Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
225 : Alstrelia : Strategi 4


__ADS_3

"Dia memang cukup pintar." Gerutu Alvaron melihat semua kalimat yang sudah dia ketik, jadi menghilang berkat perubahan pikiran Alstrelia yang langsung menyadari tujuannya.


Tujuan Alvaron untuk membuat Alstrelia punya pikiran untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya pun jadi gagal total.


"Kan Tuan Putri anak anda, makannya sama-sama pintar seperti anda. Tapi bedanya, Tuan Putri itu cukup sombong, lidahnya pun tajam. Padahal anda dan yang mulia Ratu sama sekali tidak punya kepribadian seperti itu kan?" Pungkas ajudan ini terhadap ucapannya Alvaron.


"Kau benar, dia cukup sombong, sampai aku selalu di anggap orang lain saja, padahal aku ini Ayah kandungnya."


"Itulah, sebab dari akibat anda yang selalu mempermainkan Tuan Putri untuk ini dan Itu tanpa diskusi terlebih dahulu. Imbasnya anda jadi di pandang seperti orang lain kan?"


Penjelasan dari anak buahnya itu pun membuat Alvaron kembali mengulas masa lalunya, yang senantiasa membuat keputusan untuk membuat Alstrelia mengerjakan hal yang seharusnya tidak perlu di kerjakan.


"Huft~" Alvaron menghela nafas kasar. Dia sungguh sangat kesepian karena tidak ada wanita yang bisa menghibur hatinya yang sedang di landa frustasi dan dilema.


Istrinya, sudah lama meninggal, giliran sekarang hanya tinggal Alstrelia anak yang di tinggalkan oleh mendiang Istrinya, ianya malah menghilang dan masuk kedalam dunia novel yang Alvaron buat.


"Aku harus buat sesuatu yang berbeda agar bisa ending lebih cepat."


"Tapi Yang mulia, jika seperti itu maka usaha Tuan Putri untuk membasmi kejahatan dari karakter yang anda buat akan jadi sia-sia, jadi lebih baik lanjutkan saja, dan buat Tuan Putri untuk mengerahkan semua kemampuannya.


Saya mengatakan ini, sebab tidak lama lagi perang akan segera berlangsung, jadi setidaknya Tuan putri bisa merasakan latihan untuk melakukan pertarungan dengan musuh yang ada di dalam novel." Penjelasan dari ajudannya Alvaron pun jadi cukup masuk akal.


Jika mengikuti hati, semuanya akan jadi sia-sia, usaha untuk membuat Alstrelia bertarung, berencana, dan apapun yang sudah Alvaron buat di dalam novel nya.


"Jadi aku harus menyelesaikan dengan sedikit merubah alurnya ya?"

__ADS_1


"Itu bisa juga."


Alvaron terus mengusap cincin lambang dari keluarganya yang kebetulan memang terbuat dari batu kristal berwarna biru, karena pada dasarnya warna lambang dari kerjaan Asgardia adalah biru, pewakil dari mata keturunan keluarga kerjaan yang selalu berwarna biru dan sekaligus identitas mereka sebagai penerus kekuasaan.


"Oh, ya, bagaimana dengan keadaannya?"


"Apa yang anda maksud adalah anak itu?"


"Iya lah, memangnya siapa lagi yang aku maksud?" Kesal Alvaron dengan ajudannya pakai tanya balik.


"Status dia saat ini." Mata dari pria berkaca mata dengan pangkat ajudan ini pun bergerak cepat ke arah kanan dan kiri, membaca file dari dokumen yang baru saja sampai, hingga rekaman video pun dia sempat tonton.


"Saat ini apa? Jangan membuat Raja sepertiku itu menunggu lama, kau pikir waktuku sangat senggang untuk menunggu ucapanmu yang terpotong itu?" Protes Alvaron terhadap ajudannya, karena tidak berbicara dengan tuntas, dan selalu meninggalkan kalimat yang terus menggantung.


"Ah..ya, saat ini kondisinya mulai stabil. Jadi saya pikir anak ini memang tidak lama lagi akan segera bangun.


Akan tetapi, semua itu adalah separuh dari penjelasan yang ingin ia lanjutkan lagi.


