
KLEK.
Setelah kepergian dari pelayan itu, Alrescha kembali menghampiri Alstrelia yang terus diam dan berdiri memunggunginya.
Tapi suara cekikikan itu terdengar dengan cukup lirih.
“Hihihihi….” Alstrelia benar-benar menahan tawanya sendiri setelah melakukan sedikit drama kecil.
“Ternyata kau pandai berakting.” Semua rasa simpati yang dimiliki oleh Alrescha langsung sirna begitu saja saat sudah melihat dibalik drama tadi diakhiri kemenangan yang dimenangkan oleh Alstrelia, si adik pengganti.
“Hmph….” Alstrelia memutar tubuhnya dengan cepat hingga rambut hitamnya yang panjang itu langsung berkibar dan hampir menyapu wajah Alrescha. “Kenyataannya dia memang mengintipku, kan? Jadi tidak ada salahnya aku memberikan pelajaran pada pelayan yang tidak tahu aturan dan posisi itu." ucap Alstrelia, setelah mendapatkan kemenangan dengan cara yang sedikit dramatis. Tapi karena ke dramatisannya itulah, pelayan tadi tidak terlihat memiliki denda, kepadanya, dan yang ada adalah perasaan bersalahnya itu.
‘Berarti aku juga termasuk.’ Batin Alrescha. Karena tadi juga masuk tanpa mengetuk pintu, sampai secara sengaja Alstrelia justru menyodorkan punggungnya yang menawan itu kepada seorang pria, yang tidak lain adalah Alrescha.
“Karena aku menganggap pelayan tadi adalah laki-laki, ekspresi sedihku pasti terasa kan?” tanya Alstrelia kepada Alrescha, mencoba meminta pendapatnya.
‘Jika kau menganggap pelayan wanita tadi adalah laki-laki, berarti dimatamu aku ini perempuan?’ Alrescha tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya terhadap gaun yang dipakai oleh Alstrelia yang dipakai tanpa menggunakan korset maupun kerangka yang membuat gaun itu nampak mengembang, ternyata tidak merubah penampilan Alstrelia yang tetap memperlihatkan keanggunan dan kecantikannya di mata Alrescha.
Yah..
Adiknya juga cantik.
Tapi yang menjadi perbedaannya adalah ekspresi wajah yang mereka berdua gunakan cukuplah berbeda dan bahkan bertolak belakang.
‘Alrescha, apa yang sedang kau pikirkan tentang adik palsu ini? Cantik? Dia memang cantik, tapi sifatnya cukuplah merepotkanku.’ Alrescha dalam diam menghela nafas frustasi. Dia tidak bisa menyangkal kenyataan itu, kalau Alstrelia yang ada di depannya itu mampu membuatnya sedikit kewalahan.
Hal itu terjadi jika mengingat biasanya adiknya yang asli tidak mungkin akan menampar wajah pelayan, bahkan membentak orang lain itu tidak pernah, karena itulah jika nanti adiknya yang asli ditemukan dan mengambil kembali posisinya, semua orang yang ada kediaman Fisher akan memandang adiknya sebagai orang yang kejam.
‘Walaupun aku juga kejam, jadi apa masalahnya?’ Alrescha mencoba meyakinkan dirinya kalau yang dilakukan oleh Alstrelia yang ini bisa menjadi pembalik semua keadaan yang ada disini.
__ADS_1
“Lalu kau, kenapa ada disini?” Tanya Alstrelia sambil berdecak pinggang dan menoleh ke arah Alsrescha.
Alrescha pun mengambil barang yang dia bawa di balik jas miliknya, itu adalah sebuah undangan yang dia terima dari Kaisar untuk di berikan kepada adiknya.
Tapi karena adiknya tidak ada, secara, dia akan memberikannya kepada wanita ini.
Amplop undangan berwarna coklat itu memiliki stempel merah bertabur emas dengan lambang milik kaisar sendiri. Ada satu bunga kering yaitu bunga Daisy berwarna biru yang melekat di dalam stempel itu.
“...............” Alstrelia mengambil undangan itu dan memperhatikannya dengan seksama. ‘Alstrelia.’ Nama yang tertulis di balik amplop itu. “Apa kaisar itu bermaksud mengundangku ke pesta?”
Alstrelia memicingkan matanya ketika membaca semua isi tulisan diatas selembar kertas berwarna merah itu.
