Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
70 : Alstrelia


__ADS_3

NGGIIKK!


Kuda hitam yang pria berambut merah ini naiki tiba-tiba bertingkah aneh. Kudanya meringkik seolah takut dengan sesuatu yang ada di depan sana.


‘Anj*i*ng dan kuda ini bertingkah aneh seperti takut,’ sambil melirik ke arah kuda yang dia tunggangi dan juga anj*i*ng yang tiba-tiba tidak berisik dengan gonggongannya, tapi justru berlari berputar mengelilinginya seakan agar tidak pergi ke depan sana.


Merasakan keanehan tersebut, pria ini pun turun dari kuda dan untuk sementara waktu mengikat tali kuda itu ke salah satu batang pohon agar tidak kabur.


Setelah itu, pria itu pun berjalan ke depan, dimana di depannya persis memang jalan dengan kondisi menurun. 


Langit malam yang mendung itu tetap tidak membuat pria ini kehilangan penglihatannya, karena justru penglihatannya lebih di perjelas saat dia merasakan adanya pergerakan dalam jumlah sangat besar sedang berjalan di depan sana.


WUSHH~


“................!” Angin kencang itu membawa segala perhatian dari pria ini untuk menunjukkan wajah terkejutnya ketika matanya akhirnya melihat lebih dari ratusan ribu monster berjalan bersama melewati padang savana. ‘Dari mana asalnya semua monster itu?’ pikir pria ini penasaran dengan apa yang ada jauh di depan itu.


GUK!


GUK!


Hewan peliharaannya yang bahkan menggonggong pun tidak membuat perhatian para monster itu teralihkan dan tetap berjalan ke depan.


Mereka semua tetap pada tujuannya, pergi ke suatu tempat.


Tapi, kemanakah tujuan dari semua monster yang seperti sedang melakukan invasi secara besar-besaran itu?


‘Sebentar-’ Pria ini mendongak ke atas. Melihat awan hitam itu perlahan bergerak ke arah berlawanan dengan arah monster itu berjalan, dia semakin tahu sekarang posisinya ada dimana, “Jangan-jangan aku berada di utara. Jika ini utara, dengan kata lain monster itu pergi ke selatan!” 


Matanya membulat sempurna saat dia akhirnya menyadari kalau apa yang ada di selatan adalah wilayah yang dihuni manusia, dengan kata lain monster itu sedang menuju ke negara yang ada di selatan.

__ADS_1


Negara yang merupakan wilayah miliknya, Kekaisaran Regalia ada di arah sana.


Pria itu berlari kembali ke kudanya dan naik lagi. “Hyah…!”


Kuda hitam miliknya kembali dia perintahkan untuk berlari mengikuti kemana para monster itu pergi.


‘Selama ini kemunculan monster memang sangat jarang. Tidak ada yang mengetahui penyebabnya, karena dibalik tembok perbatasan yang aku bangun mengelilingi seluruh kekaisaran ada gunung kematian, setiap kesatria yang aku suruh untuk melakukan inspeksi ke sana, tidak ada satupun yang kembali.


Apakah dibalik ketenangan yang terjadi selama lebih dari 10 tahun ini adalah untuk hari ini? 


Chavire, kenapa selama ini kau tidak menyadarinya?’ alhasil pria ini mengutuk dirinya sendiri. 


DRAP….DRAP….DRAP……


GUK!


‘Berarti alasan aku tiba-tiba pindah ke tubuh orang ini, apakah pemilik tubuh ini adalah orang yang akan menghancurkan negaraku? Kenapa? Apa alasannya?’ pikir Chavire lagi. 


Dia sekarang akhirnya tidak bisa diam dengan santai. Meskipun, sekarang dirinya berada di tubuh orang lain, tapi tanggung jawabnya sebagai kaisar tidak pernah bisa dia lepaskan.


Itu yang Chavire terus bawa samapi saat ini. Berusaha kembali ke Kekaisarannya, Regalia.


‘Sudah dua bulan, aku baru menyadarinya. Dasar bodoh, kau Chavire.’ rutuk Chavire lagi. 


Dia tidak henti-hentinya bersumpah serapah atas dirinya yang mengalami nasib paling sial.