"Katakan tambahannya apa." Alvaron tentu saja langsung tahu, karena ia sudah melihat ekspresi saat ajudannya ingin mengatakan hal berat kepadanya, tapi rasanya ia tak mampu untuk memberitahunya.


"Untuk tambahannya, anda perlu bersiap karena tidak lama lagi pasukan Darkness akan menyerang lebih dulu. Anda tahu kan? Tidak ada janji di gunakan untuk saling di sepakati, banyak orang yang mengungkapkan janji itu sama saja untuk di langgar, sama hal nya dengan peraturan.


Makannya, lebih baik dari pada anda bersantai seperti ini, anda harus bersiap-siap dulu dan menemui semua pasukan yang sebelumnya sudah di kelola oleh Tuan Putri?" Penjelasan dari ajudan milik Alvaron pun membuat Alvaron sendiri langsung bersikap lebih serius.


"Huh~ Kau benar." Alvaron kembali menempatkan perhatiannya pada bingkai foto yang ia letakkan di samping mejanya itu. Alstrelia, Alvaron sama sekali tidak bisa untuk tidak mengingat satu-satu anak yang ia miliki itu, karena sampai sekarang saja Alstrelia masih belum bisa keluar dari dalam novel yang Alvaron buat. "Beritahu mereka semua untuk berkumpul." Perintahnya.

__ADS_1


"Baik Yang mulia." Ajudan ini pun undur diri lebih dulu untuk mengumpulkan pasukan sebelum memulai rencana untuk perang.


Setelah kepergian Ajudan nya itu, Alvaron kembali melihat satu persatu foto dari putrinya itu.


Satu-satunya anak yang di tinggal pergi oleh Istrinya.


Hanya dengan melihat semua foto yang dia miliki dalam folder yang sudah dia simpan rapat-rapat di komputernya, Alvaron justru menyunggingkan sebuah senyuman tipisnya.


Gara-gara perhatiannya itu terus di tarik untuk terus melihat satu per satu foto Alstrelia dalam berbagai aktivitasnya.


Entah itu sedang makan, sedang memarahi orang, bahkan saat sedang melamun, semuanya terus terikat pada diri Alvaron sebagai seorang Ayah.


"Karena dia anakku, makannya entah dia mau senyum, sedih, marah, ngambek dengan wajahnya itu, dia sama sekali tidak kehilangan wajah cantiknya. Sungguh persis denganku atau denganmu ya?" Gumam Alvaron.


Padahal baru beberapa hari kehilangan Putri nya, tapi semua waktu yang berlalu itu terasa lebih lama dari kenyataannya.


Itulah yang membuat Alvaron jadi merindukannya.


"Aku serahkan semua akhir cerita kepadamu. Yang terpenting, kau harus cepat keluar dari dunia Novel, karena kami semua termasuk rakyat kita sedang menunggumu. Teman-temanmu, dan semua anak buahmu, semua pasukan yang sudah menganggapmu sebagai pemimpin mereka, sudah menunggumu. Alstrelia, kembalilah." Ucap Alvaron, mengungkapkan perasaannya terhadap Alstrelia yang kini sedang menjalani hidup di tempat lain.


Setelah puas melihat semua foto nya Alstrelia, Alvaron segera menutup dan keluar dari dokumen rahasia itu.


Apa alasan dari dokumen rahasia?


Karena apapun yang berkaitan dengan diri Alstrelia, sama sekali tidak boleh terekspose kecuali memang sudah di izinkan. Makannya, bahkan untuk foto-foto tadi, ada keamanan ketat untuk membukanya. Dan yang hanya memiliki foto itu hanyalah Alvaron sendiri.

__ADS_1


"Jadi sekarang waktunya ya? Apakah aku akan kembali jadi komandan mereka, memimpin mereka seperti sepuluh tahun yang lalu?"


Dengan demikian Alvaron beranjak dari kantornya, lagi-lagi meninggalkan komputer yang kembali menyala sendiri dan memperlihatkan salah satu halaman dari novel, dimana semua yang sudah tertulis itu perlahan berubah sendiri.


__ADS_2