
"Angh~ T-tuan..itu sangat enak Tuan. Ayo lagi Tuan," Pinta Airis dengan mata sudah penuh dengan gairah yang cukup membara, akibat yang dilakukan oleh majikannya itu.
Memangnya apa yang sedang di lakukan oleh mereka berdua?
"Sabar dulu Airis, prosesnya masih panjang, aku tidak akan membiarkanmu langsung puas begitu saja." Kata pria ini seraya melakukan pekerjaannya untuk mengerakkan pinggulnya dengan cepat agar hartanya bisa masuk kedalam sana.
"Anghh~..Tuan..i-ini, ak-aku sudah tid-dak tahan lag-" Belum juga lima menit, Airis akhirnya memberikan air hangat untuk melumuri sang majikan yang mau memuaskannya.
Air bening tumpah, menyiram tempat tidur yang dijadikan arena pergulatan diantara mereka berdua.
'Dia cukup menyenangkan. Gara-gara terkena hipnotis, sifat aslinya akhirnya keluar.' Pikirnya. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menghimpit tubuh Airis dengan tubuhnya, sehingga mereka berdua pun saat ini jadi saling menempel, sampai sepasang aset yang terus bergerak itu, akhirnya bisa dihentikan setelah pria ini memepetnya.
Setelahnya dia mendaratkan sebuah ciuman di leher Airis itu.
"Airis, kau benar-benar menjepitku terus ya?" Pria ini terkadang mengerang nikmat, saat miliknya sungguh du himpit keras di dalam sana.
Sesuatu yang lembut, panas, serta punya daya jepitan yang cukup kuat untuk membuat pria itu terus bergerak lagi, lagi dan lagi.
"Kau membuatku tidak bisa berhenti, Airis." Imbuhnya, seraya pinggulnya terus dia hentakkan dengan cukup cepat.
"Ah..! I-iya Tuan, makannya ini sangat enak, kan?" Kata Airis.
Setelah mendengar hal itu, pria ini semakin menghantam area sensitif milik Airis, sampai batas yang dapat di ampu oleh Airis, sehingga Airis pun langsung mengejang hebat nikmat sebab akhirnya dia mendapatkan puncak dari kesenangan yang sedang dia lakukan dengan Tuannya itu.
Phak...phakk...phak...
Kedua daging yang saling berbenturan itu pun mengisi suasana tegang diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Anghh Tuan! Lebih cepat lagi!" Seru Airis.
Pria ini pun tersenyum miring, dia sangat menikmatinya juga, karena itu dia kembali menghentakkan beda pusaka nya untuk terus menusuk masuk lebih dalam, dan lebih dalam lagi.
Semua itu demi meraih untuk meraih kemenangan yang terus dia dapatkan selama beberapa puluh menit terakhir dengan manusia ini.
"Iya Tuan! Terus! La- ANghh~" Airis menjerit nikmat, dia mendapatkan apa yang dia mau dengan hubungan yang sedang dia lakukan dengan majikannya itu.
Sama hal nya dengan Airis, pria ini sama-sama dibuat puas, hingga semua pasukan miliknya sampai juga di arena pertarungan, dimana semua pionnya itu pasti sedang berlomba di dalam perut Airis.
Tapi apakah hanya akan sampai disitu saja?
Tentu saja tidak.
Dia akan memulai pergulatan baru dengan posisi yanng berbeda. 'Makanan enak tentu saja harus dihabiskan.'
"Tuan! Saya minta lagi!" Dengan bodohnya, ekspresi penuh harap itu terpampang jelas di wajah cantik Airis. Hasr*at yang terpendam yang dimiliki setiap manusia pun membuat Airis mengeluarkan sifat yang tidak pernah di tunjukkan kepada orang lain.
"Kau mau posisi ini? Pasti lebih enak, kan?" Tanyanya, tanpa basa-basi lagi, dia langsung menghantam lagi asetnya agar bisa mendapatkan jepitan khusus yang cukup merangsang dan memunculkan birahinya, sebagai seorang pria, untuk memuaskan wanita yang sedang gila dengan nikmat di area pangkal paha mereka.
