Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
132 : Alstrelia


__ADS_3

Benar...


Alstrelia yang sekarang ada di depan mereka itu tidak boleh mati!


Namun tatkala suasana hati tak karuan yag membludak di dalam diri Alrescha dan Chavire, di satu sisi lain yaitu Charles, dia sekarang ini sedang ada dalam kebingungannya sendiri.


Karena apa, itu disebabkan prosesi untuk pertukaran jiwa miliknya dengan Chavire ternyata gagal. Meskipun itu sudah jadi yang ketiga kalinya, tapi hasilnya tetap sama.


'Kenapa gagal? Kenapa bisa? Padahal aku benar-benar mengingat semua urutannya, bahkan mantera sihirnya. Tapi ini kenapa tidak bisa jadi?' Pikirnya.


Charles mencobanya untuk yang kesekian kalinya. Merapalkan mantera di samping darah miliknya dengan darah Chavire sudah dia miliki, tetapi setelah melakukannya lagi, dia lagi-lagi masuk kedalam kegagalan!


Saat Charles melihat apa yang sedang terjadi pada Chavire itu, dia langsung melihat kemarahan itu benar-benar terpancar pada wajahnya. Tidak hanya Chavire, ternyata Alrescha juga sama.


Dua orang sejolin itu benar-benar masuk di dalam jati diri mereka karena perempuan yang mereka sayangi itu sudah tergeletak di lantai bersama dengan ke empat Gimmick itu.


Dan untuk Alrescha. Padahal Charles selama ini melihat wajah Alrescha yang didominasi seperti tembok, tapi untuk yang pertama kalinya, Charles melihat sorotan mata membunuh ada di dalam diri pria itu, dan Chavire juga.


Benar-benar....


Putri Alstrelia yang mempunyai segala rumor yang tidak baik itu, ternyata sangat di sayangi oleh dua orang itu.


Alrescha yang terkenal dingin, tapi sayangnya dia adalah si anj*ng penjaga dari Kaisar, yaitu Chavire. Sebab ketika banyak faksi bangsawan yang tidak begitu mendukung Chavire menjadi Kaisar, justru pangeran kedua Kekaisaran Regalia, yang mendapatkan dukungan beberapa faksi bangsawan agar Alrescha yang menjadi Kaisar, justru memilih untuk menjadi an*ng penjaga Kaisar baru itu.


Dan kedua orang itu sekarang hatinya dan pikirannya sudah terpengaruh karena apa yang mereka berdua lihat dengan mata kepala mereka sendiri.


Sedangkan Arsela, wajah Arsela yang semula terlihat biasa saja, sekarang dia akhirnya membuat ekspresi seperti orang yang baru saja memenangkan sebuah pertandingan. Senyuman puas tersungging di bibir ranum itu, sebab dia akhirnya bisa melihat saingannya mati di depan mata kepalanya sendiri.


Ya....


Karena tanpa perlu campur tangan lebih, Alstrelia sudah tumbang juga, setelah di tikam pedang oleh makhluk Gamelo itu.


"Karena dia sudah mati, sekarang jadi beres kan?" Tanya Gamelo itu kepada Arsela.


"Benar. Kamu sangat membantu. Dengan begini rencana ini akan berjalan sesuai dengan kehendaknya." Sahut Arsela atas pertanyaan dari Gamelo tadi.


"Tapi aku dengar kamu tadi bilang as-" Belum sempat mengatakannya sampai selesai, dia sudah di tatap oleh Gamelo itu agar tidak banyak bicara lagi, sekaligus jangan pernah membahasnya.


"Jangan pernah katakan apapun yang kamu dengar, jika tidak...." Gamelo ini berjalan mendekati Arsela yang sudah memasang wajah canggung. "Tidak jadi. Tapi asal kamu tahu, jika kamu mengucapkannya, memikirkannya, aku akan segera tahu. Paham?"


"Aku paham." Jawab Arsela dengan anda gugup.

__ADS_1


"Kalau paham, sekarang saat nya untuk,-" Belum selesai bicara, dia melihat tubuh Alstrelia yang terkena tikaman dari pedangnya itu, kini pendarahanaya sudah berhenti berkat kemampuan yang dimiliki oleh Alrescha.


Tetapi setelah itu apa yang sedang menunggu mereka semua?


Gamelo dan Arsela pun menoleh kearah dimana Alrescha dan Chavire berada. Suasana di dalam ruangan itu seketika berubah cukup drastis.


_________________


CTANG…!


Semua orang di luar Istana di sibukkan dengan musuh mereka yang punya kekuatan sebanding dengan mereka juga. 


Oleh sebab itu, sampai saat ini belum ada diantara mereka yang kalah.


CTANG..!


“Kamu benar-benar bersikeras sekali ya, mau mengalahkan dirimu ini?.” Kata Gamelo kepada Elbert.


