
“Kenapa kau bisa memiliki kalung itu?” suara Alrescha terus dalam kondisi nada yang rendah, seakan Alrescha sedang menuding Alstrelia kalau kalung yang dipakainya itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya Alstrelia pakai.
Itu jelas terlihat dari sepasang matanya yang menatap Alstrelia dengan tatapan dingin.
“Kenapa bisa? Karena ini memang milikku.” jawab Alstrelia dengan tangan menyentuh bandul kalungnya.
“Tapi memangnya ada ya, yang namanya suatu kebetulan?” tanya Alrescha lagi. Dia berjalan menghampiri Alstrelia dan berhenti tepat di depannya persis.
Sampai dimana Alrescha yang hanya melirik ke bawah, tangan kanannya terangkat untuk mengambil bandul itu dan melihat rangka emas putih yang mengelilingi batu kristal itu.
“‘AVF, aku bisa membacanya, dan apakah ini benar-benar milikmu?” tuding Alrescha saat dia melihat 3 huruf inisial.
“Kau sedang menuduhku? Ha~ Jadi kau benar-benar menuduhku aku mencuri kalung ini?” Alstrelia yang tidak percaya akan memiliki tuduhan tak berdasar itu hanya tersenyum masam. Senyuman yang perlahan menghilang dan di gantikan dengan ekspresi yang sama-sama dingin.
Ekspresi seperti Alrescha sedang menatap dirinya sendiri yang berwujud perempuan.
“Alrescha, jika kau memiliki tuduhan seperti itu, maka aku pastikan semua informasi yang aku berikan tadi kepadamu, langsung menghilang dari kepalamu. Ini bukan ancaman, tapi pilihan. Aku katakan, apa kau sedang menuduhku mencuri kalung milik adikmu?” ucap Alstrelia sekaligus bertanya balik. Sebagai Alstrelia, dia tentu saja akan memiliki satu waktu untuk memperlihatkan sifat dari jati dirinya yang asli jika ada seseorang yang sudah berani menyinggungnya.
Dan orang pertama yang berhasil menyinggungnya sampai ke tahap puncak gunung adalah Alrescha.
Siapa yang tidak menerima kepemilikan dari kalung yang dipakainya adalah milik adiknya Alrescha?
“Kalung ini simbol milikku sendiri, jika kau berani menyinggung apapun yang berkaitan dengan apa yang aku miliki, maka aku akan keluar dari sini, membiarkan semua orang tahu kalau kau adalah kakak bodoh yang tidak bisa menjaga adiknya sendiri.
Yah~ Kau hanyalah manusia bodoh yang hanya mengejar cinta, pekerjaan, dan tidak pernah menoleh kebelakang siapa yang sedang menunggumu dari kejauhan.
Kau~ Manusia pemilik dari semua penyesalan itu.” Ucap Alstrelia, menghina Alrescha sepuas hatinya.
BRAKK!
PRANKK!
Seluruh kaca jendela langsung pecah, dan semua perabotan serta tempat tidur sudah berserakan banyak yang pecah dan rusak.
Sebuah aura berwarna biru keluar dari tubuh Alrescha. Dan hal itu berhasil membuat suhu di dalam kamar itu langsung turun drastis layaknya berada di kutu.
“Ah~ Jadi ini kekuatan as..limu?” Alstrlia tetap saja menyeringai sekalipun sekarang lehernya sedang dicekik oleh Alrescha sampai kedua kakinya mulai menggantung di udara.
Ya, Alrescha kini dengan berani sudah berhasil membuat Alstrelia tercekik dengan tangan kanannya saja.
Alrescha terus menatap Alrescha dengan tatapan permusuhan. Sama hal nya dengan Alstrelia yang marah kepadanya, sekarang adalah sebaliknya. Kemarahan Alrescha langsung dilampiaskan kepada Alstrelia dengan tangannya sendiri.
“Aku ingatkan. Walaupun kau bisa melakukan sesuatu pada ingatan semua orang, itu tidak akan pernah terjadi kepadaku. Sekalipun aku tahu apa yang sudah aku lakukan selama ini, tapi kau tidak memiliki hak untuk menyinggung masa laluku.” terus terang Alrescha dengan tangan semakin mencengkram erat leher Alstrelia. “Dan jika kau mau pergi dari sini, ka-” tapi belum sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah benda yang terbang tertuju ke arah Alrescha.
NGUUNGG……
Keempat senjata berbentuk salib itu pun sudah terbang di udara dan menargetkan Alrescha sebagai bahan sasarannya.
