
“Elbert.”
Mendengar namanya dipanggil, Elbert semakin bersikap waspada. Dia sudah bersiap dengan pedang yang ada di samping pinggangnya.
Melihat hal tersebut, ke enam orang itu langsung bersiap juga dengan pedang yang mereka bawa juga.
“Sebentar.” Kemudian suara itu kembali terdengar, dan sosoknya muncul dari balik kegelapan. Membuat Elbert langsung memasang wajah terkejut saat pria dengan jubah coklat yang menutupi kepalanya itu sudah muncul di depan matanya dengan.
Pria berjubah ini langsung melepas tudung kepalanya, dan berdiri tepat di depan Elbert.
“Kau?!”
“Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu? Jangan-jangan kau sudah melupakanku?”
“Arsene?” jawab Elbert sekaligus bertanya.
“Ya, ini aku.” pria bernama Arsene ini langsung meenyunggingkan senyuman lembut saat melihat Elbert yang tercengang itu.
“Kenapa kau disini?” Tanya Elbert penasaran dengan tujuan dari temannya yang bernama Arsene itu.
Mengabaikan pertanyaan dari Elbert, sepasang mata Arsene sempat melirik ke samping tepat di belakang Elbert. Dimana dibelakang sana terlihat seorang wanita sedang duduk dan kebetulan terlihat layaknya boneka.
“Apa itu tuan putri yang sedang kau jaga?” Tiba-tiba Arsene bertanya menuntut jawaban dari Elbert.
Elbert langsung mengulurkan tangannya untuk menghalangi Arsene yang penasaran itu.
"Kau waspada sekali, aku tidak akan melakukan apapun." Arsene mundur satu langkah sambil mengangkat kedua tangannya seakan menyerah.
"....................." Alstrelia yang sadar dengan keberadaan dua orang yang sedang berbicang itu, menoleh ke arah Arsane.
"..............!" Arsene yang tidak sengaja akhirnya bertatap mata dengan nata Alstrelia, membuat Arsene langsung mematung. 'Dia! Cantik sekali.' Puji Arsene ketika akhirnya matanya menemukan seorang wanita cantik sedang menatap kearahnya.
Alstrelia yang malas menunggu itu dibuat keluar dan bertanya, "Elbert, kau lama sekali. Apa kau memerlukan bantuanku?"
"Nona! Sudah aku bulang jangan keluar!" Panik Elbert melihat Alstrelia yang satu ini justru melanggar perintahnya.
"Kenapa? Salahmu sendiri membuatku menunggu." Celetuk Alstrelia sambil menatap Elbert dengan berdecak pinggang.
"Elbert! Dia-" Arsene yang wajahnya sengaja ditutupi oleh telapak tangan Elbert, langsung Arsene tepis.
__ADS_1
"Aku apa?" Tanya Alstrelia dengan wajah seriusnya kepada Arsene.
"................!" Arsene terdiam karena serasa dimarahi. 'Apa aku baru saja melakukan sesuatu yang menbuatnya marah?'
"Kenapa kau diam? Apa kau seorang pembajak? Mau menangkapku demi uang? Tapi sayangnya aku tidak akan memberikanmu apa-apa tuh." Imbuh Alstrelia karena pada kenyataannya dirinya memang sedang tidak memiliki apa pun.
"Pembajak? Hahaha…!" Arsene tertawa lepas saat mendengar celoteh Alstrelia yang terdengar lucu ditelinganya.
"................." Alstrelia hanya memilih untuk diam dan terus memperhatikan pria asing itu yang sedang menertawakannya.
WUUSHH~
Angin malam yang sedikit kencang itu langsung menerpa tubuh mereka, tak terkecuali Alstrelia. Yang dimana angin tadi menbuat rambut panjanngnya yang diurai, langsung berkibar.
"................!" Arsene yang awalnya tertawa sendirian, kini sudah kehilangan tawanya saat ditatap dingin oleh Alstrelia.
Meskipun dari segi penampilan Alstrelia terlihat seperti seorang gadis, tapi tidak dengan tatapan matanya yang tajam itu. Itu adalah tatapan mata yang terlihat seperti sudah melihat segalanya.
"Apa kau sudah puas tertawa?" Tanyanya dengan nada dingin, lalu beralih menatap Elbert. "Elbert, jika kau ingin tetap disini maka akan aku tinggal."
Setelah berkata seperti itu Alstrelia kembali berjalan masuk kedalam kereta kuda.
"Nona, tunggu." kata Elbert.
Tapi ketika Elbert hendak menyusul untuk masuk kembaili kedalam kerea kuda, sebuah bola api tiba-tiba datang.
Arsene yang melihat hal tersebut langsung mengambil beberaapa langkah untuk melompat.