Bagaimana tidak sial, jika sebagai Kaisar, dia tiba-tiba berpindah masuk ke tubuh orang lain yang lokasinya teramat sangat jauh dari Kekaisarannya sendiri. 


‘Hampir 2 minggu perjalanan. Ini sangat tidak bisa kupungkiri, jika hanya mengandalkan kuda saja, aku tidak akan bisa sampai ke tempat asalku. Kalau seperti ini terus, negaraku akan hancur di tanganku sendiri. Pasti itulah yang dia harapkan.’ tubuhnya lelah, pikirannya juga lelah. Tapi tanggung jawabnya tidak bisa Chavire tinggalkan begitu saja karena dia mengemban banyak tanggung jawab untuk negaranya. “Hyah…!” 

__ADS_1


Chavire semakin menaikkan kecepatan kudanya dalam berlari.


_________________________


“Lihat, Putri sendirian karena tidak ada yang mau diganggu. Terus saja seperti itu.” kekeh wanita ini ketika melihat Alstrelia baru saja mengambil kursi untuk dirinya sendiri dan di letakkan di depan meja makan.


Sebenarnya setiap meja yang ada, tidak ada kursinya, jika mau mengambil makanan dan ingin duduk, maka harus di man di tempat lain, tapi jika mau makan sambil berdiri maka tidak perlu ke tempat lain. 


Tapi di sini lain hal dengan Alstrelia yang tidak membutuhkan bantuan dari pria untuk mengambilkannya kursi. 


“Hei, apa kau tidak mau mendekati putri?” seorang pria mulai tertarik dengan keberadaan Alstrelia yang duduk sendirian di depan persis banyaknya hidangan makanan yang di peruntukan untuk semua tamu undangan yang ada.


“Kau sendiri kenapa tanya padaku, kau yang ingin pergi ke sana kan? Sana saja pergi sendirian.” tolak pria ini pada temannya itu.


Dengan nada lebih lirih, pria ini sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga temannya, dan berbisik lagi, “Apa kau tidak penasaran dengan Putri? Mumpung dia sedang duduk sendirian, terus lihat pakaiannya, apa kau juga tidak tertarik melihatnya lebih dekat, kali saja saat dia berdiri mengambil makanannya dan membungkuk, kita bisa lihat buah dadanya?”


Sebuah bisikan layaknya iblis yang sedang menghasut para manusia, maka itulah yang sedang direncanakannya agar ada yang mau menemaninya pergi bersama untuk menghampiri Alstrelia.


“..................” bola matanya bergerak dari kiri ke kanan, dan kebetulan yang sangat bagus tanpa sengaja matanya melihat Alstrelia sedang berdiri dan mulai mengambil makanan lain yang letaknya sedikit jauh di seberang, sehingga harus sedikit membungkuk.


“Atau pura-pura mabuk dan menumpahkan wine ke pakaian bagian atasnya.”


“Kau gila ya? Jangan menghasutku cari mati jika ketahuan oleh kakaknya.” masuk kembali kedalam akal sehatnya, pria ini menolak ajakannya. “Sana-sana, lakukan rencanamu sendiri saja.” tolaknya, lalu berjalan menjauh agar tidak terkena hasutan yang lebih parah lagi.


Di tinggal pergi dengan tolakan secara mentah-mentah seperti itu, pria ini pun melakukan aksinya sendiri. 


‘Dia secantik itu, bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja? Setelah aku mencoba mendapatkan obat itu dan menggunakannya pada wanita yang aku inginkan, aku pun perlahan mulai mencicipi mereka satu persatu. Rasanya memang memuaskan, tapi bagaimana rasanya mencicipi milik Putri itu?’ matanya tidak bisa teralihkan untuk memperhatikan Alstrelia. ‘Lihat saja kulitnya yang putih, lehernya yang jenjang, wajahnya cantik, rambut hitam panjang berkilau, dan kakinya yang tertutup gaun panjang itu pasti lebih cantik. Mau mati atau tidak di tangan kakaknya, selama bisa merasakannya, itu sudah lebih dari cukup memuaskanku.’


Hatinya yang sudah tersulut akan gairah itu pun membuatnya memiliki sebuah rencana.

__ADS_1


__ADS_2