
“Alstrelia.” panggil Alrescha.
“Hm..?” dehem Alstrelia.
“Kenapa kau harus membuatku melakukan ini?” tanya Alrescha.
“Kenapa kau tanya? Yang ada di sini kan hanya kau dan aku.” jawab Alstrelia. “Tentu saja aku memerintahmu untuk melakukannya.”
“Kau kan bisa memanggil pelayan untuk membantumu.”
“Jadi maksudmu aku harus keluar dengan penampilan ini dan membuat semua orang menjerit? Kenapa aku harus melakukan hal merepotkan seperti itu jika disini ada orang yang bisa dimintai bantuan?” jelas Alstrelia. Dia saat ini sedang mencoba melepas gaun bagian atasnya.
Karena desainnya menggunakan tali, maka mau tidak mau harus meminta seseorang untuk membantunya, baik itu memakainya maupun saat melepaskannya.
Dan yang menjadi pembantu untuk melepaskan ikatan tali yang ada pada pakaian dibagian punggung Alstrelia tidak lain adalah Alrescha sendiri.
“Jadi alasanmu tadi telat, apakah karena ini? Dan apakah Elbert yang membantu mengaitkan semua tali ini?” tanya Alrescha. Tatapannya tidak bisa di alihkan sedikitpun saat dia harus melepas satu persatu tali itu dengan benar, karena kalau tidak, yang ada tali itu kusut.
“Kalau iya? Kau mau apa? Jangan-jangan cemburu ya~” goda Alstrelia sambil menjeling ke samping kanan.
“Apa yang harus dicemburui?” Sekalipun, jawabannya terdengar tenang, sebenarnya teliganya sudah memerah
“..............” Alstrelia kembali menatap ke depan, sedangkan tangan kirinya terus menahan penutup dadanya itu. ‘Sebenarnya bukan hanya itu juga sih.’ enak hati Alstrelia.
___________________
Flashback on.
“Bert, kau kan bisa menggunakan tali sepatu, jadi bantu ikat ini.” perintah Alstrelia kepada Elbert sambil menunjukkan punggungnya sendiri di depan mata Elbert persis.
Elbert yang awalnya memejamkan matanya, perlahan membuka kelopak matanya.
Dan dia langsung disuguhkan punggung Alstrelia yang nampak putih itu.
“Oi, kenapa kau diam? Aku memberimu perintah.” tukas Alstrelia untuk menyadarkan Elbert yang bengong itu.
Gluk..
Elbert menelan ludahnya sendiri ketika harus dihadapi kenyataan dirinya harus melayani majikan palsunya itu dalam berbagai kondisi apapun, itulah tanggung jawabnya.
Dengan penuh kehati-hatian Elbert mulai mengambil ujung tali yang terlihat kecil itu. Setelah itu dengan perlahan Elbert memasukkan ujung tali ke setiap lubang yang ada.
‘Apa yang seperti ini juga termasuk pekerjaan dari seorang kesatria juga?’ Elbert merasa disini ada yang sangat salah.
Ya..
Setelah kedatangan majikan palsunya itu, semua yang mustahil harus di mustahilkan. Seperti saat ini, seorang kesatria malah sedang membantu majikannya berpakaian, yang seharusnya dilakukan oleh pelayan.
“Kenapa kau lama sekali?” tanya Alstrelia.
“.............!” merasa dikejar waktu dan sudah dituntut untuk cepat, Elbert mulai mempercepat gerakannya. Sampai tidak sengaja ujung jarinya sempat menyentuh kulit punggung Alstrelia.
Sekalipun, begitu dia tetap diam dan mencoba yang terbaik agar bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Tapi satu masalah lagi tiba-tiba muncul.
BRUAKKH…!
Kereta kuda yang mereka berdua naiki langsung berhenti dan oleng, membuat Elbert yang sedang duduk itu hampir terhuyung ke depan dan menimpa tubuh Alstrelia yang sedang duduk di depannya persis.
‘H-hampir saja!’ detik hati Elbert saat kedua tangannya dia gunakan untuk menumpukan tubuhnya sebelum tubuhnya menubruk tubuh mungil Alstrelia.