‘Apa ini?’ batin Alrescha saat melihat ke empat benda tersebut seperti hendak menembak ke arahnya.
“Jadi, apa-kah ini..ca..ramu memperla..kukan adikmu? Kakak?” tanya Alstrelia dengan nada yang begitu lirih dan terbata-bata.
Kepala Alstrelia yang awalnya tertunduk itu kemudian dia angkat dan menatap Alrescha dengan mata sayu. Mata yang terlihat akan menangis?
TES…
“...........!” Alrescha yang tertegun melihat ekspresi tersiksa dari perempuan yang sedang dia cekik dengan tangan kanannya itu berhasil membuatnya langsung melepaskan cekikan itu, dan..
__ADS_1
DORR!
Alrescha melompat mundur sebelum terkena tembakan yang keluar dari keempat senjata itu secara bersamaan tadi.
PSHH~
Tembakan tadi berhasil membuat lantai marmer itu memiliki cekungan yang cukup dalam.
“Uhuk...uhuk….uhuk…”
WUSHH~
Akibat dari jendela kamar yang sudah rusak, semua angin malam itu berhasil masuk dengan mudah dan menerpa tubuh Alrescha yang berdiri di atas sofa sambil menatap Alstrelia yang sudah terjatuh duduk di lantai dengan keadaan terbatuk-batuk.
NGUNGG……
Keempat senjata itu kembali terbang mengarah kepada Alrescha.
“Apakah ini caramu memperlakukan wanita?” tanya Alstrelia. Tangannya sempat memegang lehernya yang terasa sakit itu.
‘Apakah senjata ini akan terus terbang sesuai dengan keinginannya?’ Alrescha memperhatikan senjata gimmick itu.
Senjata yang mampu mengikuti semua keinginan dari pemiliknya. Dan pemilik dari semua senjata itu adalah Alstrelia.
“Aktingmu selalu membuat orang tertipu. Tapi mulai sekarang aku tidak akan tertipu lagi dengan aktingmu itu.”
“Hahaha…..” Alstrelia yang masih merasakan sakit di lehernya, tiba-tiba tertawa mencibir.
Dia menertawai keputusan Alrescha untuk tidak tertipu dengan Akting yang sewaktu-waktu bisa Alstrelia buat kepada Alrescha.
“Aku tidak peduli kau akan terhasut dengan tipuan dari Akting ku atau tidak. Tapi tetap saja kau harus hati-hati, atau kau akan terperangkap sendiri, jika yang ada di depanmu saat ini bisa saja adikmu yang asli, tapi tiba-tiba dirasuki oleh seseorang. Apa yang dianggap mustahil, bisa menjadi sebuah kemungkinan terbesar. Kau akan tahu saat waktu itu tiba, Alrescha Vion Beltmore Fisher.” ucap Alstrelia.
Kalau perempuan yang memiliki lidah tajam, sifat keras dan suka mengatur juga memprovokasi, adalah adiknya sendiri?
Alstrelia berhasil membuat sedikit sebuah tipuan kecil, agar semua tindakan yang akan Alrescha ambil harus harus di pikirkan dua kali.
Misalnya seperti tadi. Jika tadi Alstrelia tidak berakting sedih dengan wajah dan ekspresi yang biasa Alstrelia asli buat, tidak mungkin sekarang dirinya berakhir di lepaskan dengan mudah seperti ini.
Dengan kata lain, Alrescha juga memiliki pemikiran kalau yang dia cekik adalah adiknya sendiri.
“..............” Alresha akhirnya terdiam. Tapi tetap tidak membuang tatapan penuh selidik itu kepada Alstrelia.
“Jika kau seperti itu terus, semua ini tidak akan berakhir dengan mudah.” Imbuh Alstrelia. Dia masih terduduk di lantai sambil menatap Alrescha dengan senyuman bangga.
WUSHH~
‘Tapi kalung itu, tidak mungkin bisa dibuat ulang untuk kedua kalinya. Karena kalung yang dipakai oleh perempuan ini adalah kalung khusus.
Kristal Astonia, itu adalah kristal yang tidak bisa diidentifikasi oleh siapapun bahkan penyihir sekalipun.
Itu hanya ada satu di dunia ini, sampai pengrajin perhiasan profesional pun ternyata tidak bisa membuat replika nya. Karena setiap semua ingatan untuk membuat sketsa dan saat pengerjaannya, secara otomatis pasti akan membuat orang itu justru membuat bentuk lain.’ Bahkan seperti saat ini. Alrescha memang mampu melihat kalung dari kristal biru itu dengan baik dan sempurna.
