Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
37 : Alstrelia


__ADS_3

Tapi sayangnya……


Pertunangan yang Alsrescha lakukan dengan Arsela, tetap saja berlangsung.


Melihat kenyataan itu, disamping sebenarnya nona Alstrelia yang asli masih menghilang dengan membawa perasaan benci dan tidak suka atas hubungan yang sudah terjadi di antara Alsrescha dengan Arsela, apa yang bisa Lena lakukan dengan semua itu?


Hubungan dari kakak beradik yang semakin merenggang. 


Hilangnya Alsterlia Vion Beltmore Fisher dari kediaman duke Fisher. 


Dan perasaan dari kesalahanpahaman yang selalu terjadi, membuat semua hubungan itu semakin rumit untuk diluruskan selama Alstrelia yang asli masih belum ditemukan. 


‘Apa ini benar novel yang dibaca oleh Elda?’ pikir Alstrelia jika mengingat sahabatnya itu sangat mengagumi sosok dari Alsrescha yang jika ada dimata Elda, pria itu adalah orang yang sesuai dengan tipe idealnya. 


Hanya saja kenyataan dari Alstrelia yang masuk dalam kisah yang tidak Alstrelia ketahui ternyata berisi kesalapahaman, kesedihan, dan tidak memiliki cerita apa itu yang dinamakan kebahagiaan.


“..................” Alstrelia yang masih memeluk Lena, kembali menatap langit dari balik jendela kamarnya. ‘Sampai kapan aku terjebak disini?’


Alstrelia Vion Beltmore Fisher memang seorang putri, tapi disini juga ada seorang putri yang lainnya, yaitu Alstrelia Ve Der Vrancisteen. 


Kedudukan yang sama, tapi memiliki peran yang sangat jauh berbeda. 


________________________


“Alres!” Panggil Arsela saat akhirnya bisa menemukan sang tunangannya benar-benar kembali dengan cepat.


“Kau menungguku?” tanya Alrescha kepada Arsela yang menunggu di depan pintu masuk istana persis. 


“Tentu saja, aku khawatir kepadamu.” 


“....................” Alrescha yang masih menunggang kudanya, langsung turun dan menyerahkan kudanya ke salah satu penjaga yang berjaga situ. “Jika kau menungguku di luar ruangan seperti ini, kau bisa masuk angin.”


“Iya, akan aku ingat itu. Tapi bagaimana dengan urusanmu tadi?” tanya Arsela sambil mencoba bergandengan tangan.


“Sudah beres.”


“Baguslah kalau seperti itu.” jawab Arsela dengan senang, karena ditambah lagi sekarang dia bisa bergandengan tangan dengan Alrescha. 


Alrescha yang sudah bergandengan tangan itu justru hanya meliriknya dan membiarkan Arsela menggandeng tangannya. 


Karena jarak antara halaman depan menuju pintu istana sedikit jauh, maka Alrescha harus berjalan kaki lebih lama dari yang seharusnya, karena harus menyamakan langkah kaki milik Arsela. 

__ADS_1


Tapi…..


Kian waktu itu berlalu, Alrescha lagi-lagi masuk dalam dunianya sendiri. 


Entah apa yang ada di dalam pikirannya itu, terbesit satu pikiran.


‘Apakah aku pernah berjalan bergandengan tangan dengan Alstrelia?’ Alrescha mencuri-curi pandangan dari tangannya yang sedang digandeng itu.


Semakin lama waktu bergulir, di matanya dia malah melihat kalau yang digandeng adalah adiknya. 


Alstrelia. 


“.................!” Entah itu halusinasi karena kebanyakan minum wine saat makan malam di restoran tadi, dimata Alrescha saat ini, perempuan yang sedang digandeng adalah sosok pemilik dari rambut hitam panjang dengan sepasang iris mata biru yang mempesona.


Kenapa?


Karena setiap kali Alrescha menatap mata milik adiknya yang sama-sama memiliki warna biru yang sama, membuat Alrescha seperti sedang bercermin pada dirinya sendiri.


“Alrescha” panggilnya.


“Kakak.”


Tapi apa yang Alrescha dengar, dia mendengar panggilan kakak dari sang adiknya.


“Apa ada sesuatu di wajahku?”


Sebuah wajah bingung milik Arstrelia lah yang menembus pikiran dari Alrescha.


