
'Jatuh cinta? Tanggung jawab?' Dua pertanyaan yang tiba-tiba di dengarnya itu membuat mata yang mulanya terpejam itu tiba-tiba saja terbuka dengan perlahan.
Selang oksigen yang menempel menutupi mulut dan hidungnya itu menjadi alat bantu miliknya, karena sekarang tubuhnya sedang berada di dalam tabung besar berisi air.
Sepasang matanya pun melihat apa yang hanya bisa dia lihat di balik kaca tebal yang mengurung tubuhnya itu.
PIP....PIP....PIP.......
"Bagaimana kondisi tubuhnya sekarang?" Tanya seorang wanita berambut pirang ini kepada salah satu karyawannya yang sedang duduk di depan sebuah komputer.
"Tidak seperti sebelumnya, ini jauh lebih normal." Sahut laki-laki berjubah putih ini kepada wanita tersebut.
"Hahh~ Untung saja. Jika dia mengamuk dengan kondisi itu lagi tanpa bisa di kendalikan, lab kita pasti sudah hancur total." Keluh wanita berambut pirang ini sambil duduk dan menghela nafas dengan panjang.
Iris matanya yang berwarna hijau zamrud itu menangkap seorang laki-laki remaja dengan penampilan telanjang itu, kini sedang di kurung di dalam tabung besar berisi cairan khusus.
Tubuh yang terlihat terkulai lemas itu berada di dalam air dan berdiri menghadap kearah mereka.
"Sebenarnya kapan dia akan sadar? Ini sudah lebih dari lima tahun, dan anak ini terus ada di dalam tangki. Apa Yang mulia Raja sudah gila ya, beliau sampai membuat anak ini jadi kelinci percobaan kita." Gerutu wanita ini.
Sebagai kepala tim dalam divisi perencanaan sekaligus penelitian, mereka yang bekerja di dalam lab miliknya, pekerjaannya hanyalah satu, karena objek yang harus mereka semua teliti tentu saja hanya satu orang, dan itu adalah laki-laki yang ada di dalam sana.
Dan wanita hanya memandangi laki-laki itu dari kursi kebesarannya dengan tatapan malas, karena dia sudah bekerja dengan objek yang sama selama lima tahun ini, jadi ada rasa jenuh.
Hingga kejenuhan itu menghilang setelah ada seseorang yang baru saja datang.
__ADS_1
"Apa kau baru saja sedang mengumpat Raja mu sendiri di belakangku?” Lalu suara yang langsung menggemparkan semua di lab itu tidak lain adalah Alvaron. “Yursia?”
“Y-yang mulia!” Wanita ini segera beranjak dari singgasananya untuk berdiri dan membungkuk menghormati kedatangan dari pemimpin kerajaan mereka, Alvaron. “K-kenapa anda tiba-tiba datang? Biasanya juga setengah bulan sekali.”
Alvaron melirik ke arah wanita itu dengan singkat sebelum dia kembali memberikan satu perhatian penuh pada seorang pemuda yang dirawat di dalam tabung tersebut.
“Apa kau baru saja bertanya karena cemas aku baru saja mengganggu waktu santaimu ya?” Tanya balik Alvaron.
Dan ucapannya sungguh tepat sasaran. Yursia sungguh tidak tahu harus berkata apa karena bingung mau membuat dalih apa lagi untuk menyangkal ucapan dari Alvaron ini.
“B-bukan begitu maksud saya, ta-”
“Aku tidak membutuhkan alasan. Lanjutkan saja waktu santaimu itu, aku hanya mampir untuk melihat anak ini saja, bukan mau mengomelimu, karena aku tidak mau membuang waktu untuk memberikan ceramah lagi.” Papar Alvaron.
Setelah hilangnya Putri Alstrelia, suasana hati dari Alvaron ini selalu berubah drastis. Bahkan perubahan hati serta ekspresi wajahnya pun lebih cepat ketimbang membalikkan halaman dari sebuah buku.
