
Melihat Elbert mampu menebas pohon dengan sedemikan hebat serta terlihat keren, membuat Elda pun diam-diam jadi menaruh rasa di dalam hatinya untuk Elbert.
Sampai semua pertengkaran singkat mereka berdua harus di akhiri dengan getaran tanah.
"Ini bukan gempa biasa." Kata Elbert selepas membereskan semua pohon hasil serangan milik Elda.
"Tidak usah bilang, aku juga sudah tahu." Sahut Elda.
Getaran tanah itu berlangsung cukup singkat. Namun demikian pula, Elbert dan Elda segera pergi dari sana untuk mencari pusat dari getaran tanah yang tercipta tadi.
Dengan gaya lompatan serta cara mereka berdua lari yang cukup kuat, maka tidak sampai tiga menit, mereka berdua sampai di tempat di mana Alstrelia dan Alrescha beberapa saat lalu hampir saja mengerar cumbu di area lubang yang sudah terbuka cukup lebar itu.
"Lubang apa ini?" Elda yang awalnya hendak menilik melihat lubang yang terlihat sangat gelap itu, tiba-tiba saja tangannya langsung di raih oleh Elbert. "H-hei-"
Namun, kalimat protes yang hendak Elda ucapkan itu, sebab sembarangan menarik tangan orang lain, tiba-tiba saja di kejutkan dengan adanya kemunculan api yang keluar dari lubang itu.
WHOORR....
"Jika saya tidak menarik anda dari sana, saya yakin anda sudah menjadi daging matang yang siap makan." Sela Elbert detik itu juga.
Elda langsung menarik tangannya dari pada di cengkram terus oleh Elbert yang bagi Ela sendiri, Elbert terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Iya..terima kasih." ketus Elda.
Pandangannya kembali dia alihkan kedalam lubang sumur yang belum lama terbentuk itu.
"Tapi kira-kira Koman ku ada di dalam tidak ya?" Tanya Elda. Tidak mengharapkan sebuah jawaban pasti, karena Elda sendiri berbicara sendirian.
"Baik itu majikanmu dan majikanku juga, Beliau ada di dalam sana." Jawab Elbert.
"Kalau begitu, agar aku bisa menyusulnya, bukannya aku harus masuk ke sana juga?"
"Silahkan saja." Elbert pun tidak menghentikannya, karena kebetulan dia memang ingin tahu apa yang akan terjadi pada Elda ini.
__ADS_1
Dan benar saja. Saat Elda hendak masuk kedalam lubang sumur itu, Elda kembali di berikan semburan api yang ada di dalam sana.
WHORR....
"Bercanda nih, kenapa sumur bisa mengeluarkan api? " gerutu Elda. Elda kemudian menoleh ke arah Elbert yang ada di belakangnya dan bertanya, "Elbert, apakah kau tahu di dalamnya ada apa?"
"Anda bertanya pada orang yang salah." Celetuk Elbert. "Tapi jika di pikir-pikir, sepertinya sumur itu tidak memperbolehkan anda untuk masuk."
"Tchh.." Decih Elda, dengan raut wajah masam, sebab dia sama sekali tidak terima dengan sindiran itu.
Hanya saja melihat Elda saat ini sedang jongkok di tepi lubang, dimata Elbert tiba-tiba saja dia seperti merasa ada sesuatu yang mengganggunya.
Sekalipun samar, tapi tetap saja Elbert memang merasakan nuansa aneh, karena dalam sekejap mata Elbert merasa kalau Elda imut dan, 'Cantik?'
Merasa terganggu dengan pikirannya itu, Elbert mencoba menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Apa yang barusan aku pikirkan? Padahal tadi aku baik-baik saja. Tapi kenapa aku merasa dia begitu menarik? Dan perasaan macam apa ini? Tubuhku jadi merasa gerah.' Elbert yang tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada dirinya, memutuskan untuk menahan rasa panas itu.
"Hihihi"
Suara cekikikan itu pun muncul di dalam kepalanya Elbert. Sudut matanya mencoba menjeling ke arah belakang.