“Apa kamu mendengarku, Alres?” tanya lagi Arsela sambil melambai-lambaikan tangan kanannya ke depan wajah Alrescha. 


Namun lagi-lagi yang tertangkap di indra penglihatan Alrescha, Alstrelia lah yang sedang melambaikan tangan kepadanya sambil mengatakan : “Kakak, apa kau mendengarkanku?” 


“..............!” Sayangnya Alrescha akhirnya kembali lagi dalam dunia nyatanya. Bahwa yang ada di depannya bukan adiknya, tapi Arsela yang merupakan tunangannya. 'Kenapa aku jadi seperti ini?' Alrescha mencoba menahan hati yang tiba-tiba muncul satu rasa sakit. 'Rasa sakit apa ini?'


“Jangan-jangan kamu lelah. Ayo aku antarkan kamu sampai ke kamarmu.” Arsela menarik tangan Alrescha agar cepat pergi ke kamar dan istirahat.


"..................."


Alrescha dan Arsela pun kembali melanjutkan langkah kakinya, masuk ke dalam istana. 


Di samping kedua orang itu sedang mengumbar kemesraan di istana, seorang pria muda awal 20 tahunan ini sedang menatap kedua orang itu dengan tatapan datarnya.

__ADS_1


“Alrescha.” panggilnya. 


Pria berambut putih perak ini terus menatap kedua orang yang kini akhirnya menghilang setelah berhasil masuk kedalam istana. 


Dia kemudian mengambil secarik surat yang disimpan didalam furing mantel coat nya.Setelah itu dia membuka selembar surat yang dia dapatkan baru-baru ini tetapi belum dia baca. 


Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk membaca surat yang dia terima beberapa hari yang lalu.


Tapi apa?


“Permintaan? Tumben sekali dia membuat permintaan padaku.” iris mata berwarna Violet itu langsung melirik ke arah dimana sebuah lilin masih menyala. 


Pria ini berjalan ke arah meja yang menyajikan satu lilin aromaterapi untuk ruangan itu. Setelahnya, surat yang baru saja dia baca itu dia bakar sampai menjadi abu. 


Dia melakukannya agar tidak ada orang yang tahu isi surat yang dia terima dari duke Fisher, yaitu Alrescha.


‘Jadi itu alasan dia memiliki tatapan seperti itu tadi ke tunanganmu sendiri, apa itu karena kau tiba-tiba teringat dengan adikmu? Apa sekarang kau baru menyadari kepergiannya, Alrescha Vion Beltmore Fisher?’ pikir pria ini, setelah membaca isi dari surat yang dia terima dari duke Fisher beberapa hari lalu.


Apa isi dari surat itu adalah meminta bantuannya sebagai seorang penyihir menara untuk membantu menemukan Alstrelia, yaitu adik kandung Alrescha yang beberapa waktu lalu mengisyaratkan tatapan kesedihan.


“Alstrelia, apa dia adalah anak kecil yang dulu pernah memberikanku permen?” gumam pria ini, saat dimana sebenarnya dia memiliki ingatan di masa lalunya pernah bertemu dengan seorang perempuan berumur 4 tahun yang tiba-tiba memberinya sebuah permen kepada dirinya yang berumur 6 tahun itu. 


Rambut hitam dengan mata berwarna biru adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh keluarga Duke Fisher. 


Karena itu pria ini sangat yakin dengan pikiran dari salah satu ingatannya, bahwa anak kecil yang pernah dia temui adalah Alstrelia. 


TOK….TOK….TOK…..


“Tuan Hastings, makan malam untuk anda sudah saya bawa.” 


“Tinggalkan saja di depan pintu.” pinta pria ini.


“Baik tuan.” 


Hastings adalah nama belakangnya, sedangkan nama depannya adalah Edward, yaitu Edward Hastings.


Dialah orang yang dimintai oleh Alrescha untuk menemukan keberadaan dari Alstrelia.


'Lalu ledakan yang baru saja terjadi itu, apa kelompok itu sudah mulai bergerak?' Sama hal nya dengan Alstrelia, Edward sama-sama melihat langit malam.


Tidak seindah langit yang begitu bersih dengan taburan bintang sambil ditemani bulan purnama biru yang terasa lebih terang dari biasanya, malapetaka sedang terjadi di ibu kota.

__ADS_1


Kebahagiaan itu sudah sirna berganti dengan tangisan.


'Semua yang ada didunia ini memang salah.'


__ADS_2