“Apa lagi ini?!” kata Alrstrelia pada sang kusir.
“M-maaf Nona, salah satu kuda kita tiba-tiba pingsan.” jawab kusir itu.
“Jam berapa sekarang?” Tanya Alstrelia kepada Elbert.
“Jam 7 kurang 15 menit.” sahut Elbert setelah mengeluarkan jam saku miliknya.
“JIka hanya menunggu, kita akan terlambat ke pesta.” kata Alstrelia. Dia bergegas turun dari kereta kuda dan melihat kondisi dari keempat kuda yang ada.
NGIKK….BERR…
Dari keempat kuda, satu sudah tumbang alias pingsan. Tidak tahu apa penyebabnya, tanpa pikir panjang lagi Alstrelia memberikan usulan kepada Elbert.
“Bert, daripada berdiam diri disini, kita berangkat naik kuda saja.” usul Alstrelia.
Elbert yang sedang membenahi tali yang ada pada gaun yang dipakai Alstrelia hanya mengangguk. Setelah selesai, Elbert melakukan pekerjaannya untuk melepaskan tali kekangan yang mengaitkan tubuh kuda pada kereta kuda.
“Kenapa satu?” tanya Alstrelia tidak sesuai dengan ekspetasinya.
__ADS_1
“Bukannya anda bilang akan naik kuda? Kalau begitu kita berangkat bersama.” jawab Elbert.
“Jika itu harapanmu agar kau bisa duduk dekat-dekat denganku, kau harus imajinasi liarmu itu.”
Orang yang berperan menjadi kusir kuda itu hanya termangu saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Alstrelia sedikit vulgar.
“Lepaskan satu lagi, aku akan naik sendiri.”
“Nona, itu berbahaya.”
“Bukannya yang lebih berbahaya itu adalah kau sendiri, Sir Elbert?” tukas Alstrelia, berhasil membuat mulut Elbert terbungkam detik itu juga. “BIarkan aku mengendarainya sendiri.” imbuhnya.
Tidak mau seperti orang yang membantah perintah dari majikannya, Elbert lagi-lagi menuruti kemauan keras dari Alstrelia.
Tidak memerlukan waktu yang lama, Elbert sudah melepaskan kedua kuda dari tali yang menjerat tubuh mereka ke kereta kuda yang pastinya berat.
“Ini pelana nya.” kusir itu memberikan pelana pada Elbert untuk di pasang ke tubuh kuda.
Setelah selesai, kedua kuda itu pun siap untuk di tunggangi.
Yang satu kuda hitam dan yang satunya adalah kuda berwarna coklat. Alstrelia langsung memilih kuda hitam sebagai tunggangannya untuk pergi ke Istana, dan Elber adalah sisanya.
“Nona, biar saya ban-” untuk kedua kalinya, soal membantu nona bangsawan naik dan turun dari kereta kuda maupun kuda, untuk kedua kalinya Elbert diabaikan secara mentah-mentah sebab Alstrelia sudah lebih dulu naik.
“Aku tidak punya uang untuk membayar mu, SIr Elbert.” celetuk Alstrelia memberikan cibiran kecil saat melihat tangan Elbert yang terlihat seperti sedang meminta sesuatu kepadanya.
‘Mulutnya memang tidak bisa di saring.’ batin Elbert, lalu dia buru-buru menurunkan tangan kanannya dan langsung berbalik pergi ke arah kudanya. ‘Aku pikir dia hanyalah perempuan yang sombong di mulutnya saja, ternyata dia bisa naik kuda semudah itu. Tapi dia pasti tidak bisa mengendarainya.’ Imbuhnya. Setelah itu dia naik ke atas kudanya sendiri.
Namun, apa yang dipikirkan oleh Elbert sesaat tadi hanyalah hasil dari pemikirannya sendiri, sebab..
“Hyah…..!” Alstrelia langsung menarik tali kuda itu agar bergerak lari.
Dan dalam beberapa detik itu, Elbert sudah ditinggal jauh oleh Alstrelia.
