
Alstrelia yang masih mengepalkan tangan kanannya, tiba-tiba saja langsung di lepaskan.
Sehingga dinding pelindung yang dari tadi Alstrelia tahan itu jadi kembali normal, karena hanya mengandalkan dari sistem Gimmick miliknya.
Maka dari itu, perlahan dinding sihir yang melindungi mereka berdua pun terbakar.
"Sudahlah. Daripada kau membantuku, lebih baik urus langsung saja Tregon itu." Menepis cengkraman tangan Alrescha dari bahunya, Alstrelia langsung membalikkan tubuh Alrescha agar kembali menghadap ke depan, bahwa sasaran dari Alrescha itu ada di depan sana, dan lebih baik untuk segera mengalahkannya.
Sebelum dinding sihir yang di buat oleh Gimmick itu terbakar sepenuhnya, maka Alstrelia pun membisikkan sesuatu di telinganya Alrescha.
"Katamu tadi ingin kekuatanku? Aku tidak bisa memindahkan kekuatan milikku sendiri, tapi aku memang bisa menyalurkan kekuatanku.
Jadi lakukan apa yang sempat kau rencanakan tadi." Imbuh Alstrelia.
Alrescha yang akhirnya mendengar tawaran tadi diterima oleh Alstrelia akhirnya hanya meilrik ke arah samping kiri, melihat wajah cantik milik perempuan di sebelahnya itu memang benar-benar cukup dekat.
Setelah puas mendengar jawaban serta menatap wajah Alstrelia yang ini, Alrescha pun kembali menatap ke arah depan.
‘Alstrelia, aku akan menghadiahkan ini untukmu.’ Batin Alrescha.
Demi mendapatkan apa yang di mau, Alrescha pun akan mengalahkan Tregon itu dan mendapatkan batu Savar sebagai hadiah yang akan Alresha berikan saat ulang tahun Alstrelia, adiknya yang asli.
Keinginannya memang itu, tapi yang harus di lakukan, tentu saja untuk segera menemukan adiknya terlebih dahulu.
Dan saat ini, Alrescha pun harus menghadapi Tregon.
Tregon itu, terus menyemburkan apinya, sekaligus menguasai ruang bawah tanah itu dengan sengatan panas layaknya sebuah oven?
Tentu saja Oven.
Mereka secara tidak langsung baru saja menggali lubang kuburannya sendiri dan akan membuat tubuh mereka berdua menjadi daging bakar.
__ADS_1
"Kalau begitu lakukan.” Perintah Alrescha kepada Alsttrelia, agar perempuan itu menyalurkan mana sihir miliknya kepada ke Alrescha.
"Aku tagih bagianku besok. Kau mengerti?" Kata Alstrelia, memperingatkan.
“Aku tahu.”
Dengan begitu, Alstrelia pun akhirnya mau menyalurkan mana sihir miliknya ke Alrescha.
‘Perasaan ini-’ Dan Alrescha langsung merasakan adanya sesuatu yang datang kedalam tubuhnya, yang mana tubuhnya seketika jadi terasa ringan. Rasa panas bercampur dingin yang sangat berkontradiksi itu perlahan memudar dengan rasa yang lebih samar, sehingga Alrescha tidak begitu merasakan tulang yang seperti akan hancur, karena kekuatan miliknya bercampur dengan panas yang menggelora ini.
Alstrelia memejamkan matanya, mengulurkan tangannya ke depan. Tanpa sebuah sentuhan sama sekali, Alstrelia pun sedang melakukan transmisi mana sihir miliknya.
Lalu dinding pelindung yang awalnya ada untuk melindungi mereka berdua, terbakar sudah dan menyisakan Gimmick milik Alstrelia yang kemudian terbang ke di atas mereka berdua.
GROARRHH….
Semburan api itu datang menghancurkan dinding pelindung berlapis yang sempat Alrescha buat di depan mereka berdua untuk mengulur waktu sebelum akhirnya Alrescha mengeluarkan sihir tingkat tinggi.
Lingkaran sihir raksasa muncul tepat di bawah kaki Tregon. Lalu keberadaan dari burung Es itu juga tiba-tiba muncul dari bawah lantai, mengulurkan kedua sayapnya yang begitu besar itu untuk membungkus Tregon itu.
