Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
63 : Alstrelia


__ADS_3

“................” Alrescha terus memperhatikan Arsela yang terlihat seperti sedang menatap Alstrelia dengan tatapan penuh dendam. Tapi setelah menyadari tatapan Arescha kepadanya, Arsela memberikan senyuman manis kepadanya. ‘Tapi, tatapannya tadi itu.’ Arescha membuang segala pikiran buruknya mengenai Arsela, lalu berjalan menghampiri Arsela yang sedang berjalan ke arahnya juga.


Meskipun begitu,i lirikan matanya tetap tertuju pada Alstrelia yang kini sedang mengawali dansa pertama di hari pertama ini bersama dengan Chavire, yang notabene nya adalah seorang kaisar.


Alstrelia dan Chavire berdiri saling berhadapan dengan jarak satu setengah meter.


Sebelum berdansa, mereka berdua memberikan salam dengan membungkuk hormat pada lawan mainnya.


Setelah memberikan salam pertama itu, Alstrelia yang benar-benar memiliki tinggi pas, sejajar dengan dagu Chavire, membuatnya memiliki posisi pas juga untuk meletakkan tangan kirinya di atas bahu kanan Chavire.


Chavire pula, dia memegang tangan kanan Alstrelia dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya diletakkan di pinggang ramping milik Alstrelia.


“.............” Alstrelia menatap sepasang manik mata berwarna hijau zamrud itu dengan tatapan datarnya. ‘Dia tetap saja kalah tampan dengan ayahku.’ Alstrelia mencibir di dalam hatinya. Meskipun Chavire punya wajah tampan, tapi bagi Alstrelia dia memilih untuk memuji ayahnya sendiri.


Sedangkan Chavire pun melakukan hal yang sama, dia menatap manik mata berwarna biru lapis lazuli itu dengan tatapan penuh makna. ‘Aku akui kali ini dia berpenampilan mencolok sampai perhatianku selalu tertuju kepadanya. Apakah wanita ini merencanakan sesuatu?’ 


‘Setelah berdiri sedekat ini, aku sudah memastikan kalau parfum ini berasal dari orang yang berbeda. Tidak, maksudku dari luar dia memang Kaisar, tapi rasanya ada kemungkinan besar kalau yang ada di dalam tubuh orang ini bukanlah Kaisar sesungguhnya.’ Alstrelia memulai langkah pertamanya dengan mundur, lalu Chavire mengambil langkah maju.


Sesuai dengan lagu yang dimainkan oleh pemain orkestra, Alstrelia dan Chavire memulai dansa pertama mereka berdua saja, dan disaksikan oleh banyak orang disana.


‘Alstreila, Alstrelia, apakah dia memang Alstrelia? Tapi kenapa dia punya sifat yang sangat berbeda dari beberapa bulan lalu? Sebentar,' Edward yang tidak turun dari lantai dua, hanya terus menyaksikan dansa pembuka yang dilakukan oleh Kaisar dengan Alstrelia. ‘Jika Alrescha memberikanku surat permintaan untuk mencari adiknya yang hilang, berarti perempuan yang ada di bawah sana bukan Alstrelia yang asli? Tapi jika begitu, dari mana Alrescha mendapatkan wajah semirip itu? Apa ada kemungkinan kalau Alstrelia yang itu adalah penyihir yang bisa merubah wajahnya sendiri?’ Edward terus masuk ke dalam pikirannya untuk terus mencari dibalik teka-teki ini. 


Sampai Edward akhirnya menyadari satu hal yang membuatnya langsung menutup mulut serta hidungnya lagi. Edward mengingat apa yang terjadi tadi sore, dimana dia melihat sesuatu yang mustahil akan dilakukan oleh seorang Alstrelia yang pendiam itu, yaitu melepaskan semua pakaian secara terang-terangan di dalam kamar yang bahkan tirainya tidak tertutup.


‘Aku memang tidak sengaja melihatnya, tapi tetap saja itu membuatku terus mengingat apa yang aku lihat tadi sore. Menyebalkan,’ Edward langsung pergi dari sana sambil menutup mulutnya sendiri, karena darah yang tadi sore keluar, kini keluar lagi lewat hidungnya. 


Karena apa?


Selain karena mengingat kejadian tadi sore, Edward tadi sempat bertatap mata dengan Alstrelia, sekalipun Alstrelia sedang berdansa dengan Chavire.


