
"Kau mendengarnya?" Tanya Alstrelia kepada Alrescha.
"Jadi kau mendengarnya juga?"
"Hmm...dia menyuruh kita menjaga diri? Aku itu memang sudah pintar menjaga diri, tapi kau?" Lirik Alstrelia, dengan sebuah kalimat sindiran.
".............." Alrescha yang malas melayani semua mulut Alstrelia pedas itu, melepaskan tangannya dari pinggang Alstrelia. "Kita hentikan mereka." Hanya itu yang bisa Alrescha ucapkan, sebab dia ingin segera menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat.
Alrescha melompat turun dari Gimmick itu dan mendarat dengan sempurna.
"Apakah maksudmu menghentikan mereka yang sedang bercinta?" Cibir Alstrelia tehadap Alrescha yang terlihat seperti sudah bersiap untuk menghadapi kenyataan yang ada berdasarkan apa yang mereka berdua lihat dengan kemampuan mereka.
"Bukan bercinta, tapi menghentikan kekacauan tempat ini, gara-gara kaisar yang kurang berguna itu." Sindir Alrescha terhadap Chavire dengan senyuman licik penuh kegelapan. 'Padahal aku sudah mendukungnya, sampai diperalat olehnya. Tapi jika kinerjamu sebagai Kaisar saja tidak becus seperti ini, lebih baik mati saja sana.' Pikir Alrescha, mengutuk Chavire.
'Dia sebenarnya kesal dengan tunangannya atau pada Kaisar nya sendiri?' Benak hati Alstrelia. 'Tapi ini menarik, dia akhirnya bisa punya ekspresi seperti itu.'
Sebelum batu-batu kristal itu kembali tumbuh, Alrescha dan Alstrelia segera pergi dari sana.
Jika Alrescha pergi dengan cara berlari, maka Alstrelia justru hanya duduk di atas Gimmick miliknya dan terbnag bebas mengikuti Alrescha dari atas.
Demi mendapatkan kelancaran untuk mencapai tujuan, mereka berdua mengerahkan kemampuan milik mereka untuk menghalau segala batu besar yang menghalangi mereka berdua.
Alrescha mengayunkan pedangnya untuk memotong batu penghaang itu, selagi itu pula pikirannya melayang jauh. 'Arsela. Pada dasarnya aku memang tidak begitu mencintainya. Tapi aku hanya berusaha menghargai dia karena mau bersamaku. Tapi karena dia sudah memilih jalan ini untuk mengkhinatiku, kau harus menerima imbalanya nanti.
Mungkin saja ini karma juga untukku, karena aku kurang perhatian kepada adikku secara langsung. Tapi setelah semua ini sudah berakhir, aku akan mencari adikku sampai ketemu. Aku akan merubah sudut pandangnya kalau aku tidak pernah sekalipun membencinya. Justru yang ada, aku sangat menyayanginya. Alstrelia...kau pikir aku kakak yang seperti apa? Kau satu-satunya keluargaku yang tersisa.' Pikir Alrescha.
CKRAK...
DHUARR..
"..............." Alstrelia yang ada di udara, memandang keseriusan Alrescha dalam membuka jalan untuk mereka berdua. 'Dia sangat kesal, tapi juga menyesal.' Benak hati Alstrelia. 'Hah...apa-apaan itu? Dia kesal karena dikhianati? Tapi menyesal karena apa yang terjadi pada adiknya.' Imbuhnya. "Tembak." Lirih Alstrelia, untuk menembak batu yang menghalangi jalannya.
PHIUUU....
__ADS_1
KKRAK...
Semua batu yang muncul di area dinding, segera runtuh.
Alrescha pun segera menghindari reruntuhan itu dengan gerakan yang cukup gesit.
********
Di dalam satu tempat yang digunakan sebagai pergulatan panas.
Suara erangan bercampur dengan d*s*ha*n nikmat itu memenuhi ruangan tersebut. Pekerjaan panas menghasilkan kemenangan yang hanya dicapai oleh dua orang, masih saja berlangsung.
"Ah..." Arsela menunduk dengan peluh yang sudah membanjiri tubuh dengan kulit putihnya yang mulus itu.
Gaun mewahnya yang awalnya terpakai dengan cukup baik, kini sudah berantakan, sampai kedua buah dadanya yang mulanya tersimpan di dalam pakaiannya, sudah keluar dari tempatnya, menggantung dan terus berayun dengan cukup bebas.
Setiap suara lenguhan yang keluar dari mulut Arsela menciptakan pertumbuhan baik kepada seluruh batu kristal di sekitarnya, dimana mereka berdua saat ini sudah dikepung dengan kemewahan dan keindahan dari kristal berwarna ungu itu.
