Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
159 : Alstrelia : Marah.


__ADS_3

Sayup-sayup aroma dari rumput yang menyeruak masuk kedalam indera penciumannya membuat kesan menenangkan.


Termasuk pria ini. Dia tidak henti-hentinya mengulas senyum lembut pada seorang perempuan yang saat ini masih saja tertidur pulas dalam posisi memegang pedangnya sendiri.


"kau sudah bekerja keras, Alstrelia."


"Hm~" Alstrelia lagi-lagi mengernyitkan matanya, lalu dia beralih posisi untuk miring ke arah kanan, dan memeluk pedang itu seakan adalah bantal gulingnya.


Hal tersebut pun membuat pria ini terkekeh melihat tingkah Alstrelia yang saat tidur itu terlihat lucu.


Sudut matanya pun tidak henti-hentinya untuk menemukan wajah kalem Alstrelia, sehingga pria ni lebih membungkukkan tubuhnya ke samping kanan, setelah itu dia mendekatkan wajahnya di samping wajah Alstrelia persis, di saat itulah sebuah kecupan basah mendarat di pilinya yang mulus, dan berbisik. "Bangunlah Alstrelia, sudah waktunya bagimu untuk bangun." Ucapnya.


Setelah mengatakan itu, perlahan sepasang mata Alstrelia terbuka. Dan saat itu, matanya pun samar-samar melihat wajah dari seseorang yang jaraknya benar-benar tidak begitu jauh.


"Siapa?" Lirih Alstrelia, masih separuh sadar.


"Nanti juga tahu." Sahutnya, dengan senyuman lembut terukir di bibirnya.


"Hmm?" Salah satu alisnya terangkat. Karena Alstrelia itu adalah tipe oang yang malas untuk berpikir dalam sebuah teka teki, tapi sendirinya suka membuat orang lain berpikir dalam teka-teki yang dibuatnya.


WUSHHH~


Angin yang datang berhembus itu membuat tubuhnya kembali di terjang angin yang terasa cukup sejuk, juga...


'Dingin?!'

__ADS_1


_________________


WUSHH......


"Hah?!" Seketika sepasang mata Alstrelia terbuka lebar ketika kulitnya benar-benar merasakan dinginnya suhu yang dia terima, layaknya sedang berada di kutub?


"Nona! Anda jangan memprovokasi Tuan lagi!" Suara teriakan yang cukup familiar untuk Alstrelia, membuat Alstrelia menoleh ke arah samping kanannya, dimana saat ini di samping kanan, jauh di depan sana Lena justru sedang berteriak kearahnya?


'Kenapa Lena berteriak histeris seperti itu?' Pikir Alstrelia, dan ketika itu pula setiap nafas yang dia ambil lalu dia hembuskan kembali, terlihat adanya uap air yang keluar, baik dari hidungnya maupun mulutnya, yang artinya suhu di sekitarnya saat ini benar-benar cukup dingin, dan bisa membuat seseorang menjadi beku layaknya es batu.


"Nona!" Teriak Lena lagi.


"Siapa yang menyuruhmu menghina adikku?!" Suara yang cukup dingin, dan terdengar seperti ada di tekanan dari sebuah kemarahan, menjadi pendamping suara setelah teriakan yang Alstrelia dengar setelah Lena barusan.


Dan ketika Alstrelia kembali menoleh kedepan, Alstrelia langsung di hadapi oleh Alrescha yang saat ini sudah memegang artefak pedang milik Alrescha.


'Sebentar! Kenapa aku tiba-tiba ada disini dan sedang menghadapi kemarahan anak itu? Memangnya apa yang aku lakukan sampai dia mengeluarkan kekuatannya itu?' Pikir Alstrelia dalam sebuah kebingungan yang cukup besar.


Bagaimana tidak bingung, jika saat ini saja saat dirinya baru bangun dari tidurnya, dia tiba-tiba harus dihadapi oleh pria yang sedang marah?


Kenapa Alrescha bisa marah seperti itu, hingga mansion yang dia tempati itu jadi beku, dan Lena pun saat ini berteriak dengan wajah khawatir.


Tidak!


Bukan hanya Lena saja yang ada di sana, tapi juga..

__ADS_1


'Elda?! Kenapa dia bisa ada disini?!' Pikirnya lagi. Alstrelia sangat tidak menyangka, kalau satu-satunya orang yang paling dekat dengannya dalam banyak situasi, ternyata bisa menyusulnya?! 'Bagaimana bisa?!'


WUSHH.....


Angin yang cukup dingin itu langsung berhembus kencang dan membawa suasana di sana jadi terasa semakin dingin juga mencekam.


Sayangnya saat itu juga Alstrelia harus mengetepikan rasa penasarannya lebih dulu dari Elda, sebab dirinya saat ini harus menghadapi kemarahan dari Alrescha.


Alrescha?


Sebenarnya dia kenapa? Kenapa tiba-tiba bisa marah?


Kecuali...


ZRETT...


--v^-^v^---


Sepintas kilatan dari memori yang tidak pernah Alstrelia lakukan tiba-tiba saja muncul begitu saja.


'Sial, ternyata kesadaranku yang satunya lagi adalah dalang dari semua ini. Als, enak sekali ya kau, sudah memprovokasi anak ini atas nama adiknya, dan akhirnya kau justru menyisakan satu pekerjaan ini untukku.' Rutuk Alstrelia terhadap nasibnya sendiri, karena dia saat ini mau tidak mau harus menghadapi Alrescha yang marah karena ulah yang dilakukan oleh Als.


Hasilnya?


Kemarahan itu akhirnya harus di tanggung oleh Alstrelia.

__ADS_1


Ya..


Bukannya Als, tapi si Alstrelia lah yang kena imbas dari ulah Als.


__ADS_2