Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
197 : Alstrelia : Saitan penghasut


__ADS_3

"Manusia, buat dia jadi milikmu selamanya. Karena kami melihat di dalam hatimu, kau sungguh sangat ingin memiliki wanita di bawahmu ini menjadi milikmu seutuhnya."


"Terlepas dari wajahnya yang mirip dengan adikmu, kau tetap ingin membuatnya jadi milikmu kan? Lihat baik-baik, dia itu sangat cantik, aroma tubuhnya pun sebenarnya sudah berhasil membuatmu terus terpikat kan?"


Kedua makhluk itu berdiri di dekat kanan dan kiri mereka berdua.


Sebuah hasutan terus di perdengarkan untuk Alrescha ini.


"Apa kau tidak penasaran, betapa memikatnya lagi jika kau bisa memakannya sekarang ini. Kau akan menjadi yang pertama." bisiknya lagi.


"Jadi yang pertama?" Tiba-tiba Alrescha bergumam lirih dengan kata terakhir yang di katakan oleh saitan itu kepada Alrescha.


"Ya..kau akan menjadi yang pertama. Memakannya, menyentuh sepuasmu, sampai merasakan semuanya, kau harus memikirkan itu semua."


"Ayo manusia. Batasanmu itu sudah ada di ujung tanduk kan? Lakukan sekarang, tunggu apa lagi? Ayo." Bisiknya.


"Benar, berikan hal teristimewa untuknya, kalau punyamu adalah hal paling hebat di dunia."


"Paling hebat?" Tanyanya lagi.


"Tentu saja Punyamu besar kan, itu makan membuatmu jadi merasa paling hebat diantara pria lainnya. Jangan sampai dia direbut oleh orang lain, buat dia jadi milikmu sekarang." Bisikan demi bisikan terus saja di tunjukkan pada Alrescha yang saat ini sudah menatap Alstrelia dengan tatapan mata yang sudah penuh dengan gairah.


Dan perlahan Alrecha pun menundukkan kepalanya ke bawah, dia membawa wajahnya untuk semakin menendekatkan wajahnya ke depan Alstrelia.


"Apakah akal sehatmu sudah tidak ada?" tanya Alstrelia, tetap menatap mata Alrescha yang semakin dekat saja.


Tapi respon yang diberikan oleh Alrescha terhadap Alstrelia adalah wajah tanpa ekspresi.


Jarak mereka oun semakin dekat dan terus mendekat. Dari lima belas centimeter jadi sepuluh meter, dan terus terpangkas menjadi lima centimeter.


"Ayo..sedikit lagi. Berikan tubuhmu kepadanya." Ucap saitan ini kepada Alrescha. "Turunkan tubuhmu, dan hantam dia dengan milikmu." Imbuhnya lagi.


"Alrescha, aku akan marah jika kamu melakukannya."


"Kalau marah silahkan saja." Balasnya dengan nada yang cukup lirih sekali, sehingga hanya mereka berdua lah yang masih bisa mendengar suara itu.


"Bagus, teruskan." Saitan ini semakin mengembangkan senyuman penuh memenangkan miliknya, sebab sebentar lagi di wilayah mereka berdua akan ada pekerjaan yang bida ditonton dengan penuh kesenangan.


Alrescha pun menurunkan tubuhnya, alhasil tubuh Alrescha pun menindih tubuh Alstrelia, hingga akhirnya "Alrescha mengekang tubuh Alstrelia.


BRUK.


Alstrelia pun tersenyum mencibir melihat kelakuan Alrescha yang cukup kurang ajar itu.


" Bagus..ayo, sekarang lakukan bagian itu." Bujuk saitan ini.


Dan Alrescha pun mendaratkan bibirnya di telinga Alstrelia.


"Ahh~" des*ah Alstrelia.


"Ya..ayo lagi, jangan kasih dia kelonggaran. Lakukanlah." Bisiknya lagi.


