Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
143 : Alstrelia : Karena Alstrelia dan demi Alstrelia


__ADS_3

'Tidak mungkin Alstrelia meninggal kan?' Batin Alvaron. Tapi melihat raut wajah mereka semua yang terlihat sedih itu, Alvaron merubah tatapan matanya jadi sendu, ,lalu bibirnya pun mengulum senyum simpul.


Satu pertanyaan yang langsung terlintas di pikiran mereka semua tentu hanya satu.


Kenapa Yang Mulia Raja tersenyum?


Lalu bibir yang awalnya tertutup dengan senyuman itu, kini separuh terbuka dan berkata "Jika Alstrelia memang sudah mati, maka aku hanya tinggal membuat anak lagi kan? Untuk menggantikan posisinya?"


JDERR....


Seketika semua orang langsung memberikan reaksi yang sam, yaitu ekspresi terkejut. Karena ucapan yang baru saja terlontar dari mulut yang terlihat manis itu, memang membuahkan kalimat yang manis untuk sebagian besar wanita seluruh kerajaan.


Tentu saja sebenarnya ucapan dari Alvaron itu di luar perkiraan mereka semua.


Memang benar, jika satu anak yang akan mewarisi takhta kerajaan meninggal, maka tinggal menggantinya dengan penerus yan baru.


Tapi siapa yang akan menduga kalau ALvaron benar-benar berpikir ringan, yaitu hanya tinggal membuat anak lagi?


Bagi seoran laki-laki memang cukup mudah mengatakan hal itu, membuat anak dengan seorang wanita yang tinggal di tidurinya.


Apalagi untuk seorang yang memiliki jabatan tertinggi seperti Raja. Maka dia hanya tinggal mengangkat tangannya dan menunjuk salah satu orang wanita saja.


Bahkan Elda yanng saat ini memang sedang berdri di depan orang yang bersangkutan persis pun, perasaannya sedang bercampur aduk. Antara marah karean terdengar tidak memperdulikan kondisi Alstrelia yang saat ini baik keberadaannya yang tidak jelas ada di mana, apalagi sekarang sudah mendapatkan peringatan tanda vital Alstrelia yang tidak berfungsi yang artinya mati?


Dna di satu sisi lagi dia sebenarnya malu karena sedari tadi tatapan maut yang di berikan oleh Yang mulia Raja terus tertuju kepada Elda.

__ADS_1


Jarak umur diantara Elda dan Alvaron memang terpaut jauh, yaitu lima belas tahun. Tapi apapun dan mau sebanyak apapun jarak dari umur pria dan wanita, karen aALvaron masih saja memiliki wajah yang tampan, padahal umurnya hampir di angka tiga puluh empat tahun, maka bagi seluruh wanita di seluruh kerajaan, semua itu tidak menjadi masalah besar.


Tapi Elda, demi mempertahankan pertabatnya, maka ucapan untuk memiliki anak baru adalah permasalahan bagi Elda sendiri yang tidak ingin kehilangan Putri Alstrelia begitu saja.


"Tidak. Tuan Putri tidak mungkin sudah meninggal." Tegas Elda. Dia tidak akan pernah menyetujui saran yang di ucapkan oleh Rajanya tadi, karena bagi Elda, Alstrelia hanya satu dan satu-satunya orang yang akan mewariis takhta kerajaan Asgardia untuk ke depannya.


Alvaron yang melihat keteguhan hati Elda sebagai teman, sahabat, serta rekan kerja yang paling dekat dengan Alstrelia, hanya mengulas senyum dalam hati.


'Dia memiliki rekan yang bagus.' Benak hati Alvaron saat dia masih menatap Elda yang terus saja menunduk, demi menjaga pandangannya terhadap dirinya ynag memang bisa membuat semua wanita bisa takluk dalam sekali pandang.


"Kalau saja saya tahu Tuan Putri ada di mana, saya ingin sekali bisa menyusulnya dan membawanya kembali ke sini." Harap Elda.


"........" Alvaron sedikit membuka kelopaknya lebih lebar tepat di saat dirinya mendengar keinginan dari Elda yang ingin menyusul Alstrelia.


_____________


Tapi entah karena Gemelo itu sendiri yang terlalu kuat atau karena mereka berdua yang sudah kehilangan lebih banyak tenaga, yang pastinya saat in ipertarungan masih saja berlangsung.


"Aku cukup salut kepada kalian." Kata Gamelo ini.


CTANG...!


Alrescha, Chavire, serta Gamelo itu berdiri saling menatap satu sama lain.


"Padahal aku sudah menawarkan diri, agar aku bisa menggantikan dia yang sudah mati. Tapi kalian masih saja bersikeras untuk melawanku seperti ini,. Memangnnya apa yang akan kalian dapatkan karena dia sudah mati, lalu jika aku mati juga? Posisinya jadi kosong juga kan? Dan Alrescha, memangnya kau mampu untuk menemukan adikmu yang hi-"

__ADS_1


Tidak memberikan waktu untuk Gamelo itu berbicara lagi, Alrescha segera melesat kearah Gamelo itu sampai dalam sekejap mata, Alsrescha sudah ada di depan Gamelo itu persis.


"Di tengah pertarungan, lebih baik tidak perlu banyak bicara." Tekan Alrescha dengan tatapan mata yang cukup dinngin, hingga Gamelo itu sedikit tersentak dengan kecepatan dari waktu tempuh yang Alrescha gunakan itu bisa ada di depannya persis dalam kurun waktu kurang dari satu detik.


"Tapi kalau aku tidak bicara, kalian berdua tidak bisa aku provokasi dong." Balas Gamelo ini sambil melompat mundur?


Saat Gamelo itu hendak melompat mundur, maka Gamelo tersebut segera merasakan sesuatu yang datang dari arah belakangnya.


"Janagn melupakanku juga Gamelo," Decih Chavire, menyerang Gamelo itu dari balakng.


Tersudutkan dengan dua orang yang datang menyerang dari dua sisi sekaligus dalam waktu yang bersamaan itu, Gamelo ini langsung mendarat dan diam di tempat.


Setelahnya, dua pedang yang dia pegang itu segera dia posisikan pada posisinya masing-masing.


Ketika pedang yang Gamelo pegang dengan tangan kanannya dia arahkan ke atas dalam posisi ujung pedang ada di belakang, maka pedang yang ada di tangan kirinya, Gamelo itu arahkan dengan posisi tangan sejajar dengan bahunya, dan ujung pedangnya pun letaknya mengarah ke depan. Di saat itulah kedua pedang yang sudah Gamelo persiapkan pada posisinya masing-masing akhirnya bertemu lagi dengan pedang milikmereka berdua.


CTANG...!


Gamelo itu langsung memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat ke arah kiri.


Sehingga Alrescha dan Chavire pun menyingkir dari sana, karena harus menghindari pedang yang diarahkan untuk melindungi wilayah si Gamelo itu sendiri.


Namun memangnya Alrescha dan Chavire itu akan berhenti di situ saja?


Tatkala Gamelo itu sudah mengakhiri teknik putarannya, di saat itu juga Chavire mengendalikan sisa kristal yang ada itu untuk dia gunakan sebagai bahan serangannya kepada Gamelo itu. Maka tidak ketinggalan juga dengan Alrescha, dia pun sama-sama mengerahkan kekuatannya yang tersisia itu untuk menciptakan deretan pacahan es yang panjang untuk menyerang Gamelo itu.

__ADS_1


Dari situlah, dua serangan kombinasi milik Alrescha dan Chavire pun bersatu untuk mengakhiri pertarungan diantara mereka bertiga.


SYUHTT...


__ADS_2