Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
207 : Alstrelia : Bolagil


__ADS_3

"Kenapa malah menatap saya seperti itu?" Tanya Elbert kepada Elda yang terlihat sedang memperhatikannya.


Padahal situasi mereka berdua saat ini sedang tidaklah bagus sama sekali.


Itulah yang di rasakan oleh Elbert, namun kenapa Elda masih saja punya waktu untuk membuat ekspresi seperti itu?


Itulah yang menjadi pertanyaan Elbert saat ini.


Dan respon lain dari Elda pun malahan adalah senyuman?


'Kenapa dia tersenyum kepadaku?' Tanya Elbert pada dirinya sendiri, terheran dengan reaksi wajah Elda yang di luar pikiran Elbert.


"Baiklah." Tanpa banyak drama, Elda justru dengan serta merta langsung meraih tangan Elbert yang kekar itu. Sampai tangan yang seharusnya Elda genggam saja, berubah jadi pelukan, seakan kalau lengan panjang dan kekar, dari tangan Elbert itu adalah bantal peluk.


"Kenapa anda justru memeluk tangan saya?" tanya Elbert dengan wajah terheran.


"Memangnya apa lagi yang harus aku lakukan selain memeluk tanganmu yang lumayan ini?" Goda Elda, sambil mengusap tangan Elbert yang panjang dan terlihat kuat itu.


'Padahal kita berdua sedang dalam keadaan bahaya.' Elbert yang hanya mengulas senyum tipis yang bahkan hampir tidak terlihat sama sekali, demi melindungi diri mereka berdua dari gelombang api kedua yang sebenarnya muncul akibat semburan api dari Tregon itu, segera menggapai bola kecil yang dapat terbang itu.


-"Sistem mendeteksi sihir lain."-


Garis berwarna hitam yang dijadikan pemisah itu pun menyala berwarna hijau, dan menandakan kalau mana sihir yang di rasakan oleh bola itu adalah warna sihir milik Elbert.


"Ternyata begitu." Gumam Elbert saat dia sudah berhasil menggenggam bola kecil putih milik Elda itu.


'Dia langsung mengerti apa artinya?' Pikir Elda, ketika dia melihat sorotan mata milik Elbert itu terlihat seperti sudah mengetahui sesuatu dengan apa yang di genggaman tangan Elbert itu.


-"Bolagil mengunci sistem untuk melindungi diri. Anda tidak akan dapat mengaksesnya."-

__ADS_1


Kalimat yang keluar dari speaker kecil itu membuat Elda langsung bereaksi cepat. "Jangan. Biarkan dia mengaksesnya."


-"Permintaan diterima."-


Garis hitam yang tadinya berwarna orange tanda peringatan karena mendeteksi sihir Elbert yang sama saja adalah orang lain, dan menandakan sebuah bahaya, langsung berubah warna jadi merah muda, yang menandakan Bolagil itu menerima diri untuk di gunakan oleh Elbert.


Di gunakan untuk apa?


"Memangnya kau tahu cara menggunakannya?" Tanyanya.


"Saat aku memegangnya, aku merasa langsung tahu semuanya." Jawab Elbert. "Bolagil, ini pasti alat pendukung untuk orang seperti kalian kan?"


"Ya. Bahkan untuk orang yang punya sihir rendah, jika di dukung oleh itu, kekuatan yang di hasilkan akan bertambah berkali-kali lipat. Tapi itu juga tergantung dari mana sihir yang di terimanya."


'Tergantung kekuatan yang di alurkan? Baiklah, aku akan melakukannya.' Elbert yang sekilas langsung tahu cara menggunakan alat Bolagil yang sudah dia genggam itu, langsung memejamkan matanya.


Dengan tangan kanan masih di peluk manja oleh Elda, maka tangan kirinya itu pun Elbert gunakan sebagai untuk bekerja sama dengan senjata pendukung milik Elda.


WUSSHH.....


Angin dengan suhu yang panas pun datang bersamaan dengan kobaran api yang mengarah kepada mereka berdua.


Elbert merentangkan tangan kirinya ke depan. Menggenggam erat Bolagil itu sampai sebuah papan transparan dengan bentuk segi enam akhirnya muncul.