“Kelihatannya ini ditulis sendiri oleh kaisar ya?” Terka Alstrelia setelah memperhatikan tulisan yang dia baca. ‘Jangan-jangan ada sesuatu dibalik undangan ini ditulis langsung oleh orang tertinggi di negara ini. Apapun itu kalian membuatku terpancing untuk menguak permainan kalian.’ Tanpa menunggu jawaban apa yang Alrescha akan jawab atas tebakannya tadi, Alstrelia memasukkan kembali surat undangan itu ke dalam amplop.
“Aku tidak memaksamu ikut.” Ucap Alrescha lebih dulu. Dia hanya ingin memberikan undangan itu kepada Alstrelia saja dan tidak berniat mengajaknya ikut ke pesta itu.
Karena apa?
Itu adalah medan pertempuran tanpa darah, tapi harus memiliki mental yang kuat.
Karena setiap gerak gerik, ekspresi, tutur kata, semuanya diperhatikan oleh orang lain.
“Aku belum menjawabnya kenapa asal menyimpulkannya?” Sela Alstrelia. “Apa ada sesuatu antara aku dengan Kaisar?” immbuh Alstrelia.
"Apa ada yang terjadi antara adikmu dengan Kaisar?"
Itulah yang Alstrelia katakan.
“................” Alrescha diam, karena merasa enggan untuk menceritakan aib dari adiknya sendiri kepada Alstrelia palsu itu.
__ADS_1
Melihat Alrescha tidak mau berbicara, Alstrelia kembali berkata : “Aku akan datang dan menghadapi mereka.”
“Apa untungnya buatmu?” tanyanya, tidak mengerti kenapa Alstrelia yang ada di depannya itu terlihat tanpa ragu, saat mengatakan akan datang.
“Aku memang tidak mendapatkan keuntungan apapun, tapi setidaknya-” Alstrelia kemudian membuka sarung tangan brokat yang sudah dia jadikan untuk menampar wajah pelayan tadi. Alstrelia membuangnya dan menggantinya dengan sarung tangan miliknya sendiri berwarna hitam yang terbuat dari bahan kulit dan hanya menutupi sampai separuh jarinya. “Setidaknya aku mencari kesenangan.”
GREP.
Alstrelia mengepalkan tangannya menjadi sebuah bogem yang seolah akan digunakan untuk meninju orang yang melawannya.
Alrescha melihat keinginan kuat yang terpancar di mata Alstrelia yang terlihat ingin membalas semua orang yang akan melawannya.
Sungguh mata penuh keberanian.
Itulah yang Alrescha lihat dari perempuan yang sangat mirip dengan adiknya yang asli itu.
Hingga keterdiaman Alrescha berakhir dengan menyentuh tangan Alstrelia yang sudah membentuk bogem mentah itu. Alrescha menurunkan tangan Alstrelia sembari mengingatkan, “Pesta bukan sekedar tempat untuk memperlihatkan wajah kepada semua orang. Melihatmu akhirnya datang kesana, kau kemungkinan akan mendapatkan banyak tawaran untuk berdansa, bahkan dari Kaisar.”
“............” Alstrelia memicingkan matanya ketika melihat tangan Alrescha menyentuh tangannya. Alstrelia segera menarik tangannya dengan cepat dari cengkraman tangan Alrescha. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu.”
SREET….
Alstrelia menarik dasi Alrescha agar membungkuk, lalu Alstrelia menambahkan, “Selama aku berada disini menggantikan adikmu, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Lalu aku tarik kembali soal kau dilarang menyentuhku, karena kemungkinan besar kedepannya apalagi saat di pesta, kita akan saling bergandengan tangan kan? Atau-”
Alstrelia melepaskan cengkraman tangannya dari dasi Alrescha, dia berbalik dan memungut pakaian miliknya yang asli.
“Atau kau akan datang bersama dengan tunanganmu yang misterius itu?”
“Apa yang ka-”
__ADS_1
“Shhh~” Alstrelia berbalik sambil menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya, sebagai kode kepada Alrescha untuk diam. “Sebagai adik, bukankah harus memperingatkan kakaknya sendiri?” Imbuh Alstrelia.
‘Memperingatkanku? Memangnya apa yang dia ketahui sampai dia berani berbicara seperti itu tentang Arsena?’ Pikir Alrescha. Sekarang dia hanya melihat kepergian Alstrelia yang sudah membawa barangnya sendiri keluar kamar.