Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
113 : Alstrelia : Kendali (2)


__ADS_3

CTANG...!


Irine melompat mundur setelah gagal membunuh musuhnya itu.


"Irine, jangan lakukan lagi, kamu kan sedang ham-"


"Tidak bisa ya tidak bisa." Sela Irine dengan cepat. Benar..dirinya memang sedang hamil, tapi karena pengaruh kekuatan yang sedang mengendalikan Irine, Irine pun tidak bisa di buat berhenti untuk mengalahkan musuhnya.


Tidak hanya dirinya saja, tapi juga untuk mereka semua.


"Biar kami saja yang melawannya."


Sekelompok orang dalam berbagai kalangan, baik itu rakyat biasa, bangsawan, maupun dari kalangan seorang pedagang akhirnya datang dengan senjatanya masing-masing.


'Ada apa ini? Padahal beberapa waktu lalu mereka semua lari ketakutan, tapi kenapa sekarang mereka semua terlihat seperti orang yang memiliki keberanian?' Pikir Kesatria ini sekaligus merupakan suami dari wanita yang tadi dia panggil Irine.


Irine yang gagal untuk mengalahkan satu monster di depannya itu hanya mengangguk sambil berkata : "Baiklah, kalian urus mereka." Tapi saat Irine hendak menambahkan kalimat yang ingin dia katakan, tiba-tiba tangannya merasakan pedang yang dia pegang itu menjadi berat.


KLANG.


Setelah itu kedua kakinya menjadi lemas, dan pandangannya pun menjadi buram.


Pria yang merupakan suami dari irine itu pun buru-buru memasukkan kembali pedangnya ke sarung pedang dan berlari kearah Irine.


BRUK.


"Irine!" Panggil kesatria ini setelah berhasil menangkap tubuh Istrinya sebelum terjatuh.


"Ayo! Lawan mereka!" Teriak seorang gadis muda berseragam Academy kepada semua orang yang berkumpul di belakangnya persis.


Selepas mendengar teriakan akan perintah itu, mereka semua segera berlari, "Hyaahh...!" Dan mengangkat senjata mereka untuk melawan sekumpulan monster di depan mereka.


Mereka pun berlari melewati Irine dan kesatria tersebut, karena yang mereka semua fokuskan adalah bertarung habis-habisan dengan lawan mereka.


"..........." merupakan kesempatan yang besar bagi kesatria ini, dia pun langsung menggendong Irine yang tidak lain Istrinya pergi dari sana sebelum terlibat dalam situasi yang lebih parah lagi.


CTANG..!


"Arghh! Dari mana rasa takut kalian tadi?" Marah karena mendapatkan serangan bertubi-tubi dari beberapa orang sekaligus, monster ini langsung mengibaskan gada miliknya kearah mereka.


".............." Tapi tidak ada satu dari mereka yang berbicara selain memberikan serangan penuh tanpa memberikan kesempatan monter itu beristirahat.


Suara besi yang saling beradu itu pun mengartikan untuk mereka semua untuk saling memperlihatkan siapa diantara mereka yang lebih hebat.

__ADS_1


Semuanya pun ditentukan pada tekad, dan kekuatan yang mereka miliki dam melawan musuhnya.


Bahkan sang komandan kesatria yang saat ini sudah berdiri di salah satu atap bangunan untuk menonton pertunjukan dari mereka semua, hanya berdecak kagum sekaligus aneh.


'Sudah jelas mereka sedang dikendalikan. Benar...tidak mungkin rakyat biasa seperti mereka memiliki kemampuan bertarung setingkat kami.' pikirnya.


******


'Ah~ Kelihatannya dia sudah menyadarinya.' Alstrelia mengusung senyuman tipis, sebab dari tempat dia sedang duduk itu, dia mampu melihat komandan kesatria kekaisaran Regalia itu sedang menonton wara sipilnya bisa bertarung melawan musuh bebuyutan mereka dengna kemampuan bertarung yang sangat baik.


Tapi balik lagi, Alstrelia menangkap keberadaan Alrescha yang ada jauh di depan sana.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Sebuah pesan dari kemampuan telepati itu langsung sampai kepada Alstrelia.


"Aku sedang meringankan beban kerja kalian semua." Sahut Alstrelia sambil meminum wine yang diberikan salah satu orang pelayan, dimana pelayan itu pun memang sudah terpengaruh akan kekuatan miliknya yang mampu mengendalikan orang lain. "Jadi berterima kasihlah kepadaku, Alrescha. Karena aku, beban kerjamu jadi lebih ringan, kan?"


Hanya saja, setelah Alstrelia berkata seperti itu, Alrescha tidak lagi berkata apapun.


"Kenapa diam?" Mencoba memancing Alrescha agar berbicara lagi.


"Tuan Putri," Panggil pelayan wanita yang kebetulan berdiri di belakang tepat di ambang pintu balkon.


"Ada yang datang." Kata pelayan terebut.


