Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
226 : Alstrelia : Menghilang


__ADS_3

POV Normal.


"Ok, aku sudah memutuskan-" Wajah Alstrelia yang begitu serius itu di susul dengan jari jempolnya yang terus di gigit ringan dengan mulutnya sendiri.


Dia kini tahu apa yang harus dia lakukan. Sebenarnya cukup simpel, hal pertama yang harus Alstrelia lakukan adalah dengan membuat panggilan dengan adiknya Alrescha itu.


"Tapi karena anak itu sedang tidur, aku terpaksa untuk menunggunya." Gerutu Alstrelia. Ia bersandar ke belakang dan melihat semua memori yang ia miliki itu layaknya sedang menonton bioskop.


Benar, karena orang yang kini memiliki akses untuk menghubungi Alstrelia si kembarannya itu adalah Alrescha, maka Alstrelia memang harus menunggunya.


Apa alasannya, padahal Alstrelia sendiri orang yang melakukan ritual, ia pula yang memberikan darahnya untuk di minum oleh Alrescha, lantas kenapa hanya Alrescha yang mampu memiliki hubungan batin dengan jelas dengan adiknya itu?


Itu adalah karena Alstrelia Ve Der Francisteen ini hanya berperan sebagai perantaranya. Alstrelia melakukan itu agar Alrescha tidak lagi menyentuhnya, apalagi dengan menciumnya, itu sungguh membuat diri Alstrelia sendiri sudah seperti orang yang cukup rendahan, padahal dulu dia benar-benar menyombongkan diri kalau dirinya bukanlah orang yang mudah di sentuh. Tapi semuanya itu sudah sirna.


"Ha...hahahaha....dasar. Aku akan menganggap kalau aku mencium mulut an*jing." Gerutu Alstrelia, tidak mau lagi mengingat apa yang sudah selama ini terjadi antara dirinya dengan Alrescha.


Namun, walaupun sudah berusaha untuk melupakannya, Alstrelia masih saja bisa merasakan sisa dari peraduan mulut itu.


"Tch....." Decih Alstrelia. 'Padahal hanya tokoh di dalam novel, aku sama sekali tidak boleh seperti ini. Aku tidak akan pernah membawanya masuk kedalam perasaan yang membodohi isi kepalaku.' Benak hatinya.


_______________


Ketika di satu sisi, Alstrelia masih berada di dalam alam bawah sadarnya untuk menyusun segala hal untuk mengakhiri perjalanannya di dalam novel yang terus berjalan seiring waktu berlalu, di satu sisi lain, yaitu di dunia nyata, pintu kamar yang awalnya tertutup akhirnya terbuka.


KLEK....


Dan orang yang baru saja membuka pintu itu adalah Lena. Lena bersama dengan Elbert kembali masuk kedalam kamar tersebut.


"Nona, saya sudah membawakan teh dan makanan untuk anda." Kata Lena memberitahu kedua orang tamu kehormatan mereka.


Tetapi ketika mereka berdua masuk kedalam kamar, Lena dan Elbert justru di perlihatkan kamar yang kosong.


"Nona?" Lena celingukan ke kanan dan ke kiri sambil terus berjalan masuk seraya terus mendorong masuk troli makanan ke dalam kamar.

__ADS_1


"Saya sama sekali tidak merasakan keberadaannya." Kata Elbert, berjalan ke arah jendela.


Elbert memperhatikan semua sisi jendela yang beberapa waktu lalu sempat pecah. Tapi semua jendela itu kini sudah kembali seperti semula, dan yang lebih menariknya adalah ketika Elbert melihat tirai tipis berwarna putih itu ternyata terjepit diantara pintu kaca.


Lena yang melihat wajah Elbert nampak serius itu, berjalan menghampirinya dan ikut pergi keluar balkon selepas Elbert membuka pintu kamar milik Nona Alstrelia yang terhubung langsung dengan balkon kamar.


WUSSHH.....


Karena sekarang masih berada di jam pagi buta, maka angin yang cukup dingin itu akhirnya menyambut mereka berdua yang sedang di luputi rasa penasaran mereka.


"Apakah Nona Alstrelia dan Nona Elda pergi?" Tanya Lena, wajahnya jadi kembali muram karena keterdiaman dari Elbert ini sudah menjadi jawaban untuk Lena bahwa dua orang wanita yang kini sudah tidak ada di dalam kamar Nona majikannya sudah pergi.