"Ahh~ A-Alrescha..tu-tunggu, jangan disitu." Pinta Alstrelia dengan segala lenguhan miliknya. "Aku sudah mendesah sesuai permintaanmu, apakah kau semakin tergoda denganku?" tanya Alstrelia lewat telepati nya.


"Ya..aku memang sungguh tergoda. Tapi asal kau tahu saja, aku masih bisa menahannya. Dan lagian, aku sedang tidak berhalusinasi kan? Aku dari tadi mendengar semua ucapan dari seseorang. Tapi yang jelas, aku tidak bisa melihat siapapun di sekitar kita." Jelas Alrescha sambil menggigut ringan ujung telinga milik Alstrelia.


"Apa? Jadi kau tidak bisa melihat dua makhluk jelek itu?" Tanya balik Alstrelia kepada Alrescha.


Padahal dimata Alstrelia, tentu saja di samping kanan dan kiri mereka berdua saat ini ada dua makhluk berwujud seperti manusia. Akan tetapi karena mereka berdua memiliki tubuh seperti bayangan namun berwarna hitam, tanpa wajah tapi punya mata berwarna merah, serta punya mulut yang terus mengutarakan banyak hasutan dari mukut kotornya yang menampakkan gigu putih bersih, ternyata semua yanh dilihat oleh Alstrelia itu sungguhan tidak bisa Alrscha lihat.


"Makhluk jelek? Seperti apa?"


"*Itu sama jeleknya seperti monster bab* itu. Tapi Dia lebih jelek lagi, dan saat ini mereka berdua sedang melihat ke arah kita, untuk membuatmu terkena hasutannya dan melakukan hubungan terlarang ini Alrescha. Aku yakin, kalau kau melakukannya, aku akan menghabisimu bersama dengan adikmu itu*." Ucap Alstrelia panjang lebar, dan kata terakhir itu berakhir dengan penegasan yang berisi ancaman.


"Kenapa kalian berhenti?"


"Hei, kalian tidak mau melanjutkannya? Kalau tidak mau, maka aku akan memaksa kalian berdua." Ancam makhluk berjenis kelamin pria ini kepada Alstrelia dan Alrescha. "Lucuti pakaian mereka berdua." Ucapnya.

__ADS_1


Dan perlahan ada banyak tangan bayang berwarna hitam tentunya, muncul dari dalam tanah. Dan semua tangan itu pun mulai mencengkram lengan Alstrelia agar tubuhnya tidak bisa bergerak kemanapun.


Dan sayangnya bukan hanya Alstrelia saja yang mendapatkan jeratan dari semua tangan bayang itu, sebab tangan bayang itu pun juga menjerat tubuh Alrescha.


"Aku tahu kau memang tidak bisa menggunakan sihirmu, karena di sini ada segel siihir, tapi aku akan meminjamkanmu ini. Sekalipun kau tidak bisa melihatnya, tapi kau masih mampu untuk merasakannya, jadi habisi mereka berdua." Pesan Alstrelia kepada Alrescha, masih menggunakan telepatinya.


Karena Alstrelia saat ini tidak bisa bergerak gara-gara semua tangan bayang itu, Alstrelia pun hanya bisa menggunakan satu cara yang sebenarnya tidak mengandalkan sihir, karena ianya ada di dalam kalungnya, yaitu pedang miliknya.


Alrescha pun melihatnya. Di balik kerah baju yang di pakai oleh Alstrelia tiba-tiba saja bercahaya berwarna biru.


BRUK..


"Ahw.." Kernyit Alstrelia saat kepala Alrescha tiba-tiba saja jadi mendarat di bahu sebelah kirinya Alstrelia, dan membuat setiap hembusan nafas yang di lakukan oleh Alrescha itu, mampu menciptakan sensasi yang cukup menggeltik tepat di lehernya.


"'Ini bukan aku, mereka yang melakuannya." Ungkap Alrescha agar Alstrelia tidak salah paham dengan posisinya saat ini.


