
Di tempat Arsela.
Sama hal nya dengan apa yang dilakukan oleh Astrelia sebab Alrescha mengundang madam Luna, Arsela juga didatangi madam Luna karena permintaan Arsela kepada Alrescha, sebagai
tunangannya.
“Madam.” Panggil Arsena kepada madam Luna.
“Ya, nona?” Sahut madam Luna.
“Apa madam mau memberitahu model gaun seperti apakah yang putri Alstrelia inginkan?” Tanya Arsela sambil melihat-lihat majalah yang madam Luna bawa, dan mencoba memilih gaun yang sedang tren di kota saat ini.
Madam Luna hanya meliriknya sekilas, lalu berkata : “Maaf, mungkin ini terdengar lancang. Tapi saya selalu menjaga privasi keinginan dari klien saya, entah itu siapapun itu saya tidak akan memberitahu model gaun pilihan putri Alstrelia.” terang madam Luna.
Madam Luna, sebagai sediner ternama di ibu kota, dia kaan selalu menjaga privasi milik klien nya sendiri. Apalagi jika itu adalah hal yang berhubungan dengan Putri Alstrelia, maka madam Luna akan semakin merahasiakannya.
Sekalipun, yang bertanya dan memintanya adalah Arsela, si tunangan Alrescha, madam Luna akan teta pada pendiriannya.
Setelah dirasa tidak ada yang menarik lagi, Arsela menutup bukunya, dan menaruhnya di atas meja. “Benar juga, itu kan prinsip anda sebagai seorang desiner terkenal di kota. Maafkan saya karena melupakan hal itu madam.” kata Arsela, membenarkan apa yang baru saja madam Luna beritahu tadi.
Awalnya madam Luna terdiam, tapi segera menyahut nya, “Manusia kan tidak terhindar dari yang namanya lupa. Apa anda sudah memilih apa yang ingin anda pakai nanti?” ujar madam Luna.
“KIra-kira butuh berapa lama untuk proses penjahitan?” tanya Arsela seolah penasaran. Padahal dia sama sekali tidak memiliki daya tarik untuk membuat pakaian pada mada Luna.
Arsela sebenarnya memiliki rencana sendiri. Dan madam Luna yang datang ke rumahnya adalah syarat dari rencana miliknya itu.
“Karena itu untuk anda, saya pastikan kurang dari satu minggu pasti sudah selesai.” Jawab madam Luna dengan cepat.
Arsela mencoba berpikir sejenak, lalu kembali berkata: “Kalau begitu saya pilih yang ini. Untuk perhiasannya umh...sepertinya Arsel akan memberikannya juga kali ini, jadi saya pesan gaun sama sepatunya saja.” Arsela pun sudah memilih apa yang diinginkan kepada madal Luna.
Hitung-hitung agar tidak terlihat mencurigakan, jika langsung dibiarkan pulang begitu saja tanpa memesan gaun kepadanya.
“Baik, saya juga sudah mengukur tubuh anda, jadi saya akan mengerjakan secepatnya. Karena sudah selesai, saya pamit undur diri dulu.” Sama hal nya dengan tadi pagi, madam Luna pun memberikan hormat terakhir sebelum pergi pulang.
“Saya juga berterima kasih karena madam sduah mau meluangkan waktu madam yang pasti sedang sibuk-sibuknya”
__ADS_1
“Tidak apa-apa nona, permisi.” Madam Luna pergi dari sana diikuti oleh pelayan pribadi Arsela, yaitu Sena.
KLEK.
Setelah pintu kamarnya tertutup, Arsela yang awalnya memberikan ekspresi ramah dengan senyuman cantiknya, kini berubah menjadi ekspresi yang dingin.
NGIIKK….
KLOTAK….KLOTAK….KLOTAK……
Mendengar kereta kuda madam Luna sudah pergi, Arsela berjalan menuju jendela kamarnya dan melihat kepergian dari kereta kuda milik seorang desainer terkenal di ibu kota.
KLEK.
“Nona, madam luna sudah pergi.” Beritahu Sena untuk mengkonfirmasi apa yang dilihat oleh nona majikannya itu.
Arsela kemudian menyandarkan tubuhnya ke jendela lalu berkata : “Apa kau sudah memastikan kalau dia datang sore nanti?”
