Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
81 : Alstrelia


__ADS_3

“Ah~ Kenapa tubuhku sakit seperti ini?”


“Aw! Leherku sangat sakit.”


“Hmm...kenapa aku bisa ada di sini? Bukannya tadi-”


“Ah..!”


“Bagaimana aku bisa tidur di lantai? Dan kenapa aku memegang pisau?”


Satu per satu semua tamu undangan yang semalam dikendalikan oleh darah dari kucing untuk menyerang Alstrelia, satu per satu bangun dari pingsan nya.


Semua orang nampak kebingungan, apalagi diantara mereka terbangun dengan garpu, maupun pisau makanan, serta pecahan gelas ada di tangan mereka.


Sampai beberapa orang wanita yang terbangun juga, kembali tidak sadarkan diri setelah melihat adanya darah di lantai itu.


Tidak terlihat adanya korban yang mati, tapi darah yang masih tergenang di lantai, tentu saja menjadi hadiah pagi mereka. 


“Akhh! Kenapa tanganku berdarah?!”


KLANG.. 


Pisau makan yang mereka pegang maupun garpu atau pecahan botol, langsung mereka buang.


Mereka buru-buru berdiri dan hendak pergi dari sana.


Tapi ada satu masalah yang muncul, pintu ternyata di kunci.


“Kenapa ini tidak bisa dibuka?”


BRAK...BRAK….


Gedoran pintu kembali terjadi.


“Ada apa ini? Aku tidak mengingat semuanya. Tapi kenapa kita terkurung di sini?” satu orang mulai meracau dengan wajah cemasnya.


“Pintunya pasti di kunci dengan sihir, siapa yang melakukan ini kepada kita?” mencoba mendorong pintunya lagi, tapi tetap saja tidak bisa. 


PROKK….PROKK……..


Suara dari tepuk tangan itu berhasil menyita perhatian mereka semua untuk menoleh ke arah sumber suara.


“Perhatian untuk semuanya.” tepuk tangan tadi berasal dari Edward.


Dia mencoba menarik perhatian semua orang yang ada di sana dengan keberadaan dirinya sendiri.


“A-anda-” salah satu dari mereka langsung menyadari Edward itu siapa.


“Ya...saya adalah penyihir. Jadi untuk anda sekalian, harap dengar apa yang saya katakan.” ucap Edward. Dia mulai menjentikan jari tangan kanannya dalam sekali jentikan. “Apa yang kalian rasakan, kalian dengar, dan kalian lihat. Semuanya adalah mimpi berlebih karena kalian kelelahan setelah menghadiri pesta ini. 


Kalian akan mengingat pesta ini sangat meriah sampai kalian menginap di sini. Dan sekarang tugas kalian adalah kembali ke rumah kalian masing-masing tanpa banyak bicara. Apakah kalian paham?”


Dalam seketika sorotan mata mereka semua terlihat kosong. 


Edward langsung menggunakan sihirnya untuk merapikan sekaligus membersihkan pakaian yang dipakai oleh semua orang disana. 


KLEK.


Edward juga membuka kunci dari semua pintu di sana.

__ADS_1


Dalam sihir ilusinya juga, mereka melihat kalau ruang Ballroom masih nampak rapi, jadi dalam keadaan diam, mereka semua perlahan berjalan beriringan untuk keluar dari area pesta.


Tidak sampai 5 menit, semua orang sudah keluar dan mulai menuju kereta kuda mereka masing-masing.


KLEK.


Secara otomatis, Edward kembali menggunakan sihirnya untuk menutup kembali semua pintu.


“Hah~” Edward menghela nafas panjang karena lelah. 


Ya..dia bukan lelah karena menggunakan sihirnya untuk hal tadi, melainkan dia baru saja mengurus seluruh istana yang ada.


Dia mencari semua kucing yang berkeliaran di dalam istana. Setelah itu dia langsung membunuh puluhan kucing yang berjumlah hampir 100 ekor itu dalam sekali bunuh. 


‘Untung saja aku mendapatkan sampel sebelum aku membunuh kucing-kucing itu. Di dalam darahnya terdapat sebuah parasit yang mampu mengendalikan tubuh dari tubuh inangnya. 


Karena mereka semua yang terkena parasit itu hanya pingsan, aku jadi bisa mengambil sampel darah yang ada di tubuh mereka dan mengeluarkannya. 


Jika mereka mati, sudah pasti parasit itu akan pergi menemukan tubuh inang yang baru.


Tapi dengan begini, aku jadi tahu cara membereskannya.’ Edward kemudian mengambil botol kaca. 


Didalamnya berisi darah berwarna merah. Dan darah itu adalah parasit yang sudah Edward keluarkan secara paksa dari tubuh semua orang tadi. 


Hasilnya, parasit tersebut pun terkumpul menjadi satu. 


Dan sekarang yang dia lakukan untuk memusnahkan parasit tersebut adalah dengan membakarnya. 


Ya…


Parasit itu tidak tahan dengan panas, karena itulah Edward membunuh semua kucing dengan cara dibakar.


______________________


Angin dari luar terus saja masuk akibat jendela kaca dari kamar milik Alstrelia terbuka lebar.


Menghembuskan angin dingin dengan aroma khas air hujan.