Sampai akhirnya tepat Elbert merasa jarak itu berada di satu meter di belakangnya, Elbert langsung mengeluarkan pedang miliknya itu dan mengayunkannya ke belakang dengan cukup cepat.
CRASHH.
"Akhh....! Sialan..sialan. Aku gagal, aku gagal merayunya!" Suara anak kecil dari sosok berwarna hitam itu seketika langsung sirna saat Elbert berhasil membunuhnya dalam sekali percobaan.
"Elbert, apa yang sedang kau lakukan? Mau bertarung lagi denganku?" Tanya Elda, tidak sadar sekaligus tidak dengar dengan apa yang barusan anak kecil bertubuh berwarna hitam yaitu saitan yang tersisa tadi katakan itu, sebenarnya sosok yang baru saja Elbert bunuh.
"Jika anda memang mau, setelah ini kita bisa bertarung." Jawab Elbert, menawarkan dirinya seraya memasukkan kembali pedang miliknya itu kedalam sarung pedang. 'Ngomong-ngomong, makhluk tadi. Dia bilang gagal merayuku? Apakah perasaan yang tadi itu adalah karena aku hampir saja terpengaruh dengan kekuatan milik dari Saitan tadi?'
"AH! Aku sudah tidak bisa menunggu lagi! Aku ingin menjemput Koman ku!" Elda yang merasakan galau karena malas menunggu di tepi lubang seperti orang bodoh, tiba-tiba saja Elda langsung melompat pergi tanpa mengajak Elbert yang sudah diam termangu.
__ADS_1
'Apa yang dia lakukan itu tanpa pikir panjang!' Pekik Elbert. Entah dari mana asalnya rasa khawatir itu, Elbert pun akhirnya terpaksa masuk juga kedalam lubang kematian itu.
Tapi di saat yang bersamaan, ketika Elbert sudah dalam separuh perjalanan masuk kedalam lubang itu, semburan api itu kembali datang.
Lantas apa yang akan Elda lakukan di saat wanita itu sudah lebih dulu ada di bawah sana?
Hingga Elda tiba-tiba saja merogoh sesuatu yang ada di dalam saku rok nya, dan berteriak. "zashchitnik!" Ucap Elda. Dia pun melemparkan sebuah bola seukuran bola golf itu ke depan sana.
Sampai kobaran api yang saat ini sedang datang menuju ke arah mereka berdua itu langsung tertahan oleh bola putih yang sempat Elda lemparkan tadi.
'Apa itu seperti dinding pelindung milik Nona Alstrelia palsu itu? Kalau iya, itu tidak akan bertahan lama. Api yang di hasilkan oleh lubang ini cukuplah besar dan kuat, dan dinding itu-'
KRAK...
Baru saja memikirkannya, kini mereka berdua pun terancam sebuah bahaya, karena dinding pelindung yang di buat oleh alat aneh itu perlahan retak?
"ob"yedinit' usiliya." Kalimat aneh yang Elbert sendiri tidak mengerti apa artinya itu, menjadi awal baru untuk Elbert, bisa melihat Elda menggunakan kekuatannya yang ternyata sedang di salurkan kedalam bola putih itu.
-'Sistem menerima warna sihir Elda.'-
Suara kecil itu muncul dari bola tersebut.
Sampai tidak lama kamudian Elda merentangkan tangannya ke depan, berusaha untuk menggapai bola yang sedang terbang itu.
'Apa?' Elda membelalakkan matanya.
Di luar perkiraannya, gelombang kedua dari api itu menjadikan kekuatan yang harus Elda hadapi pun sebanyak empat kali lipat.
Elbert yang tidak bisa tinggal diam saja melihat Elda sendirian menghadapi gelombang api itu, segera mengulurkan tangan kanannya ke depan.
"Raih tanganku." Pinta Elbert, sambil mengulurkan tangan kanannya itu ke arah Elda dengan maksud agar Elda memegang tangannya.
'Elbert?' Elda sepintas menjeling ke arah samping kanannya. Dia melihat Elbert sedang berusaha untuk menggapai dirinya.
__ADS_1