Apa alasannya?


Padahal Tuan Alrescha belum bangun dari tidurnya.


Banyak pertanyaan yang terus bermunculan di dalam kepalanya.


'Apakah Nona Alstrelia meninggalkan kita? Jika seperti itu, bagaimana dengan perjanjian untuk menempati posisi Putri Alstrelia yang sedang kosong ini? Apa yang akan terjadi jika Nona Alstrelia dan Nona Elda tidak kembali?' Hatinya resah, apalagi mengingat kekacauan yang baru saja menimpa Kekasiaran Regalia baru usai, perbaikan memang sedang berlangsung agar semuanya bisa kembali seperti semula.


Akan tetapi bagaimana dengan Nona Alstrelia yang asli?


Apakah akan bisa di temukan?


"Apa anda akan mencarinya?" Sebelum Lena benar-benar masuk kedalam kamar, Lena sempat menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke belakang, lalu bertanya lagi, "Karena jika Nona tidak ada di sini, apa yang akan terjadi dengan tempat ini? Tuan sa-"


"Lena, memangnya kediaman Fisher tidak bisa di jaga oleh para kesatria Fisher? Kenapa harus terus menerus menggunakan kekuatan dari orang lain?" Ucapan Elbert itu sontak membuat Lena diam membisu.


Apa yang di katakan oleh Elbert memang benar. Banyak kesatria Fisher yang bisa menjaga kediaman Fisher selama Tuan Alrescha berstirahat, tapi yang selalu menjadi pikirannya Lena adalah, tentang hilangnya Tuan Putri Alstrelia mereka.


Apa jadinya jika mereka semua akhirnya tahu kalau Nona Alstrelia sudah menghilang?


Mansion jelas akan menjadi kacau, lebih kacau dari pada saat bertarung melawan orc dan beberapa monster ganas lain.

__ADS_1


Sebab tidak ada orang yang mengelola kekacauan yang sedang dalam proses perbaikan ini.


"Anda Istirahat saja, biar saya yang akan mengurus semuanya." Imbuh Elbert tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari halaman depan mansion milik Nona mereka yang saat ini memang sedang dalam kondisi paling berantakan.


"Hmm..., baiklah." Dengan perasaan berat hati, Lena pun masuk kedalam kamar.


"Apakah kedua orang itu sedang mencarinya?" Gumam Elbert tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman depan yang masih cukup berantakan.


Dengan kekuatan yang di miliki oleh Elda, sudah pasti keberadaan dari Alstrelia dan Elda sendiri langsung hilang tanpa jejak.


Itulah yang saat ini Elbert pikirkan.


"Hahhh~"' Elbert tiba-tiba menghela nafas kasar, hingga helaan nafas itu menghasilkan uap air karena dinginnya cuaca di pagi-pagi buta seperti ini. 'Ada banyak yang harus di kerjakan. Benar-benar sangat kacau.'


Sungguh ironis, karena keadaan entah itu Kekaisaran, Fisher, bahkan pikiran dari Tuan muda nya itu, semuanya dalam keadaan yang cukup kacau balau.


WUSSHH~


Angin yang memang sedang dalam keadaan dingin itu mengibarkan jubah kesatria yang ia pakai.


Satu keadaan yang harus Fisher bereskan, sudah pasti adalah keadaan Fisher itu sendiri.


Elbert memejamkan matanya sesaat, menarik nafasnya dalam-dalam, selesai mengambil udara sampai paru-parunya penuh, Elbert akhirnya menghembuskan nafasnya dengan panjang.


Manik matanya yang berwarna Violet itu pun memandang keseluruhan halaman depan mansion serta mansion utama, sungguh kacau, berantakan, perlu perbaikan dengan biaya yang cukup besar.


Karena akhirnya ia punya perannya di waktu yang sangat sepi ini, Elbert pun dengan serta merta langsung turun dari balkon kamar dengan melompat turun dan mendarat di tanah dengan selamat.


Elbert berjalan menyusuri area dari halaman depan mansion.


'Aku harus menyelesaikan semuanya malam ini juga.' Hanya itu yang bisa Elbert pikirkan ketika dia sampai di tengah taman yang menghubungkan antara halaman depan mansion milik Alstrelia dan taman bunga dari kediaman mansion utama Fisher.


Lantas apa yang akan di lakukan oleh Elbert?

__ADS_1


__ADS_2