
BUKHH……
Tidak seperti ekspektasi Elda yang akan melihat wajah Als yang terkejut, yang ada adalah Elda justru disuguhkan oleh senyuman yang cukup meremehkan.
Dan sekarang, bogem mentahnya pun tidak jadi memukul wajah dari majikannya itu. Sebab Elda sadar, mau seberapapun songong dan menyebalkan Als yang saat ini menguasai kesadaran dari tubuh Alstrelia, yang dia hadapi itu adalah Putri Alstrelia.
Jadi mau bagaimanapun, jika dirinya ketahuan memukul komandannya sendiri, akan ada akibat yang Elda dapatkan nanti, karena Elda sebenarnya sudah membuat sumpah setia kepada perempuan tersebut, jadi mau seberapa menyebalkan segala ucapan yang keluar dari mulut itu, Elda harus menghadapinya dengan lapang dada.
Hanya itulah yang bisa Elda lakukan.
Dan karena sebab itu pula, Elda yang hendak memukul wajah itu, tidak jadi dia lampiaskan kecuali dia lampiaskan bogem mentah miliknya itu ke dinding kamar.
Dan hasilnya cukup memuaskan mata Lena, sebab sekarang dinding kamar milik Nona Alstrelia benar–benar jadi berlubang.
“.............” Lena pun menatap kedua orang sejolin itu dengan tatapan datar.
Alstrelia atau yang sekarang sedang mereka hadapi adalah Als, dan juga Elda, anak buah Alstrelia yang tidak mampu melampiaskan kemarahannya kepada orangnya langsung, Kedua orang itu pun Lena berikan tatapan datar, karena gara-gara mereka berdua, saat ini kamar mewah milik Nona Alstrelia yang sudah Lena jaga serta dia rawat, sudah berantakan total, dan di tambah banyak kerusakan yang hanya di akibatkan oleh kedua orang itu.
BRUK…
Mengingat sekarang saja Nona majikan aslinya masih menghilang, dan kamar milik Nona nya juga hancur seperti itu, Lena pun langsung terduduk lemas dengan ekspresi wajah terpegun.
‘K-kenapa ini bisa terjadi? Sekarang kamar milik Nona yang indah ini, jadi seperti ini.’ Batin Lena.
Mau marah pun, Lena merasa tidak ada gunanya juga, sebab dia tidak mau membuang tenaganya hanya sekedar memarahi mereka berdua.
Tapi melihat kamar milik Alstrelia sudah seperti kapal perang, membuat hati Lena merasa sakit. Pasalnya semalam Lena baru saja mengalami masa bagaimana bisa berperang dengan sekumpulan monster dan makhluk jahat. Namun yang lebih parahnya lagi, fakta di balik alasan monster itu menyerang juga berisi keinginan untuk membunuh Nona Alstrelia, sang majikannya itu?
‘Kenapa dengan manusia itu?’ Pikir Als, saat melihat wajah bengong Lena dengan posisi sudah terduduk di atas lantai.
__ADS_1
‘Waduh, jangan-jangan dia marah, tapi tidak tahu harus marah, makannya seperti itu!’ Elda segera menarik tangannya dari permukaan dinding? Yah…dinding yang sudah jebol itu.
Als berjalan menghampiri Lena yang terdia, di atas lantai itu.
“Kau sedang apa di atas lantai seperti ini?” Tanya Als.
Pertanyaan itu lantas menyadarkan Lena yang tadi sempat melamun.
Mata dan wajah yang sama dengan Alstrelia yang Lena layani, membuat Lena tersenyum lemah sambil berkata, “M-maaf, membuat Nona khawatir. Saya hanya terkejut saja, karena teman anda ternyata kuat juga ya?” Lena mencoba tegar dengan segala kenyataan yang ada di depannya itu.
Tentu saja dia tidak akan mengatakan perasaan yang sedang Lena rasakan kepada dua orang itu, sebab tidak ada gunanya juga.