“Hei, kau mau kemana?” Tanya marvin kepada Edward. Tapi Marvin hanya mendapatkan kepergian Edward yang terlihat buru-buru itu. ‘Kenapa dengan anak itu?’ Tidak mau berpikir lama-lama membahas Edward yang kabur itu, Marvin kembali menonton dansa pertama itu dengan senyuman penuh arti. ‘Jadi dia adiknya Alrescha? Apa alasan Alrescha mengurung adiknya yang cantik itu? Atau jangan-jangan dia tidak mau memperlihatkan adiknya kepada orang lain karena takut dia direbut oleh laki-laki lain?’ 


Marvin tertawa mencibir, dia kemudian berjalan menuruni anak tangga.


Marvin memiliki niat untuk mengajak Alstrelia dansa juga, itulah keinginannya. Walaupun ditolak, setidaknya Marvin bisa mendapatkan matanya dicuci dengan penampilan Alstrelia yang bagi Marvin sendiri cukuplah mengagumkan.


Sudah separuh lagu, Alstrelia mampu mengimbangi lagu dengan irama yang cepat itu. 


‘Alstrelia, sesuai yang dikatakannya, dia memang bisa berdansa, bahkan dengan lagu itu?’ Alrescha mengernyitkan matanya saat melihat sepasang kaki Alstrelia yang memakai high heels setinggi 7 cm itu ternyata bisa tetap mempertahankan keseimbangan tubuhnya diatas tekanan dimana gerakan kakinya itu terbilang cukup cepat. ‘Dia memang selalu penuh misteri.’ Alrescha memejamkan matanya lagi.


Di samping semua orang punya pemikirannya sendiri saat melihat dansa dari kedua orang itu, Chavire dan Alstrelia sejujurnya sedang melakukan pembicaraan mereka berdua di tengah-tengah dansa mereka.


“Tuan Putri, anda ternyata mahir sekali dalam berdansa, ya?” Tanya Chavire di saat tangan kirinya terulur dan melepaskan genggamannya dengan tangan Alstrelia yang melangkah mundur dengan cepat, berputar lalu kembali masuk dalam putaran dansa mereka.


Di saat itu juga, Alstrelia langsung menjawab pertanyaan itu dengan senyuman mencibir, “Apakah itu sebuah pujian atau sindiran kepadaku yang terjadi pada dua bulan lalu?”


‘Dia masih mengingatnya?’ Chavire tersenyum tipis saat mendengar jawabannya.


“Ini pujian, karena Putri mampu mengimbangi gerakanku dan musik ini dengan baik dalam waktu cepat.” Ucap Chavire.


“Jadi waktu itu aku benar-benar buruk ya?” Tanya Alstrelia kembali dengan mata yang sedikit sayu, seolah terlihat sedih.

__ADS_1


Sayangnya Chavire hanya menjawab dengan senyuman saja.


‘Padahal aku tidak tahu kejadian kronologisnya seperti apa, tapi melihat dia menjawab pancinganku dengan baik, berarti permasalahannya adalah karena dansa? Ah, iya..aku ingat, kalau statusku adalah orang yang akan diajak pertama kali untuk dansa pembuka, pantas saja reaksi wajah Alrescha waktu itu terlihat kacau saat membahas pesta, dimana nama Alstrelia di undangan kembali datang.’ Pikir Alstrelia.


Alstrelia sejujurnya tidak memiliki informasi mengenai apa yang terjadi dua bulan lalu mengenai Alstrelia yang asli, karena kebetulan dirinya lupa untuk bertanya kepada Lena yang posisinya adalah dayang pribadinya. 


Jadi karena keterbatasan informasi itulah, Alstrelia memberikan pertanyaan sederhana yang berupa pancingan.


Setelah bisa mendengar jawaban dari pelakunya langsung, maka Alstrelia akhirnya paham. 


‘Lagu secepat ini disengaja untuk menjebakku, untuk mengujiku apakah aku bisa dipermalukan lagi atau tidak.


Sayang nya itu tidak berlaku untukku, karena aku bukanlah Alstrelia Vion Beltmore Fisher, melainkan Alstrelia Ve Der Francisteen. 


Aku sudah berlatih dansa dengan semua lagu yang ada, bahkan dengan lagu yang tidak aku kenal sekalipun, aku bisa langsung tahu persis dansa dengan gerakan yang seperti apa yang cocok untuk lagu asing, apalagi ini.’ Tapi semua pikiran itu membuat Alstrelia sedikit termenung.


Alstrelia tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, sampai lagu dansa yang sedang Alstrelia mainkan dengan Chavire adalah lagu yang pernah dicoba di dunianya.


