
"Jadi kau be-" Apa yang hendak Alstrelia ucapkan langsung dia telan kembali setelah adanya satu tangan yang tiba-tiba saja menutupi sepasang matanya.
Tidak hanya Alstrelia saja, tapi juga Alrescha.
"Berhenti menatapnya, ya?" Pinta Elda kepada majikannya itu.
"Tuan terpengaruh dengan batu itu, jadi sebaiknya anda jangan lagi menatapnya." Sambung Elbert, menjelaskan alasannya bersikap tidak sopan kepada majikannya, sebab agar Alrescha ini tidak lagi dalam pengaruh batu yang Alrescha pegang itu.
'Pantas saja, dari tadi aku merasa aneh, kenapa aku mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan.' Batin Alrescha.
'Begitu ya, aku rupanya terpengaruh dengan batu itu.' Alstrelia memegang tangan milik Elda yang menghalangi pandangannya itu.
"Kalau begitu, apakan koman masih ada keperluan di sini?" Tanya Elda.
"Tidak, semuanya sudah beres. Gunakan kemampuanmu agar kita keluar dari sini." Perintah Alstrelia.
"Baik. Elbert, pegang tanganku." Elda melirik ke arah Elbert dan mengulurkan tangannya kearah Elbert, kalau mereka berempat akan melakukan perpindahan tempat dengan menggunakan Gate.
"Apa aku harus merasakan sentakan detak jantungku lagi?" Tanya Elbert, mengingat saat berangkat tadi, Elda juga menggunakan kemampuan itu, dan membuat jantung miliknya terasa seperti berhenti, dan itu cukup menyesakkan.
"Tenang saja, masalah seperti ini biar aku saja yang urus. Karena yang tadi itu, aku ingin memberimu pengalaman dariku, saat menggunakan kekuatanku, yaitu Gate." Jawab Elda, menggunakan telepatinya.
"Jadi aku barusan di permainkan, ya?"
"Hahaha, jangan marah. Hanya segitu tidak akan berdampak apapun kepada tubuhmu. Buktinya saja aku, aku sudah lama menggunakan kekuatan ini, dan tidak ada efek samping apapun." Elda dan Elbert pun memejamkan matanya.
Dan dalam sekejap mata, kemampuan yang di miliki Elda, langsung aktif saat itu juga, membawa mereka berempat naik ke permukaan.
___________________
Di dalam kastil.
"Bagaimana? Semua keputusan berada di tanganmu, karena semuanya tergantung dari tekadmu. Apakah kau akan terus bersembunyi, atau akan keluar dan menghadapi musuh yang sangat menginginkanmu itu." Kata Eldania.
__ADS_1
Alstrelia pun bingung dengan dua pilihan itu, antara bersembunyi atau menghadapi musuh.
Kwakk....
Burung Elang itu langsung terbang dan mengambil kepala burung hantu putih yang sudah berlumuran darah dan menggenangi lantai marmer itu dan membawanya terbang pergi bersamanya, meninggalkan kedua perempuan di dalam kamar, memberikan waktu untuk satu orang manusia yang sedang di landa kebingungan, sebab di berikan pilihan yang memang untuk Alstrelia sendiri, di rasa sangat sulit.
Alstrelia adiknya Alrescha yang asli, sama sekali tidak memiliki kemampuan bertarung, maka dari itu, perempuan tersebut sangat kesulitan jika ia memilih untuk menghadapi musuhnya langsung.
Musuh yang benar-benar menginginkan kekuatan milik Alstrelia yang bisa melihat masa depan.
WUSSHH....
Setiap kepakan dari sepasang sayapnya, membuat tubuhnya langsung terbang, dan membawanya pergi ke satu tujuan, yaitu ke dalam gua, sebuah kolam besar berisi air panas yang biasa di gunakan untuk mandi Julius serta Alstrelia itu.
Setelah sampai di tepi kolam, burung Elang ini langsung melempar kepala burung hantu itu dengan cukup kasar,
BRUKK....
Sampai kepala burung hantu itu menggelinding dan berhenti tepat di tengah lantai yang memiliki pola sebuah lingkaran sihir.