Tapi yang muncul tidak hanya satu saja, karena di detik yang sama juga dinding pelindung transparan dengan bentuk layaknya sarang lebah, langsung terpasang dan melindungi tubuh mereka berdua di dalam bola pelindung yang di ciptakan oleh Elbert.


WUSHH...!


Api panas yang membara itu yang muncul menuju ke arah mereka berdua pun langsung mereka berdua terjang.

__ADS_1


Dengan menggunakan sihir kombinasi yang di lakukan oleh Elbert dengan alat Bolagil itu, maka mereka berdua pun bisa menembus kobaran api itu dengan cukup mudah.


'Panas.' Detik hati Elbert, ketika dia harus mengahadapi apa itu rasanya terpapar oleh suhu udara yang langsung naik drastis, hingga peluh dari mereka berdua pun mengalir membasahi wajah mereka berdua.


"Elbert, apa kau masih bisa menahannya?" Tanya Elda, melihat eskpresi wajah Elbert yang terlihat begitu tersiksa dengan suhu ekstrim yang harus mereka berdua lewati.


"Anda pikir saya itu siapa?" Tanya balik Elbert sambil melirik ke arah Elda yang terlihat khawatir. "Hanya seperti ini, saya bisa mengatasinya."


'Padahal dia sudah terlihat tersiksa seperti itu. Ya..ini sangat panas, sampai aku ingin melepaskan pakaianku sekarang juga.' Pikir Elda.


Tapi karena dia memang menggunakan baju khusus, yang terpapar panas dari semburan api yang sedang mereka terjang, maka Elda sebenarnya hanya merasakan panas di bagian yang tidak tertutupi dengan seragam saja.


Tapi bukan berarti dia tidak bisa mengeluarkan keringatnya. Buktinya wajah dan kedua kaki serta pergelangan tangannya sudah di banjiri keringatnya sendiri, hinga akhirnya dia bisa merasakan keringat dari Elbert yang merembes itu.


"Kau itu tidak harus menanggung beban ini sendirian saja. Sini, aku akan membantumu." Elda pun mengulurkan tangan kanannya ke depan, tepatnya ke dada sebelah kiri Elbert, dimana letak jantung itu berada.


"Anda mau apa?"


"Membantumu, agar bisa melewati ini dengan cepat." sahut Elda. "Tutup matamu, dan gunakan panca indera ke enam, beritahu aku apa yang bisa kau lihat ada di dasar lubang ini." Perintah Elda.


Elbert awalnya berpikir sejenak, tapi karena situasinya tidak memperbolehkannya untuk terlalu banyak berpikir, Elbert akhirnya mau menuruti perintahnya.


Elbert menutup kedua matanya, lalu dia mulai menggunakan indera ke enamnya, yaitu dimana dengan kemampuannya itu, dia akan bisa melihat apa yang ada di sekitarnya seperti mata tembus pandang.


'Dia melakukannya sesuai dengan apa yang aku harapkan.' Dengan demikian, Elda pun melakukan hal lain yang bisa dia lakukan agar bisa membuat mereka berdua keluar dari situasinya.


Tidak lama kemudian Elbert melihat ada ruang bawah tanah yang begitu luas di bawah sana. Seekor monster begitu besar sedang menyemburkan api yang membuat seisi dari ruang bawah tanah itu langsung dipenuhi kobaran api yang menghanguskan segala isi di dalam sana, dan di antaranya adalah Elbert juga melihat adanya tulang belulang yang bertumpuk menjadi gunung, langsung sirna dan menjadi abu.


"Mengerikan ya? Tapi kedua majikan kita ada di sana. Jadi ayo, kita pergi ke sana." Terang Elda. Setelah itu, permukaan dari telapak tangan kanannya yang kini sedang menyentuh dada bidang Elbert pun bercahaya berwarna merah.

__ADS_1


'Apa yang mau dia lakukan?' Tanpa membuka sepasang matanya, Elbert sebenarnya merasakan adanya kesan hangat yang terasa di dada sebelah kirinya.


Tapi setelah itu, detak jantung Elbert tiba-tiba seperti sedang di sentak, hingga Elbert langsung mengerutkan dahinya karena rasa sakit yang teramat sangat itu seketika sungguhan menyiksanya, hingga akhirnya apa yang di lakukan oleh Elda itu, membuat mereka berdua tiba-tiba saja menghilang dari sana.


__ADS_2