".............." Alstrelia pun menyunggingkan senyuman manisnya seraya menatap ke depan lagi. Benar, sesuai apa yang dikatakan oleh pelayan itu, Alstrelia melihat Alrescha saat ini sedang berlari menuju kearahnya. "Dia benar-benar-"


"Hentikan itu." Sela Alrescha, selagi kedua kakinya masih berusaha berlari dan melompati satu persatu atap bangunan yang ada demi pergi menghampiri Alstrelia yang sedang asik duduk santai sendirian, padahal dibawah sana, banyak orang sedang bertarung mempertaruhkan nyawa yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan, sebab mereka semua adalah rakyat biasa yang seharusnya mendapatkan perlindungan.


"............" Mendengar Alrescha justru menyuruhnya mengehentikan perbuatan yang sedang Alstrelia lakukan kepada semua orang di Ibu kota, sontak Alstrelia segera menenggak habis wine itu dan meletakkannya di atas nampan yang sudah pelayan itu sodorkan sampai menimbulkan bunyi. "Hentikan? Aku sudah melakukan semua ini demi kalian sendiri, dan menyuruhkku menghentikan semua ini? Tidak bisa." Jawab Alstrelia.


"Mereka tidak salah apapun, jangan membuat mereka bertarung lagi."


Sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, Alstrelia kemudian menyangga dagu sambil menutup bibirnya yang sudah terhias senyuman menghina sambil berkata : "Kalau begitu apakah maksudnya, aku harus membuat mereka diam ditempat dan dimakan oleh monster jelek itu? Dengan begitu, mereka akan cepat kenyang loh." Provokasi Alstrelia terhadap Alrescha. "Ingat, aku disini karenamu juga. Jadi jangan salahkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Lihat juga para kucing disana, mereka sangat ingin sekali menyentuh rakyatmu itu. Jika kucing dibunuh, merekalah yang akan dikendalikan, tapi jika sekarang aku yang mengendalikannya, mereka bisa mengatasi si kaki empat itu dengan mudah."


"Biar aku yang urus kucing itu." Sela Edward menghancurkan permainan yang ingin Alstrelia lakukan.


"Tch...." Alstrelia mendengus kesal karena Edward mengganggu kesenangannya.


Edward yang ada di balkon sebelah segera mengulurkan tangannya kedepan. Menggunakan kemampuan miliknya untuk....


CTANG.....

__ADS_1


".............!" Edward tidak jadi melakukannya sebab dia saat ini sedang menahan serangan dari pelayan perempuan itu. "Kamu..mengha-"


"Bukan aku," Alstrelia langsung menyela ucapannya Edward yang salah mengira kalau pelayan yang ada di sampingnya itu adalah pelayan yang masih Alstrelia kendalikan, padahal sebenarnya Alstrelia sudah melepaskan ikatan kendalinya dari pelayan itu, dengan kata lain, pelan itu memang memiliki tujuan dari keinginannya sendiri.


CTANG....


"..........!" Mendapatkan serangan kedua dari pelayan itu, Edward pun mau tidak mau, balik menyerang pelayan tersebut dengan cara menghipnotisnya.


CTAK.


Jentikan jari itu berhasil membuat pelayan tersebut langsung ambruk.


Melihat hal itu, Alstrelia jadi bertanya kepada Edward, "Apakah aku akan mendapatkan itu juga?"


Edward menatap kedua mata Alstrelia yang ternyata masih bercahaya, yang artinya perempuan di hadapannya itu masih menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan semua orang yang ada di kota untuk membantu dalam serangan.


Tidak seperti sebelumnya jika Edward merasa tidak tahan untuk mimisan jika berada di dekat perempuan itu, sekarang Edward sudah punya kekebalan sendiri berkat seseorang lagi.


"Jika itu bisa membuatmu berhenti melakukannya kepada mereka semua, aku akan melakukannya." Kata Edward.


"Sayang sekali, padahal aku sangat ingin mendiskusikan sesuatu padamu tentang sihir teleportasi. Karena sudah begini, lebih baik aku akaan mel-" Mendapati seseorang sudah pergi kearahnya, Alstrelia langsung melompat mundur.


SYUHT..


Alstrelia berhasil menghindar sebelum Alrescha memberikannya hadiah.


"Edward, kau urus kucing dan monster itu." Perintah Alrescha.


"Sana, urus baik-baik adikmu itu." Cetus Edward sebelum akhirnya melompat pergi.


"Jadi kau mau aku bagaimana? Kakakku yang tercinta?" Tanya Alstrelia dengan bumbu ejekan.


'Kakak apanya? Meskipun dia berperan jadi adik, tetap saja dia adalah orang asing. Jika saja dia diam saja untuk yang satu ini, aku tidak akan melawannya. Tapi melihat orang-orang tidak bersalah itu bertarung dengan cara paksa, aku harus menghentikannya.' Pikir Alrescha sambil menatap Alstrelia yang saat ini berdiri tepat di ambang pintu balkon dari sebuah kamar di dalam Istana.


WUSSHH.....


*******


"Punya wajah kembar memang merepotkan." Gerutu Eldania.


"Mau sampai kapan kita disini?" Tanya Everst.


"Sampai selesai dong." Senyum Eldania sambil mengelus punggung burung peliharannya.

__ADS_1


__ADS_2