Siapapun yang memiliki indera penciuman yang sensitif, pastinya akan menemukan aroma air yang terbawa oleh hembusan angin itu.


Tapi dari angin yang terbawa masuk kedalam kamar, samar-samar Alrescha mencium aroma sampo yang digunakan oleh Alstrelia.


Aromanya berbeda dari yang biasa Alrescha rasakan. Lagi-lagi itu adalah aroma Wisteria. 


Jadi dengan begitu, Alrescha sudah benar-benar yakin kalau perempuan yang duduk manis dengan sorotan mata yang dingin itu adalah Alstrelia yang lain.


“Manusia.” Alstrelia sengaja memanggil Alrescha dengan sebutan manusia sebagai bahan ejekan. “Aku ingin membalas perbuatanmu yang kau lakukan semalam kepadaku.”


Alrescha tersenyum smirk saat mendengar keluhan Alstrelia adalah ingin membalasnya. 


“Memangnya apa yang bisa kau lakukan?” Tanya Alrescha penasaran. “Apa kau akan menggunakan senjata aneh itu untuk menembakku?” terka Alrescha.


“Hah~” senyuman itu kembali keluar karena saja menemukan hal menyenangkan untuk di kerjakan. “Kau mencekikku dengan tanganmu. Tentu saja aku harus-”


Belum sempat menuntaskan ucapannya, Alstrelia sudah beranjak dari sofa, dan tiba-tiba sudah berada di depan Alrescha.


“................!” Alrescha sepintas langsung melompat dari kasur, sebelum wajahnya terkena bogem mentah dari Alstrelia.


Melihat Alrescha sudah menghindar lebih dulu. Alstrelia melepaskan kepalan tangannya lalu membuat kesempatan dari kedua tangannya itu untuk dia tumpukan dan membuat tubuhnya salto dari atas kasur langsung mendarat ke di sisi lain kasur. 

__ADS_1


Setelah berhasil mendarat dengan sempurna, tidak ingin menghilangkan kesempatannya, Alstrelia kembali melesat ke arah Alrescha dengan ikat pinggang sudah dia lepaskan dari tempatnya. Dia hentakkan dan langsung Alstrelia ayunkan untuk menebas Alrescha.


CTANG..!


Alrescha yang tidak memiliki kesempatan untuk mengambil senjatanya, dia justru mengambil tempat lilin yang terbuat dari logam itu untuk dijadikan tamengnya. 


Ikat pinggang yang berubah menjadi pedang itu pun akhirnya bisa Alrescha tahan.


‘Perempuan ini! Dia benar-benar jadi berbahaya!’ Alrescha mengernyitkan matanya saat tenaga milik Alstrelia yang tersalur ke pedang berwarna hitam itu cukuplah besar. ‘Sampai bisa menyerang dan aku bisa menahan serangannya, berarti kekuatannya sama denganku. Tapi apa dia benar-benar serius?’ 


Tapi saat melihat kembali tatapan matanya Alstrelia saat ini, dia melihat dengan jelas itu adalah tatapan mata penuh dendam. 


‘Lehernya masih merah, apa karena ini…’ sadar merasakan rasa bersalah karena mencekiknya, dia akan menerima perlawanan yang diberikan oleh Alstrelia.


CTANG!


Alrescha segera menghempaskan bilah pedang itu sebelum tempat lilinnya patah.


KRAK!


Benar saja, setelah berhasil menjauhkan pedang itu dari depan wajahnya dengan tempat lilin, barang itu langsung patah menjadi dua.


“Kau!” Alstrelia yang sudah tersulut amarah yang sudah pasti terpendam dari malam tadi, kini mulai dilampiaskan secara ganas kepada Alrescha.


Alrescha buru-buru melompat naik ke emja dan mengambil pedang yang terpajang di dinding.


Alstrelia langsung mengejarnya dan tangannya kembali diayunkan ke arah Alrescha. 


CTANG!


Tidak seperti sebelumnya, kini Alrescha sudah mulai leluasa untuk menahan segala serangan yang diberikan oleh Alstrelia karena dia sudah memiliki senjatanya sendiri?


Tapi…


Sayangnya kemenangan itu tergantung dari tekad masing-masing.


‘Kau harus tahu! Aku baru pertama kali mendapatkan tamparan! Dan kau semalam mencekikku, kau harus diberi pelajaran karena tidak tahu berterima kasih!’ pikir Alstrelia.


Tidak seperti seseorang yang memiliki taktik demi keuntungan pribadinya sendiri agar mendapatkan simpati, seperti tadi malam.


Sekarang Alstrelia kembali pada akal sehatnya lagi untuk membalas semua yang dia terima selama seminggu ini pada tersangkanya langsung.


CTANG!


“Kelihatannya kau belum pernah mengalami yang namanya penderitaan fisik. Akan aku buat kau merasakannya, dan itu dari tanganku.” sekarang Alstrelia yang sudah benar-benar marah itu kembali menyerang Alrescha yang baru saja bangun tidur, dengan brutal.


CTANG!


CTANG!


Suara nyaring itu pun mengisi ke segala sudut ruangan.


*


*


*


DI luar kamar. 

__ADS_1


‘Kenapa aku mendengar keributan dari dalam kamar Nona?’ Lena yang penasaran sekaligus merasa khawatir itu perlahan menyentuh knop pintu itu.


KLEK.


__ADS_2