Memangnya mereka berdua bisa apa selain menghancurkan?
Itulah yang dipikirkan oleh Lena saat ini terhadap dua orang itu.
Mereka berdua tahu apa yang sudah mereka perbuat pada kamar yan dimiliki oleh majikannya Lena.
Karena itu, alasan Lena jadi duduk di lantai dan sempat melamun tadi.
____________
“Ahh…” suara lenguhan yang begitu lirih itu keluar dari mulut yang sedang tadi diam tanpa sepatah katapun.
“Kenapa Yang mulia mendesah seperti itu?” Tanya pria dengan kemeja putih ini, saat melihat majikan dengan posisi paling tinggi itu mendesah dengan wajah melamun seperti sedang menerawang cukup jauh.
Pria yang tidak lain adalah Alvaron ini langsung melirik kearah salah satu ajudan nya, yaitu Arden.
“Rasanya sepi.”
__ADS_1
“Apanya?” Tanya Arden sembari melirik satu-satunya pria yang sedang duduk sambil menatap pemandangan yang ada di depannya.
Pemandangan apa?
Itu adalah kota dari kerajaan Asgardia. Dan saat ini dirinya sedang duduk di pembatas balkon sambil mengayunkan kedua kakinya. Sedangkan Arden, si ajudan, sedang berdiri di belakang persis Alvaron.
“Tidak ada mereka berdua, teryata istananya jadi sangat sepi sampai seperti ini.” Jawab Alvaron atas pertanyaan Arden yang cukup penasaran dengan kata sepi tadi.
“Sekarang anda baru bilang berkata sepi? Lalu apa yang anda rasakan beberapa hari lalu setelah kehilangan Putri Alstrelia?”
Sorotan mata Alvaron pun berubah menjadi sendu. Dia menatap kota yang dia pimpin lebih dari sepuluh tahun itu.
“Awalnya sih biasa-biasa saja, tapi setelah Elda pergi juga, aku baru menyadari kalau tanpa mereka, disini akan terasa lebih sepi dari dugaanku.” Terus terang Alvaron kepada ajudan nya.
“Lalu maunya anda gimana?”
“Kau tanya aku maunya bagaimana? Tentu saja aku ingin mereka bisa kembali.” Tekan Alvaron.
“Tapi~ Kan anda sendiri yang mengirim Tuan Putri dan Elda kesana.”
Alvaron langsung berwajah masam, merasa kalau ucapan dari Arden adalan sebuah sindiran. “Awalnya hanya sekedar, agar membuat mereka bersenang-senang. Tapi siapa yang akan menyangka aku malah jadi merindukannya?”
“Tapi anda tahu sendiri, Tuan putri dan Elda harus menyelesaikan perannya. Selama belum selesai, maka mereka berdua tidak akan bisa kembali. Jadi sebaiknya anda berdoa saja agar mereka berdua bisa pulang kesini dengan selamat.” Jelas Arden.
“Bicara saja itu memang mudah, tapi…” Alvaron mencengkram baju bagian dadanya, meremasnya sambil berkata, “Alstrelia, aku merasakan dia sedang tertidur.”
“.............” Arden pun langsung paham apa yang dimaksud oleh Raja nya itu, bahwa ‘tertidur’ yang diucapkan oleh Yang mulia raja itu mengartikan kalau posisi dari jiwa Putri Alstrelia saat ini sedang tertidur, dengan kata lain, tubuhnya secara otomatis digantikan oleh satu kesadaran milik Putri Alstrelia yang satunya lagi. “Tuan putri dan Elda pasti bisa menyelesaikan semua masalahnya. Lihat saja prestasi yang selama Tuan Putri capai, jadi anda jangan khawatir lagi.”
“.............” Alvaron pun terdiam seraya menatap lagit senja. ‘Alstrelia.’ Panggil Alvaron dari dalam hatinya.
__ADS_1