Dan kepala burung hantu itu langsung meledak, memuncratkan darah berwarna merah segar ke segala arah.
Tapi karena ada dinding penghalang, maka darah yang sempat muncrat itu tidak sampai keluar dari garis lingkaran sihir itu.
"Everst, ada apa?" Eldania yang berlari mengikuti arah dari burung peliharaan nya pergi, berhenti tepat di samping Everst yang masih berdiri dengan sorotan mata yang cukup tajam.
Eldania menurunkan tubuh Alstrelia yang sempat dia gendong ala bridal itu, dan sama-sama melihat apa yang sedang terjadi dengan lingkaran sihir yang sudah menyala itu.
"Itu, jangan-jangan-" Kalimatnya Alstrelia seketika langsung menggantung saat Alstrelia melihat darah yang tadi menodai lantai, tiba-tiba berkumpul kembali dan membentuk seekor burung hantu yang terbuat dari genangan darah yang berkumpul itu.
"Eh~ Untung saja aku tidak jadi memasak kepala itu untuk jadi sup rebus owl." Ucap Eldania dengan serta merta.
"Itu Sihir Jiglen," Lirih Alstrelia.
__ADS_1
Sihir Jiglen adalah sihir perubah wujud. Sihir kendali jarak jauh, yang mampu merubah wujud objek yang di kendalinya itu sesuka hati, sekaligus sihir pengirim pesan.
"Apa kabar kalian semua~ Kelihatannya aku rencanaku sudah ketahuan." Burung hantu kecil yang mampu terbang, tapi tidak bisa pergi kemanapun, sebab ada dinding penghalang itu tiba-tiba berbicara.
Suaranya sungguh berasal dari laki-laki.
"Kau beruntung Alstrelia, banyak pria yang menyukaimu." Tiba-tiba Eldania memuji keperuntungan Alstrelia yang banyak di di hampiri banyak laki-laki. Sampai musuh sendiri juga laki-laki.
Alstrelia hanya mengigit bibir bagian bawahnya, sebab dia tahu banyak pria yang menyukainya karena kekuasaan yang dia miliki sebagai keluarga Fisher, serta kecantikan yang di milikinya.
Siapa yang tidak tergiur dengan semua itu?
Maka dari itu, dirinya pun lebih memilih untuk diam di dalam mansion nya saja, karena merasa semua yang ada di luar mansion itu tidak ada artinya.
Salah satunya demi melindungi dirinya sendiri, karena dirinya juga punya kekuatan yang cukup merepotkan.
"Ya, kau sudah ketahuan bodoh. Aku mana mungkin tidak tahu siapa kau. Agres, kau masih belum kapok ya kena bogem mentah dariku?" Eldania pula yang berbicara.
"Walah-walah, apa kau disitu karena kau di sewa oleh Alstrelia agar melindunginya?" Tanya Agres, dengan menggunakan Bluteule sebagai perantara untuk mereka berdua bicara, yaitu burung hantu darah atau Bluteule.
"Tidak, ini adalah keinginanku sendiri karena sayang, ada wanita cantik seperti dia, tidak ada yang melindunginya. Jadi aku sengaja mengajukan diri deh." Jawab Eldania dengan begitu santainya.
"A-apa? Jadi itu alasannya beberapa hari ini kau ada di sini?" Tanya Alstrelia, dia baru memahaminya.
Eldania melirik ke arah Alstrelia yang sudah tersipu itu.
"Ah~ Kau semakin menggemaskan, dengan rona wajahmu yang memerah, aku jadi semakin menginginkanmu." Ucap Agres.
"Lakukan saja kalau bisa mendapatkannya." Tantang Eldania.
Dan tentu saja Alstrelia langsung terkejut dengan tantangan dari Eldania kepada Agres itu, suara pria yang keluar dari mulut burung hantu darah itu.
"Eldania, kenapa malah menantang dia." Cemas Alstrelia seraya memeluk tangan Eldania, karena dia sendiri merasa takut.
__ADS_1
"Jika tidak seperti itu, masalahnya tidak akan selesai-selesai. Dan apa kau yakin, mau disini terus, berpisah dengan si Es itu?" Yang dia maksud dengan julukan Es itu adalah Alrescha.