SLUB..
"Ahh..Bagus Tuan!"
PHAK..
"Ahh..! Iya Tuan. Lagi-lagi!"
__ADS_1
Dan permintaan bodoh itu pun terus di kabulkan
Dengan gaya yang berbeda, maka sensasinya juga berbeda. Itu yang dirasakan Airis, sampai setiap pria itu mengentaknya, air bening hangat layaknya air terjun, mengalir juga.
Ekspresi bahagia terus terukir di wajah pria ini, sebab dia bisa mendapatkan apa yang dia mau, yaitu enegi kehidupan milik Airis.
Selagi air hangat itu keluar, maka itulah makanan miliknya.
Pria ini terus menghujankan gerakan cepat, kasar, tapi membawa rangsangan paling nikmat, dan dia melakukannya lagi dan lagi, seakan tidak ada kara rasa puas, sampai Airis yang hanyalah manusia biasa, sudah berada di ambang batanya.
Airis sudah lelah, dan sekalipun senyuman bahagianya terus terukir, bukan berarti Airis akan berakhir baik-baik saja.
"Tuan, saya minta lagi." Dengan wajah penatnya itu, Airis masih saja memintanya. Itulah pesona yang merasuki kedalam pikiran AIris, kalau pria di depannya itu adalah majikannya yang asli, dan sedang memuaskan nafsunya.
"Oh, baik sayangku. Aku akan membawamu mati dalam kenikmatan." Bisik pria ini kepada Airis, dimana saat itu posisi dari mereka berdua itu layaknya sedang bermain kuda-kudaan, dan tubuh pria ini benar-benar memeluk Airis dari belakang, lalu tangan kirinya yang tidak mau menganggur itu akhirnya mendapatkan mainan yang menyenangkan, gara-gara sepasang aset milik Airis yang cukup besar itu menggantung dan terus berayun seiring pinggang dari pira ini terus bekerja untuk mendapatkan kepuasan di pangkal paha mereka masing-masing.
"Anghh~" Lenguh Airis, saat segala sentuhan yang dia dapatkan berhasil mempengaruhi jiwa dan raganya untuk mendapatkan kesenangannya lagi. "Ini sangat nikmat Tuan. Tolong percepat lagi Tuan, angh~..ah~"
Dar situlah, mereka berdua pun mengisi kamar yang remang itu dengan segala sesa*an nikmat yang di isi oleh seorang wanita dan pria beda ras itu.
PHAK...PHAK....PHAK....
Airis memejamkan matanya, dia sedang menikmati segala rasa yang sedang dia dapatkan itu. Kenikmatan yang tidak bisa di ungkapkan lagi dengan kata-kata selain kata enak itu sendiri.
Sampai dimana, ketika Airis terus mendapatkan or*gasme secara terus menerus, hingga dia tidak dapat membendung keinginannya untuk terus mengeluarkan cairan yang ada di dalam dirinya, saat itu juga ketika rasa nikmat itu sudah melayang membawa tubuhnya seakan terbang ke atas langit, tubuh Airis pun akhirnya tumbang.
BRUKK...
__ADS_1
"............." Pria ini pun sedikit terkejut, akan tetapi keterkejutannya itu berubah menjadi ekspresi wajah penuh kemenangan. Sebab, "Hah...akhirnya aku bisa menguras habis miliknya itu, dan energi kehidupan yang aku dapatkan ini pun membuatku merasa lumayan kenyang." Ucapnya, seraya mengusap dahinya yang bercucuran keringat, hasil dari kerja kerasnya. "Tapi sayang sekali, dia sudah tidak hidup. Padahal era*ng*an miliknya itu cukup membuatku menginginkannya terus." Gumam pria ini, melihat mangsanya sudah tidak hidup lagi, karena Airis sudah mati.
Setelah tubuh molek Airis, dimana jiwanya sudah pria ini makan, dia pun terus saja melanjutkan perbuatan bejatnya itu, "Ahh~" Lenguhnya "Ini menyenangkan, kira-kira siapa lagi ya, yang bisa aku gunakan sebagai santapanku?" Ucapnya, pada dirinya sendiri.