‘Tapi, kenapa lagunya ini? Ini adalah lagu dimana aku berdansa dengan ayah untuk pertama kalinya untuk upacara kedewasaan ku nanti. Kenapa ada lagu seperti ini di sini?' Di tengah dansa nya, Alstrelia masuk ke dalam jurang yang namanya pikiran. Dia melamun cukup dalam.


Meskipun begitu, karena tubuhnya sudah hafal semua gerakan dari dansanya, maka Alstrelia tetap tidak membuat kesalahan sedikitpun, sampai sebuah rintihan lirih terdengar.


“Akh.” Chavire tiba-tiba merintih sakit.


“Kau tidak memperhatikan langkahmu.” pungkas Alstrelia di saat Chavire merintih saat salah satu kakinya terinjak oleh kaki Alstrelia.


‘Kenapa justru aku yang terasa dipermainkan?’ Chavire dalam diam tersenyum getir sendiri saat melihat kenyataan kalau Alstrelia yang ada di depannya benar-benar bukan seperti wanita yang dua bulan lalu dia ajak dansa bersama juga.


“Kau benar-benar menikmatinya ya?” Ucap Alstrelia saat Alstrelia sedikit mendongak ke atas untuk melihat wajah Chavire dari dekat. 


“................!” Chavire termangu, melihat senyuman yang terukir di bibir ranum milik Alstrelia itu begitu indah.


Tapi sayangnya ekspresi Alstrelia yang awalnya tenang, tiba-tiba berekspresi meremehkan. Itu dibuktikan dengan senyuman manis dan lembut itu, tapi dibalik senyuman yang terlihat indah itu, adalah senyuman mutlak meremehkan Chavire.


‘Wanita ini, dia sedang menantangku, kah?’ Cahvire yang mengumbar senyuman paksa itu terus menyamai gerakan Langkah Alstrelia yang cepat. Sejujurnya Chavire sudah terasa penat, tapi saat Chavire merasakan deru nafas milik Alstrelia yang sebenarnya dekat ternyata masih saja normal, maka itu membuktikan bahwa Alstrelia yang ini benar-benar sudah terlatih.


Sayangnya karena lagu akhirnya berakhir, tautan dari tangan mereka berdua langsung terlepas karena Alstrelia yang lebih dulu melepaskan dirinya dari gandengan tangannya tadi.


Setelah itu, Alstrelia pun sedikit menekuk lututnya sambil merentangkan kedua tangannya yang sedang memegang kedua sisi gaun birunya. 


Itu adalah salam perpisahan karena dansa sudah selesai.


Tepat setelah menyelesaikan debut pertamanya dengan lancar, Alstrelia segera berbalik dan menghampiri Elbert yang akan memulai dansa pertamanya dengan seorang lady.


Dan saat itulah, ketika Elbert hendak menerima tawaran dansa dari perempuan lain, Alstrelia langsung menyambar tangan Elbert dan membawanya ke tengah Ballroom untuk memulai dansa pertama Elbert dengannya.


“Nona?!” Elbert menatap wajah majikan palsunya itu dengan wajah terkejut, karena sudah berhasil merebut tangannya lebih dulu sebelum tangannya di terima oleh perempuan lain yang ingin dansa dengannya.


“Kau sudah menemaniku datang kesini, maka kau harusnya mendapatkan dansa dariku. Berbanggalah Elbert.” Ucap Alstrelia dengan senyuman yang terlihat sombong itu.


Namun, bagi Elbert yang sempat menaikkan kedua alisnya karena mendapatkan izin secara gemblang dengan nada sombongnya itu, Elbert tetap merasa hal ini cukup menyenangkan juga.

__ADS_1


Karena….


‘Aku bisa berdansa dengan Nona,’ Pikir Elbert, dia meraih pinggang Alstrelia dan memulai lagu kedua itu dengan acara yang lebih meriah, sebab semua pasangan dansa mereka secara serentak mengisi area tengah Ballroom.


“..............” Alrescha hanya mengumbar senyuman yang terlihat seperti orang yang sedang lega, tapi sebenarnya itu adalah senyuman pasrah, karena Alstrelia yang notabene nya adalah perempuan, justru menawarkan dansa kedua kepada Elbert yang seorang laki-laki.


Alrescha hanya tersenyum lemah sambil menyambut tangan Arsela untuk ikut dansa juga.


“..............” Arsela hanya memberikan senyuman lembutnya kepada Alrescha dan menerima ajakannya untuk berdansa bersama.


“Tuan Putri sudah berdansa selama itu dengan gerakan cepat, apa tidak lelah mengajak pasangan lainnya untuk dansa?” Sebuah bisikan terjadi pada nyonya bangsawan lain yang tidak mengambil cara dansa itu, karena merasa sesak dan merepotkan.