Tapi ada satu masalah lain jika Alrescha membuat sketsa bandul kalung itu. Tanpa sadar tangannya akan membuat sketsa dengan bentuk yang berbeda dengan apa yang sekarang Alrescha lihat.
Karena itulah semua kecurigaan itu membuat amarahnya muncul ketika melihat kalung milik adiknya, ternyata dipakai oleh perempuan pengganti ini.
BRAKK….
__ADS_1
Suara pintu yang dibuka secara kasar itu berhasil menarik semua pikiran tadi.
“Tuan! Saya tadi mendengar keributan dari kamar anda. Apakah ada serangan?!” tanya salah satu orang Kesatria setelah berhasil masuk kedalam kamar Alrescha tanpa sebuah ketukan dulu.
Tapi yang masuk ke dalam kamarnya tidak hanya satu atau dua orang saja, melainkan 4 orang kesatria.
“Tuan! Apa anda ba-”
Kalimatnya seketika terpotong saat mereka semua berhasil merasakan suhu di kamar Alrescha langsung mendingin, seperti berada di musim dingin.
‘Tuan sampai menggunakan kekuatannya. Apakah musuhnya kuat?!’ pikir kesatria pertama.
‘Ini sangat dingin sekali, siapa yang berhasil menyusup kedalam kamar Tuan?!’ pikiran dari kesatria kedua.
‘Kenapa Tuan diam saja? Jangan-jangan Tuan sebenarnya sedang menginterogasi penyusup yang sudah Tuan tangkap? Dan kami mengganggu proses interogasinya?!’ sebuah pikiran dari kesatria ketiga sama-sama muncul.
‘Siapa yang tuan lihat? Tatapannya yang dingin itu seperti tatapan saat sedang menatap musuhnya sendiri.’ pikiran dari kesatria keempat juga akhirnya muncul juga ketika melihat Alsrescha terdiam di atas sofa sambil menatap seseorang yang sedang terduduk di lantai?
“Hiks...hiks…”
Suara tangisan itu akhirnya menggema di dalam kamar.
“..............!” Sontak mereka semua tergemap mendengar suara tangisan dari seorang perempuan.
Tapi siapakah perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu itu?
“K-kakak, j-jangan ma..rah lagi. Hentikan ini. Ini dingin..Hachum..!”
“Nona!” All
Semua terperangah saat mengetahui perempuan yang sedang duduk dilantai sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan gaun hampir separuh telanjang itu adalah Alstrelia.
“Tuan! Apa yang anda lakukan pada Nona?!” salah satu dari mereka bertanya sedikit menuntut kepada Alrescha.
CTAS v^---
Alrescha semakin menatap ke empat kesatria itu dengan tatapan sengit gara-gara Alstrelia kembali membuat akting yang sangat dramatis.
‘Bedebah ini, dia mempermainkan aku lagi?!’ Alrescha menjeling ke bawah, memperhatikan Alstrelia yang sedang memainkan drama baru seolah dia adalah korban.
‘Hahaha….namamu akan semakin tercoreng di mata anak buahmu sendiri.’ batin Alstrelia.
“Nona! Pakai ini selimutnya.” seorang kesatria segera menghampiri Alstrelia dan menarik selimut yang ada di atas kasur itu untuk menutupi tubuh Alstrelia yang hampir setengah telanjang itu gara-gara gaun di bagian punggungnya sudah terbuka semua.
“Terima kasih,” kata Alstrelia sambil menarik sedikit selimutnya untuk menutupi dadanya juga.
Wajah sedihnya pun berhasil menarik simpati mereka berempat.
‘K-kenapa Nona yang menangis ini tetap saja cantik?!’ pikirnya.
“Minggir kalian.” suara Alrescha berhasil menarik perhatian mereka semua agar tidak dekat-dekat dengan Alstrelia.
Wajah dengan seribu topeng itu, Alrescha tidak ingin mereka berempat masuk kedalam jurang tipuan musihatnya.
“Tuan sendiri, apa yang membuat an-”
“Apa kau tuli?” senyuman tipis yang jarang terlihat itu sontak membuat mereka semua berjalan mundur. “Tidak ada yang terjadi disini. Tapi kalian bereskan semua kekacauan di kamarku ini, aku ingin besok sudah rapi seperti sedia kala.” perintah Alrescha, lalu dia membopong tubuh Alstrelia lagi dan membawanya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
KLEK.