakai pakaian lebih.


"Aku tidak akan meminjamkanmu ini." Balas Alstrelia dengan sebuah tendangan yang di tunjukkan ke arah Alrescha.


Tapi Alrescha dengan sigap langsung menangkap salah satu kakinya Alstrelia, dan menariknya agar mendekat hingga membuat sebuah pelukan.


Tidak tinggal diam, Alstrelia mengarahkan senjata yang ada di tangan kanannya itu ke perut Alrescha.


Senjata buatan dan senjata alami jadinya saling beradu di tempatnya masing-masing, padahal mereka berdua berada di tengah-tengah sedang jatuh ke dalam lubang yang cukup dalam.


Sampai tepat di titik tertentu, ada cahaya berwarna ungu, dan ketika mereka berdua melintasinya, sesuatu yang cukup mengejutkan pun terjadi.

__ADS_1


__ADS_2