"Yang itu aku tahu, tapi kenapa juga kau menjulurkan lidahmu dan menjilat leherku?" Lirik Alstrelia. "Entah alasan apa yang ingin kau buat lagi, tapi pegang itu dan balas mereka." Tegas Alstrelia.


Tepat setelah mengatakan itu, pakaian Alstrelia yang awalnya terpakai dengan baik, kini perlahan mulai di tarik.


Dan sama hal nya dengan Alstrelia, Alrescha pun akhirnya mendapatkan hal yang sama juga. Tapi sayangnya sebelum pakaiannya itu benar-benar di tarik sampai robek, di tangan kanan Alrescha tiba-tiba mendapatkan satu barang yang cukup dingin.


'Apa ini pedangnya? Kenapa dia bisa mengeluarkan pedangnya? Padahal untuk sihir saja susah untuk di gunakan, karena sihirku saja di segel, dan kelihatannya dia juga sama-sama tersegel juga. Tapi ini-' Alrescha pun menggenggam dengan cukup erat gagang pedang yang perlahan mulai dia rasakan.


Sesuatu yang terdapat di dalam pedang Alstoria itu, Alrescha benar-benar mampu untuk merasakna kekuatan yang ada di dalam pedang itu. Hingga saat Alrescha memegangnya, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengalir di dalam tubuhnya, sehingga Alrescha pun merasakan energi yang mampu untuk membuat Alrescha bisa mengerahkan kekuatan fisiknya untuk melawan jeratan dari tangan bayang ini.


"Tunggu apa lagi, buat pemandangan ini berlangsung indah dan bergairah!" Ucap Saitan pertama.


Posisi Alrescha yang awalnya berada di posisi tengkurap dengan keadaan menindih tubuh Alstrelia, kini langsung Alrescha gerakan dengan ayunan pedang yang dia pegang itu ke arah kanan dan berputar ke belakang sampai


"Cepat lucuti mereka berdua di depanku, dan buat mereka menggerakkan tubuh mereka untuk melakukan hubungan in-" Dan ucapan dari Saitan kedua pun langsung menghilang bersamaan dengan satu serangan yang di lakukan oleh Alrescha.


CRASHH....


"A-apa?" Saitan berjenis perempuan ini langsung terkejut, karena saudaranya tiba-tiba langsung mendapatkan serangan telak dari Alrescha, sampai membuat tubuh itu terpotong jadi dua.


"Kenapa kau bisa lepas dari jeratan tangan arwah?" Tanyanya.


"Kenapa? Tidak ada alasan untuk memberitahumu." Balas Alrescha.


Tebakan Alstrelia tentang Alrescha yang tidak bisa melihat kedua makhluk penghasut yang sempat beridiri di sampingnya itu memang benar.


Tapi sekalipun Alrescha mendapatkan kendala itu, tapi tidak dengan nalurinya. Dia masih bisa meraskan adanya gelombang lain yang saat ini berdiri di depan sebelah kirinya.


Dengan menggunakan kemampuan alaminya itu, maka Alrescha pun dengan mudah menerka posisi dari satu makhluk yang tersisa itu.


Dengan batuan dari pedang Alstoria yang di pinjamkan oleh Alstrelia kepadanya, maka kekuatan milik Alrescha pun jadinya mulai kembali, dan hal itu membuat dirinya mampu untuk melawan Saitan itu.


"Tidak bisa begini. Dia seharusnya jadi budak ****, dia tidak seharusnya melawanku, apaagi di daerah kekuasaanku ini."


"Kekuasaan apa? Yang berkuasa di daerah ini adalah anak itu, bukan kau." Jawab Alstrelia terhadap ucapan yang di lontarkan oleh Saitan itu dengan menggunakan telepatinya.


Dan apa yang dikatakan Alstrelia pun berhasil menarik perhatian Saitan itu dari Alrescha kepada Alstrelia yang kini masih terbaring di atas lantai batu, karena tangan bayang itu masih ada dan masih menjerat tubuh Alstrelia untuk tidak bergerak apalagi kabur dari sana.