“Meskipun begitu, Tuan Putri tetap mampu berdansa dengan baik, bahkan lebih baik dari yang lalu.” 


________________________


Di tempat lain, tepatnya di dalam butik Laluna.


“Apa kau jujur, kau tidak menjiplak desain sketsa gaun milik nona dan diberikan kepada nona Arsela?” Madam Luna yang sempat melihat kejadian dimana sebelum keberangkatan dari Alstrelia ke istana, Arsela dan Alstrelia sempat bertemu di mansion utama dengan pakaian yang sama, membuatnya sedikit jengkel karena jelas-jelas gaun yang dipakai oleh Arsela adalah desain yang sama dengan yang dipakai oleh Alstrelia.


Dan yang membuatnya curiga adalah asistennya sendiri, yaitu Serena.


Serena sudah berdiri di depan madam Luna dengan kepala menunduk, lalu menjawab : “Saya berani bersumpah madam, saya tidak pernah sekalipun memberikan informasi mengenai gaun itu kepada siapapun, apalagi pada nona Arsela. Saya benar-benar tidak tahu madam.” Dengan mata sudah berderai ingin menangis.


Madam Luna menghela nafas kasar, lalu bersandar di sandaran kursi kebesarannya sambil memijat pangkal hidungnya. Dia merasa bersalah karena menuduh Serena, apalagi tanpa bukti yang kuat,


Karena itulah, madam Luna akan membiarkannya kali ini, karena dia juga merasa bahwa Alstrelia sudah memprediksi masalah ini dengan sangat baik.


‘Aku penasaran, dari mana Nona Arsela bisa mendapatkan sketsa gaun itu. Padahal jelas-jelas waktu itu aku selalu waspada dan memperhatikan gerak-geriknya. Dia memang sempat menanyakan untuk memberitahu gaun seperti apa yang Nona Alstrelia pilih, tapi aku jelas sudah menolaknya. Tidak ada yang mencurigakan pada waktu itu, tapi kenapa ini bisa terjadi? Aku benar-benar sangat penasaran, apa aku tanya langsung pada Nona Alstrelia besok?’ Madam Luna kembali duduk dengan tegak lalu menatap asistennya yang menunduk tidak berani menatap wajah madam Luna, karena sedang ketakutan, bahkan dia melihat pipinya sudah basah akan air matanya sendiri.


Madam Luna merasa kalau Serena bukanlah pelakunya, karena madam Luna jelas melihat kesungguhan Serena dalam membuat gaun pertamanya itu dengan sepenuh hati.


Itu adalah rasa kecewa, takut menjadi tersangka atas kesalahan yang tidak diperbuat, sekaligus rasa kecewa karena hasil jerih payahnya dalam menjahit ternyata ada orang lain yang menjiplaknya.


“Hah~” Madam luna menghela nafas frustasi, sampai Serena yang sudah menangis dalam diam, ikut terkejut dengan helaan nafasnya. “Serena.”


“I-iya.” Lagi-lagi Serena tidak mampu menjawabnya dengan tenang, sampai tidak berani menatap lawan bicaranya.


“Aku akan menyelidiki kasus ini, kau tidak perlu menangis. Lagi pula aku juga merasa bukan kau yang melakukannya.” Ucap madam Luna.


“M-madam?” Akhirnya Serena terpancing untuk menatap lawan bicaranya itu.


“Kau sudah bekerja keras selama 5 hari ini, aku tahu kau sampai begadang demi menyelesaikan gaun itu dengan tepat waktu. Jadi jangan pikirkan masalah ini, kesehatanmu itu lebih penting, istirahatlah, karena yang aku butuhkan adalah kerja kerasmu menjadi asistenku, bukan membuatku mengurus orang sakit.” Imbuh madam Luna.


“B-baik madam. Besok saya juga akan bekerja keras untuk anda.” Jawab Serena dengan semangat.


Madam Luna melambaikan tangannya sebagai kode agar Serena keluar dari ruangannya.


Setelah pergi, madam Luna beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju jendela yang ada di belakangnya persis. 


Dia melihat langit malam yang terlihat lebih gelap ketimbang beberapa hari yang lalu, sebab bulan sudah sepenuhnya bersembunyi di balik gumpalan awan hitam.

__ADS_1


“Kelihatannya ada sesuatu yang nona Arsela miliki, tapi semua orang tidak menyadari keberadaan yang dimiliki nona Arsela?” gumam madam luna.


__ADS_2