
Malam itu~
DI sebuah kastil tua, tepat di dalam sebuah kamar, duduklah seorang laki-laki berambut hitam bermata kuning itu di atas sebuah tempat tidur.
Tentu saja dia tidak duduk sendirian, karena di depannya persis dia kebetulan sedang di temani oleh seorang wanita.
Wanita berpakaian pelayan, yang sedang malu-malu, akhirnya mengungkapkan satu pertanyaan yang sedari tadi pria itu tunggu.
"Tuan, permainan apa yang akan kita lakukan?" Tanya wanita berambut hitam dengan panjang sebahu ini, pakaiannya saat ini adalah pakaian pelayan.
Tentu saja, karena pada dasarnya wanita tersebut bekerja sebagai pelayan di kastil tua itu, dan karena majika yang dia layani memanggilnya, maka dia pun datang dan saat inilah posisinya sekarang, duduk berdua bersama dengan sang majikan, yang menurutnya cukup tampan, sampai senyuman tipis yang sedari tadi tersungging, sukses membuatnya tergoda.
"Permainan apa? Itu adalah permainan yang membuatmu masuk dalam kesenangan yang tidak pernah kau bayangkan, wanita." Jawab pria ini. "Ah...sebentar, siapa namamu?"
"Airis."
"Baiklah, aku akan memanggilmu Airis."
'T-tuan memanggil namaku langsung?' Jantung Airis langsung berdegup kencang, sebab namanya tiba-tiba saja di panggil dengan mulut yang terlihat seksi itu.
"Apa kau bisa bermain catur, Airis?" Tanya pria ini kepada pelayannya yang begit terlihat senang karena namanya barusan di panggil.
"Sedikit." Sahut Airis.
"Begitu ya. Hmmm...ini permainannya cukup mudah. Kamu hanya perlu menekan tombol ini. " Pria ini menempatkan satu kotak kecil di depan mereka berdua, dimana di atasnya terdapat satu jarum jam, dan di samping kotak itu terdapat satu tombol yang harus di tekan.
"Jika kau menekan ini, secara otomatis jarum jam ini akan berputar. Ketika jarum jam ini berhenti dan menunjukmu atau aku, maka masing-masing harus memberikan satu pertanyaan untuk di jawab pada yang kalah.
Jika yang dijawab adalah sebuah kebohongan, dikurangi satu poin, dan poinnya adalah yang kalah harus melepas satu pakaian yang dipakainya." Imbuhnya lagi.
"Tapi memangnya bagaimana caranya mengetahui jawabannya bohong atau tidak?"
"Cara mengetahuinya adalah jika kristal kebohongan ini menyala, berarti jawabannya memang salah." Tunjuk pria ini ke tempat dimana adanya satu kristal yang menempel di bawah jarum jam persis itu.
"Baiklah...tapi apakah anda yakin mau bermain seperti ini dengan pelayan rendahan seperti saya?" Tanya Airis, dengan wajah ragu.
"Kenapa tidak yakin? Apa yang aku katakan selalu mewakili keyakinan yang ada di dalam diriku." Balas pria ini.
Wanita itu awalnya menatap benda tersebut dengan tatapan ragu, tapi saat matanya melihat wajah Tuan nya yang tampan itu tersenyum lembut ke arahnya, dia pun memantapkan tekadnya untuk bermain bersama dengan tuan yang di layaninya.
"Silahkan kau yang mulai dulu." Tawar pria ini kepada Airis.
"Saya?"
"Hmm...memangnya siapa lagi kalau bukan kau, Airis?"
__ADS_1
Lagi-lagi mendengar namanya di panggil oleh mulut Tuannya, wanita ini pun semakin di landa sebuah kebahagiaan, karena bisa berinteraksi dengan seorang bangsawan seperti pria di depannya itu.
Sampai tanpa menunggu waktu yang lama lagu, pelayan ini pun mengikuti arahan yang diberikan oleh Tuannya tersebut.
Dia akhirnya menekan tombol tersebut, dan setelah itu jarum jam itu pun berputar cepat.
"Coba lihat, kira-kira jarum itu akan berhenti ke arahmu atau ke arahku?" Pinta pria ini.
Sekalipun mulutnya hanya mengatakan hal ringan seperti itu, tapi pelayan itu pun benar-benar menuruti perkataannya.
"Baik." Dengan cukup menurut, Airis langsung menatap jarum jam yang terus berputar, berputar, dan berputar. Sampai akhirnya jarum jam itu justru berhasil menghipnotis Airis si pelayan bodoh ini.
Dan akhirnya sorotan mata Airis pun menjadi kosong.
Dan disitulah pria ini mengulas senyuman penuh kemenangan. Dia menatap Airis si pelayan yang belum lama bekerja di kastil nya itu dengan tatapan penuh makna, sampai bibir yang awalnya tadi terdiam, akhirnya dia gunakan untuk kembali mengucapkan sebuah kalimat perintah.
"Lepas pakaianmu sekarang." Perintah pertama yang terlontar dari mulut berbisa itu.
"Sekarang?"
"Tentu saja sayangku, sekarang dan tepat di depanku." Timpalnya.