Elbert pun tersenyum mencibir, “Jika tidak seperti itu, aku jadi tidak bisa membantu yang lain,” Jawabnya. 


Elbert pun benar-benar melawan musuh yang sepadan, sebab musuhnya itu adalah dirinya sendiri. 


“Tapi aku peringatkan padamu, jangan terlalu baik kepada orang lain. Karena kebaikan tidak selalu mendatangkan kesenangan.” Kata Gamelo tersebut kepada Elbert. 


“Tidak juga, aku hanya sedang memberitahumu.”


“Untuk ukuran dari diriku yang lain, ternyata kamu bisa mengkhawatirkanku, ya? Sungguh tidak terduga.” Cetus Elbert. 


Dia langsung mengayunkan pedangnya dari arah kanan ke kiri, setelah itu, Gamelo itu pun dengan berani langsung menghadang serangan yang datang kearahnya. 


Hingga sampailah dimana pedang milik mereka berdua akhirnya saling beradu dan menciptakan suara nyaring yang cukup membuat bulu kuduk langsung meremang. 


CTANGG….


“Itu tergantung dari arah caramu berpikir.” Timpal makhluk Gamelo ini. 


“Heh….” Elbert lagi-lagi tersenyum, tapi kini adalah senyuman miris. Karena sekalipun mereka berdua sudah mengerahkan banyak kekuatan demi mengalahkan satu sama lain, tidak ada tanda-tanda di antara mereka berdua masuk dalam kemenangan maupun kekalahan. 


________


KLANG…

__ADS_1


“Kamu benar-benar meremehkanku ya?” Tanya Lena dengan senyuman mengejek kepada lawan tandingnya. 


“Hahaha….kamu pikir begitu ya? Padahal kita berdua hanya sama-sama kuat.” Sahutnya. 


Sama hal nya dengan mereka semua, Lena pun turut mendapatkan bagian dari pertarungan itu. 


"Mengalah sajalah Lena, sia-sia membuang tenagamu itu." Bujuk Gamelo ini.


Sekalipun wajahnya tertutup oleh kepala tengkorak binatang, Lena sangat yakin kalau saat ini ekspresinya di balik topeng itu sedang menatap Lena dengan tatapan merendahkan.


Tapi karena itulah, Lena pun tidak mau mendapatkan kekalahan dari dirinya yang lain itu?


"Jangan bercanda. Dasar bedebah sialan! Kamu benar-benar mengira kalau aku yang seorang manusia ini akan kalah darimu ha?!" Lena yang sudah kesal dari tadi sebab dia belum saja memiliki titik terang untuk mengalahkan musuhnya itu, persetan mau mati atau tidak, Lena langsung menyerang musuhnya itu dengan membabi buta.


CTANG...


CTANG....


Tombak dengan tombak.


Saat Lena mengayunkan tombaknya dari atas ke bawah, serangan itu jelas dapat di tahan oleh makhluk itu.


Tapi tidak hanya sampai di situ saja, sebab Lena langsung memberikannya serangan lanjutan dengan cara Lena segera menarik senjatanya dan memutar tubuhnya dari arah kanan terus berputar tiga ratus enam puluh derajat, sampai senjata yang masih di pegangnya itu dia ayunkan seiring dengan tubuhnya tadi berputar dengan cepat, dan di saat itulah Lena pun menargetkan tubuh bagian kanan makhluk itu.


CTANG....


"Kamu memangnya bisa apa? Aku tentu saja sudah tahu semua gerakanmu."


"Entahlah, yang penting aku bisa menyerangmu habis-habisan!" Seru Lena.


Selepas serangannya yang kedua di tangkis, tentu saja Lena tanpa kehilangan akal dalam teknik bertarung itu, segera membuat tombaknya jadi terlipat jadi dua. Dimana tepat di lipatan tombak itu terdapat satu ujung besi yang runcing, dan hal itu segera membuat Lena langsung mendorong senjatanya ke depan dengan posisi sedikit miring ke kanan, sampai akhirnya Gemelo yang lengah itu, perutnya langsung tertusuk.


JLEB.....


"Uhuk.." Akibat dari batuknya itu, darah tersebut langsung menyembur keluar dari topeng kepala tengkorak itu. "Akh...ka-mu,"


"Heh...aku cerdik kan? Kamu pikir aku hanya mengandalkan tombak yang identik dengan panjang?" Ucap Lena dengan sombongnya.


Selepas itu, dikarenakan dia merasa penasaran dengan wajah di balik topeng itu, Lena yang awalnya menekan tombak tersebut agar masuk lebih dalam, langsung dia tarik keluar dan segera melepaskan topeng itu dengan cara memukul topeng itu dari bawah ke atas.


KLAKK....

__ADS_1


Topeng itu langsung terlempar ke langit dan berakhir dengan jatuh ke balakang sana.


Dan dari situlah, Lena akhirnya mampu melihat wajah yang terus di sembunyikan itu.


__ADS_2