TAK.
Arsene melompat keatas demi menebas bola api yang tiba-tiba datang itu.
Tapi disaat Arsene sudah bersiap untuk memotong sekaligus menyingkirkan bola api itu, yang terjadi adalah.
WUSH~
“.................!” Arsene seketika terkejut dengan bola api yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya itu. Arsene memutuskan mendarat dengan isi kepala yang dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
“Siapa yang berani melakukannya?” tanya Elbert. Elbert sendiri yang sudah bersikap waspada untuk melindungi Alstrelia, jadi terasa sia-sia.
__ADS_1
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Alstrelia saat melihat Elbert justru sedang berdiri di depanya sambil membungkukkan tubuhnya ke depan Alstrelia, hingga membuat jarak diantara mereka berdua benar-benar hampir habis.
“Aku hanya ingin melindungi nona majikan.”
“...............” Alstrelia meatap Elbert untuk beberapa waktu, kemudian dia sedikit berdiri untuk membisikkan sesuatu di telinga Elbert persis. “Tapi aku bukan majikanmu.”
“......................” Elbert yang baru saja dibisikkan sesuatu, langsung membalas dengan sebuah jawaban. “Meskipun begitu, anda tetapah orang yang berperan untuk menggantikan nona saya.” jawab Elbert, kini kembali dalam tata bicara yang formal.
Alstrelia kembali duduk. Dia duduk tenang sambil memejamkan matanya. “Terserah.” jawabnya dengan singkat.
Elbert memutuskan duduk kembali, dan menoleh kearah Arsene yang sedang berdiri dalam kebingungannya. “Nona baru saja mengatakan terima kasih sudah melindunginya.” kata Elbert kepada Arsene, setelahnya memberikan ketukan didinding kereta untuk memberikan kode kepada pak kusir untuk segera jalan.
Lalu kereta kuda itu pun pergi melanjutkan perjalanannya.
“Bos, yang tadi itu.” salah satu anak buahnya Arsene juga sama-sama terkejut. Dia bertanya penasaran kepada Arsene, karena orang inilah yang lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi ketimbang mereka semua.
“Aku tahu. Tapi melihat Elbert mengatakan terima kasih, kelihatannya dia belum sadar kalau bola api yang tadi itu sudah keburu menghilang bahkan sebelum aku bisa menyingkirkannya.” jelas Arsene.
“Kira-kira apakah bos tahu siapa yang melakukannya?” tanya salah satu anak buahnya Arsene yang lain.
Arsene menatap langit malam itu. “Aku rasa ada penyihir lain di dekat sini, sayangnya aku tidak tahu siapa karena aku tidak bisa merasakan energi sihirnya.” jawab Arsene.
“Kalau begitu sekarang kita akan kemana bos?”
“Kita cari tempat persmbunyian yang baru. Karena aku masih ada perlu dengan Elbert, jadi untuk sementara kita berada di kota ini.” pinta Arsene kepada semua anak buahnya.
“Tapi Bos, apa Bos lihat tadi dengan penampilan wanita tadi?” pria berjubah ini berjalan mendekat kearah Arsene.
“Iya Bos, aku kira dia adalah wanita yang pendiam tapi ternyata bukan. Bahkan pakaiannya, dia cukup seksi Bos.” ucap pria ini, tidak bisa melupakan keberadaan dari Alstrelia yang sesaat tadi turun dari kereta kuda dengan penampilan yang cukup menarik perhatian mata.
PLAK!
Arsene langsung memukul kepala anak buahnya itu. “Aku tahu soal perasaanmu sebagai pria sejati, dia memang cantik dan seksi, bahkan cara berpakaiannya itu bagiku cukuplah menggoda, tapi dibalik itu semua dia adalah wanita yang terlihat cukup waspada. Jangan terkecoh dengan penampilannya yang terlihat seperti boneka itu Edwin.” jelas Arsene panjang lebar.
Pria yang dipanggil Edwin langsung mengusap kepalanya yang tadi dipukul oleh Arsene.
‘Bahkan dia juga terlihat seperti bukan wanita biasa.’ pikir Arsene. Hanya dalam sekali lihat, Alstrelia yang memiliki sifat tegas dan banyak bicara seperti itu sudah berhasil untuk membuat Arsene menemukan nilai di balik penampilannya itu. ‘Dia jadi terlihat seperti seseorang yang suka memerintah. Apa dia di didik seperti itu oleh kakaknya? Alrescha.' Arsene menggeleng kepala dengan pelan.
Arsene tidak menerima pikiran kalau Arlescha yang Arsene kenal itu punya sifat tegas seperti wanita tadi.
__ADS_1