"Ah...Charles..ini-" Kalimatnya terpotong dan justru tergantikan dengan ds*ha*n yang kembali keluar dari mulutnya. "Ngh.."
"Hah..iya." Jawabnya dengan wajah lelah. 'Ini memang salah, tapi ini angat menyenangkan. Kenapa aku jadi terhanut oleh kesenangan seperti ini?'
Walaupun pikirannya terus bertaya-tanya kenapa dia melakukannya dengan tubuh sang Kaisar, meskipun di dalamnya ada jiwa milik Charles, tapi Arsela tetap berpikir dia merasa tidak mau mempermasalahkannya lagi.
Suara benturan daging yang saling bertemu dan terasa enak untuk dimakan, itu terus menyeruak keluar memberikan kesenangan yang tidak ada habisnya.
Charles pun menikmatinya, sensasi menyenangkan bisa mendapatkan tubuh Arsela seutuhnya, dan berhasil merenggut harta berharganya dengan cukup mudah.
'Ah..ah...dia memang Charles.' Deru nafasnya sudah tak karuan, disaat Charles memberikannya pertemuan yang sangat erat juga keras di dalamnya. 'Aku melihatnya...ya. Masa lalunya, dia adalah putra mahkota dari kerajaan yang sudah hancur, yaitu Charles De Harvon. Dia sampai melakukan rencana besar ini demi membalaskan dendamnya karena ayah Kaisar Chavire adalah orang yang menghancurkan kerajaan milik Charles. Ah....jadi begitu, alasan kenapa dia mengatakan kalau aku menyia-nyiakan tunangannya sendiri. Karena dia adalah putra mahkota dari kerajaan Argasel. '
Sakit sekaligus menyenangkan adalah perasaan yang cukup selaras dari olahraga yang sedang mereka berdua lakukan.
"Kau yang seperti ini semakin cantik, Arsela."
__ADS_1
"Aku bosan, jangan mengatakan aku cantik terus." Cetus Arsela.
"Kalau begitu, kau wanita yang cukup menggoda. Siapapun yang melihat penampilanmu ini, mereka pasti langsung merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan ini." Tutur Charles, masih melakukan perbuatannya.
PRANK...
Saking besar dan sudah melewati langit-langit kamar itu, kaca yang terpasang di bagian atap pun sudah pecah berhamburan menghujani mereka berdua?
Tidak sama sekali, sebab ada sihir pelindung di atas mereka persis, jadi serpihan kaca itu tidak melukai tubuh mereka yang sedang sedang sibuk itu.
"Lihat, tidak akan ada yang mengganggu kita. Sedangkan mereka yang memang akan mengganggu kita berdua, mereka akan dihadapi oleh mereka." Ujar Charles, agar Arsela tidak perlu memikirkan apapun selain mendes*ah.
Charles yang melihat buah dada Arsela menganggur, kedua tangannya segera menggapai gumpalan empuk it dan memainkannya.
Yang dimana, hal itu memberikan sensasi yang lebih mujarab kepada tubuh Arsela untuk bereaksi lebih dari biasanya. Selagi otu pula, Charles melakukan semua pekerjaannya sebagai pria dengan cukup baik, sampai Arsela dibuat merasakan kesenangan paling dalam, dimana Charles pun mulai merasakan juga, dan hingga di ujung puncak kemenangan.
Sampai di satu titik, akhirnya cairan dari hasil pergulatan mereka berdua merembes keluar layaknya air terjun. Membasahi lantai marmer yang awalnya menggenang, kini bergerak menuju batu kristal itu.
Charles pun semakin mempercepatnya, dan berakhir dengan memeluknya, hingga piala itu di dapatkan oleh mereka berdua untuk sama-sama mengerang dalam sebuah teriakan.
"Ahhh...!"
************
ZRRTT _^v--^v-------
Alrescha, Alstrelia, Vera, Chavire, Elbert, Lena, Edward Arsene, Lonel, serta semua kesatria yang sedang bertarung dan melakukan pekerjaannya masing-masing, segera mengentikan pergerakan mereka semua setelah merasakan hal berbahaya tiba-tiba muncul.
Semua orang mengalihkan padangan mereka semua untuk melihat kearah Istana, dimana batu kristal besar yang sudah menghancurkan sebagaian besar bangunan Istana, tiba-tiba seperti lampu suis yang tiba-tiba hidup lalu mati.
"Apa ini?"
"Akan ada sesuatu besar yang datang."
__ADS_1
"............."
Tidak ada diantara mereka yang bisa mengalihkan pandangan matanya untuk tidak menangkap fenomena yang sedang terjadi di atas langit dari Ibu kota Kekaisaran.