"Udah jelek, marah jadi tambah jelek tuh." Hina Alstrelia kepada Saitan itu.


"Kau! Kau bisa melihatku?!" Satu pertanyaan atas keterkejutannya itu langsung di hentikan karena Alrescha langsung memberikan satu ayunan pedang kepadanya.


SYUHT..


"Siapa yang menyuhmu kabur dariku?" Tanya Alrescha dengan nada yang cukup rendah.


"'Tentu saja aku sendiri. Kau mau membunuhku kan? Itu tidak akan terja-"


Tidak mau mendengar jawaban yang berisi omong kosong saja, Alrescha pun langsung memberikan serangan selanjutnya. Dia mengayunkan pedangnya dari arah kiri ke arah kanan.


"Eh! Kau licik juga, aku menjawab pertanyaanmu tapi kau malah menyer-" Dan ucapannya kembali di sela oleh Alrescha yang lagi-lagi menyerangnya.

__ADS_1


SYUHT....


Saitan ini tiba-tiba bisa melompat ke atas dan langsung mendarat di samping Alstrelia.


"Kalau kau menyerangku lagi, aku akan me-"


"Melakukan apa? Mau mengancamku dengan wajah jelekmu itu? Itu tidak akan bisa terjadi. Jelek." Lagi-lagi satu hinaan lagi di tunjukkan kepada Saitan itu.


"Kau- Kau akan menyesalinya, karena menghinaku seperti itu manusia. Rasakan ini." Saitan ini pun berjongkok dan segera mencengkram baju seragam yang di gunakan oleh Alstrelia itu.


Setelah di cengkram, maka yang dilakukan oleh Saitan ini selanjutnya adalah mencoba merobek pakaian yang dikenakan Alstrelia itu.


"K-kenapa tidak bisa? Pakaian apa yang kau gunakan ini? Argghh..." Masih gigih dengan perbuatannya untuk melucuti pakaiannya Alstrelia, maka Alstrelia hanya menatap Saitan bodoh itu dengan tatapan yang cukup datar.


'Aku pikir dia kan melakukan sesuatu yang besar, tapi kenapa aku seperti sedang menghadapi orang bodoh?' Pikir Alstrelia. Satu alasan yang pasti kenapa seragam yang di gunakan oleh Alstrelia tidak bisa robek itu justru karena teknologi yang tertanam di pakaian itu sudah bercampur dengan seluruh rangkaian aktivasi sihir pertahanan.


Jadi, meskipun termasuk menggunakan sihir, akan tetapi karena sihir yang ada di dalam pakaian Alstrelia adalah sihir yang terpisah dari tubuh inangnya, maka hasilnya adalah seperti saat ini.


Pakaiannya sama sekali tidak bisa di robek. Apalagi karena yang melakukannya adalah makhluk yang mengancam keselamatannya Alstrelia, maka pakaian itu pun seakan menjadi tameng khusus untuk Alstrelia sebagai pertahanan terakhirnya.


Karena itulah, Alrescha tanpa basa-basi pun melayangkan pedangnya untuk memenggal kepala Saitan ini.


CTANG..


Tiba-tiba saja serangan Alrescha ini berhasil di tangkis dengan tangan bayang itu.


Sedangkan usaha Saitan ini untuk merobek baju Alstrelia pun hanya berakhir dengan sia-sia saja?


Tidak.


Itu adalah awal permulaan dari Saitan ini untuk mengerahkan semua tangan itu untuk membawa tubuh Alstrelia masuk kedalam lantai, tempat dari dimensi asal semua tangan bayang itu muncul.


"Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi? Hancurkan lingkran sihir ini!" Tuntut Alstrelia kepada Alrescha yang saat ini sedang memegang pedang milik Alstrelia.