Tidak hanya dari bawah saja, karena serangan dari Alrescha pun juga dari atas, dan itu adalah kombinasi dari lingkran sihir asli milik Alstrelia, yang mana serangan dari atas Tregon itu adalah burung besar yang terbuat dari api biru, sehingga setiap tubuh yang ada pada burung tersebut, berkobarlah api berwarna biru.
Kedua burung itu pun merentangkan kedua sayapnya, meraih tubuh Tregon, dan membungkus makhluk itu dengan sepasang sayap raksasa milik mereka.
Perpaduan dua kekuatan itu pun membuat Tregon mendapatkan serangan yanng cukup menyakitkan tubuhnya. Ketika tubuhnya awalnya memiliki Resisten terhadap serangan api miliknya sendiri, juga punya kekebalan terhadap balok Es yang sempat menyelimuti tubuh Tregon tadi, maka tidak dengan serangan kedua milik Alrescha ini.
Karena yang kedua ini, dia mengkombinasikan kekuatannya bersama dengan Alstrelia.
GROARRHH….!
Makhluk yang tidak bisa bicara namun hanya bisa berteriak mengerang kesakitan, sambil mencoba berusaha untuk lepas dari jeratan dari dua makhluk yang di lepas oleh Alrescha itu, membuat ruang bawah tanah itu bergetar hebat, membuat batu-batu di langit-langit akhirnya berjatuhan.
__ADS_1
KWAKK..
Kedua burung itu pun saling mengeratkan balutan dari sayap mereka untuk mengurung Tregon itu agar tidak lepas dari kekangan sayap milik mereka berdua.
Dua burung dari dua kekuatan itu pun terus semakin mengeratkan kedua sayapnya, sampai api yang tadinya terus menyembur dari mulut Tregon, langsung berhenti setelah mulut Tregon itu tertutup oleh salah satu sayap mereka, dan membuat seluruh area dari tempat mereka bertarung langsung berubah menjadi beku.
WUSHH…..
Lingkungan di sekitar Alstrelia dan Alrescha pun berubah menjadi beku dan bercampur dengan api kecil berwarna biru menyelimuti di seluruh lantai serta dinding juga langit-langit dari ruang bawah tangah itu.
Sehingga batu yang hendak menimpa mereka langsung hangus dan menghilang, tapi ada juga yang langsung terhenti di udara akibat bebatuan itu membeku menyatu dengan langit-langit.
ARGGHH…!
Dan di saat itulah, erangan dari teriakan rasa protes dari Tregon itu berhenti setelah seluruh tubuhnya benar-benar membeku karena burung raksasa dari Galshad itu.
Setelah Tregon itu berhasil membeku, maka serangan selanjutnya adalah burung yang terbuat dari api biru tersebut. Burung yang berasal dari pembagian mana sihir milik Alstrelia kepadanya, membuat tubuh dari burung itu sepenuhnya menjadi api berwara biru yang langsung menyembur menyelimuti seluruh tubuh Tregon yang beku itu.
Dan api tersebut langsung menghanguskan seluruh bagian tubuh Tregon.
BUGH….
Batu seukuran bola basket berwarna biru bercampur dengan warna merah menggelinding dan berhenti tepat di depan sepasang kaki Alrescha.
Melihat batu berukuran besar itu sudah ada di depan matanya, Alrescha pun menghela nafas kasar. “Hahh~ Akhirnya kita bisa mengalahkannya. Berkat bantuanmu, aku bisa mendapatkan batu savar ini.”
BRUK…
Namun dua cengkraman tangan dari seseorang yang ada di belakangnya persis langsung Alrescha dapatkan setelah mengetahui kalau Alstrelia sedang menopang tubuhnya di bahunya itu.
“Jadi itu, batu yang kau incar? Kau mau buat apa? Sepatu kaca? perhiasan? Atau apa? Patung? Apakah aku boleh minta sedikit?” Deretan pertanyaan dari Alstrelia membuat Alrescha terdiam, karena dia jadi merasakan aroma keringat milik Alstrelia yang segera menyeruak masuk kedalam indera penciumannya.
__ADS_1