“Iya nona.”
“Bawakan kertas, pensil, dan cat air.”
'Sebentar lagi hujan.' Pikir Arsela sambil memandang kereta kuda madam Luna yang masih terlihat, tapi juga sudah kian menjauh.
**********
Sedangkan di dalam kereta kuda.
Madam Luna dalam keterdiamannya terus menatap langit yang kian menampakkan awan kelabu.
Pertanda kalau sebentar lagi akan hujan.
Meskipun, madam Luna menatap langit, tapi tidak dengan pikirannya itu. Madam Luna masih saja memikirkan Arsela, tunangan Alrescha.
‘Nona Arsela, aku merasa ada yang aneh dengannya. Dilihat dari caranya memilih gaun tadi juga terlihat seperti sembarangan saja. Tidak mencerminkan orang yang benar-benar akan memakai gaun dari buatanku.’ Pikir madam Luna. “Semoga bukan pertanda buruk.” Gumamnya.
__ADS_1
Setelah itu madam Luna kembali membuka tas miliknya dan mencari lembaran kertas yang dia terima dari Alstrelia.
Madam luna kembali memandangnya dengan penuh takjub, kalau gambaran yang begitu nyata itu digambar dari tangan Alstrelia sendiri.
‘Aku tidak begitu peduli nona Alstrelia berubah atau tidak, tapi ini benar-benar karya penuh bakat. Tidak ada seorangpun yang bisa melampaui lukisan seperti ini.’ Tapi disaat sedang memuji sketsa gambar penuh warna yang memiliki kemiripan untuk menjadi nyata hasil pemberian Alstrelia, secara tidak sengaja madam Luna melihat sebuah amplop yang terselip di majalah yang tadi sempat tidak di perlihatkan kepada Arsela.
Madam Luna mengambil majalah tersebut, dan membuka halaman yang digunakan sebagai tempat penyimpanan secarik amplop berwarna putih itu. Keberadaaan amplop yang cukup tersamar karena sangat tipis dan punya warna yang sama dengan kertas majalah yang dipakai.
“Amplop apa ini?” Madam Luna melihat majalah yang dia ambil itu adalah buku yang diberikan untuk Alstrelia tapi tidak diberikan untuk diperlihatkan kepada Arsela.
Madam Luna kemudian membuka amplop yang diberi perekat dari nasi?
“Aku baru melihat ada orang yang merekat amplop dengan nasi.” Madam Luna terkekeh melihat amplop yang dipegangnya tidak diberi stempel sebagai lem, melainkan dari nasi sebagai penggantinya. Tapi karena itulah, hasilnya membuat keberadaan amplop itu benar-benar tersembunyi di dalam buku dengan cukup baik, karena jika menggunakan stempel, itu akan membuat amplop tersebut terkesan lebih tebal dan memberikan lebih banyak celah untuk ketahuan?
Ya..
Tapi menepis hal lucu itu, setelah isinya dia buka, madam Luna langsung terdiam sejenak. Isinya bukan sekedar selembar, tapi ada 4 lembar kertas dan semua itu tidak mencerminkan sekedar surat saja.
____________
ZRASHHH……….ZRASHH………..
Alstrelia termenung menatap hujan yang tiba-tiba turun dengan sangat deras itu.
“Nona, ini pembalut untuk anda.”
“Hah~” Alstrelia menghela nafas pelan dan menyambar barnag pemberian Sela. “Hujan itu seperti menandakan kalau aku juga sedang dilanda sesuatu yang basah juga senag banyak-banyaknya.” Gerutu Alstrelia.
“Apa perut anda sakit?”
“Perutku memang sakit, tapi yang lebih menyakitkan lagi, dibawah sana lebih sakit. Aku mau istirahat, kau pergi saja dan jangan ada yang menggangguku.” Ujar Alstrelia kepada pelayan pribadinya, yaitu Sela.
“Saya tinggal dulu. Selamat istirahat.” Sela mengakhiri keluhan kecil milik nona Alstrelia dengan kepergiannya.
KLEK.
__ADS_1
Setelah pintunya tertutup, Alstrelia langsung menuju kamar mandi, dan setelah balik, dia segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
“Sepertinya dia sudah sadar.” Gumam Alstrelia yang perlahan memejamkan matanya untuk tidur siang.