Melihat tubuh Alstrelia perlahan di bawa masuk ke dalam lapisan dimensi milik mereka, sebelum Alstrelia benar-benar menghilang dari hadapannya, karena kekuatan Alrescha sebagai pengendali es mulai bisa sedikit dia gunakan, maka bersamaan dengan kekuatan miliknya, dia pun akan menggunakan satu serangan yang Alrescha buat untuk di kombinasikan dengan struktur kekuatan sihir yang ada di dalam pedang Alstoria.


Alrescha mengangkat tangan kirinya agar sejajar dengan wajahnya. Setelah itu, ujung pedang Alstoria pun dia letakkan di atas telapak tangna kirinya.


Dengan posisi itu, kedua matanya pun membidik satu target yang tidak lain adalah Saitan.


Dimana setelah dirinya membuat posisi itu dengan pedang Alstoria milik Alstrelia, Alrescha pun akhirnya bisa melihat wujud dari Saitan yang terlihat sedang berjongkok dengan wajah diamnya, tepat di samping kiri Alstrelia, yang kini sedang terjerat semua tangan bayang itu untuk masuk ke dalam dimensi milik mereka yang merupakan dimensi dari lingkaran sihir yang ada di bawah kaki mereka berdua.


"Alrescha! Cepat!" Teriak Alsteria tepat di hembusan nafas terakhir saat Alstrelia hampir sepenuhnya masuk kedalam tanah.


Dan Alrescha yang tiba-tiba saja namanya diteriaki dengan kencang, membuat Alrescha segera melapisi pedang yang di pegangnya itu dengan es miliknya. Setelah menjadi beku, sebuah api berwarna biru pun menyelimuti bilah pedang itu, hingga setelah pedang itu terselimuti api biru, Alrescha pun langsung menurunkan tangan kanannya itu dan pedang yang Alrescha pegang itu akhirnya Alrescha ayunkan dengan cepat ke cara menebas udara di sekitarnya.


SYUHTT...


Hasil dari ayunan pedang yang menebas udara di sekitarnya itu pun membuat area sekitar dari lingkaran sihir, dimana pola lingkaran sihir yang ada di permukaan lantai batu, tiba-tiba lantai itu langsung anjlok ke bawah sedalam setengah meter.


BRUK..


'Pedang itu-' Sampai Saitan ini tiba-tiba saja termangu, melihat pedang yang di balut es itu tidak meleleh, sekalipun seperti sedang di bakar oleh api berwarna biru. 'Apakah itu pedang yang di ambil dari dalam kuil yang sudah hancur itu?' Toleh Saitan ini ke arah samping kanannya.


Sebuah kuil yang bangunannya sudah tidak ada adalah tempat dari saksi bisu sebuah pedang asing dari tempat asing tiba-tiba saja tersimpan di dalam kuil suci.


KRAKK....


Dan lantai yang di pijak oleh mereka bertiga pun berubah menjadi es yang membeku dan berakhir dengan api biru yang merembet membakar lantai berbentuk lingkaran itu.


"Ha~ Tekad kalian untuk tidak terhasut dengan apa yang ada di dalam diri kalian, ternyata bisa membuatku kalah seperti ini." Beber Saitan ini dengan senyuman remehnya. "Dan kau, manusia dari tempat lain, kau memang manusia yang cukup merepotkan. Tapi asal kau tahu saja sebenter lagi, kau pasti ak-" Belum sempat mengatakan kata terakhirnya, api biru itu langsung memusnahkan makhluk itu.


Api biru yang bisa membakar apapun yang di lahapnya, tapi tidak dengan si pemilik, dimana dia tidak akan terbakar.


Dan ketika seluruh tangan bayang itu sudah lenyap bersamaan dengan Saitan yang ternyata tidak begitu membawa dampak pertarungan yang cukup sengit, akhirnya membuat Alstrelia terlepas dari jeratan tangan bayang tadi.


Tapi apa yang terjadi, ketika Alrescha rupanya masih berdiri di tengah lantai yang sedang terbakar oleh api biru ini, tapi Alrescha sendiri tidak terbakar juga, layaknya Alstrelia?

__ADS_1


__ADS_2