“Perempuan gila!” tanpa sadar mulutnya mengatakan sumpah serapah saat melihat Alstrelia langsung melesat cepat dengan kuda yang tidak pernah Alstrelia sentuh maupun naiki sebelum-sebelum ini.
Karena panik dan khawatir akan terjadi sesuatu pada majikan palsunya itu, Elbert langsung membuat kuda yang ditunggangi itu lari dalam kecepatan penuh.
“Hyah…..!” teriak Elbert, dan Elbert segera pergi menyusul Alstrelia yang ada di jauh di depan sana.
Drap...Drap….Drap…..
‘Ini kedua kalinya kau naik kuda. Tapi berkuda di malam hari ternyata lebih menegangkan dari yang aku kira. Ini lebih menyenangkan dari kali terakhir saat aku naik kuda untuk pertama kalinya.’ pikir Alstrelia.
Tapi lain hal dengan Elbert yang terus mengendarai kudanya dalam kecepatan penuh untuk menyusul Alstrelia yang sudah memimpin itu.
‘Dia bahkan sampai bisa berkuda secepat itu, aku yakin dia bukanlah perempuan biasa. Dari tingkahnya entah itu dalam berjalan, berbicara, dan cara berpikirnya itu, dia punya ruang lingkup lebih dari sekedar seorang bangsawan juga. Siapa dia? Ah~ Kenapa aku bisa-bisanya harus mengurus majikan palsu semerepotkan ini!’ racau Elbert.
Dia sangat frustasi sekaligus dalam suasana hati yang terus dipacu dalam ketegangan antara jati dirinya yang sebagai pria, sebagai kesatria, dan juga sebagai seorang wakil komandan Fisher, dia benar-benar sudah dikalahkan dalam berbagai hal yang terlihat sepele, tapi sebenarnya sangat berat.
Ya…
Elbert dikalahkan oleh seorang wanita?
Jati dirinya untuk berkata tidak.
“Hyah…!” Elbert semakin menaikkan kecepatannya lagi demi menyusul Alstrelia.
Wanita bergaun biru, rambut hitam panjang, dan mata biru yang tidak kalah memukau itu berhasil menghipnotis siapapun yang melihatnya. Apalagi jika melihat Alstrelia saat ini sedang berkuda dengan sangat profesional.
Siapapun akan melihatnya sebagai dewi perang.
“Heh~”
“..............!” Secara tidak sengaja Elbert melihat senyuman Devil itu kembali muncul. Itu adalah senyuman dari kesenangan yang dimiliki oleh Alstrelia.
Sampai tak terasa, jarak yang sedemikian jauh itu sudah termakan cukup banyak, sampai mereka berdua langsung menyerobot masuk gerbang utama dari ibu kota kekaisaran Regalia.
“Hei, siapa kal~” ucapannya langsung terpotong saat Elbert memperlihatkan lencana miliknya kepada kedua kesatria penjaga itu.
Setelah memperlihatkan lencana, Elbert kembali mengerahkan kudanya untuk menyusul kembali Alstrelia yang sudah menghilang?!
‘Dia belok ke arah mana?’ pikirnya. Tapi dengan kemampuan yang dimilikinya, Elbert mampu mendeteksi keberadaan dari Alstrelia saat ini. ‘Ternyata dia mengambil jalan pintas yang jarang dilewati orang.’
Karena sudah mengetahui posisi Alstrelia, Elbert mengambil jalan pintas lain dan tetap mencoba menyamai keberadaan dari posisi Alstrelia.
“Arghh! Copet!” salah satu orang perempuan berteriak histeris saat menyadari uangnya dicuri oleh seorang pencopet.
Elbert yang awalnya menghiraukan penjahat itu demi mengejar Alstrelia, lagi-lagi kembali dikejutkan.
__ADS_1
“Akhh!” suara teriakan itu datang lagi, setelah Elbert tiba-tiba melihat kuda yang ditunggangi oleh Alstrelia ternyata melompati seorang pria yang kini terjatuh terkapar ke jalan.
“Ini tasmu.” tutur Alstrelia setelah melempar sebuah tas ke arah seorang wanita yang tadi kehilangan tasnya gara-gara di curi oleh pria tadi.