Itulah yang menjadi alasan tidak ada seorang pun yang mau mengajukan pertanyaan lebih lanjut ataupun lagi-lagi membuat alasan lain, karena tidak mau terkena hukuman.
‘Dia sudah separuh sadar ya?’ Mata Alvaron mengernyit saat dia melihat anak muda yang ada di dalam tangki itu matanya separuh terbuka.
‘ … ‘ Laki-laki yang ada di dalam tangki ini hanya bisa diam dan memperhatikan laki-laki yang sedang berdiri di depannya persis itu.
TOK…TOK….TOK…
Alvaron tiba-tiba mengetuk kaca tebal itu dengan menggunakan jari telunjuknya.
__ADS_1
Respon yang bisa di berikan oleh pemuda itu hanyalah kedipan mata yang berakhir dengan kembali tidak sadarkan diri.
‘Ah~’ mulut Alvaron setengah terbuka, ketika dia menyadari alasan kenapa pemuda yang ada di dalam tangki itu sempat sadar untuk beberapa waktu. ‘Jadi dia sempat merasakan dan mendengarnya ya? Berarti tidak lama lagi anak ini bisa keluar. Aku akan menunggumu, jadi cepat sadar, jangan sampai Alstrelia melupakanmu.’ Pikir Alvaron. Pesan singkat dari benak hatinya yang terdalam Alvaron kepada laki-laki yang ada di dalam sana.
Laki-laki muda berambut putih perak itu pun kembali tertidur, dan masuk ke dalam mimpi panjangnya lagi.
'Alstrelia? Alstrelia? Siapa Alstrelia? Apakah perempuan itu? Yang sempat aku selamatkan? Tapi kenapa hanya mereka saja yang selalu datang? Dimana perempuan itu? Aku sangat ingin sekali melihat wajahnya.' Pikir pemuda ini, dan kesadarannya pun akhirnya menghilang lagi, membawanya masuk kedalam mimpi yang cukup panjang, karena dirinya sendiri masih belum bisa mengontrol kesadarannya sendiri, maka dari itu selama ini ia selalu tertidur.
_________________
"Jika kau jadi jatuh cinta kepadaku, maka aku hanya tinggal membalasnya." Jawab Alrescha.
Alstrelia terdiam, di balik dirinya sedang di permainkan oleh laki-laki ini karena sekarang kedua bibir merkea berdua saling menempel, dia sedang berpikir, apa yang bisa dia lakukan untuk menganti metode milik Alrescha ini?
"Kau memang benar-benar si pecuri. Jika Ayahku tahu, aku yakin kepalamu sudah terpisah dengan tubuhmu lalu dilempar ke dalam kandang Anconda sebagai makanannya." Ancam Alstrelia.
"Jadi rupanya kau masih punya Ayah?"
"Jangan mengulur waktu dengan pertanyaan tidak bergunamu itu. Kali ini akan jadi izin terakhirmu, jika ada lagi, aku tidak akan sega memenggal kepalamu dan membawanya ke depan Ayahku. Aku sudah tidak punya toleransi lagi kepadamu, apa kau mengerti?" Sekalipun saat ini dirinya sedang mendapatkan tempelan bibir dengan Alrescha, bertukar kelembutan serta air liur, dia sama sekali tidak berniat untuk menikmati ciuman itu.
Dia hanya mencoba melihat pria rendahan yang sedang merangkak ini tidak lain sekedar pengisi peran dari novel, jadi dia pun tidak memiliki perasaan apapun?
Sayangnya hanya dengan memikirkan itu saja, Alstrelia merasa kalau ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam hatinya.
'Sialan, ini tidak boleh terjadi. Dia hanyalah salah satu tokoh yang berperan untuk mengisi perannya di novel yang Ayah buat ini. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan.' Hanya saja, karena lamanya Alrescha dalam melakukan ciuman itu, membuat Alstrelia yang sudah merasa akan kehabisan nafas, segera mendorong kasar Alrescha saat itu juga.
__ADS_1