"..........." Dengan wajah bengong, Airis melirik ke arah pakaiannya sendiri. Dalam kurun waktu yang sama kedua tangannya pun dia angkat untuk menggapai satu persatu kancing yang mengaitkan kedua sisi dari bajunya itu.
SRUK...
"............." Pria ini pun mengulas senyuman miringnya, karena akhirnya dia bisa mencicipi tubuh dari wanita yang bekerja menjadi pelayan di kastilnya itu.
Satu persatu seluruh pakaian yang dikenakan oleh wanita tersebut telah lepas, sehingga memperlihatkan tubuh polosnya, dari ujung kepala sampai ujung kaki, tanpa ada kecuali pria itu pun dapat melihatnya dengan jelas, hal paling menakjubkan yang pernah ada adalah bisa melihat satu set aset yang masih terjaga dengan sangat baik itu, dengan kata lain Airis adalah wanita yang masih perawan.
Tubuhnya yang molek, kulit putih halus, siapapun akan mengalami rasa lapar untuk mencicipinya. Dan itu termasuk dirinya yang jadi tergoda untuk meraih sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu langsung.
"Apalagi yang harus saya lakukan, Tuan?" Tanya Airis, menunggu perintah selanjutnya dari majikannya itu.
"Berbaringlah." Pinta pria ini, "Dan buka kedua kakimu lebar-lebar." Imbuhnya.
"Baik, Tuan." Sahut Airis.
Airis pun menuruti perintahnya untuk berbaring. Setelah berbaring di atas tempat tidurnya, dia pun membuka kedua kakinya yang sudah tidak memakai apapun, sehingga saat ini aset berharga miliknya pun ketahuan dan benar-benar diperlihatkan oleh pria di depannya itu, yang mana pria tersebut kini sudah duduk di depan kakinya persis.
"Airis," panggilnya.
"Ya, Tuan?" Tanya Airis.
"Apakah kamu menyukai untuk bekerja di sini?"
__ADS_1
"Tidak, Tuan."
"Oh..kenapa?" Tanya pria ini lagi, lalu jari telunjuknya tiba-tiba saja mencolek sesuatu yang ada di pangkal paha Airis, membuat ekspresi Airis itu langsung meringis karena geli.
"Walaupun gajinya besar, tapi tempat ini sepi."
"Begitu ya. Kalau tahu sepi, kenapa masih ingin terus bekerja disini?"
"Karena saya butuh uang."
"Uang? Jadi karena itu kau mau datang bekerja di bawahku?"
"Iya."
"Kalau kau sebegitu ingin bisa punya uang banyak, apa kau mau memberikan ini?"
SLUB..
"Erh~" Airis mengernyitkan matanya, karena tiba-tiba saja ada yang masuk. "U-untuk Tuan, saya mau memberikannya untuk anda."
"Kenapa? Kau belum lama bekerja disini loh,"
"Karena anda bilang ingin membuat saya senang, itu sudah lebih dari cukup. Karena-"
"Hah~ Ternyata kau sudah sangat menantikannya ya? Apakah karena kau pernah mengintipku melakukannya dengan wanita sebelummu ini?"
"I-iya. Ah~"
Satu de*s*ahan lagi-lagi muncul.
"Kau memang wanita ja*l*ang ya." Hina pria ini. "Kalau kau sebegitu mau, kenapa waktu itu tidak menunjukkan dirimu langsung saja?" Setelah mengatakan itu, kepada dari pria ini pun diarahkan ke depan pangkal paha Airis persis, lalu mengeluarkan lidahnya dan...
SLURPP...
"Aku hanya..ahhh~ ingin..bi-...ah~ berdua dengan Tuan sajah~!" Airis langsung menggelinjing hebat, karena sesuatu yang lembut itu perlahan menjilati hartanya, seakan itu adalah es cream.
"Kamu wanita nakal, sini." Pria ini kembali menjilat mahkota milik Airis dengan cukup sensual.
"Angh` T-tuan...ayo yang lebih." Pinta AIris, di bawah pengaruh hipnotis, maka kata hati yang terdiam di dalam hatinya itu, langsung terungkap secara terang-terangan.
Pria ini tersenyum, karena dia kebetulan memang menginginkan sesuatu yang lebih.
Lebih dari sekedar melihat dan menjilatinya.
"Baiklah Airis, aku akan mengabulkan keinginan dari has*r*at terindahmu itu dengan milikku." Ucapnya.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, pria ini meraih aset yang selalu menempel di dadanya Airis, merasakan sensasi lembut sekaligus kenyal, dia tidak akan membiarkan apapun yang ada pada tubuh sintal itu menganggur.
'Manusia bodoh, karena tanpa kau sadari, keinginan dari naf*s*mu itu membuatmu jatuh kedalam perangkapku. Aku memang akan memuaskanmu, tapi di satu sisi, aku jadi mendapatkan energi kehidupanmu. Yang merupakan makananku agar aku bisa bertahan hidup disini. Airis yang malang, kau membawa tubuhmu untuk menjadi makanan seorang succubus sepertiku' Batinnya.