Pria yang sudah terjatuh setelah mendapatkan tendangan telak dari kaki belakang kuda.
“T-terima kasih.” jawab wanita muda itu kepada Alstrelia.
Tidak memperdulikan rasa terima kasih itu, Alstrelia kembali menarik tali kudanya dan menyuruh kuda tersebut kembali berlari.
Klotak…Klotak….
Suara dari sepatu kaki kuda itu berhasil membuat mereka semua sadar untuk segera memberikannya jalan.
“Minggir, minggir.”
“Berikan nona itu jalan!”
“Semuanya minggir!”
Teriak beberapa orang, menyuruh semua orang yang berkumpul di tengah jalan untuk segera minggir dan memberikan Alstrelia yang terlihat sedang terburu-buru itu jalan bebas hambatan.
“Nona!” panggil Elbert agar Alstrelia menurunkan kecepatan berkudanya, karena mereka berdua saat ini sedang berada di tengah kerumunan orang-orang yang berkumpul untuk merayakan pesta juga.
Tanpa sepatah kata dari mereka semua, Elbert pun diberikan jalan juga.
*
*
*
Tepat di pintu gerbang istana.
“Berhenti,” salah satu kesatria penjaga itu akhirnya adalah orang yang berhasil membuat Alstrelia memberhentikan kudanya.
“Kenapa kau menghentikanku?” tanya Alstrelia dengan pandangan seperti seseorang yang sedang berbicara pada anak buahnya sendiri.
“I-itu, anda harus masuk dengan pasangan anda.” jawab kesatria ini dengan wajah gugup karena dia merasa terpesona dengan Alstrelia yang sedang menunggangi kuda layaknya seorang pemimpin. ‘Dia Putri Alstrelia kan? Kenapa putri bisa berangkat menggunakan kuda? Meskipun, begitu Putri terlihat lebih cantik ketimbang sebelumnya. Apakah mataku rabun ya?’ pikir kesatria ini.
“Kenapa juga harus membuat aturan menjengkelkan seperti itu?” gerutu Alstrelia, dimana dia akhirnya menemukan Elbert sudah berhasil menyusulnya.
Yah..
Jika bukan karena kesatria penjaga ini, Alstrelia sudah pasti masuk lebih dulu.
Tapi karena perintah Elbert yang diperintahkan dari jarak jauh tadi, semuanya jadi sia-sia.
Alstrelia tidak mendapatkan kemenangan eksklusifnya gara-gara Elbert juga.
Tok..Tak...Tok...Tak….
Elbert sudah berada di sampingnya persis, dan di saat itu pula mereka berdua akhirnya diizinkan masuk.
“Selamat datang, Putri dan wakil komandan Elbert.” kata kesatria ini kepada mereka berdua, setelah memberiknanya akses.
“Nona, kenapa anda bis-”
“Bert, lain kali kita tanding.” sela Alstrelia, berhasil memotong ucapannya Elbert. “Dan ini adalah perintah dariku.” imbuhnya.
Dari hatinya yang terdalam, Elbert terpaksa mengiyakannya. “Baik Nona.”
Dia lakukan itu karena ada beberapa orang yang sedang melihat ke arah mereka berdua.
_____________________
Flashback Off.
“Malam ini sangat menyenangkan.” tutur Alstrelia secara tiba-tiba.
Alrescha sesaat menghentikan kedua tangannya daripada melepas tali-tali yag mengikat kedua sisi dari gaun yang dipakai oleh Alstrelia.
Dia menghentikannya karena dia baru menyadarinya, bahwa Alstrelia memakai sebuah kalung dengan bandul kristal berwarna biru.
“Kenapa kau bisa memakai kalung itu?” tanya Alrescha, sukses menarik perhatian Alstrelia untuk berbalik dan menatap balik Alrescha.
Tidak seperti sebelumnya, Alrescha yang ada di hadapannya kini sedang memberikannya tatapan paling dingin yang pernah ada, seolah itu adala kemarahannya.
Kemarahan yang terpancar lewat aura hitam juga dingin.
“.................” Alstrelia sedikit mengkhawatirkan ekspres kejam Alrescha yang akhirnya muncul juga.
__ADS_1